Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Aku Di Mana


__ADS_3

Kamar pasien VVIP nomer dua, yang luas itu, seakan terasa penuh dengan kehadiran keluarga Gilang malam ini.


"Mi. Mami pulang ke rumah ya, sama Vero, Biyan, dan juga Cilla. Ya Mi," bujuk papa Gilang pada maminya, mami Rossa.


Tapi, sepertinya, bujukan anaknya itu, tidak mempan untuk mami Rossa. Dia ikut menuggu, hingga Aji sadar dan memanggilnya, Oma.


"Honey. Bujuk mami untuk pulang ya, Kamu juga pulang sama anak-anak. Di sini, tidak baik juga kan? Ini rumah sakit Honey," bujuk papa Gilang, beralih pada istrinya itu, mama Cilla.


"Tapi Mas..."


Mama Cilla, tidak lagi meneruskan kata-katanya, saat melihat kondisi tubuh mami Rossa yang seakan melemah.


"Mi. Mami..." panggil mama Cilla, dengan suara cemas.


Papa Gilang, Jeny, dan si kembar, Vero dan Biyan, langsung mengerubungi oma Rossa.


"Dok. Dokter Dimas," panggil Jeny, pada Dokter Dimas.


Dokter Dimas, langsung menoleh dan mendekat ke arah mereka. Dia langsung meminta agar, oma Rossa dibawa ke ruang IGD, untuk mendapatkan perawatan.


"Jeny. Kamu di sini, nunggu kakak Kamu sadar. Vero, temani kakak Kamu. Biyan, ikut ke IGD!" perintah papa Gilang, pada ketiga anaknya itu.


"Iya Pa," jawab si kembar Vero dan Biyan bersamaan.


"Baik Pa," jawab Jeny, dengan mengangguk patuh.


Tuan besar Sangkoer Singh, dan paman Ranveer, hanya bisa diam dan melihat semua yang terjadi pada keluarga Gilang, yang ada didepannya itu.


"Anda bisa lihat. Keluarga Kami, sangat kehilangan salah satu dari keluarganya. Dan kakak Kami ini, kakak Aji, adalah kebanggaan dan semangat untuk Kami semua," kata Jeny, pada tuan besar Sangkoer Singh dan juga paman Ranveer.

__ADS_1


"Apa Anda berdua masih tega, melihat oma Kami seperti tadi?" tanya Jeny lagi dengan wajah sendu.


Tuan besar Sangkoer Singh, tidak menjawab semua pertanyaan dari Jeny. Begitu juga dengan paman Ranveer. Mereka berdua, hanya bisa diam saja.


"Jika waktunya nanti, kakakku Aji sadar, kalian akan tahu, seberapa besar rasa cinta dan sayangnya dia pada keluarganya."


Jeny, terus saja berbicara. Dia ingin menumpahkan segala macam perasaannya yang sedang penuh.


Kini, Jeny berjalan mendekat ke arah tempat tidur Aji. Dia berdiri di samping kakaknya itu.


"Kak. Jeny, tidak akan nakal lagi. Jeny, tidak akan merebut makanan ikan yang akan kakak taburkan. Jeny, tidak akan melarang kakak untuk pergi, kemana saja, dan tidak akan minta ikut. Tapi kakak harus sadar dan ingat dengan kita semua. Kakak bisa dengar Jeny?" kata Jeny, dengan penuh harap. Dia terus mengajak kakaknya, Aji, berbicara, meskipun Jeny juga tahu, jika kakaknya itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.


*****


Di ruang IGD.


Oma Rossa, mendapatkan perawatan medis agar kondisinya tetap stabil. Dia kini, harus ikut dirawat juga dan untuk kemudahan jangkauan dengan kamar VVIP nomer dua, yang ditempati Mr Vijay Singh, Gilang meminta pada pihak rumah sakit, untuk mengosongkan kamar VVIP nomer satu atau tiga.


"Terima kasih Dim. Semua berkat bantuan darimu," kata papa Gilang, dengan tersenyum dan menepuk pundak Dokter Dimas.


"Sama-sama Mas... ehhh, Papa camer. Hehehe..." jawab Dokter Dimas, sambil terkekeh geli, mendengar perkataannya sendiri yang.


Papa Gilang, hanya mengeleng mendengar jawaban dari Dokter Dimas, yang sedang mencari perhatian dan tidak jelas itu. Dia belum menganggap bahwa, semua yang dikatakan oleh Dokter Dimas, adalah kebenaran dan hal yang serius. Papa Gilang berpikir, jika Dokter Dimas, tidak akan tahan dengan anak gadisnya yang keras kepala dan dingin itu.


