Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Jawaban Elisa Dan Aji


__ADS_3

Dengan sangat terkejut, Elisa melihat ke arah Aji, yang saat ini ada di hadapannya. Dia tidak menyangka, jika akan mendapatkan pertanyaan seperti ini dari Aji.


"Terima saja Kak," bisik Vero, memberikan dukungannya.


Jeny, juga tersenyum kearahnya, meskipun tidak mengatakan apa-apa, tapi Elisa tahu, jika Jeny, memintanya untuk menyetujui permintaan kakaknya itu, melalui pandangan matanya.


"Ma, El... ja... ja ab ya."


Oma Rossa, yang sedari tadi hanya diam tanpa ikut berkata apapun, tiba-tiba saja ikut mengatakan sesuatu.


Awalnya, Elisa tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh oma Rossa. Dia bingung dan melihat ke arah Aji, tapi Aji malah mengangguk saja.


"El. Oma minta sama Kamu, jawab iya saja." Sekarang, mama Cilla yang menerjemahkan apa yang dikatakan oleh oma Rossa tadi.


Oma Rossa, mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh mama Cilla, menantunya itu. Dia tersenyum melihat ke arah Elisa yang masih belum menjawab pertanyaan Aji.


"Buru jawab El. Pegel nih!"


Aji, malah memaksa Elisa untuk segera menjawabnya, karena dia sudah merasa capek berdiri sedari tadi.


Wajah Elisa jadi memerah. Apalagi Vero dan Biyan terkikik di tahan agar tidak sampai kelepasan untuk tertawa.


Akhirnya, Elisa menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Aji, yang memintanya untuk menjadikannya seorang istri.


"El masih kuliah. El juga belum tentu bisa menjadi seorang istri yang baik nantinya. El, masih ingin membahagiakan bapak di kampung. El juga masih banyak mimpi. Apa kak Aji bisa, ikut mendampingi dan mengajari El, untuk bisa menjadikan keinginan itu sebuah kenyataan?"


Aji tersenyum mendengar jawaban dari Elisa. Dia langsung menarik tubuh Elisa dari tempat duduknya, dan memeluknya dengan erat.


"Wah... wah, gak sabaran nih kakak!"


"Weh, Kak. Ikutan ya!"


Vero dan Biyan, langsung berkomentar tentang kelakuan kakaknya itu.


"Kak, jangan pamer dong!" Jeny, juga ikut-ikutan berkomentar.


"Aduh, ini anak. Main sikat saja, gak lihat tempat." Papa Gilang, mengeluhkan tentang sikap Aji.

__ADS_1


"Sudah Ma. Nikahin saja langsung, gak pake lama." Vero berkata kepada mamanya.


"Ji. Ayang... ayang Sa ya." Oma Rossa, ikut-ikutan mengomentari Aji dan Elisa.


"Wah, bisa-bisa kesalip duluan Aku," kata dokter Dimas sambil tertawa kecil, menoleh ke arah Jeny.


"Idih, terus maunya?" tanya Jeny sambil mencibir perkataan dokter Dimas.


"Bareng-bareng saja ya?" dokter Dimas, memberikan usul.


Jeny, tidak lagi menjawab. Dia ikut tertawa melihat Elisa yang sangat malu, karena perlakuan Aji padanya tadi.


Rio, ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh semua orang yang ada di rumah Jeny saat ini. Meskipun, hatinya terasa ada yang mencubit. Perih.


"Eh, tapi tunggu dulu. El mau tanya sama Tante."


Tiba-tiba Elisa ingat, bahwa dia ingin bertanya pada mama Cilla. Kini, Elisa berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan Aji.


Akhirnya, Aji melepaskan pelukannya juga. Dia membiarkan Elisa agar bisa bebas bertanya pada mamanya.


Mama Cilla, melihat ke arah suaminya, begitu mendengar pertanyaan dari Elisa. Apa mungkin dia akan mengatakan alasannya sekarang ini, padahal sedang ada anak-anaknya juga, yang akan ikut mendengarkan alasannya itu.


Papa Gilang tahu, jika istrinya itu, kesulitan untuk mengatakan alasannya. Dia akhirnya, membantu mama Cilla, untuk menjawab pertanyaan dari Elisa.


