Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Penampilan Yang Berbeda


__ADS_3

Cilla kaget, saat mbak Diyah dan temannya, meminta dirinya untuk berganti pakaian.


"Kenapa harus ganti?" tanya Cilla bingung.


"Sudah. Nurut saja," jawab mbak Diyah memaksa Cilla.


"Yuk, Aji sama Oma saja!"


Mami Rossa mengajak Aji, untuk ikut dengannya. Aji menurut. Dia ikut bersama dengan mami Rossa, ke luar dari dalam kamar.


"Aji juga ganti baju. Tapi di kamar Oma saja ya! Biar mama di dandani Tante Diyah dan temannya tadi," kata mami Rossa memberitahu Aji.


"Ok Oma," jawab Aji cepat sambil tersenyum senang.


Di dalam kamar, Cilla merasa kaget dengan gaun malam yang diperlihatkan oleh mbak Diyah, untuk dia pakai malam ini.


"Mbak. Itu gaunnya bagus sekali. Pasti mahal," kata Cilla mengeleng.


"Ini buat kamu Cilla. Mami Rossa, memilih ini dari seminggu kemarin di toko. Katanya buat kamu pakai, saat pesta ulang tahun Aji."


Mbak Diyah memberitahu Cilla dengan tersenyum. Dia merasa ikut bahagia dengan kebahagiaan Cilla saat ini.


"Tapi, Aku kan tidak biasa pakai pakaian mahal begitu," kata Cilla mengeleng.


"Mulai sekarang, Kamu harus terbiasa. Kamu ini calon istrinya tuan muda Gilang. Harus bisa berpenampilan yang menarik dan cantik. Kamu tidak mau kan cewek-cewek di luar sana menggoda tuan Gilang?"


Cilla tersenyum malu, tapi dia juga mengeleng sambil mendelik ke arah mbak Diyah.


"Awas saja kalau sampai terjadi!"


Cilla hanya bisa mengancam, tanpa ada Gilang yang mendengar perkataannya.


"Hehehe... Makanya, sekarang nurut ya! Ayo Mbak, Kita dandani putri Cinderella tanpa sepatu kaca ini," ajak mbak Diyah pada temannya, yang seorang penata rias.


*****


Dia dalam kamar mami Rossa.


Aji sudah selesai berganti baju, dengan yang tadi dibawakan oleh mami Rossa.


Setelan jas anak, dengan potongan pas di tubuh Aji. Dipaduakan dengan kemeja putih untuk dalaman, jas warna merah itu terlihat cocok untuk Aji. Ditambah lagi dengan, sepatu fantofel hitam dan dasi merah.


"Wah... Ganteng banget cucu Oma!"


Mami Rossa memeluk cucunya, Aji, dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Enak kan dipakai? Coba jalan," pinta mami dan pada cucunya itu.


Aji berjalan seperti yang diminta omanya. Bak peragawan cilik, Aji melenggang seperti peragawan cilik, yang sedang memperagakan busana.


"Bagus Sayang. Kapan-kapan, Oma ajak ya jika ada konter untuk peragaan anak-anak. Kamu pasti menang!"


"Hehehe... Oma bisa saja," jawab Aji terkekeh kecil.


Mami Rossa dan Aji, kembali bersiap-siap sambil bergurau juga.


Di kamarnya, Gilang, sedang bersiap. Dia merasa sedikit gugup dengan acara yang akan segera di mulai ini.


Di Acara ulang tahun Aji, anaknya, Gilang akan memperkenalkan Aji sebagai anaknya kepada para undangan. Dia juga akan mengumumkan hati pernikahannya dengan Cilla yang tidak lama lagi.


"Hah..!"


Gilang membuang nafas kasar. Dia mencoba membuat dadanya sedikit lebih lega, untuk mengahadapi segala komentar yang akan dia dengar nantinya.


"Belum menikah tapi sudah punya anak sebesar Aji?"


Begitulah pikiran Gilang saat ini. Pasti akan ada yang berkomentar seperti itu. Dia harus bisa menahan diri, agar tidak terpancing emosi, jika ada komentar-komentar yang miring tentang dia, terutama untuk Cilla, karena tidak semua orang bisa mengerti dan memahami bagaimana dengan kejadian dimasa lalu seseorang.


"Semoga semuanya akan baik-baik saja nanti."


*****


Jam delapan malam, acara pesta dimulai. Pembawa acara yang ditunjuk sudah naik ke atas panggung dan membacakan maksud dari acara ini diadakan.


