Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Mencari Informasi


__ADS_3

Aji sudah berada di depan mini market, tempat Elisa bekerja. Dia tidak lagi menuggu seperti tadi, tapi langsung masuk ke dalam.


"Selamat sore, selamat berbelanja," sapa mbak kasir mini market, begitu ada tanda bunyi di pintu, jika ada calon pembeli yang masuk.


"Maaf. Saya tidak mau berbelanja. Saya mau bertanya tentang seseorang." Aji mengatakan, apa maksudnya dia datang ke mini market ini.


"Mencari seseorang? Mas ini mini market, tempat belanja bukan mencari informasi," ucap mbak kasir tadi dengan nada kesal tanpa melihat ke arah Aji, dan masih sibuk menghitung barang belanjaan pembeli.


"Bukan begitu maksud Saya. Dia bekerja di sini," kata Aji menerangkan.


Mbak kasir menoleh. Dia tampak mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak mengerti siapa yang di maksud oleh tamu mini market sore ini. Kasir, juga meneliti penampilan Aji, dia seperti terkagum-kagum, begitu melihat wajah Aji dengan jelas.


Akhirnya mbak kasir tersebut tersenyum, dan mengangguk sambil bertanya, "siapa yang anda maksudkan?"


"Elisa."


Aji menjawab pertanyaan kasir, kemudian menunjukkan sesuatu dari layar handphone miliknya.


Dari layar handphone milik Aji, mbak kasir bisa melihat video yang baru saja Aji rekam tadi pagi, saat Elisa berangkat dan menunggu sampai mini market terbuka, dan video satunya lagi, adalah saat Elisa keluar dari mini market untuk pulang saat jam kerjanya sudah selesai.


Mban Kasir tidak bisa mengelak lagi. Dia tidak mungkin menyangkal dan beralasan jika sudah ada bukti, kalau Elisa memang bekerja di mini market ini.


"Kalau boleh tahu, siapa Anda, maksud Saya hubungan Anda dengan Elisa?" tanya mbak kasir menyelidik. Dia berpikir jika, Aji ada maksud jahat dengan Elisa.


"Saya Aji, pacarnya Elisa," jawab Aji, sambil tersenyum tipis.


Mbak kasir melongo mendengar jawaban dari Aji. Dia tidak menyangka, jika Elisa punya pacar sekeren cowok yang ada di didepannya ini. Tapi, dengan cepat, mbak kasir membuat pertanyaan lagi, seperti orang yang curiga. "Jika dia pacar Anda, kenapa anda bertanya ke sini, dan tidak langsung menemuinya tadi?" kasir menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aji, yang mengaku sebagai pacar Elisa.


"Kami ada sedikit masalah, dan dia tidak memberi kabar selama dua minggu. Saya mencari-cari keberadaannya dan menghubunginya juga melalui telepon, tapi tidak pernah bisa dan baru tadi pagi ketemu. Saya tidak langsung menemuinya, karena takut jika dia masih marah dan malah mengusir Saya. Itu akan membuat kekacauan di mini market ini. Jadi Saya membuntuti dia. Sayangnya, malah kehilangan jejaknya," ucap Aji, memberikan penjelasan pada mabuk kasir.


Akhirnya, dari cerita yang Aji katakan, mbak kasir merasa kasihan. Dia menyebutkan gang tempat tinggal Elisa, yang memang tidak terlalu jauh dari mini market ini.


"Terima kasih Mbak. Saya permisi, selamat bekerja," kata Aji mengucapkan terima kasih dan pamit untuk pergi.


"Wah, El... sayang sekali kalau Kamu tidak mau dengannya, buat Aku saja ya..." guman mbak kasir, mengiringi langkah Aji yang keluar dari ruangan mini market tersebut, hingga bayangan Aji menghilang dari pandangannya.


"Mbak, sudah belum totalannya?" tanya ibu, yang sedang menunggu belanjaannya, di scan mbak kasir.


"Eh, iya Bu maaf!"


*****

__ADS_1


Tok , tok, tok!


Elisa, yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, merasa terganggu dengan suara ketukan pintu kamarnya. Dia tidak yakin, jika ketukan pintu itu adalah, pintu kamarnya sendiri.


"Baru juga mau merem, masak iya sudah mimpi," guman Elisa, dengan mengelengkan kepala tidak percaya. Dia kembali memejamkan matanya.


