Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Ternyata Dia


__ADS_3

Cilla mengalami memar-memar dikakinya. Ada beberapa luka yang serius juga akibat pecahan kaca yang secara tidak sengaja dia injak saat kabur kemarin malam. kini dia sedang tertidur ditunggu oleh Aji yang duduk di sebelahnya, diatas ranjang pasien yang sama.


"Egh... Ehh... Aduh!" Gilang sadar dan mengerang kesakitan. Dia memegang perutnya yang terasa nyeri.


"Pa. Papa sudah sadar." Gilang berusaha untuk turun dari ranjang dan mendekati papanya yang baru saja sadar dari pengaruh obat bius pasca operasi pengangkatan peluru diperutnya.


"Oma. Oma Rossa!" Aji berteriak agar mami Rossa yang sedang ada diluar mendengar suaranya.


Ceklek!


Pintu segera terbuka dan mami Rossa muncul dari balik pintu.


"Gilang. Kamu sudah sadar?" tanya mami Rossa senang dan bahagia, tapi seakan-akan tidak percaya dengan semua ini.


"Mami senang Gilang. Akhirnya kamu sadar juga. Sebentar Mami panggil dokter," kata mami Rossa lagi, kemudian memencet tombol pasien untuk memanggil tim dokter ataupun perawat.


"Em... egh, ihs...!" Cilla ikut terbangun dan meringis kesakitan. Dia baru merasakan sakit setelah semuanya selesai dari masa ketegangan.


Aji yang sudah turun dan mendekat kearah papanya kembali mendekat ke arah ranjang Cilla.


"Mama sudah bangun juga?" tanya Aji dengan mata berbinar-binar karena senang.


"Mama ketiduran ya Sayang?" Cilla bertanya pada anaknya. Dia merasa tadi hanya tidur-tiduran untuk menghilangkan rasa penat dan pegal-pegal pada tubuhnya.


"Mungkin mama capek dan pengaruh obat juga," jawab Aji.


Cilla hanya mengangguk dan melihat ke arah Gilang yang masih meringis merasakan kesakitan pada ****** perutnya.


"Mama mau kita lihat papa kamu!" Cilla berniat untuk turun dari ranjang pasien.


"Em... Mi. A... Aji dan Cilla tidak ke... kenapa-kenapa kan Mi?" tanya Gilang terbata-bata, sebab menahan nyeri di perutnya yang masih basah akibat operasi pengangkatan peluru.


"Iya Sayang. Mereka selamat. Itu mereka!" Mami Rossa tersenyum bahagia dan hampir meneteskan air mata haru. Dia menunjuk ke arah Aji dan Cilla yang ada di sebelah ranjang pasien dengan dagunya.

__ADS_1


Gilang menoleh ke arah yang ditunjuk oleh mami Rossa. Tapi dia pun meringis akibat gerakan yang tidak seberapa itu.


Ceklek!


Pintu terbuka dan dokter bersama dua perawat datang membawa alat-alat mereka.


"Maaf ya. Di periksa dulu!" kata dokter meminta ijin.


Mami Rossa menganguk mengiyakan. Dia menyingkir dari tempatnya berdiri dan membiarkan dokter memeriksa anaknya itu.


Aji dan Cilla yang hampir mendekat urung kembali. Mereka akhirnya hanya melihat dari pinggir ranjang pasien yang mereka tiduri tadi.


Beberapa menit kemudian, dokter selesai melakukan pemeriksaan terhadap Gilang. Dia mengangguk pada perawat yang bersamanya dan mengatakan beberapa hal yang perlu dicatat.


"Semua baik. Tapi tetap banyak istirahat dan jangan banyak bergerak dulu. Untung peluru itu tidak mengenai organ perut yang lainnya. Semoga tidak lama lagi jahitannya juga akan mengering."


Dokter memberikan penjelasan dan beberapa keterangan pada Gilang dan mami Rossa. Setelah semua selesai, dokter pamit undur diri.


Ceklek!


Dokter dan perawat belum juga keluar dari ruangan Gilang, dari luar Lily dan dokter Hendrawan datang menjenguk.


"Mas Gilang sudah sadar?" tanya Lily sok perhatian.


Papanya, dokter Hendrawan berjalan dibelakang Lily, dengan menundukkan kepalanya. Dia masih merasa malu pada mami Rossa, karena semua kelakuan anak-anaknya menyebabkan terjadinya semua ini. Hampir saja Gilang kehilangan nyawa, dan itu juga karena perbuatan anaknya, Candra.


