
Gilang mengelengkan kepalanya berkali-kali, melihat ke arah layar laptop milik Aji yang masih menyala.
"Honey. Aku perlu kasih tahu ke mami tidak ya?" tanya Gilang pada Cilla. Dia meminta pendapat Cilla, agar bisa membuka pikirannya yang masih belum bisa menerima kenyataan ini.
"Aku pikir tidak usah. Mas Gilang, hanya perlu tegur Om Wahyu saja. Siapa tahu, dia hanya merasa terabaikan oleh keluarga Mas, terutama mami. Dia pikir kalian tidak lagi peduli dengannya."
Om Wahyu adalah adik dari ibu yang lain, almarhum papi Gilang, suaminya mami Rossa. Jadi dia adik tirinya papi Aji Saka. Dia bekerja di dinas pemerintah dan berkecukupan juga, meskipun tidak berlebihan. Entah kenapa, dia melakukan hal yang diluar batas kemarin itu.
"Baiklah. Nanti, Aku ajak dia ketemu di resto saja, sekalian aku ajak juga pak supir. Biar mereka bertemu secara langsung dan aku bisa bertanya juga pada keduanya. Aji, coba Kamu kirim potongan tangkapan layar CCTV itu ke handphone Papa. Biar ada bukti, dan mereka tidak bisa mengelak lagi. Jika mereka masih tidak mengakui, buat di urus sama pengacara keluarga nantinya."
"Bicarakan dengan baik ya Mas," pesan Cilla.
"Tentu Honey Dia juga om Aku," jawab Gilang, dengan tersenyum dan mengangguk pada Cilla.
"Terima kasih ya. Kamu sudah mengingatkan Aku. Kamu harus jadi pendingin buatku, saat keadaan panas seperti ini. Dan bisa jadi penghangat jika hatiku sedang dalam keadaan dingin juga."
Cilla hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar permintaan Gilang yang sedang banyak pikiran. Cilla tahu, Gilang masih tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat sekarang ini.
"Oh y, sampai lupa. Ayuk keluar untuk makan. Sudah ditunggu oma lho!" ajak Gilang pada keduanya, Cilla dan Aji.
"Ya Pa. Yuk!"
"Ya Mas."
Cilla dan Aji menjawab bersamaan. Mereka berdua berdua saling pandang dan akhirnya, Aji minta digendong oleh Gilang. Tak lama, mereka semua keluar dari dalam kamar.
"Gilang... lama bener sih! Ngapain?" tanya mami Rossa, begitu melihat anaknya datang bersama dengan Cilla dan juga Aji.
"Hehehe... maaf Mi. Ini lho, Aji sedang menunjukkan permainan yang baru. Katanya seru, ya kan Sayang, jagoan Papa?" tanya Gilang, pada Aji yang sedang dia gendong.
"Iya," jawab Aji pendek kemudian mengedip-ngedipkan matanya pada Gilang.
"Huh... begitu tidak ngajak Oma deh," kata mami Rossa menanggapi.
Cilla duduk disebelah mami Rossa, menyiapkan piring dan sendok garpu untuk calon mertuanya itu.
"Sudah Cilla. Mami masih bisa sendiri kok. Itu, Gilang dan Aji saja. Sepertinya, mereka berdua masih mau bercanda saja dan tidak segera memulai makan."
__ADS_1
Mami Rossa berkata demikian sebab, Gilang dan Aji, masih asyik bercengkrama bersama, meskipun sudah duduk di kursi masing-masing.
"Oh, boleh sekali Mami. Ayo Honey, Aku juga mau. Sekalian ambilkan nasi dan sayur serta lauknya juga! Eh, Aji juga kan ya?"
"Aku mau disuapi Papa saja!" kata Aji memberitahu.
"Oh... siap Bos kecil!" jawab Gilang dengan cepat.
Keduanya, Gilang dan Aji, sama-sama tertawa-tawa senang dengan apa yang sedang mereka berdua lakukan. Mami Rossa dan Cilla, saling pandang dan sama-sama tersenyum melihat tingkah keduanya malam ini.
*****
Disebuah restoran bergaya modern, Gilang sedang menunggu kedatangan seseorang. Dia juga mengajak supirnya, untuk ikut menemani ke dalam, seperti biasanya.
