Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Masih Besok


__ADS_3

Saat pagi hari, sekitar pukul setengah sepuluh, dokter kandungan datang ke rumah, untuk memeriksa keadaan Elisa. Dia datang karena panggilan dari tuan besar Sangkoer Singh, yang merasa khawatir dengan keadaan Elisa semalam. Meskipun Elisa mengatakan jika dia baik-baik saja, tapi tuan besar Sangkoer Singh ingin memastikan keselamatan Elisa. Dia tidak mau, jika terjadi sesuatu pada menantu dan juga calon cucunya itu.


Begitu sampai, dokter langsung di minta tuan besar Sangkoer Singh, untuk masuk ke dalam kamar Elisa, karena saat ini, Elisa sedang beristirahat di temani mama Cilla.


"Masuklah Dok. Menantunku ada di dalam kamar, bersama dengan ibunya," kata tuan besar Sangkoer Singh, mempersilahkan dokter untuk masuk ke dalam kamar Elisa.


Tentu saja, Elisa dan mama Cilla kaget dengan kedatangan dokter kandungan tersebut. Tapi, setelah tuan besar Sangkoer Singh menjelaskan maksudnya, Elisa dan mama Cilla, mengangguk setuju, dan Elisa juga nah diperiksa oleh dokter kandungan tersebut.


Aji dan papa Gilang yang sedang berkeliling di lingkungan sekitar rumah, tidak tahu jika ada dokter yang datang. Apalagi, tadi ayah angkatnya itu, tidak mengatakan apa-apa.


"Sebaiknya kita kembali ke rumah saja Pa. Aji merasa tidak enak, takut terjadi sesuatu pada Elisa," kata Aji, mengajak papa Gilang, untuk balik ke rumah.


Papa Gilang, hanya mengangguk setuju saja. Dia tidak mungkin memaksa Aji, agar menemaninya berkeliling. Ini bisa dia lakukan di waktu lainnya. Dia juga terburu-buru untuk kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini, setidaknya sampai cucunya lahir nanti.


Ternyata perasaan Aji tadi beralasan. Elisa, mengaduh karena kesaktian, saat perutnya terasa mules. Ada kontraksi yang sedang dia rasakan saat ini.


Dokter yang memeriksa, meminta agar Elisa segera di bawa ke rumah sakit. Kemungkinan besar, elisa akan melahirkan anak pertamanya dalam waktu dua atau tiga hari ke depan.


Aji, yang baru saja datang, tentu merasa khawatir dengan keadaan Elisa. Dia bertanya kepada ayahnya, Sangkoer Singh, apa yang sebenarnya terjadi tadi. Tapi, dia merasa sangat senang dan berterima kasih kepada ayah angkatnya itu, karena sigap dan lebih dulu mengantisipasi hal-hal yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.


"Terima kasih Yah. Aji pikir, sakitnya Elisa semalam hanya Braxton Hicks saja. Karena itu, Aji tidak meminta dokter untuk datang, apalagi Elisa juga bilang kalau dia baik-baik saja."


"Tidak apa-apa. Tadi Ayah pikir dokter sedang tidak ada pekerjaan, jadi Ayah minta ke sini saja untuk memeriksa kondisi kandungannya Elisa," ujar Sangkoer Singh, yang berjalan mengikuti langkah dokter kandungan yang baru saja keluar dari kamar elisa.


"Bagaimana keadaan istri Saya Dok?" tanya Aji cepat. Dia ingin tahu, bagaimana kondisi istrinya itu.


"Kandungannya sudah pembukaan dua. Ini lebih cepat dari perkiraan kelahiran yang masih seminggu lagi. Tapi, sepertinya Nyonya masih sehat dan belum merasakan mules yang amat sangat. Jika dia mau, silahkan ke rumah sakit sekarang. Tapi jika dia tidak mau, dan masih ingin berjalan-jalan di rumah, nanti sore saja ke rumah sakitnya. Kami akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kelahiran anak Tuan muda Aji, dan cucu dari Tuan besar Sangkoer Singh."

__ADS_1


Dokter, memberikan penjelasan kepada Aji dan juga tuan besar Sangkoer Singh. Mereka berdua, mengangguk mengiyakan perkataan dokter tersebut.


"Jadi, ini bergantung kemauan dari Elisa sendiri?" tanya tuan besar Sangkoer Singh, menarik kesimpulan tentang keadaan Elisa saat ini.


Dokter mengangguk mengiyakan pertanyaan dari tuan besar Sangkoer Singh. Menurut dokter kandungan itu, setiap ibu memiliki insting yang bagus untuk kondisi tubuhnya saat mengandung. Mungkin ini tidak bisa dijelaskan dalam teori kedokteran yang dia pelajari, tapi dari beberapa pengalaman selama dia menjalani profesi sebagai seorang dokter kandungan, dia menemui banyak kasus dari para pasiennya. Baik yang bisa menentukan kapan mereka akan segera melahirkan, ataupun jenis kelamin bayi mereka tanpa melakukan USG terlebih dahulu.


Dari semua jawaban pasien tersebut, mereka mengatakan jika ini naluri atau bisa juga disebut insting seorang ibu, dan ternyata memang banyak yang tepat.


Dokter sendiri, kadang tidak bisa menjelaskan secara rinci mengenai semua kejadian itu, tapi memang begitulah kira-kira.


Aji hanya mengangguk, kemudian menemani dokter berjalan sampai ke luar rumah. Dokter akan kembali ke rumah sakit, bertugas seperti biasanya.


