Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Harus Menahan Diri


__ADS_3

Nampan berisi makanan untuk sarapan pagi Aji, sudah siap dibawa oleh mama Cilla.


"Sini Tan, biar El saja yang bawa," kata Elisa, dengan mengambil alih nampan yang akan di bawa mama Cilla.


"Oh ya sudah, terima kasih ya El. Maaf lho, anaknya Tante jadi bikin Kamu repot," kata mama Cilla, meminta maaf dan juga berterima kasih pada Elisa, karena dia harus ikut terlibat, dalam masalah keluarganya.


"Gak apa-apa kok Tan. El seneng bisa bantu."


Elisa dengan tetap berjalan, mengikuti mama Cilla, masih tetap berpikir, apa yang akan terjadi setelah ini. "Kak Aji, bakal tanya-tanya gak ya sama mamanya? Aku kok jadi deg-degan gini," tanya Elisa dalam hati.


Ceklek!


Mama Cilla, membuka pintu kamar anaknya, Aji. Elisa, ikut masuk ke dalam kamar, setelah mama Cilla, masuk terlebih dahulu.


Aji tampak seperti orang yang sedang tertidur, jadi mama Cilla, urung untuk memanggilnya lagi. "Dia tidur lagi El. Kamu tolong tunggu sebentar lagi ya, di sini. Tante mau lihat kerjaan toko dulu. Kalau butuh bantuan, panggil Tante saja," kata mama Cilla, kemudian mendekati tempat tidur Aji dengan perlahan-lahan. "Cepat sehat Sayang, dan ingat dengan semuanya," kata mama Cilla penuh harap, kemudian mencium kening Aji.


"Tan," panggil Elisa, sebelum mama Cilla keluar dari kamar Aji.


"Ya El," jawab mama Cilla, karena merasa Elisa sedang membutuhkan dirinya. Mama Cilla jadi urung untuk keluar dari kamar.


"Ehmmm, tidak jadi!" kata Elisa cepat, sebelum mama Cilla, bertanya lebih lanjut.


"Kamu ini. Kalau butuh bantuan atau apa saja, bilang ya, jangan hanya diam saja. Tante seneng kok, Kamu ada di sini. Bukan hanya Tante, tapi semuanya."


"Hehehe... iya Tan. Terima kasih," kata Elisa, dengan tersenyum penuh kecanggungan.


Mama Cilla, tersenyum melihat tingkah teman anaknya itu. Dia tampak mengelengkan kepalanya beberapa kali, "Elisa, Elisa. Ada-ada saja Kamu ini."


Elisa, terdengar menghembuskan nafas panjang. "Hah... rasanya kayak ada beban berat," kata Elisa mengeluarkan keluhannya.


"Apa?"


Tiba-tiba, Aji sudah membuka matanya dan bertanya kepada Elisa.


"Eh, Kakak. Bikin kaget saja!" kata Elisa, setengah berteriak, karena merasa terkejut saat mendengar suara Aji secara tiba-tiba.


"Tadi, Kakak pura-pura tidur?" tanya Elisa, dengan mata memicing, menyelidik dengan kelakuan Aji.


"Iya, kenapa?" tanya Aji, dengan berusaha untuk bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Eh, eh..."


Elisa, dengan cepat membantu Aji, agar bisa duduk dengan baik.


"Mama akrab juga ya sama Kamu. Ternyata, semua orang juga seneng ada Kamu di rumah ini," kata Aji, mengulang kembali kata-kata mamanya tadi.


"Tapi, Kakak sudah ingat. Aku, pasti akan segera balik lagi ke kost, dan tidak tinggal di sini lagi," kata Elisa, menjelaskan pada Aji. Wajahnya tampak murung dan sendu.


"Kamu anak kost?" tanya Aji dengan cepat.


Elisa tidak menjawab pertanyaan Aji. Dia hanya mengangguk saja, kemudian melangkah ke arah meja dan mengambil nampan berisi makanan untuk Aji.


"Kakak sarapan dulu ya, baru minum obat."


Aji hanya mengangguk dan mencoba untuk makan sendiri, tanpa minta bantuan pada Elisa, seperti biasanya, saat dia masih mengira jika Elisa adalah Jeny. Tapi, tangannya dengan tidak sengaja, membuat sendok makan yang dia pegang jatuh.


Klinting...!


