Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Usaha Jeny


__ADS_3

Jeny, sudah sampai di rumah. Dia segera masuk, dan mencari keberadaan mamanya. Ternyata, mamanya sedang berada di ruang tengah, memeriksa buku laporan keuangan toko yang sudah tidak lagi dikelola oleh mertuanya, mami Rossa.


Jeny, menyerahkan obat yang dia bawa dari rumah sakit pada mamanya, Cilla. "Ma. Ini obatnya oma," kata Jeny dengan menyodorkan bungkusan obat yang dia pegang.


"Tadi langsung pulang?" tanya mama Cilla menyelidik, setelah menerimanya pemberian anak gadisnya itu. Cilla, tidak mau jika anak gadisnya itu, masih saja bermain-main di luar jam kuliahnya.


"Iyalah Ma. Kan Mama sudah pesan untuk ambil obat oma, mana mungkin Jeny pergi main-main dulu," jawab Jeny cemberut.


"Tadi saja, tidak sempat antar Elisa balik ke kost," kata Jeny lagi.


"Hemmm... ya sudah, terima kasih ya Sayang," kata mama Cilla, melunak.


Jeny tidak menyahut. Dia langsung pergi ke kamarnya sendiri, dan mulai membersihkan dirinya. Tapi, dia mandi dengan perasaan yang tidak menentu. Jeny melamun dalam kamar mandi.


"Bagaimana cara Aku ambil rambut papa ya?" tanya Jeny, dalam hatinya sendiri.


"Apa Aku cerita sama papa saja ya? Kan selama ini, hanya papa yang tidak begitu banyak menentang kehadiran om Dimas," kata Jeny dengan berpikir, mana yang lebih baik untuk rencananya ini.


"Siapa tahu juga, papa mengenal Mr Vijay atau keluarganya. Mereka, terutama ayahnya Mr Vijay, sering datang ke Indonesia. Jadi mungkin saja papa sedikit tahu juga."


Jeny, terus berpikir, untuk mencari cara yang lebin baik. Semua rencana yang dia lakukan bersama dengan Dokter Dimas kali ini, tidak boleh gagal, setidaknya, Jeny sudah tidak merasa penasaran lagi, dengan apa yang dia rasakan, saat melihat Mr Vijay Singh.


"Ya. Lebih baik, Aku bicara jujur sama papa. Biar papa juga bisa ikut berpikir, mana yang lebih baik nantinya."


Akhirnya, Jeny memutuskan, untuk membicarakan tentang rencananya itu, pada papanya, Gilang.


Setelah selesai mandi, Jeny menelpon papanya, yang pada saat itu belum pulang dari kantor.


..."Halo Pa!" sapa Jeny, begitu sambungan teleponnya terhubung dengan papanya....


..."Hai Sayang. Ada apa? tumbenan telpon, kan sebentar lagi papa juga pulang. Ada yang Kamu inginkan?" tanya papa Gilang penasaran....


Biasanya, anak gadisnya itu, akan menelpon dirinya jika ada sesuatu yang dia inginkan. Tapi Jeny tidak mau, jika apa yang dia inginkan itu, diketahui oleh mamanya, Cilla.

__ADS_1


..."Tidak Pa. Jeny hanya ingin bicara saja dengan Papa....


..."Oh. Tapi ini, Papa sedang beres-beres, kemudian pulang. Apa tidak bisa di tunda sampai Papa ada di rumah nanti?"...


"Baiklah. Jeny tunggu Papa," jawab Jeny, kemudian memutuskan sambungan teleponnya tadi.


"Semoga, papa tidak marah, dan mendukung rencanaku ini," kata Jeny, penuh harap.


*****


Jeny menunggu kedatangan papanya, dengan tidak sabar. Dia sampai duduk di teras depan, agar bisa menyambut kedatangan papanya, papa Gilang.


Hampir magrip, papa Gilang, tiba di rumah. Jeny langsung menyambutnya dengan penuh semangat. Dia begitu berharap jika, papanya akan membantu dirinya kali ini.


"Hemmm... ada apa ini?" tanya papa Gilang dengan tersenyum, melihat tingkah anak gadisnya itu.


"Ihss, Papa. Jeny ada perlu sedikit," jawab Jeny memeluk, dan bergelayutan di lengan papanya.


"Nanti ya, papa kan baru sampai rumah. Papa mandi dulu, terus kita makan malam, kemudian baru bicara. Bagaimana?" tanya papa Gilang, membuat kesepakatan dengan Jeny.


