Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kabar Gembira


__ADS_3

Perbedaan waktu antara Indonesia dan India, membuat Aji berpikir jika ingin menghubungi mamanya atau anggota keluarga yang lain di Indonesia. Dia tidak ingin menganggu aktivitas atau waktu istirahat mereka.


Itulah sebabnya, Aji menunda saat ingin memberikan kabar pada mama Cilla, tentang kehamilan istrinya, Elisa.


Tapi, Elisa punya pemikiran yang lain. Dia ingin segera membagikan kabar bahagia ini pada mama keluarganya di Indonesia, terutama pada mama Cilla. Karena, mama Cilla tahu, jika kepergian mereka berdua ke India, salah satu alasannya adalah untuk bisa memiliki momongan.


"Sekarang saja Kak kasih tahu mama. Mama pasti akan senang mendengar kabar ini," kata Elisa dengan merengek.


"Tapi, di sana sekarang sudah malam Sayang," sahut Aji, meminta pada Elisa agar bersabar, menunggu besok pagi saja.


"Tapi, ini belum terlalu larut. Bisa jadi, mama dan papa juga belum tidur di sana. Mereka akan senang, mendengar kabar dari kita ini Kak," kata Elisa lagi, seakan-akan tahu, jika kedua mertuanya di sana memang belum tidur.


Aji, menghela nafas panjang. Dia mengangguk mengiyakan permintaan Elisa. Karena bisa jadi, apa yang dipikirkan Elisa saat ini memang benar, bahwa mama dan papanya belum tidur.


"Jika mama dan papa sudah tidur pun, mereka pasti tidak akan merasa terganggu dengan adanya kabar dari kita ini," kata Elisa lagi, yang tidak sabar untuk segera menghubungi mertuanya di Indonesia.


"Baik-baik. Iya-iya, Kakak akan menghubungi mama atau papa di rumah."


Akhirnya, Aji menuruti permintaan istrinya itu. Dia merasa, jika keinginan Elisa ini adalah permintaan anaknya juga, karena ingin diketahui keberadaannya oleh opa dan omanya, di Indonesia. Yaitu papa Gilang dan juga mama Cilla.


Akhirnya, Aji mengeluarkan handphone miliknya. Dia akan menghubungi mama dan papanya di rumah. Untung saja, dia meminta pada supir untuk mengantarkan mereka tadi. Jadi, Aji bebas mau menelpon dan tidak perlu berhenti terlebih dahulu.


Tut... tut... tut...


Panggilan untuk mama Cilla tidak tersambung. Aji, mencobanya sekali lagi, memastikan jika mamanya memang belum tidur.


Tut... tut... tut...


Tetap tidak di angkat. Sambungan telpon terputus sendiri, karena waktu yang lama saat menunggu untuk di angkat. Tapi ternyata, telpon dari Aji, memang benar-benar tidak ada yang menjawabnya.


Aji, menghela nafas panjang, kemudian melihat ke arah istrinya, Elisa. "Tidak ada yang mengangkat. Mungkin mama sudah tidur, atau sedang tidak di dekat handphonenya," kata Aji, memberitahu istrinya, Elisa.


"Coba nomer papa Kak," usul Elisa, karena dia masih belum puas, jika belum memberikan kabar tentang kehamilannya ini, pada kedua mertuanya itu.


"Baiklah. Kakak akan coba untuk menghubungi nomer handphone papa."


Akhirnya, Aji menelpon papanya. Dia berharap papanya belum tertidur juga.


Tut... tut... tut...

__ADS_1


Hampir saja Aji menutup panggilan untuk papanya pada detik terakhir, saat sambungan telpon itu di angkat seseorang.


..."Halo Sayang. Apa kabar?"...


Justru mama Cilla yang mengangkat telpon di handphone milik papa Gilang, suaminya.


..."Kabar kami baik Ma. Mama bagaimana? Itu handphone Mama tidak ada yang angkat, tadi Aji telpon. Dan sekarang saat Aji menelpon papa justru Mama yang angkat. Ada apa?"...


Aji jadi bertanya tentang hal-hal yang tidak begitu penting dan melupakan tujuan awalnya saat mau menelpon ke Indonesia.


..."Oh, Mama sedang menemani Papa di ruang kerja. Handphone Mama, ada di kamar. Maaf ya, Mama tidak tahu, jika kamu menelpon tadi."...


..."Oh, syukurlah. Aji pikir kemana dan kenapa tadi."...


Dengan membuang nafas lega, Aji melihat ke arah istrinya, Elisa, dengan tersenyum. Dia ingin, agar Elisa sendiri yang mengatakan kabar kehamilannya ini, pada mama Cilla di rumah.


..."Elisa apa kabar? Sekarang Kamu ada di mana?"...


..."Aji sedang di jalan Ma, sama Elisa juga."...


..."Lho, di jalan kok sambil telponan. Bahaya Sayang!"...


..."Rumah sakit? Kamu kenapa, atau Elisa kenapa?"....


