Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Rahasia Sekar Mayangsari


__ADS_3

Sekar Mayangsari. Terkenal sebagai desainer perhiasan emas dan juga beberapa kali menang, dalam lomba yang ada di bidang yang dia tekuni tersebut, di berbagai ajang di Amerika sana, bahkan sampai ke benua Eropa juga. Luar biasa!


Sekar Mayangsari adalah seorang janda. Dia berpisah dengan suaminya. Suaminya itu ketahuan selingkuh dengan seorang gadis bule yang lebih muda, dan itu tidak hanya sekali saja. Sekar akhirnya tidak tahan dan mengajukan permohonan gugatan cerai terhadap suaminya tersebut. Suaminya yang dulu juga berselingkuh dengannya, saat dia masih menjadi kekasihnya Gilang Aji Saka, di Sidney, Australia sewaktu masih masa kuliahnya yang S2.


Dari jejak penelusuran Aji terkait identitas Sekar Mayangsari, itu yang paling penting. Akhirnya Aji mencoba masuk ke dalam sistem perusahaan perhiasan emas milik Sekar Mayangsari, yang berada di Amerika, melalui PT. Sekar Jagad, dan hal yang lebih mengejutkan lagi, akhirnya diketahui oleh Aji.


Selain sebagai seorang desainer perhiasan, ternyata kehidupan glamor yang terlihat pada kehidupan seorang Sekar Mayangsari, tidak hanya dari usaha yang terlihat di mata semua orang. Ada pekerjaan lainnya yang lebih menguntungkan, dan juga bisa membuatnya bisa terus bertahan hidup di negara Paman Sam tersebut dengan mewahnya.


*****


Aji keluar kamar sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Dia mencari mamanya ke ruang tengah, tapi tidak bertemu. Aji mencari ke teras depan, dimana tadi omanya berada, tapi tidak ada juga. "Mama kemana ya? Oma juga tidak ada." Aji berguman seorang diri di teras depan.


Akhirnya Aji melangkah menuju ke arah dapur. Ternyata ada dua bibi di sana. "Maaf Bibi. Ada yang melihat mamanya Aji, atau Oma Rossa?" tanya Aji pada bibi pembantu.


"Sepertinya tadi bersama dengan nyonya besar ke lantai tiga den Aji," jawab bibi pembantu yang sudah Aji tahu, karena sering datang ke apartemen untuk membantu minggu yang lalu.


"Oh, terima kasih Bibi," kata Aji, kemudian berbalik arah menuju ke arah tangga.


Kini Aji berada di lantai tiga. Dia berjalan diantara ruangan yang ada. Tapi dia bingung, mama dan omanya itu berada di ruangan yang mana.


Aji mencoba untuk memanggil mama dan omanya, agar mereka bisa menyahut. Dengan demikian, Aji akan tahu dimana mereka berdua berada.


"Mama..."


"Oma..."


Masih sepi dan tidak ada suara yang menyahuti panggilan Aji. Dengan terus melangkah, Aji memangil mereka berdua sekali lagi.

__ADS_1


"Mama!"


"Oma!"


"Hai Sayang! Kami ada di sini. Perpustakaan."


Itu suara omanya, mami Rossa. Ternyata mereka berdua berada di ruang ujung dan di daun pintu tersebut terdapat tulisan perpustakaan.


"Oh, ini yang tadi diberitahu papa," guman Aji dalam hati.


Aji mengetuk pintu dan masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam. Di meja baca yang berbentuk segi empat dan ada empat kursi, dua wanita beda usia yang dia cari, duduk berdampingan dengan melihat-lihat album foto lama.


"Lihat apa Oma?" tanya Aji ingin tahu.


"Ini lho, foto papa kamu sewaktu masih kecil. Ternyata memang tidak jauh berbeda dengan kamu lho Sayang," jawab mami Rossa yang tampak antusias saat bercerita pada Aji.


"Mama kenapa menangis?" tanya Aji bingung, sebab melihat mamanya yang tampak tersenyum tapi dengan mata yang berair.


"Mama tidak menangis. Mama cuma terharu Sayang."