"Kami, pernah mendengar perdebatan kecil kalian berdua tentang kejadian di kost Elisa yang kemarin itu, saat kalian berada di kolam ikan belakang."


"Pa. Itu bukan seperti yang Papa, atau Mama pikirkan," sahut Aji, mencoba menjelaskan.


"Hah, tentang apa itu?" tanya Elisa bingung. Dia lupa, perdebatan apa yang sudah membuat mama Cilla salah paham dengannya. Mungkin karena terlalu banyak perdebatan yang dia lakukan dengan Aji, jadi dia sendiri tidak hafal dengan satu perdebatan di kolam ikan.


"Maksudnya Sayang?" tanya mama Cilla bingung. Begitu juga dengan yang lainnya, sama bingungnya.


"Kakak ingat, tentang apa itu?" tanya Elisa ingin tahu.


Aji, menghela nafas terlebih dahulu sebelum menceritakan tentang yang sebenarnya mereka, dia dan Elisa perdebatkan waktu itu. Yang lainnya juga ikut menahan nafas, saat mendengarkan Aji bercerita.


"Begitu ceritanya Ma, Pa."

__ADS_1


Aji, selesai juga bercerita, yang membuat kesalahpahaman itu tidak ada lagi.


"Oh... begitu ya ceritanya. Ma, lain kali, yang jelas ya kalau mendengar sesuatu. Tidak hanya apa yang terdengar saat itu, karena ada banyak hal yang kadang tidak ikut terdengar dan menjadikan kita salah paham pada suatu masalah," kata papa Gilang, memberikan pesan pada istrinya, mama Cilla.


Mama Cilla, bernafas lega karena, apa yang dia pikirkan selama ini salah, dan tidak terjadi pada anaknya dan juga Elisa.


"Syukurlah kalau begitu," kata mama Cilla dengan tersenyum lega. Begitu dengan yang lainnya.


"Tapi Kakak, tetap akan menikah dengan Kak El kan Ma?" tanya Vero, ingin tahu.


Elisa dan Aji, sama-sama melihat satu sama lainnya, kemudian beralih ke arah mama Cilla, untuk mendengarkan keputusannya kali ini.


"Mama... terserah Papa saja," kata mama Cilla, menyerahkan keputusan ini pada suaminya. Dia tidak ingin, ada kesalahpahaman lagi yang di sebabkan olehnya.


Semua orang, beralih menatap ke arah papa Gilang. Rio juga ikut menantikan keputusan yang diambil oleh papa Gilang selanjutnya.


"Papa terserah Aji. Mau dilanjutkan dalam waktu dekat ini, silahkan, mau ditunda dulu, silahkan juga."


"Yah... gagal punya kakak ipar comel yang bisa diajak berantem deh!" komentar Vero dengan cepat. Setelahnya, Vero mendapatkan sebuah jitakan dari kembarannya, Biyan. Vero, hanya bisa meringis sambil meraba-raba kepalanya yang terasa sakit. "Huhfff..."


Mama Cilla dan Jeny, tersenyum lega mendengar perkataan dari papa Gilang. Tapi tidak dengan Aji. Dia merasa kecewa, tapi dengan cepat, berusaha untuk menormalkan kembali wajahnya, agar tidak terlihat oleh yang lain.


Elisa, jadi merasa malu. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Dia tadi, hampir saja menjadi calon istrinya Aji. Tapi sekarang, dia tidak tahu lagi, apa yang akan terjadi padanya. Ini hanya sebuah mimpi baginya.


"Rio, kita pulang saja yuk!" ajak Elisa, dengan berisik, mendekat ke arah Rio.


"Kamu gak nunggu apa yang akan diputuskan kak Aji?" tanya Rio dengan wajah cemas, melihat Elisa yang terlihat kecewa.


"Kak Aji hanya diam. aku kan jadi malu sendiri Rio," jawab Elisa dengan meringis canggung.


"Yakin mau pulang?" tanya Rio sekali lagi.


"Iya." Elisa menjawab dengan pasti.


"Iya. Aku akan tetap menikahi Elisa, nanti, setelah Jeny menikah dengan Om Dimas."


Elisa dan Rio, sama-sama kaget, saat mendengar perkataan Aji yang dengan tegas mengatakan, jika dia akan tetap menikah dengan Elisa.

__ADS_1


__ADS_2