
Keberhasilan Aji dalam misinya, untuk membongkar rahasia yang tersembunyi di balik perusahaan perhiasan emas milik Sekar Mayangsari, membawanya untuk berurusan dengan agen intelijen negara Amerika.
Dengan berbekal kemampuan dirinya dalam mengakses berbagai website, Aji melaporkan hasil penyelidikannya itu pada FBI secara langsung. Ini Aji lakukan untuk penanganan lebih lanjut, karena kejahatan Sekar ada di negara Paman Sam tersebut. Sekar juga sudah menjadi warga negara di sana sudah terhitung lama. Jadi dia tidak lagi ada sangkut pautnya dengan negara Indonesia.
Aji melaporkan semuanya pada FBI dengan pertimbangan yang penuh, karena menurutnya, FBI lebih mengetahui seluk beluk kejahatan di Amerika Serikat, yang mengiringi semua keikutsertaan Sekar Mayangsari juga.
FBI adalah badan investigasi utama dari departemen kehakiman milik Amerika Serikat, yang memiliki kekuasaan untuk melakukan investigasi terhadap lebih dari dua ratus kejahatan federal. Hal ini menjadikan FBI sebagai pemilik otoritas penyelidikan terluas dibandingkan dengan badan penegak hukum lainnya di negara Amerika Serikat sana.
Semua poin penting dari perusahaan Sekar Mayangsari di Amerika Serikat, yang sudah berhasil dicuri oleh Aji, dia kumpulan dan dijadikan bukti untuk FBI agar ditindaklanjuti.
FBI tentu sangat berterima kasih dan mencari siapa sosok hancker Misterius itu. Tapi Aji tidak pernah lagi membuka website miliknya yang dia pakai jika sedang beraksi. Biarlah dia hanya memberikan jalan untuk FBI menjalankan tugasnya sebagai penindak kejahatan.
Kini, Aji masih ada tugas satu lagi, yaitu menggagalkan rencana Sekar Mayangsari yang ingin mendirikan perusahaan PT Sekar Jagad. Dia harus bisa membawa semua bukti-bukti yang akan membuat dinas terkait di Indonesia tidak menerima permintaan ijin PT tersebut.
PT Sekar Jagad yang akan beroperasi sebulan lagi, memang tidak berpusat di Jakarta, tapi Batam. Ini dilakukan Sekar Mayangsari agar lebih mudah jika melakukan semua proses yang terjadi pada tindakan kejahatan yang akan dia lakukan setelah perusahaan miliknya beroperasi. Secara, Batam ibarat pintu gerbang menuju dunia internasional. Dari Batam, bisa dengan mudah masuk ke Singapura, Malaysia, Thailand dan berbagai negara Asia lain. Apalagi Batam menjadi pusat industri yang sedang maju di negara Indonesia bagian ujung sana.
Sore harinya Aji sudah berhasil melakukan semua yang dia rencanakan. Kini dia tinggal menunggu waktu dan berita yang akan tersebar beberapa hari lagi. Aji akan menunggu waktu itu dengan tenang.
*****
"Ma. Aji boleh buat susu sendiri?" tanya Aji setelah mandi sore.
"Aji capek ya? Atau sedang banyak yang dipikirkan?" tanya Cilla, mamanya, yang tahu tentang kebiasaan Aji.
"Gak apa-apa Ma. Aji hanya ingin minum susu," jawab Aji datar. Dia tidak ingin membuat mamanya berpikir yang tidak-tidak tentang keadaannya.
"Ingat ya Aji, tetap jaga kesehatan mata, dan juga pikirannya. Aji tidak mau kan masuk ke rumah sakit lagi?"
"Iya Ma. Aji ingat kok semua pesan dari dokter waktu itu."
Jawaban Aji membuat Cilla tersenyum dan memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia tahu, anaknya itu tidak akan banyak membantahnya. Cilla juga tahu jika semua yang dilakukan oleh Aji semuanya untuk kebaikan mereka berdua.
__ADS_1
"Terima kasih Sayang. Mama sangat bersyukur karena kehadiran dirimu membuat Mama mempunyai arti dan juga semangat untuk tetap bisa menjalani hari-hari dari kehidupan mama sedari dulu. Mama sayang sama Aji."