"Bagaimana keadaan mami Mas. Tidak ada yang serius kan?" tanya mama Cilla, sebelum brangkar pasien oma Rossa, dipindahkan ke ruang pasien.


"Tidak apa-apa. Ini adalah hal yang biasa terjadi, pada penderita jantung. Semoga, mami akan segera pulih, jika Aji juga pulih dan ingat semuanya," jawab papa Gilang, dengan semua harapannya.


"Aamiin..."

__ADS_1


Mama Cilla, mengamini harapan dari suaminya itu. Dia juga berharap hal yang sama. Dia merasa semuanya memang berbeda, sejak tidak ada Aji diantara mereka.


Tak lama, mami Rossa dipindahkan ke kamar pasien, yang berada di samping kamar tempat Mr Vijay Singh, di rawat.


Papa Gilang dan mama Cilla, mengikuti dari arah belakang. Mereka berdua, saling bergenggaman tangan, untuk mendapatkan semangat, saling dukung, dalam menghadapi situasi dan permasalahan, yang sedang mereka hadapi saat ini.


"Yang sabar ya Ma. Papa yakin, tidak lama lagi, Aji pasti kembali ke tengah-tengah Kita semua."


Mama Cilla, mengangguk, saat mendengar perkataan suaminya itu. Dia merasa bersyukur, suaminya itu, tetap bisa mengendalikan diri untuk tidak berbuat apa-apa pada asistennya Mr Vijay Singh, yaitu paman Ranveer.


Tadi, mama Cilla mendapatkan informasi dan cerita, tentang perdebatan dan pengakuan paman Ranveer secara sekilas dari Jeny. Itulah sebabnya, dia sekarang merasa lega, karena bisa dipastikan jika Mr Vijay Singh, yang sekarang berada di kamar pasien VVIP nomer dua, bukanlah Mr Vijay Singh yang asli, atau anak kandung dari tuan besar Sangkoer Singh. Tapi dia besar kemungkinannya adalah anak kandungnya sendiri, yaitu Aji.


Itulah sebabnya, mama Cilla merasa jika, apa yang sedang ini mungkin juga karena perasaan hati antara oma Rossa dan juga cucunya Aji. Semacam telepati.


Waktu dini hari, oma Rossa terbangun. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Dia mencari-cari Jeny. "En... Eny..." panggil oma Rossa, dengan suara lemah dan tidak jelas.


"Mi... Mami sudah sadar?" tanya mama Cilla dengan suara bergetar. Dia merasa senang akhirnya, mami mertuanya itu, sadar dan bisa bicara, meskipun masih tidak jelas.


"Ji... Ai... Je..."


"Iya Mi. Mereka ada di kamar sebelah. Cilla panggilkan ya," kata Cilla mengerti, apa yang sedang di cari oma Rossa.


Mama Cilla, segera beranjak dari tempatnya berdiri dan melangkah keluar dari kamar tersebut untuk memanggil anaknya yang ada di kamar sebelah. Kamar pasien Mr Vijay Singh.


Mama Cilla, meninggalkan oma Rossa, yang ditemani bersama dengan anak-anak kembarnya, yang sedang tertidur di sofa tunggu.


Mama Cilla masuk ke dalam kamar VVIP nomer dua, tempat Mr Vijay Singh, dirawat. Tapi, baru saja mama Cilla, melangkahkan kakinya untuk masuk, dia melihat Mr Vijay Singh, yang masih dalam keadaan terbaring membuka matanya dan mengerjap beberapa kali.


Mama Cilla, m melangkah dengan cepat. Mendekat ke tempat tidur pasien Mr Vijay Singh. Yang lain, papa Gilang, Jeny, tuan besar Sangkoer Singh, asisten pribadi Mr Vijay Singh, alias paman Ranveer, dan juga Dokter Dimas, ikut terbangun saat mendengar langkah kaki Mama Cilla yang tergesa. Mereka semua, juga ikut menyaksikan, apa yang sedang terjadi saat ini.

__ADS_1


Dari tempat tidurnya, Mr Vijay, menoleh ke arah datangnya mama Cilla. Dia bingung dan juga melihat sekelilingnya.


"Mama. Aku dimana?" tanya Mr Vijay Singh, sambil menoleh kembali ke arah mama Cilla.


__ADS_2