Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Strategi


__ADS_3

Gilang baru sampai di rumah. Mami Rossa yang tadinya duduk di sofa segera berdiri menyongsong anaknya, kemudian mulai bertanya-tanya. Tentu saja ini membuat Gilang menjadi semakik pusing. Padahal dia baru sampai dan sudah diberondong dengan berbagai macam Pertanyaan maminya yang panik dan juga cemas.


"Bagaimana keadaan mereka? Apakah ketemu? Siapa penculikannya? Dimana mereka?" Pertanyaan demi pertanyaan mami Rossa tanyakan pada Gilang.


"Mi. Stop bertanya dulu. Gilang pusing!" jawab Gilang sambil memijat keningnya sendiri.


Mami Rossa terdiam dan kembali terduduk di sofa. Dia menunggu anaknya itu untuk bercerita sendiri nantinya. Tapi dia sepertinya memang benar-benar tidak sabar, sehingga mulai bertanya lagi. "Apa kamu sudah lapor polisi? Apakah polisi sudah mulai mencari mereka?"


Gilang menjatuhkan diri ke sofa panjang yang ada di dekat maminya. Dia merebahkan tubuhnya dan menjadikan kaki maminya sebagai bantal. Mami Rossa akhirnya diam dan mengelus rambut anaknya yang terlihat sangat terpukul itu.


"Kenapa saat Gilang hampir menemukan kebahagiaan, malah seperti ini Mi? Apakah Gilang tidak ada kesempatan untuk berbahagia lagi? Gilang tidak mau kehilangan mereka," kata Gilang disela-sela nafasnya yang terdengar lelah tapi juga cemas.


"Sabar Sayang. Semuanya ada batasannya. Mungkin ini ujian untukmu menuju kebahagiaan yang sebenarnya. Kamu tidak boleh menyerah dan putus asa. Tetaplah berusaha dan jangan lupa terus berdoa untuk keselamatan mereka berdua."


Mami Rossa memberikan semangat dan dukungan pada anaknya itu. Dia memberikan nasehat yang baik dan juga harus tetap positif thinking pada garis takdir yang telah ditetapkan.


"Apakah ada petunjuk dari CCTV rumah sakit?" tanya mami Rossa setelah terdiam beberapa saat.


"Tidak ada Mi. Tapi aku curiga dengan mobil kebersihan yang keluar di jam-jam menghilangnya Aji dan juga Cilla. Sebab, hanya kendaraan itu yang terlihat keluar dari gerbang rumah sakit."


Gilang menerangkan pada maminya tentang kecurigaannya. Tapi dia belum sempat melaporkan ke polisi, sebab penculik itu keburu menelponnya dan mengancam juga.


"Telpon Aji atau Cilla?" tanya mami Rossa seakan baru ingat.


"Tidak aktif sejak aku mencari-cari mereka ke toilet Mi. Tapi ini aku sudah meminta polisi dan ahli IT-nya untuk datang ke rumah. Mereka sedang dalam perjalanan. Aku juga sudah mengirim plat nomor mobil yang aku curigai, tapi sepertinya plat nomor mobil itu palsu karena tidak terlacak."


Keterangan yang diberikan oleh Gilang membuat mami Rossa menghembuskan nafas panjang dan lemah. Ada ketakutan jika penculik ini nekat dan mencelakai cucunya dan juga calon menantunya.


"Semoga penculik itu tidak senekad berita-berita yang ada di TV ataupun berita-berita online. Sadis."


"Mi. Jangan berpikir aneh-aneh!" Gilang memperingatkan maminya.


Drettt... Drettt... Drettt


Handphone di saku celana Gilang bergetar. Gilang segera merogohnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata itu polisi yang dia minta untuk datang ke rumah.

__ADS_1


..."Ya hallo," jawab Gilang begitu dia menekan tombol hijau untuk menyambungkan panggilan....


..."Aku sudah ada didepan. Gerbang terkunci dan kata Security tadi, kamulah yang meminta, untuk tidak membukanya, pada siapapun yang ingin masuk."...


..."Oh ya, aku akan menelpon Security lewat panggilan yang ada di pos. Maaf ya Komandan!"...


Tadi saat Gilang pulang, dia memang berpesan pada Security rumah untuk tidak membuka pintu gerbang pada siapapun yang ingin masuk tanpa ijin darinya. Dia tidak ingin ada orang yang tiba-tiba datang dan mengancam keselamatan keluarganya setelah kejadian di rumah sakit tadi.


Setelah beberapa saat kemudian, Komandan polisi tersebut sampai di pintu utama rumah Gilang. Dia datang bersama ahli IT kepolisian yang sebenarnya tadi sudah siap berada di kantor polisi.