Mama dan anak itu berpelukan sekali lagi, dengan penuh haru dan bermacam-macam perasaan yang ada.
"Ya sudah, Aji mau mama buatkan susu hangat?" tanya Cilla setelah melepas pelukannya.
"Iya Ma, yang manis ya!"
"Siap Sayang," jawab Cilla dengan menunjukkan satu jari jempolnya.
Keduanya, Aji dan juga Cilla, keluar dari dalam kamar dan melangkah menuju ke arah dapur. Karena sudah sore, dapur sepi. Mungkin bibi dan yang lainnya sedang mandi atau mengerjakan tugas lain di tempat yang lain juga.
Aji duduk di kursi makan, menunggu mamanya yang sedang membuat susu untuknya. Dia juga meminta satu potong puding untuk teman minum susunya.
"Ma. Aji juga mau puding itu?"
Aji menunjuk pada puding yang tersedia di meja makan. Cilla mengangguk dan memberikan piring kecil untuk tempat puding yang Aji mau.
Cilla duduk di kursi yang ada di depan Aji dan memperhatikan anaknya, yang sedang makan puding serta susu hangat di depannya.
"Mama boleh bertanya pada Aji?" tanya Cilla setelah Aji mengabiskan setengah pudingnya.
"Apa Ma?" tanya Aji ingin tahu.
"Apakah Aji senang berada di rumah papa?"
Cilla bertanya dengan hati-hati. Dia tidak ingin suaranya itu terdengar oleh orang lain.
"Kenapa Mama bertanya seperti itu?" tanya Aji ingin tahu alasan dari pertanyaan mamanya.
"Mama hanya ingin tahu Sayang. Apakah Aji senang atau hanya ingin melihat mama senang?" tanya Cilla memberitahu tentang Pertanyaannya itu.
__ADS_1
"Aji senang Ma. Tapi Aji lebih senang jika melihat Mama senang. Jangan hanya melihat Aji, karena kebahagiaan Mama juga penting untuk kedepannya. Semua Mama yang menjalani, Aji hanya mengikuti saja."
Jawaban Aji yang terdengar diplomatis membuat Cilla merasa lebih pusing lagi. Dia harus bisa mempertimbangkan banyak hal untuk kebahagiaan mereka semua, bukan hanya untuk dirinya dan juga anaknya saja.
"Halo Sayangnya Papa. Halo Honey!"
Dari arah ruang tamu, Gilang muncul. Dia baru pulang dari kantor dan langsung mencari mereka.
"Aji di sini Pa!"
Aji berteriak dari tempat duduknya di ruang makan. Dia tidak beranjak dari tempat duduknya, dan hanya menunggu kedatangan papanya, Gilang.
Tak lama, Gilang muncul dan segera mencium kedua pipi anaknya itu. Dia duduk dan menyapa Cilla, "Sore Honey. Apa kamu senang hari ini?" tanya Gilang yang ditujukan untuk Cilla.
Cilla hanya mengangguk sebagai jawaban dan segera menunduk. Dia tidak berani menatap ke arah Gilang.
"Syukurlah kalau begitu. Aku juga senang mendengarnya. Sekarang Papa mau mandi dulu ya!"
Gilang berpamitan pada Aji, kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Cilla sebagai tanda berpamitan. Tapi Cilla hanya tersenyum samar menanggapi hal itu.
Gilang segera pergi ke kamarnya sendiri. Aji juga sudah selesai dengan puding dan susu hangat miliknya. Kini dia sudah kenyang dan ingin melihat-lihat keadaan ikan di kolam belakang.
"Aji mau ke kolam Ma," kata Aji, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mendekati mamanya.
"Ayo, Mama temani," jawab mamanya, mengajak Aji dengan menggandeng tangan anaknya itu.
Merasa berdua beriringan menuju ke kolam ikan yang ada di belakang rumah besar milik Gilang.
Ternyata ada bibi yang sedang memberikan tanam kecil yang ada di samping kolam. Dia membungkuk menyapa Aji dan juga Cilla.
"Mangga den Aji, Non Cilla," tegur bibi dengan sopan.
__ADS_1
"Iya Bi. Terima kasih," jawab Cilla dengan tersenyum ramah.