Mama Cilla muncul dari dalam rumah. Dia menatap ke arah anaknya itu dengan curiga, "Jen. Papa baru saja sampai rumah, dan Kamu sudah membuat kesepakatan. Apa itu?" tanya mama Cilla ingin tahu.


"Gak apa-apa kok Ma. Iya kan Pa?"


Jeny, berusaha untuk menutupi dan meminta bantuan papanya, agar bisa mengalihkan perhatian mamanya dengan cara lain.


"Yuk Honey," ajak papa Gilang, dengan mengandeng tangan mama Cilla.


Akhirnya, papa Gilang dan mama Cilla, masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar mereka sendiri.


Jeny tersenyum tipis dari arah belakang mereka berdua, papa Gilang dan mama Cilla. Dia merasa senang, melihat papanya itu mengabulkan permintaan darinya.


"Aku harus bisa menyakinkan papa, soal Mr Vijay Singh. Entah kenapa, Aku begitu yakin, jika Mr Vijay adalah kakak. Kak Aji, yang telah lama dinyatakan hilang tanpa jejak. Semoga saja, papa tidak akan meragukan felling yang Aku rasakan saat ini."

__ADS_1


*****


"Jadi, apa yang ingin Kamu bicarakan dengan Papa?" tanya papa Gilang, begitu mereka berdua sudah berada di dalam ruangan, mirip kantor mini, yang ada di dalam rumah.


Mereka semua, sudah menyelesaikan makan malam bersama. Mama Cilla sendang berberes dan membantu oma Rossa, untuk makan dan meminum obatnya. Sedangkan si kembar, masuk ke dalam kamar mereka sendiri, untuk mengerjakan tugas sekolah.


"Pa. Papa ada kenalan pengusaha dari India?" tanya Jeny, menjawab pertanyaan dari papanya juga.


"Pengusaha India?" tanya papa Gilang, mengulang pertanyaan anaknya itu.


Jeny mengangguk. Dia melihat papanya sedang berpikir, dan mengingat-ingat kembali siapa pengusaha India yang dia kenal.


"Tidak banyak, hanya beberapa saja," jawab papa Gilang, dengan menatap ke arah wajah anaknya itu.


"Kenapa tiba-tiba, Kamu bertanya tentang pengusaha India? Apa kekasih Kamu orang India?" tanya papa Gilang, ingin tahu.


"Bukan Pa," jawab Jeny cepat.


"Lalu?" tanya papa Gilang lagi. Dia ingin tahu lebih lanjut, tentang semua yang di maksud anaknya itu.


Akhirnya, Jeny menceritakan tentang Mr Vijay Singh kepada papanya, Gilang. Begitu juga dengan rencana yang sudah dia atur, bersama dengan dokter Dimas.


"Jadi gitu Pa. Sekarang, Jeny, butuh rambut Papa, untuk perbandingan test DNA yang akan kami lakukan secara diam-diam."


Papa Gilang, tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mencoba mencerna, apa yang sedang dirasakan oleh anaknya itu.


"Kalau menurut Papa, tidak usah diam-diam. Kita tanya langsung ke orang tua Mr Vijay, kemudian kita ajak untuk melakukan test DNA itu jika mereka tidak percaya dan membuat alasan."


Jeny tampak berpikir untuk perkataan papanya itu. Dia tidak tahu apa maksud dari usulan papanya yang terkesan tidak sabar.


"Tapi Pa. Apa tidak sebaiknya kita lakukan dengan diam-diam dulu, jika memang terbukti benar dan mereka mengelak baru kita buat test DNA ulang yang akan menyakinkan mereka. Jika perlu, testnya itu akan dilakukan di luar negeri atau tempat yang mereka inginkan."


Penjelasan dari anaknya itu, membuat Gilang terdiam. Kini, dia merasa, jika dialah yang tidak sabar untuk mendapatkan anaknya kembali, Aji Putra.

__ADS_1


"Baiklah. Papa setuju dengan pendapat Kamu Jen. Tapi, Papa juga ingin bertemu dia secara langsung. Apa kita bisa ke sana malam ini juga?" tanya Gilang. Sepertinya, dia benar-benar tidak sabar, setelah mendengar cerita dari Jeny.


"Demi oma kamu dan mama kamu Jen," kata papa Gilang, melanjutkan kata-katanya, memberikan alasan kenapa dia merasa sangat tidak sabar ingin bertemu dengan Mr Vijay Singh.


__ADS_2