Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Dokter Dimas


__ADS_3

Hening. Ruangan yang tidak terlalu besar di villa Sentul, benar-benar terasa sepi. Semuanya terdiam dan tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka menunggu jawaban dari Cilla, atas lamaran yang diajukan Gilang tadi.


Cilla juga masih terdiam. Dia belum menjawab satu katapun. Dia menatap wajah Aji, anaknya itu dengan penuh kasih sayang.


Akhirnya, Cilla tersenyum melihat Aji yang tersenyum terlebih dahulu padanya. Dia juga melihat Aji, yang mengganguk-anggukan kepalanya, meskipun hanya terlihat samar.


Cilla menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya mengatakan, "Ya."


Aji memeluk mamanya dengan senang dan berteriak kegirangan. "Hore!!!"


Semua orang yang tadi diam dalam ketegangan, tersenyum lega saat mendengar teriakan Aji. Gilang dan mami Rossa, saling pandang, kemudian berpelukan dengan wajah berseri.


"Selamat ya Sayang," kata mami Rossa, memberikan ucapan selamat pada anaknya yang sudah berhasil melamar Cilla.


"Terima kasih Mi. Semua ini juga berkat Mami dan Aji," kata Gilang dengan tersenyum bahagia.


Mami Rossa beralih pada Cilla. Dia kini memeluk Cilla dengan tersenyum bahagia. "Selamat Sayang. Semoga akan selalu berbahagia dengan anak Mami."


"Terima kasih Mi. Anggap Cilla sebagai anaknya Mami, dan tidak sungkan menegur jika Cilla ada kesalahan nanti."


Mami Rossa dan Cilla saling berpelukan dengan rasa bahagia. Begitu juga Aji yang sekarang ada dalam gendongan papanya, Gilang.


Bibi dan yang lainnya, ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh majikannya itu. Mereka berharap, agar majikannya bisa hidup berbahagia selamanya.


"Ayok, cincinnya mana Gilang?" tanya mami Rossa, mengingatkan anaknya.


"Oh iya Mi. Sebentar," kata Gilang, kemudian merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kotak merah kecil, yang dia kantongi sedari tadi.


"Semoga pas ya," kata Gilang dengan tersenyum tipis.


Gilang memang tidak mengukur jari manis Cilla. Dia hanya mengira-ngira saja. Dia merasa yakin jika jari Cilla, lebih kecil dari jari kelingkingnya sendiri.


Saat Gilang membuka kotak merah tersebut, dan meminta tangan kiri Cilla, dari arah pintu masuk, ada suara seseorang yang mencegahnya, "Tunggu!"


Semua orang menoleh ke sumber suara. Disana tampak tuan Adi, dan satu lagi laki-laki yang lebih muda dari tuan Adi.

__ADS_1


"Dimas!"


Mami Rossa mengenali, siapa laki-laki yang datang bersama dengan tuan Adi itu. Dia adalah Dimas, adiknya tuan Adi. Dia adalah seorang dokter, yang baru saja menyelesaikan pendidikan spesialisnya, sebagai dokter bedah dan penyakit dalam, di luar negeri.


"Dokter Dimas," guman Cilla pelan.


Cilla juga mengenali dokter Dimas. Dokter muda yang dulu bertugas di klinik Mall, saat dia masih menjadi karyawan toko milik mami Rossa. Waktu itu, Cilla pingsan dan belum tahu jika sedang hamil. Dokter Dimas yang memberitahu dia saat itu.


Dokter Dimas memang pernah magang di klinik Mall. Itu atas rekomendasi mami Rossa, karena dokter sebelumnya sudah mendapat tugas lain. Sedangkan dokter Dimas baru saja lulus dari universitas kedokteran dan menunggu jawaban dari pengajuan beasiswanya ke luar negeri.


"Kamu kenal Dimas di mana Honey?" tanya Gilang bingung, saat mendengar gumaman Cilla.


"Em... Itu, itu benar dokter Dimas?" tanya Cilla menyakinkan dirinya sendiri.


"Iya. Itu dokter Dimas. Adiknya Adi, yang punya kontrakan rumah Kamu dulu," jawab Gilang menjelaskan pada Cilla.


"Dia dokter yang ada di Mall waktu itu," kata Cilla memberitahu.


"Dokter di Mall?" tanya Gilang, mengulang jawaban dari Cilla.