"Kamu belum ditahan juga?" tanya mami Rossa tidak suka dengan kedatangan Lily.


"Maaf kami permisi dulu. Ingat pasien perlu istirahat dan ketenangan!" Dokter memotong dengan berpamitan dan kembali mengingatkan pesannya yang tadi.


"Iya Dok. Kami tidak akan lama," jawab dokter Hendrawan pelan sambil menganggukkan kepalanya kepada dokter dan para perawat.


"Mohon kerjasama dokter Hendrawan. Kami tidak ingin emosi tuan Gilang akan mempengaruhi luka dalamnya," kata dokter lagi mengingatkan.

__ADS_1


Dokter Hendrawan hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dia juga tidak akan lama di kamar pasien Gilang ini. Dia hanya mengantar anaknya, Lily untuk meminta maaf kepada mami Rossa dan juga Gilang.


"Mi. Mami Rossa. Aku minta maaf. Semua ini diluar dugaanku. Aku tidak berpikir jika kak Candra akan senekat itu!"


Lily meminta maaf dengan beruarai air mata. Dia menyesali semua yang terjadi dalam rencana yang dia buat bersama dengan kakaknya, Candra yang belum lama datang ke Indonesia.


*****


Menurut keterangan para tersangka, kedua anak buah Candra yang di tahan, penculikan Cilla dan Aji adalah susulan dari Lily, adik dari bos mereka, Candra.


Pagi itu, Candra sedang mengikuti Gilang yang pergi ke apartemen miliknya. Tapi ternyata hanya sampai di tempat parkir. Setelah ditunggu ternyata, Gilang sedang menjemput seseorang yang tidak dikenal oleh Candra. Bahkan orang tersebut bersama dengan anak kecil.


Akhirnya Canda membuntuti mereka ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, mereka bertemu lagi dengan mami Rossa, dan mereka tampak akrab. Tentu ini membuat Candra marah, apalagi tidak lama setelah itu adiknya, Lily menelpon dirinya, jika ternyata Gilang sudah memiliki anak dan calon istri.


Ternyata dugaan awal Candra melihat Aji dan Cilla benar. Alasan Gilang menolaknya sedari dulu juga ternyata karena keduanya, Aji dan Cilla. Padahal dulu, Gilang tidak tahu keberadaan keduanya, Aji dan juga Cilla.


Itulah sebabnya, Candra mengikuti kemanapun mereka pergi. Atas usul Lily, adiknya, rencana kakaknya itu dialihkan untuk menculik Aji dan Cilla, bukan lagi pada Gilang sebagai sasaran targetnya.


*****


Mami Rossa mencibir permintaan maaf Lily. Dia juga tidak pernah berpikir jika Lily yang dia kenal sopan dan lemah lembut bisa senekat itu demi ambisinya mendapatkan cinta anaknya, Gilang.


"Kmu pikir Mami bodoh Lily. Sudahlah, sebaiknya kamu menyerahkan diri sebelum polisi menjemputmu!" Mami Rossa memberikan saran pada Lily.


"Maaf jeng Rossa. Lily kemari hanya ingin menjenguk dan meminta maaf. Setelah ini dia akan dibawa ke kantor polisi. Tenang saja. Di depan kamar ini sudah ada polisi yang menjaga supaya dia tidak akan kabur. Saya juga sudah menjamin, jika anak-anak saya akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka."


Dokter Hendrawan memberitahu pada mami Rossa. Mungkin dia tidak ingin ada keributan dan merenggangkannya hubungan baik yang sudah terjalin antara keluarganya dan keluarga mami Rossa. Dengan meminta maaf dan kooperatif, mungkin saja mami Rossa dan Gilang bisa mempertimbangkan tuntutannya arus setidaknya meringankan hukuman buat anak-anaknya.


"Syukurlah kalau begitu. Aku hanya tidak menyangka jika semua ini dalangnya justru orang yang sangat aku kenal. Bahkan pernah aku inginkan untuk menjadi menantuku suatu hari nanti," kata mami Rossa menyesali niatnya yang dulu.


Cilla dan Aji hanya diam di tempatnya. Mereka berdua tidak mau ikut bicara apa-apa. Mereka tidak ingin memperkeruh keadaan yang ada pada situasi yang rumit ini.


Gilang hanya memejamkan matanya mendengar semua pembicaraan mami Rossa dan dokter Hendrawan. Dia tidak pernah menyangka jika akan ada pada posisi dan situasi seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2