"Maaf Ndan. Aku terpaksa melakukan semua ini karena terus dipantau. Kamu sudah tahu alasannya kan? Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak dan calon istriku."


Gilang memang sudah menceritakan semuanya pada komandan tersebut, karena sebenarnya dia adalah teman Gilang sendiri semasa sekolah menengah atas.


"Ok, tidak apa-apa. Untung aku selalu bawa baju ganti. Dan ini orang juga tidak pernah pakai pakaian dinasnya." Komandan polisi tersebut mengangguk mengerti sambil menunjuk rekan ahli IT kepolisian yang datang bersamanya.


"Tante apa kabar?" Komandan polisi beralih pada mami Rossa yang memang sudah lama dia kenal.


"Tante baik tapi tidak akan baik lagi jika kabar mereka berdua belum juga diketahui." Mami Rossa menjawab pertanyaan dari komandan polisi tersebut.


"Iya. Tante berharap Kamu bisa secepatnya menemukan mereka berdua."


Mami Rossa mengajukan permintaannya pada komandan kepolisian. Mendengar permintaan mami Rossa, Komandan polisi menganguk dengan pasti.


Setelah itu, mereka bertiga berjalan kearah ruang kerja Gilang di lantai dua, untuk membicarakan kelanjutan laporan dan juga menyusun segala sesuatunya.


*****


Di tempat Aji dan Cilla berada.


"Ma. Sepertinya para penjahat itu sudah pergi. Kita harus berusaha untuk bisa keluar dari sini sebelum mereka kembali lagi," kata Aji setelah menempelkan telinganya di daun pintu.


"Apa tidak ada yang jaga diluar sana?" tanya Cilla pada anaknya.


"Sepertinya tidak ada. Dari tadi tidak ada pergerakan langkah maupun suara yang terdengar," jawab Aji memastikan.

__ADS_1


Setelah dirasa yakin, keduanya kembali berkonsentrasi untuk membuka kunci pintu kamar dengan kawat yang tadi mereka temukan.


"Mama coba cari sesuatu dulu di laci-laci meja ya!" Cilla segera berlari ke arah meja yang ada di kamar tersebut. Setiap laci dia buka untuk menemukan barang yang bisa digunakan untuk membuka pintu kamar.


Semua laci sudah dia buka. Tapi semuanya kosong dan tidak ditemukan apapun. Cilla sudah mulai putus asa. Dia mengangkat kedua bahunya ke arah Aji, anaknya itu, untuk memberitahu jika dia tidak berhasil.


"Tidak ada apa-apa," kata Cilla menyerah.


Aji tidak patah semangat. Kini, Aji yang ganti mencari benda-benda yang bisa dia gunakan nantinya. Benda apapun itu. Dia terus membuka apa saja untuk bisa menemukan sesuatu yang akan digunakan untuk bisa membuka pintu kamar tersebut.


"Tidak ada apa-apa kan?" tanya Cilla memastikan. Aji mengeleng, tapi sedetik kemudian dia tersenyum melihat sesuatu yang ada di pakaian mamanya.


"Ma. Mama, itu apa?" tanya Aji pada mamanya sambil menunjuk baju yang dia pakai.


"Ini Bros Sayang. Tapi bentuknya kayak...Ah, ini bisa digunakan!" teriak Cilla dengan wajah cerah.


Baju yang dia pakai memang ada Bros-nya. Bros itu berbentuk bunga dengan tangkainya yang memanjang. Mungkin bisa dipatahkan dan digunakan untuk membantu mereka saat berusaha membuka pintu kamar.


"Aduh!" Aji mengeluh karena jarinya tertusuk jarum.


"Hati-hati Sayang." Cilla memegang jadi Aji kemudian dia masukkan kedalam mulutnya sendiri, untuk menghentikan pendarahan.


"Sini, biar Mama saja." Cilla mengambil alih Bros untuk mengambil jarumnya.


"Ihhh..." Ganti jari Cilla yang tertusuk jarum.


"Hati-hati Ma!" Aji ganti melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh mamanya tadi.


"Sakit ya Ma?" tanya Aji setelah tangan mamanya dia keluarkan dari mulutnya.


"Tidak kok Sayang," jawab Cilla menenangkan anaknya agar tidak merasa khawatir.


Setelah berusaha untuk mematahkan jarumnya agar bisa berbetuk seperti kunci, akhirnya mereka berhasil juga. Jari Aji dan Cilla sudah banyak yang terluka karena tertusuk jarum tersebut.


"Sedikit lagi Sayang. Kita akan bisa keluar dari kamar ini!" kata Cilla memberikan semangat pada anaknya, Aji.

__ADS_1


__ADS_2