
Suasana sedikit canggung saat dokter keluar dari kamar rawat Gilang, diikuti oleh mami Rossa yang mau mengambil hasil test akhir dari Rontgen tadi. Dia juga ingin bicara dengan dokter mengenai luka dalam Gilang, yang tidak terlihat dari luar. Mami Rossa masih tetap saja khawatir, meskipun dokter sudah memberitahu jika semuanya baik-baik saja.
Di dalam kamar, ada Aji yang sudah mulai mengantuk, Gilang yang masih duduk seperti biasanya, dan juga Cilla yang sedang membelai rambut Aji agar cepat tertidur.
"Hem..." Gilang melihat ke arah Aji dengan pandangan iri.
"Ada apa? Ada yang sakit?" tanya Cilla cepat. Dia merasa khawatir jika Gilang merasa sakit akibat dari latihannya yang tadi, duduk dan berbaring, seperti yang diintruksikan oleh dokter saat pemeriksaannya.
"Tidak. Aku hanya merasa iri," jawab Gilang dengan muka masam.
"Iri?" tanya Cilla bingung dengan jawaban Gilang yang terdengar aneh.
"Iri kenapa, dengan siapa?" tanya Cilla lagi dengan wajah penuh keheranan.
"Itu!" jawab Gilang cepat sambil menunjuk dengan wajahnya yang mendongak kearah Aji yang sedang dipangku Cilla dan dielus-elus rambutnya.
Cilla melotot kaget mendengar jawaban dari Gilang yang terasa aneh. Dia melihat ke arah Gilang dengan wajah yang terlihat bingung dan penuh tanda tanya. "Masa iya, dia yang sebesar itu merasa iri dengan Aji yang jelas-jelas masih kecil, anaknya dia juga kan? Lalu iri dari segi apa?" pikir Cilla dalam hatinya.
"Aku juga ingin diperlakukan seperti Aji, kayak gitu!" kata Gilang memberikan penjelasan pada Cilla yang terlihat bingung dan aneh setelah mendengar jawaban darinya.
Akhirnya Cilla paham dengan apa yang dikatakan oleh Gilang. Kini dia tertunduk diam dan malu. Wajahnya memerah dan tidak berani melihat ke arah Gilang lagi.
Gilang merasa puas sudah berhasil menggoda Cilla. Dia memang sengaja untuk sesering mungkin menggodanya, agar Cilla tidak merasa canggung dan terbiasa dengannya nanti. Dia harus bisa bersabar menghadapi Cilla jika ingin mendapatkan hatinya secara utuh tanpa bayang-bayang akan kejadian malam itu.
*****
Beberapa saat kemudian, mami Rossa tampak masuk ke dalam kamar rawat Gilang. Tapi dia tidak sendirian. Dia bersama beberapa pembantu rumah tangganya yang baru saja datang.
__ADS_1
Suasana kamar inap Gilang jadi sedikit ramai dengan adanya beberapa pembantu rumah yang datang tadi.
Mereka datang ke rumah sakit untuk menjenguk majikan mereka, tuan muda mereka yang sedang sakit itu. Tapi tidak semua pembantu di rumah Gilang ikut datang. Hanya beberapa saja yang ikut datang ke rumah sakit, sebab tidak mungkin meninggalkan rumah majikan mereka dan membiarkan rumah itu kosong tanpa dijaga oleh siapapun.
Maksud kedatangan mereka juga karena membantu membereskan semua barang-barang dan membersihkan tempat kamar inap tersebut agar saat Gilang pulang semuanya sudah rapi.
"Maaf ya tuan muda. Kamu baru bisa datang menjenguk," kata salah atau dari mereka semua.
"Iya tidak apa-apa Bi. Yang penting kalian semua tetap mendoakan kesembuhan dan kesehatanku. Itu saja aku sudah sangat senang kok Bi," jawab Gilang dengan tersenyum senang melihat semua pembantu rumahnya yang bersimpati kepadanya.
"Rumah sudah beres kan Bi?" tanya mami Rossa mengingatkan.
"Sudah nyonya, terutama kamar tuan muda. Sudah kami bersihkan pertama kali sebelum yang lainnya," jawab pembantu tersebut dengan menundukkan wajahnya.
