
Rumah papa Gilang, yang biasa tenang, jadi rame, dengan kedatangan Elisa dan Aji pagi ini.
Seperti yang dipesankan papa Gilang kemarin, jika Aji akan pergi untuk bertugas, papa Gilang meminta agar Elisa berada di rumahnya saja, dan tidak tinggal di apartemen sendirian.
"Ye... asyik! Ada Kak El," seru Vero, begitu melihat kedatangan mobil Aji, yang baru saja memasuki halaman rumah.
"Mama, ada kakak dan datang!" teriak Vero, dengan menoleh ke dalam rumah. Berharap agar mamanya yang sedang berada di dapur, mendengar suaranya saat ini.
"Mana?" tanya mama Cilla, yang memang mendengar teriakan anaknya, si Vero.
Vero, menunjuk ke arah mobil, yang langsung parkir ke garasi samping. Setelah berhenti, Elisa dan Aji, turun bersama-sama.
"Kakak!" sambut Vero, sambil memeluk kakak iparnya, Elisa.
"Eh, eh..."
Elisa, yang belum siap untuk sebuah pelukan, jadi terhuyung karena beban tubuh Vero, yang sekarang sudah semakin jangkung serta berisi.
"Apa-apaan sih!" Aji, menarik tangan adiknya, Vero, agar menjauh dari Elisa.
"Ihsss, Kakak pelit!" ucap Vero, karena kakaknya, Aji, melarangnya untuk memeluk istrinya, Elisa.
"Tidak ada ya, main peluk segala!" kata Aji, memperingatkan adiknya lagi.
"Huh, Kak El saja tidak keberatan kok!" protes Vero, sambil mencibir kakaknya yang over protektif terhadap istrinya, Elisa.
"Sudah-sudah. Ayo masuk!" ajak mama Cilla, memisahkan mereka berdua, agar tidak lagi melanjutkan pertikaiannya, antara Vero dan Aji, soal Elisa.
"Hu..."
"Vero!" tegur mama Cilla dengan menggeleng.
Vero, yang sedang mengerucutkan bibir pada kakaknya, Aji, jadi meringis karena mendapat teguran dari mama Cilla.
"Sudah dong Kak, sama adiknya kok gitu sih," kata Elisa, menenangkan suaminya, dengan mengusap-usap lengannya, agar kembali tenang dan tidak meladeni Vero lagi.
Sekarang mereka berempat, masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kamu jadi ke Tangerang hari ini?" tanya mama Cilla, yang sudah tahu rencana Aji, untuk pekerjaan yang diberikan oleh tuan besar Sangkoer Singh dari India.
"Iya Ma. Aji nitip Elisa ya. Jangan lupa, itu si Vero di tegur kalau usil dan berisik, gangguin Elisa saat bikin tugas."
Aji berpesan kepada mamanya, agar bisa memperlakukan Elisa dengan baik, saat dia sedang tidak berada di rumah.
"Iya. Mama ingat. Dia memang begitu, tidak usah dipikirkan," kata mama Cilla, dengan menggeleng beberapa kali.
"Tapi, Vero itu sudah remaja Ma, bukan anak-anak lagi. Dia tidak pantas memeluk iparnya sendiri seperti tadi. Kalau dilihat oleh orang lain, nanti bisa-bisa ada gosip yang beredar dan itu tidak baik."
"Kamu ini, mikirnya kok jauh banget sih?" Mama Cilla, tidak percaya dengan pemikiran Aji yang sejauh itu, menilai kedekatan Vero dan Elisa.
"Bukan begitu juga Ma. Aji hanya tidak ingin, terjadi sesuatu pada Elisa."
Perkataan Aji yang tegas, membuat mama Cilla tidak lagi berkata-kata. Dia tidak membenarkan tapi juga tidak menyalahkan.
Setelah semua siap, mereka semua duduk di ruang makan untuk sarapan pagi. Begitu juga dengan Vero dan juga Biyan yang sedang melakukan ujian akhir, untuk kelulusannya tahun ini.
"Kak Aji. Vero mau kuliah juga di kampus kak El. Biar diajari juga, iya kan Kak El?" Vero, meminta dukungan dari kakak iparnya, Elisa.
"Kamu itu, belajar saja yang benar. Masalah kuliah, tergantung keinginan, dan kuga prestasi yang Kamu peroleh."