"Bukan tamu kantor kok Pak, ikut saja ke dalam. Sekalian menemani Saya," ajak Gilang, tadi sewaktu batu sampai.
"Tapi Tuan..." pak supir merasa tidak enak hati, tapi akhirnya menurut juga, dan ikut masuk kedalam restoran.
Sambil menunggu kedatangan orang tersebut, Gilang memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, orang yang ditunggu datang dengan wajah sumringah. Dia berjalan dengan cepat, begitu melihat keberadaan Gilang yang sedang duduk bersama dengan supirnya. Tapi, dari raut wajahnya, ada sedikit kecemasan yang tampak, dan dia juga terlihat mengeleng dengan samar.
"Eh, siang Om Wahyu," jawab Gilang, kemudian berdiri dan bersalaman.
Om Wahyu, juga bersalaman dan bertegur sapa dengan pak supir, sebab mereka berdua memang saling kenal. Pak supir adalah sepupu dari istrinya om Wahyu.
"Apa kabar Om?" tanya Gilang, kemudian memeluk om Wahyu dengan tersenyum.
Setelah kedua melepaskan pelukannya, om Wahyu pun duduk di kursi yang ditunjukan oleh Gilang.
"Terima kasih. Kabar Om baik. Kamu sendiri bagaimana, mami kamu juga?" jawab om Wahyu, sekaligus bertanya juga.
"Syukurlah kalau baik. Aku juga baik Om, dan mami juga dalam keadaan baik. Meskipun ada kecelakaan kemarin itu, tapi untungnya tidak kenapa-kenapa."
"Kecelakaan? Kok tidak memberi kabar pada Om? kapan itu terjadi?" tanya om Wahyu terlihat kaget dan juga khawatir.
"Sudah hampir dua mingguan kalau tidak salah," jawab Gilang datar.
__ADS_1
"Oh ya. Kamu ada perlu apa, tumben ajak Om ketemuan di sini. Apa ini ada hubungannya dengan rencana pesta pernikahan Kamu?" tanya om Wahyu, mengalihkan pembicaraan.
"Iya," jawab Gilang dengan mengangguk.
"Em... pesan makanan dulu om," kata Gilang menawarkan.
Akhirnya, Gilang kembali memanggil pelayan dan memesan makanan serta minuman untuk om Wahyu.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka tampak makan siang bersama, dengan perasaan masing-masing.
"Om tidak tahu, jika mami kecelakaan kemarin itu?" tanya Gilang memancing. Dia juga melirik ke arah supirnya yang sedang minum.
"Uhuk... uhuk!"
Pak supir tersedak, karena merasa tersindir dengan pertanyaan Gilang untuk om Wahyu.
"Hati-hati Pak," kata Gilang mengingatkan.
"Maaf," kata pak supir dengan wajah cemas.
"Tidak. Om tidak tahu. Tidak ada yang memberi kabar pada Om," jawab om Wahyu, seakan-akan dia memang tidak tahu apa-apa.
"Hem..."
Gilang hanya menghela nafas panjang dan mengeleng samar. Dia merasa jika sudah saatnya untuk segera menyadarkan kelakuan om Wahyu yang sudah diluar batas.
"Aku ada sesuatu yang bisa Om lihat," kata Gilang, dengan menunjukkan layar handphone miliknya pada Om Wahyu.
Di layar tersebut, tampak sketsa wajah pelaku yang sedang memakai masker dan kacamata hitam. Gambar sketsa tersebut adalah hasil dari gambar Aji. Dia membuatnya setelah dia meminta kembali handphone dan laptopnya, sesaat setelah merajuk dengan alasan bosan dan perban lukanya juga sudah dibuka.
"Hanya sketsa Gilang. Siapa dia, ini tidak jelas?" tanya om Wahyu dengan wajah terlihat sangat gemas.
Pak supir penasaran. Dia juga ingin tahu, dan mencoba untuk meliriknya sekilas. Tapi tentu saja, dia tidak akan tahu dengan jelas juga.
"Iya memang tidak begitu jelas. Tapi Gilang ada kok yang lebih jelas dari itu," kata Gilang memberitahu.
"Mana? Dari kamera cctv jalan atau..."
__ADS_1
"Cctv rumah," kata Gilang memotong perkataan om Wahyu.
Pak supir dan om Wahyu, terlihat saling pandang dengan wajah pucat dan juga merasa khawatir.