Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Gagal Bertemu Lagi


__ADS_3

Gilang menepuk keningnya sendiri karena merasa melupakan kesehatannya sendiri. Dia lupa dengan rasa sakitnya itu, karena merasa bahagia dengan hasil tes DNA itu.


"Oh iya. Kenapa aku sampai lupa!"


"Ya sudah. Kita ke rumah sakit untuk pemeriksaan Gilang. Tapi Mami bisa urus untuk acara syukuran kok. Mami akan telpon bibi di rumah untuk berbelanja banyak. Nanti buat kita bawa ke panti asuhan yang biasa mami kunjungi."


Akhirnya, mami Rossa menemukan ide untuk usulannya yang tadi. Tanpa menunggu persetujuan yang lain, mami Rossa segera menelpon bibi pembantu rumah tangganya.


..."Halo Bik!" sapa mami Rossa begitu sambungan teleponnya terhubung....


..."Ya Nyah?" jawab bibi pembantu rumah tangga....


..."Tolong segera belanja barang-barang yang akan saya kirim lewat pesan ya! Minta tolong pada pak supir yang ada untuk membawa mobil yang biasanya di bawa ke panti asuhan. Nanti kalau sudah selesai belanja, kabari Saya."...


..."Baik Nyah!" jawab bibi patuh....


Mami Rossa menutup telponnya dengan tersenyum senang. Dia merasa sangat bahagia karena bisa melakukan syukuran itu tanpa harus meninggalkan Gilang, yang sedang melakukan pemeriksaan terhadap luka jahitan diperutnya.


Sesampainya di tempat parkir, mereka semua menuju ke mobil. Pak supir juga sudah siap untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat lain sesuai dengan permintaan majikannya itu.


"Kita ke rumah sakit tempat Gilang di rawat kemarin itu ya Pak!"


"Baik Nyah," jawab pak supir patuh.


Pak supir mempersilahkan para majikannya, dengan membuka pintu mobil, agar masuk terlebih dahulu dan segera menutup pintunya. Dia pun segera memutar dan masuk lewat pintu samping, tempatnya menyetir, kemudian segera melajukan mobil, pergi menuju ke rumah sakit yang selanjutnya.


Diperjalanan ke arah rumah sakit, Cilla berkata dengan suara pelan, "Tuan. Besok-besok, saya mau ke rumah tuan Adi boleh? Mau pamit. Tidak enak juga keluar dari rumah kontrakan miliknya tanpa ada kejelasan dan ucapan terima kasih. Kami sudah terlalu lama menjadi penghuni di rumah kontrakan miliknya itu."


Gilang menoleh ke arah Cilla yang sedang menunduk. Dia mengangguk dan berkata, "Boleh. Nanti sepulang dari rumah sakit ini, kita langsung menemui tuan Adi."


Cilla mengangkat wajahnya untuk menatap ke arah Gilang, kini keduanya sama-sama saling berpandangan. Tapi Cilla buru-buru memutuskan hubungan mata tersebut, dengan menundukkan wajahnya lagi. "Terima kasih," kata Cilla masih dengan wajah yang menunduk.


*****


Pemeriksaan Gilang berlangsung dengan baik. Kondisi perut dan lukanya juga sudah membaik. Kulit perutnya, bekas operasi, sudah mengering dan tinggal pemulihan saja, agar tidak membekas terlalu jelas.

__ADS_1


Dokter memberikan beberapa resep obat untuk diminum agar luka dalam perutnya juga cepat kering dan tidak ada sesuatu yang terjadi.


Gilang mengiyakan semua nasehat dan saran dokter, untuk kebaikan dan kesehatan dirinya juga. "Terima kasih banyak Dok," kata Gilang mengakhiri pertemuannya dengan dokter tersebut.


"Sama-sama tuan. Jika ada keluhan atau apapun itu, yang berhubungan dengan luka perut tuan, segera datang untuk berkonsultasi dan juga pemeriksaan lebih lanjut lagi." Dokter memberikan nasehatnya, untuk yang terakhir kalinya.


"Baik Dok," jawab Gilang sambil mengangguk sopan.


Gilang keluar menemui mami Rossa dan Cilla serta Aji. Mereka bertiga memang tidak ikut masuk ke dalam ruangan dan hanya menunggu di luar saja. Meskipun, tadinya mami Rossa ingin ikut ke dalam, tapi segera mengurungkan niatnya, mengingat dengan keselamatan Cilla dengan Aji.


"Bagaimana?" tanya mami Rossa. Dia berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Gilang yang baru saja keluar dari ruangan dokter.


"Semua baik Mi," jawab Gilang dengan tersenyum.