Papa Gilang, yang sedari tadi diam, berkata kepada Vero, agar tidak berpikir hal lain, dan tetap fokus untuk belajar saja.
"Ah, Papa. Vero juga belajar tiap hari kok, cuma gak ada yang lihat saja. Tapi coba deh, tanya sama Biyan. Vero justru tidur yang terakhir setelah belajar, gak kayak Biyan tuh!" kata Vero, membela diri.
"Tidak usah bawa-bawa nama Biyan, jika untuk membela diri. Biyan tidak mau terlibat," sahut Biyan cepat, mengomentari tentang pembelaan diri dari Vero tadi.
"Ihsss, gak sehati ah!" gerutu Vero dengan wajah kesal.
Elisa, yang hanya diam saja sedari tadi, kini melotot melihat Biyan yang jarang bicara itu, sedang mencibir kembarannya sendiri.
"Biyan!" seru mama Cilla, yang membuat Biyan langsung terdiam dan tidak meneruskan makannya.
"Sudah-sudah. Ayo, dilanjutkan makannya. Nanti kita malah terlambat," kata papa Gilang, menengahi semuanya.
Semua, terdiam dan tidak lagi ada yang bicara. Mereka, meneruskan acara makan pagi mereka dengan tenang dan nyaman.
__ADS_1
*****
"Kakak pergi dulu ya. Hanya dua hari, tapi rasanya kok lama ya ini. Kan jadi kangen Sayang," kata Aji, saat berpamitan dengan istrinya, Elisa, di samping mobil.
"Kakak. Berangkat saja belum lho," sahut Elisa dengan berbisik-bisik, takut jika ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Yah, begitulah kira-kira. Andai ini bukan acara kerja, Kakak akan ajak Kamu, dan tidak di tinggal di sini. Ada Vero yang reseh, dan Biyan yang misterius."
"Kakak. Mereka itu adik-adiknya Kakak juga. Mereka sebenarnya baik, cuma ya gitu kelihatannya," sahut Elisa dengan nyengir kuda.
"Ah, Kamu. Siapa yang tidak baik di mata Kamu itu. Penculik Kamu, Mr Toni saja, kamu bilang baik. Entah siapa yan jahat di mata Kamu ini," kata Aji, dengan menggeleng beberapa kali, mengingat bahwa pikiran Elisa tidak sama dengan orang lain. Itulah sebabnya, dia merasa khawatir jika meninggalkan Elisa sendirian.
"Kak. Tidak ada orang jahat di dunia ini, sebab, semuanya sama saat dilahirkan. Hanya keadaan dan kondisi yang membuat orang jadi punya pikiran yang berbeda."
Elisa, justru menasehati suaminya itu, agar tidak selalu negatif thinking terhadap seseorang yang belum tentu benar dengan pemikiran dan penilaian yang dia miliki.
"Iya-iya istriku Sayang. Makin cinta deh," kata Aji, sambil memeluk istrinya itu.
"Sudah sana! katanya mau berangkat?" Elisa, mengingatkan suaminya itu, karena tujuannya saat ini adalah Tangerang, yang jalanan yang menuju ke sana itu macet parah, apalagi saat hujan turun, air akan meluap semua ke jalanan.
"Ngusir nih!?"
"Hahaha... anggap saja begitu," jawab Elisa, sambil tertawa-tawa.
"Ihsss, awas saja ya. Coba kalau sedang tidak buru-buru, Aku makan Kamu juga pagi ini," kata Aji dengan ancaman.
"Ah, syukurlah. El jadi bebas tugas dua hari ke depan. Hehehe..."
Elisa, terkekeh saat melihat ekspresi wajah suaminya itu, saat mendengar perkataannya tadi.
"Kamu seneng ya, Kakak tinggal?" tanya Aji cepat.
"Eh, gak gitu juga Kak. Maksudnya El, bisa mengerjakan tugas skripsinya dengan baik dan tenang. Kan kalau cepat selesai, kita jadi ada banyak waktu juga untuk berduaan."
Jawaban dari Elisa, membuat Aji tersenyum dan membayangkan bagaimana dua hari ke depan tanpa tidur bersama dengan Elisa.
"Hah! Ya sudah. Kakak berangkat dulu. Kalau lama-lama, Kakak bisa berubah pikiran dan malah mengaudit tubuhmu nanti," kata Aji, dengan tersenyum miring, melihat Elisa yang membelalakkan matanya, mendengar perkataan yang terakhir tadi.
__ADS_1