Elisa menoleh dengan cepat ke arah suara. Tadi, dia memang tidak memperhatikan Aji yang sedang makan, tapi lebih asyik dengan pikirannya sendiri. Dia jadi melamun dan tidak tahu, jika Aji kesulitan untuk menyuapi makanan yang akan dia makan sendiri.


"Hati-hati Kak," kata Elisa memperingatkan. Dia mengambil sendok yang tadi jatuh, dan menggantinya dengan yang lain. Tadi, dia sengaja membawa sendok makan dua biji , dan ternyata ada manfaatnya juga, karena bisa dibuat serep.


Elisa, menoleh ke arah Aji. Dia merasa tidak nyaman saat Aji menatapnya seperti itu. Akhirnya, Elisa menunduk dan mengeleng tanpa melihat ke arah Aji lagi.


"Kenapa?" tanya Aji, ingin tahu.


"Aku bukan lagi Jeny Kak. Dan Kakak tahu itu," jawab Elisa jujur, masih dalam keadaan menunduk.


"Maaf," kata Aji tiba-tiba.


"Kenapa minta maaf? Kakak kan tidak tahu. Kalau Kakak tahu, tidak mungkin juga Elisa ada di sini," jawab Elisa panjang.


"Ya, Aku minta maaf. Sebab, karena ketidak ingatanku itu, Kamu jadi susah, dan harus jadi Jeny. Aku juga sudah menyusahkan Kamu selama hampir seminggu ini."


Elisa, mengeleng mendengar kata-kata Aji. Dia merasa tidak repot dan susah. Dia hanya tidak nyaman, saat Aji sudah tahu kebenarannya dan dia masih saja harus bersandiwara sebagai Jeny di saat ada yang lainnya. Itu atas permintaan Aji sendiri.


"Kalau begitu, Kamu harus tetap jadi Jeny, untuk sementara waktu, hingga ingatanku benar-benar kembali pulih."


Begitulah tadi, Aji memintanya, saat dia selesai menceritakan semuanya pada Aji, tentang hilang ingatannya, pada Jeny, dan kedua adik kembarnya, Biyan dan Vero.

__ADS_1


"Kamu mau kan tetap jadi Jeny, sementara waktu?"


Elisa hanya mengangguk setuju. Meskipun dia sendiri tidak yakin, jika dia akan mampu terus menerus bersandiwara, kalau Aji belum tahu apa-apa.


"Hai! jangan melamun," kata Aji, mengangetkan Elisa, yang sedang asyik dengan pikirannya sendiri.


"Ih... Kakak. Bikin kaget tahu!"


"Hehehe... Kamu sih, dari tadi dipanggil-panggil diem saja," kata Aji memberitahu.


"Ah, masa?" tanya Elisa tidak percaya.


"Tanya saja pada rumput yang bergoyang di luar!"


"Idihhh..."


"Hahaha... ternyata apa yang dikatakan mama benar ya, ada Kamu, semua orang bisa tertawa lepas dan rame," kata Aji, membenarkan perkataan mamanya tadi.


"Aku pikir, Kamu gak cocok kalau diam saja. Karena dari apa yang Aku perhatian, Kamu gadis yang asal," kata Aji lagi, dengan menilai karakter dari Elisa.


"Kelihatan banget ya Kak?" tanya Elisa heran.


"Banget," jawab Aji, sambil menganggukkan kepalanya.


"Hah... Aku tidak yakin, jika Aku bisa terus menyembunyikan semua ini. Kenapa Kakak tidak bilang saja kalau Kakak sudah tahu semua?" tanya Elisa, karena merasa penasaran. Dan dia bukan orang yang suka memendam perasaan, jadi dia bertanya saja, apa alasan Aji saat ini, dengan masih memintanya untuk terus menjadi Jeny dan ada di dekatnya.


"Itu hukuman buat Kamu!"


"Kok hukuman?" tanya Elisa bingung.


"Iyalah. Kamu kenapa tidak dari awal bilang, kalau sebenarnya Kamu itu bukan Jeny. Tapi ada untungnya juga, karena Kamu itu bukan Jeny."


Jawaban yang diberikan Aji, membuat Elisa mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak tahu apa maksud dari perkataan yang diucapkan oleh Aji, kakaknya Jeny.


"Maksud Kakak?" tanya Elisa ingin tahu.


"Kamu, sudah buat Aku menjadi terbiasa, dengan adanya Kamu. Dan itu jadi keuntungan, karena Kamu bukan adikku kan?"


Elisa semakin bingung dengan jawaban Aji, yang tidak bisa dia pahami dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2