Taun besar Sangkoer Singh, menemani papa Gilang yang duduk menunggu di ruang tamu. Entah apa yang mereka berdua bicarakan, karena Aji, setelah mengantar dokter tadi keluar, langsung kembali masuk ke dalam kamar. Dia menemui Elisa, yang sedang ditemani oleh mama Cilla. Sia ingin bicara dengan istrinya itu. Apa yang diinginkan Elisa saat ini.


"Sekarang apa yang Kamu rasakan Sayang?" tanya Aji, sambil menggenggam tangan istrinya.


"Kata dokter, nanti sore kita harus ke rumah sakit. Kemungkinan anak kita akan segera lahir. Tapi kalau Kamu tidak tahan sakit, kita bisa datang sekarang juga. Atau Kamu mau operasi Caesar saja?" jawab Aji, yang bertanya juga, apa yang Elisa inginkan. Dia juga memegang perut Elisa, ikut merasakan pergerakan anaknya, yang semakin aktif dan cepat, padahal masih berada di dalam perut.


"Sepertinya anak kita sangat aktif," ujar Aji, memberi penilaiannya terhadap bayi mereka.


"Mungkin juga kak," sahut Elisa cepat, kemudian melanjutkan lagi kalimatnya, "kalau melahirkan di rumah saja bagaimana? Elisa malas ke rumah sakit. Bau obat dan itu mengingatkan Elisa dengan bapak."


Elisa jadi menangis, karena teringat mendiang bapaknya. Aji memeluk istrinya, yang sedang duduk di tepi ranjang. Dia tidak ingin Elisa merasa sedih.


Mama Cilla, mengusap-usap lengan Elisa, memintanya untuk bersabar dan tetap fokus pada kehamilannya saja. Apalagi, dia akan segera melahirkan juga.


"Kamu yang sabar dan kuat ya Sayang? Semua ini demi keselamatan anak Kamu dan juga diri Kamu sendiri. Ingat, Aji masih membutuhkan dirimu dan juga kehadiran bayi kalian. Jangan biarkan kesedihan membuat semangat Kamu melemah. Nanti waktu mau lahir, anak Kamu jadi ikut sedih dan tidak bersemangat lagi lho." Mama Cilla, memberikan nasehat pada Elisa.

__ADS_1


Elisa, segera mengusap air matanya yang menetes. Dia tidak mau jika anak yang dia kandung, ikut merasakan kesedihan yang dia rasakan saat ini.


Aji ikut tersenyum, saat melihat Elisa yang sedang tersenyum. Mereka berdua saling berpelukan lagi, menyalurkan dukungan pada anak mereka berdua yang akan segera lahir.


"Sayang. Lahir nanti tidak boleh lama-lama buat mama sakit ya," ucap Aji, sambil mengusap-usap perut Elisa.


Elisa, menempel telapak tangannya pada punggung tangan Aji, yang sedang berada di atas perutnya. Mereka berdua, seakan-akan sedang mengelus-elus rambut seorang bayi.


Mama Cilla, tersenyum penuh haru, melihat anak dan menantunya yang saling mendukung. Dia jadi teringat dengan anak perempuannya, Jeny di rumah. Sepertinya, Jeny sedang kerepotan mengurus balitanya sekarang. Dia juga masih harus mual-mual karena ngidamnya yang ke-dua. Meskipun ada baby sister yang membantu Jeny, tapi tetap saja dia merasa tidak sama seperti waktu hamil untuk yang pertama kalinya.


Untuk mengurangi ketegangan Elisa, Aji mengajaknya jalan-jalan ke luar rumah. Ini juga untuk mengalihkan rasa bosan yang akan dialami istrinya, jika hanya ada di dalam rumah saja.


Aji juga meminta tolong pada bibi Lasmi, agar membuatkan makanan yang bisa di makan Elisa.


"Sayang, Kamu mau makan apa?" tanya Aji, sambil mengandeng tangan Elisa.


"Sup jamur sepertinya enak Kak," jawab Elisa, sambil membayangkan sedang menyantap sup jamur sepertinya yang dia katakan tadi.


"Ya sudah, bibi Lasmi, tolong buatkan sup jamur ya, untuk Elisa."


Bibi Lasmi, mengangguk mengiyakan permintaan tuan mudanya, yang meminta dibuatkan sup jamur untuk istrinya itu. Bibi Lasmi juga melihat keadaan Elisa, yang sepertinya semakin payah, dengan perutnya yang semakin membesar. Berjalan saja, sepertinya kesusahan.


Bibi Lasmi juga merasa ngilu, membayangkan ukuran bayi sedang berada di dalam perut dan bisa keluar tanpa bantuan operasi. "Bagaimana bayi itu keluar, apa muat?" tanya bibi Lasmi bingung. Dia yang sudah berumur lanjut, tapi tidak pernah merasakan hamil dan melahirkan, pastinya tidak akan pernah bisa tahu, bagaimana rasanya melahirkan dan menjadi seorang ibu.


"Semoga Nyonya dan bayinya lahir dengan selamat. Aku ingin sekali bisa menggendong bayi mereka. Pasti akan bahagia, bisa mempunyai bayi. Sayangnya, Aku tidak akan pernah bisa merasakan semua itu," doa dan harapan bibi Lasmi dalam hati, sambil menitikkan air mata, tanpa dia sadari sendiri.


Bibi Lasmi, segera berjalan menuju ke dapur, untuk memasak sup jamur untuk Elisa. Dia memasak dengan sepenuh hati, agar sup jamur itu terasa enak dan bisa menambah semangat untuk istri dari tuan mudanya itu.

__ADS_1


__ADS_2