"Selamat malam untuk tuan rumah, para tamu undangan dan seluruh hadirin yang ada dalam acara ini."


Pembukaan pesta sudah dimulai. Aji dan mami Rossa sudah bersiap di ruang tengah, menunggu Cilla yang belum juga keluar dari dalam kamar.


"Sudah siap Mi?" tanya Gilang, begitu sampai. Dia juga baru keluar dari kamarnya.


"Mami dan Aji, sudah. Tapi Cilla masih di dalam kamar. Apa Mami coba panggil?"


"Ah, tidak usah Mi. Biar saja diselesaikan dulu," jawab Gilang dengan sedikit gugup.


"Jagoan Papa, keren banget!"


Gilang memuji Aji. Dia juga memakai jas, yang senada dengan jas yang dipakai Aji, anaknya itu.


"Kamu kenapa?" tanya mami Rossa bingung. Dia perhatikan jika malam ini Gilang, tampak berbeda. Terlihat cemas dan gugup.


"Tidak apa-apa Mi. Hanya sedikit gugup. Malam ini, semua akan tahu, siapa Aji dan juga Cilla."

__ADS_1


"Sudah. Tidak apa-apa. Jangan khawatir, dan tidak perlu terlalu berpikir sejauh itu. Semua orang punya masa lalu masing-masing. Lagipula, ada beberapa orang yang mengetahui dengan baik bagaimana keadaan dan situasi yang terjadi di antara kalian berdua di masa lalu. Biarkan saja, jika ada yang berkomentar miring. Yang penting, niat Kita memperbaiki diri. Tidak usah pedulikan apa kata orang, jika itu hanya menghambat langkah kita."


"Terima kasih Mi. Semua ini adalah atas dukungan dari Mami juga."


Gilang memeluk maminya. Dia merasa lebih tenang, setelah mendengar nasehat dari maminya itu.


"Iya Sayang. Mami akan tetap menjadi pendukung dan penyemangat, untuk kalian semua."


Gilang berganti memeluk Aji dengan penuh keharuan. Dia akan mengumumkan pada para undangan, jika Aji, adalah kandungnya sendiri.


"Mami..."


Dari arah kamar Cilla, muncul mbak diyah yang berteriak memanggil mami Rossa.


"Sudah?" tanya mami Rossa.


"Siap Mami!"


Tak lama, Cilla keluar dari dalam kamar. Dia yang terbiasa polos, tanpa riasan wajah, malam ini tampak begitu berbeda.


Dengan memakai gaun berwarna merah, sepadan dengan warna jas yang dipakai Aji dan juga Gilang, Cilla tampak begitu cantik dan anggun.


Gilang, tidak berkedip melihat ke arah Cilla. Dia terpesona, dengan penampilan yang tidak biasa dari Cilla, untuk malam ini.


Mami Rossa dan Aji juga tertegun sejenak. Mereka berdua tidak bisa berkomentar untuk penampilan Cilla saat ini.


"Sempurna," kata mami Rossa yang tidak bisa mencari kosa kata lain.


"Mama. Cantik sekali," kata Aji l, kemudian berlari ke arah mamanya. Dia memeluk Cilla dengan wajah yang berseri-seri.


"Gilang," sapa mami Rossa, menyadarkan anaknya, agar berkedip dan tidak khilaf.


"Eh. Iy... iya Mi," jawab Gilang tergagap.


"Hahaha... Baru juga dirias tipis begitu, Kamu sudah melongo melihatnya. Gimana nanti, kalau Cilla dirias lebih dari itu?"


"Jangan Mi!"


Gilang mengeleng mendengar perkataan maminya. Tentu saja mami Rossa mengeryit heran dengan perkataan larangan Gilang, "Kenapa?" tanya mami Rossa ingin tahu.


"Jangan di rias berlebihan. Nanti, para undangan tidak bisa berpaling dari wajah Cilla dan tidak ada yang mau pulang. Repot urusannya Mi."


Gilang mengatakan alasannya, kenapa melarang untuk merias wajah Cilla secara berlebih. Malam ini, dengan riasan tipis dan natural saja, sudah membuat Gilang semakin terpesona dengan Cilla, apalagi jika lebih.


"Oh... Itu tandanya, mata mereka normal Gilang," kata mami Rossa menanggapi alasan yang diberikan oleh anaknya itu, Gilang Aji Saka.

__ADS_1


__ADS_2