"Sini Dim, Adi!"


Mami Rossa mengajak dokter Dimas dan juga tuan Adi untuk mendekat.


Dokter Dimas dan tuan Adi, tersenyum mendengar ajakan mami Rossa. Mereka berdua mendekat juga ke arah mereka semua yang sedang berkumpul untuk acara lamaran Cilla yang tidak diadakan secara besar-besaran.


Dokter Dimas tertegun, melihat ke arah Cilla. Dia memastikan bahwa apa yang dia lihat tidak salah saat ini.


"Mbak Cilla?" tanya dokter Dimas memastikan.


Cilla hanya mengangguk saat dokter Dimas menyebutkan namanya.


"Kamu kenal Cilla?" tanya tuan Adi pada adiknya itu.


"Iya Bang. Ini mbak-mbak kecil, yang ada di toko mami Rossa, dan hamil waktu itu. Aku pernah cerita kan pada Abang dulu?" Dimas mengingatkan pada abangnya, tuan Adi.

__ADS_1


"Kenapa dia ada sama mas Gilang?" tanya dokter Dimas bingung.


"Hem. Rumit juga ya cerita kita semua. Dan ternyata dunia ini memang sempit," kata tuan Adi berkomentar.


"Maksudnya Bang?" tanya dokter Dimas bingung.


*****


Dulu, dokter Dimas pernah bercerita pada abangnya, tuan Adi, jika ada salah satu karyawan toko mami Rossa yang hamil dan tidak diketahui siapa ayah dari bayi itu, karena karyawan tersebut tidak mau mengatakan siapa yang menghamilinya.


Dokter Dimas minta ijin pada abangnya, tuan Adi, untuk bisa menikahi gadis itu, sebab dia memang menyukainya, sejak dia datang bertugas di klinik Mall. Tapi tuan Adi menolak permintaan adiknya dan segera mengirim adiknya itu ke luar negeri, padahal waktu itu balasan untuk pengajuan beasiswanya belum turun.


Begitu juga dengan tuan Adi sendiri. Dia juga pernah memiliki rasa pada Cilla, bahkan pernah memakai cara kasar, hanya untuk bisa mendapatkan perhatian Cilla.


Kemarin, saat tuan Adi diberi kabar mami Rossa agar bisa datang ke villa di Sentul, dia mengajak adiknya yang baru saja datang minggu kemarin.


Itulah sebabnya, sekarang dia datang memenuhi undangan dari mami Rossa, bersama dengan adiknya itu.


Tapi dia luar dugaan tuan Adi, adiknya itu, dokter Dimas, ternyata juga mengenal Cilla. Bahkan, Cilla lah yang dulu pernah diceritakan adiknya itu. Tuan Adi menghela nafas panjang, mengingat jalan takdir mereka, yang sepertinya rumit.


Tapi sepertinya mereka berdua memang tidak ada peluang untuk bisa mendapatkan Cilla. Karena ternyata, Cilla adalah gadis yang selama ini di cari Gilang, bahkan sudah ada anak, Aji, diantara mereka berdua.


Saat ini, Gilang sedang melamar Cilla, dan Cilla pun sudah menerimanya.


*****


Gilang sudah menyematkan cincin pertunangan pada jari Cilla. Semua orang bertepuk tangan, ikut berbahagia dengan wajah yang berseri.


Sekarang saatnya acara makan-makan bersama. Hidangan sudah ditata rapi oleh bibi dan yang lainnya. Mereka semua ikut menikmati makanan yang tersedia dan bermacam-macam itu.


"Aku tidak menyangka Bang, jika ternyata mas Gilang yang menghamili mbak Cilla. Coba dulu, Abang menyetujui rencana Aku, mbak Cilla sudah jadi istriku saat ini."


Dokter Dimas menyalahkan abangnya, tuan Adi. Kini dia sedang makan dengan menatap terus ke arah cilla.


"Hush. Tidak usah berandai-andai. Memang bukan jodoh. Kamu pikir Abang tidak kenal Cilla. Dia itu penghuni rumah kontrak milik Abang, dan Abang juga tidak tahu jika Cilla adalah gadis yang selama ini dicari Gilang. Padahal kamu tahu sendiri, jika dulu, Abang sering diajak Gilang mencari keberadaan gadis itu."

__ADS_1


"Berarti kita senasib ya Bang!"


__ADS_2