Tapi beberapa detik kemudian, pintu kembali di ketuk dari luar.


Tok, tok, tok!


Kali ini, suaranya lebih kencang dari yang tadi. Elisa jadi merasa benar-benar terganggu.


"Siapa sih! ganggu orang mau istirahat saja," gerutu Elisa dengan kesal.


Elisa segera bangkit dari tempat tidurnya. Dia ingin melihat siapa yang datang menganggu istirahatnya. "Awas saja kalau cuma iseng. Aku getok baru tahu rasa," ancam Elisa dalam hati.


Ceklek!


Saat pintu dibuka, Elisa sangat terkejut, sehingga dia menutup kembali pintu kamarnya dengan cepat, dan kasar.


Blum!


Elisa merasa ini hanya mimpi, saat membuka pintu kamar dan melihat Aji, yang berada di depan pintu itu.


"Ini mimpi. Ini mimpi!" ucap Elisa dengan mencubit pipinya sendiri.


"Ouww!" teriaknya kesakitan.


"Ini nyata, bukan mimpi?" guman Elisa lagi, saat merasakan pipinya sakit saat dia cubit sendiri.


"El. Buka pintunya!"


Terdengar dari luar, Aji memintanya untuk membuka pintu.


Elisa panik, dia belum siap untuk bertemu dengan siapapun saat ini Tapi, jika dia tidak membuka pintu kamarnya, Aji bisa saja melakukan hal yang tidak pernah dia bayangkan. Dan itu pasti, pasti akan menimbulkan kecurigaan penghuni kost yang lainnya.


"Elisa! buka pintu atau..."


Ceklek!


Aji, tidak melanjutkan kalimatnya, saat pintu terbuka dan terlihat Elisa, dengan wajah yang meringis sambil celingak-celinguk, melihat ke sekeliling.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Aji, heran dengan tingkah Elisa.


"Kakak bikin kaget," ucap Elisa tidak nyambung dengan pertanyaan Aji.


"Hemmm..."


Aji tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya diam, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar Elisa.


"Eh Kak...."


Elisa menutup mulutnya sendiri, saat melihat Aji yang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia merasa malu, karena keadaan kamarnya sedang kacau. Dia belum sempat berberes tadi.


"Aku capek. Diamlah!" kata Aji, dengan mata terpejam. Dia terlihat sangat lelah.


Elisa, mendengus kesal. Dia yang mau beristirahat, jadi tidak bisa tidur karena tempat tidurnya, dipakai Aji, untuk merebahkan tubuhnya.


"Aku kan juga capek, lagian kenapa dia datang-datang malah tidur. Aneh!" gerutu Elisa dengan bibir cemberut.


Tapi, Elisa tidak bisa berbuat apa-apa karena melihat Aji, yang benar-benar tertidur tidak lama kemudian.


"Dari mana dia tahu alamat kostku yang baru? Lalu bagaimana dia bisa datang ke sini, jika hanya untuk tidur. Mending pulang ke rumah dan tidur dengan nyaman. Hufh..."


Elisa, terus menerus mengerutu sendiri, karena merasa tidak nyaman, ada Aji di dalam kamarnya.


*****


Hari telah berganti malam, saat Aji terbangun dari tidurnya. Dia melihat sempit dan tidak seperti biasanya.


Aji mencoba melihat langit-langit kamar, dan mengedarkan pandangannya, keseluruh ruangan. Dia juga mencoba mengingat-ingat di mana dia sebenarnya.


Saat terjadi pergerakan di sampingnya, Aji segera sadar, jika saat ini, dia masih berada di kamarnya Elisa.


"Hah. Aku benaran tertidur?"


Aji tidak percaya, jika tidur pura-puranya, justru membuatnya tertidur pulas dengan nyaman.


Ternyata, Elisa juga tertidur pulas di samping Aji, dengan satu tangan Aji.


"Diam begini kan manis. Tapi, tetap manis juga sih, meskipun sedang banyak bicara juga."


Aji, memandang wajah Elisa yang sedang tidur. Dia tersenyum sendiri, mengingat bahwa tadi sore, dia datang ke kost Elisa, dan tidak mengatakan apa-apa, kemudian malah tertidur sampai saat ini tadi.

__ADS_1


__ADS_2