Mama Cilla, bertanya dengan panik, saat mendengar perkataan Aji tentang rumah sakit. Dia berpikir jika terjadi sesuatu pada Elisa atau Aji di India. Dia belum tahu, jika anak dan menantunya itu, ingin melakukan test kesuburan. Tapi, ternyata itu tidak diperlukan lagi sama sekali, karena Elisa, justru sudah mengandung saat ini.


..."Aji dan Elisa tidak kenapa-kenapa Ma. Ini Elisa mau bicara dengan Mama sendiri."...


..."Oh ya mana Elisa?"...


Panggilan telepon di ganti Aji menjadi video call. Dia ingin melihat ekspresi wajah mama dan papanya saat mendengar kabar dari Elisa sekarang.


"Ma," panggil Elisa sambil tersenyum sumringah.


"Hai El, menantuku. Apa kabar Kamu di sana Sayang, betah?" tanya mama Cilla, saat melihat wajah Elisa yang sedang tersenyum.


Elisa tampak mengangguk. Sekarang, dia justru tidak mampu berkata apa-apa lagi pada mama Cilla. Tenggorokannya terasa sulit untuk mengucapkan kata-kata, memberikan kabar baik itu pada mama mertuanya.


"Hai, katanya mau ngomong. Malah diem?" Mama Cilla, bertanya saat Elisa diam beberapa menit. Dia hanya tersenyum-senyum sendiri dan melirik-lirik ke arah suaminya, Aji, yang duduk di sebelahnya, di kursi belakang.

__ADS_1


"I_ini... El mau... mau bilang pada Mama kalau... kalau El, El sudah hamil."


Akhirnya, Elisa bisa membuka mulutnya untuk memberikan kabar ini pada mama Cilla. Dia mengarahkan kamera handphone yang dia pegang ke wajahnya Aji.


"Apa? Kamu sudah hamil?" mama Cilla, berteriak keras dengan wajah yang sulit dilukiskan.


"Pa, Pa! Elisa hamil Pa!"


Mama Cilla, tampak memanggil suaminya, yang sedang bekerja. Dia begitu bersemangat untuk memberikan kabar, yang baru saja dia dengar dari Elisa, pada suaminya, papa Gilang.


"Benarkah?" tanya papa Gilang, yang terdengar dari handphone. Mama Cilla, mengalihkan kamera ke arah suaminya.


"Benarkah itu El, Aji?"


Sekarang, ganti papa Gilang yang tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia merasa kejutan malam ini membuatnya tidak percaya jika ini nyata. Papa Gilang berpikir, jika dia sedang tidur dan bermimpi, kemudian dibangunkan oleh istrinya, agar cepat tersadar.


Di layar handphone yang sekarang di pegang papa Gilang, Aji dan Elisa tampak mengangguk pasti. Ini membuat papa Gilang sadar, jika dia sedang tidak bermimpi.


"Papa pikir, Papa sedang bermimpi, dan di prank mama Sayang. Selamat ya, buat kalian. Papa ikut senang mendengar kabar ini."


"Iya Sayang. Selamat juga ya. Pokoknya, kalau bisa kalian pulang ke Indonesia lagi."


Mama Cilla meminta Aji dan Elisa untuk pulang ke Indonesia. Dia ingin melihat anak dan menantunya itu.


"Kami tidak bisa berjanji untuk itu Ma. Tapi, akan Kami usahakan untuk bisa pulang, saat Elisa mau melahirkan nanti."


Wajah mama Cilla, terlihat kecewa saat mendengar jawaban dari Aji. Tapi, dia segera mengalihkan perhatian anak dan menantunya itu dengan berkata, "ya sudah tidak apa-apa. Yang penting, kamu jaga Elisa baik-baik ya. Jaga emosi_nya juga, biar kondisi pikiran dan perasaan hatinya tidak


mempengaruhi janin yang dia kandung."


Aji hanya mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan dan nasehat dari mamanya. Elisa, juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh suaminya itu.


"Kalian hati-hati di sana. Jika ada apa-apa atau butuh sesuatu yang tidak ada di India, bisa kasih tahu Mama. Nanti Mama akan kirim dari Indonesia. Siapa tahu, Elisa ngidam yang aneh-aneh dan tidak bisa ditemukan di India. Hehehe..."


Elisa dan Aji, ikut tertawa senang, saat mama Cilla mengatakan hal itu. Ini juga yang menjadi pikiran Aji tadi.


"Ya sudah ya Ma. Kami sudah sampai rumah. Besok-besok, kami kabari lagi. Selamat malam Ma, Pa." Aji, mengakhiri sambungan video call_nya dengan mama dan papanya. Mobil yang membawa mereka berdua, sudah memasuki halaman utama rumah ayah Sangkoer Singh.


"Kita akan membuat kejutan untuk ayah, dengan memberikan kabar ini padanya, begitu ayah menyapa kita nanti," kata Aji, sambil mengandeng tangan Elisa, untuk turun dari mobil.

__ADS_1


__ADS_2