"Syukurlah. Itu yang di lemari semuanya dibereskan. Yang di tas dan kranjang baju kotor punya Gilang bawa juga. Nanti taruh di mobil kalian, terus bawa pulang terlebih dahulu. Itu yang di koper besar punya Aji dan Cilla jangan taruh di mobil kalian. Tapi taruh ke mobil saya."
Mami Rossa memberikan beberapa instruksi pada pembantu-pembantu yang ikut datang. Mereka semua mengangguk mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh mami Rossa.
"Tidak boleh. Kamu pulang ke rumah bersama dengan supir. Biar Aji sama Cilla pulang ke apartemen. Nanti Mami yang akan antar mereka," jawab mami Rossa memberikan penjelasan pada Gilang, anaknya yang masih terlihat bingung.
"Kenapa harus Mami?" tanya Gilang lagi meminta penjelasan yang lebih.
"Kamu ini! Pura-pura tidak tahu apa memang tidak tahu benar apa yang Mami maksud?" tanya Mami Rossa menguji anaknya.
"Hehehe..." Gilang terkekeh sambil menggaruk pelipisnya sendiri.
"Dasar!" Mami Rossa mencibir jawaban dari anaknya itu.
__ADS_1
Semua pembantu yang ada di kamar Gilang ikut tersenyum, meskipun mereka bisa menahannya agar tidak tertawa. Mereka semua merasa senang melihat tingkah tuan mudanya yang tidak lagi kaku dan dingin.
Cilla membenarkan posisi tidur Aji yang sudah pulas. Dia sendiri turun dari tempat tidur, kemudian ikut membereskan beberapa mainan milik Aji yang masih tercecer dan belum masuk kedalam koper.
"Cilla. Ini handphone milikmu," kata mami Rossa sambil menyerahkan dua buah handphone miliknya dan Aji, yang kemarin di ambil oleh anak buah Candra.
"Mami mendapatkan handphone itu dari komandan polisi. Dia sudah memulai proses penyelidikan. Mungkin sekarang sudah didaftarkan ke pengadilan untuk proses selanjutnya. Sebenarnya handphone ini salah satu batang bukti, tapi karena tidak ditemukan apa-apa di dalamnya, pihak kepolisian tidak lagi membutuhkannya. Mungkin kamu yang lebih butuh."
Mami Rossa menjelaskan tentang handphone milik Cilla dan Aji, sebelum Cilla bertanya. Dia juga memberikan charger handphone miliknya agar Cilla bisa mengisi daya baterai handphonenya yang sudah off berhari-hari. "Ini isi baterai dulu!"
"Terima kasih Mi," kata Cilla, kemudian menerima charger handphone yang di sodorkan mami Rossa padanya.
"Bagaimana keadaan Candra Mi?" tanya Gilang seakan-akan baru sadar, jika Candra juga terluka akibat tembakan polisi di kakinya.
"Dia sudah baik dan sekarang ada di dalam tahanan. Begitu juga dengan Lily," jawab mami Rossa memberitahu.
"Lily?" tanya Gilang bingung. Dia memang tidak tahu apa-apa mengenai kasus penculikan itu. Semua orang memang diam dan tidak memberitahu Gilang.
"Iya. Lily ikut terlibat dalam kasus ini," jawab mami Rossa. Tapi sepertinya, mami Rossa enggan untuk menjelaskan pada Gilang.
"Bagaimana bisa Lily terlibat dalam kasus ini Mi?" tanya Gilang ingin tahu.
"Besok kalau kamu sudah bisa datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan sebagai saksi juga akan tahu sendiri." Mami Rossa tetap tidak mau menjelaskan pada Gilang.
"Cilla dan Aji juga belum mami ijinkan untuk dipanggil polisi. Biar nanti saja sekalian bersama dengan kamu jika sudah waktunya."
Mami Rossa memang meminta pada polisi untuk tidak memangil anak dan calon menantunya itu. Dia beralasan jika mereka butuh waktu untuk beristirahat dan menyembuhkan luka-luka yang mereka alami saat kejadian itu. Lagipula mami Rossa sudah menyerahkan semua urusan kasus ini pada pengacara keluarganya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku ikut aturan yang mami buat a
saja," kata Gilang menyerah.