Cilla menjawab pertanyaan dari Aji, anaknya dengan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Aji.


"Kamu lihat foto-foto papa. Di sana kamu tidak bisa membedakan dengan cepat mana papa karena semua mirip dengan kamu Sayang. Pantas saja dia begitu yakin dulu, meskipun hasil test DNA itu belum keluar."


Aji mendengar penjelasan mamanya, Cilla, dengan melihat ke album foto yang tadi diberikan oleh mami Rossa, omanya.


Di album foto yang dilihat Aji, memang ada beberapa yang persis sama dengan dirinya. Hanya karena sudah lama saja, jadi terlihat berbeda. Tapi sekarang Aji jadi ingin tahu, apakah masih ada foto Sekar Mayangsari, mantan kekasih papanya, yang tersimpan di perpustakaan keluarga ini.

__ADS_1


"Oma. Aji boleh lihat-lihat foto-foto papa sewaktu masih remaja atau masa sekolah?"


Aji mencoba mencari tahu dari foto-foto yang ada. Siapa tahu apa yang dia temukan di akun sosial media milik Sekar Mayangsari, ada juga di simpan di ruangan ini.


"Iya boleh. Cari saja Sayang! Ada di rak bagian pinggir dekat jendela. Kalau tidak salah ada di rak bawah kok, jadi aman jika kamu ingin lihat-lihat."


Mami Rossa mengijinkan dan memberikan penjelasan pada Aji, cucunya itu. Dengan senang hati, Aji turun dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke tempat, dimana tadi mami Rossa memberitahu tentang keberadaan foto-foto papanya sewaktu dulu.


Dengan telaten, Aji membuka satu persatu foto album tersebut. Dia sengaja diam di tempat dan tidak membawa foto-foto itu ke meja baca, agar mamanya dan juga omanya itu, tidak tahu apa yang sedang dia lakukan saat ini.


Ternyata tidak banyak foto-foto yang ada Sekar Mayangsari. Bahkan fotonya ada karena bersama dengan banyak orang. Aji tidak menemukan foto Sekar yang sedang berdua saja dengan papanya, Gilang. Dia juga tidak menemukan foto yang sama seperti yang di posting Sekar di akun sosial media milik Siemoy.


Foto-foto Sekar yang sedang bersama banyak orang, banyak yang sudah dirusak wajahnya dengan spidol hitam. Di sana juga ada foto laki-laki yang sama keadaannya seperti foto Sekar, wajahnya di rusak. Mungkin itu pekerjaan papanya saat sedang marah, dan tidak ingin melihat wajah orang-orang yang dia benci.


Aji menghela nafas panjang dan meletakkan kembali album-album foto yang dia lihat. Tidak ada yang istimewa untuk mencurigai papanya. Sepertinya, cerita Sekar benar. Mereka berdua putus sudah lama sekali dan tidak ada kontak apapun setelah itu.


Aji bertekad untuk menghentikan semua rencana Sekar yang ingin kembali pada papanya. Dia tidak mau melihat mamanya, Cilla, bersedih hati, jika mengetahui keberadaan Sekar nantinya.


Aji juga akan membuka kedok Sekar tanpa di ketahui identitas dirinya pada pihak terkait agar kejahatan Sekar segera terungkap. Kejahatan yang dilakukan oleh Sekar sungguh merugikan negara dan juga generasi muda. Ini pelanggaran hukum di semua negara, bukan hanya di Indonesia.


Aji kembali ke meja baca. Dia duduk kembali seperti semula. Tanpa ekspresi dan juga tidak berkomentar apapun.


"Sudah ketemu?" tanya mami Rossa pada cucunya itu.


"Sudah," jawab Aji pendek.


"Kenapa tidak dibawa kesini?" tanya mami Rossa ingin tahu.

__ADS_1


"Tidak ada yang istimewa," jawab Aji biasa saja, bahkan dia tersenyum misterius dengan membuka album foto yang tadi, foto sewaktu papanya masih kecil dan memegang toples kelereng merah seperti yang dia miliki.


__ADS_2