"Syukurlah," kata mami Rossa dengan mengucapkan syukur atas kesembuhan anaknya itu.


"Yuk!"


Mami Rossa mengajak Cilla dan Aji untuk berdiri dan melanjutkan acara mereka hari ini.


"Selanjutnya mau kemana ini?" tanya mami Rossa ingin tahu.


"Oh, mau apa?" tanya mami Rossa yang belum tahu jika Cilla belum sempat berpamitan dengan pemilik rumah kontrakannya.


"Saya mau berpamitan Mi. Mau berterima kasih juga karena sudah lama menempati rumah tersebut. Sering terlambat juga dan tuan Adi Mariah baik dengan memberikan kelonggaran waktu untuk membayar. Tidak enak kalau tidak berpamitan secara langsung."


Mami Rossa menganguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Cilla. Dia juga memuji Cilla yang masih memiliki sopan santun di jaman modern seperti sekarang ini.


"Bagus Cilla. Itu tandanya Kamu adalah orang yang tidak lupa dengan jasa seseorang, meskipun kamu tidak gratis juga menempati rumah tersebut. Yuk kita ke rumah orang itu. Mami juga mau mengucapkan terima kasih karena sudah banyak membantu kalian."


Mami Rossa setuju dan juga mendukung, dengan apa yang Cilla lakukan. Tapi Aji sepertinya tidak begitu suka, mungkin dia masih mengingat kejadian dimana mamanya, Cilla, dituduh sebagai pelakor. Apalagi waktu itu, tuan Adi juga menuduh Aji sebagai anak yang tidak mempunyai papa. Meskipun waktu itu, Aji tidak menyangkal jika semua itu benar, tapi setidaknya jangan pernah mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti hati dan perasaan orang lain.


Sebenarnya, Aji tidak melupakan kebaikan tuan Adi selama ini. Dia juga berterima kasih, atas hadiah yang diberikan oleh tuan Adi waktu itu, tapi kejadian yang tidak mengenakkan tetap masih membekas dalam hati dan juga ingatan Aji.


"Kenapa Aji?" tanya mami Rossa yang sadar dengan perubahan wajah cucunya itu.

__ADS_1


Cilla dan Gilang yang duduk di bangku belakang, menoleh ke arah Aji yang ikut duduk bersama mami Rossa di depan.


"Tidak apa-apa," jawab Aji datar.


"Ada apa Sayang?" tanya Cilla cepat. Dia tahu jika Aji menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.


"Tidak apa-apa Ma," jawab Aji tetap tidak mau mengatakan apa yang sedang dia pikirkan.


"Aji lapar?" tanya Gilang yang sedari tadi hanya diam menyimak semua percakapan mereka.


"Tidak," jawab Aji pendek.


"Ya sudah. Kita pergi cari makan siang dulu, baru pergi menemui tuan Adi."


Akhirnya mami Rossa membuat keputusan yang disetujui oleh Gilang. Cilla dan Aji hanya diam dan menurut saja.


*****


Pagi tadi, di depan pintu lift khusus apartemen, yang baru saja ditinggalkan oleh penghuninya, tampak seseorang sedang memencet bel agar diijinkan untuk masuk dan naik ke atas.


Beberapa kali dia mencoba memencet bel untuk bisa ke atas, tapi sepertinya tidak ada yang meresponnya.


"Katanya mereka ada di apartemen ini, kok tidak ada sahutan? Apa mereka sedang pergi ya?" Orang tersebut bertanya-tanya dalam hati.


Kemudian dia berjalan ke arah pas Security yang letaknya lumayan jauh juga dari tempatnya berdiri sedari tadi.


"Pagi pak. Maaf mau tanya. Apakah tuan Gilang dengan maminya ada di atas?" tanya orang tersebut pad Security yang berjaga di pos parkir.


"Iya. Mereka beberapa hari ini terlihat di apartemen ini. Tapi sepertinya mereka baru saja keluar tadi Pak!" jawab Security yang berjaga.


"Oh... Begitu ya," kesahnya kecewa.


"Baiklah. Terima kasih kalau begitu Pak."


Akhirnya orang tadi pamit pulang. Security hanya menjawabnya dengan anggukan kepala saja.

__ADS_1


"Hah... Kenapa susah sekali menemui mereka. Kalau bukan buat anak-anakku, Aku sungguh malu melakukan semua ini."


Ternyata orang yang sedang mencari Gilang dan juga mami Rossa adalah dokter Hendrawan. Dia masih berusaha untuk bisa membicarakan tentang anak-anaknya untuk meminta maaf.


__ADS_2