Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Masih Bersih


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Elisa dan Rio, dipanggil oleh pihak kepolisian untuk menjadi saksi dan dimintai keterangan.


Elisa, di jemput Aji di kostnya. Mereka bertiga datang bersama-sama, meskipun Rio mengendarai mobilnya sendiri.


Saat di kantor polisi, mereka disambut oleh penyidik dan memberitahu tentang motif dari Mr Toni, dalam kasus mereka berdua ini.


"Memangnya, apa yang melatarbelakangi Mr Toni, melakukan tidak kejahatan ini Pak?" tanya Elisa ingin tahu.


"Sakit hati," jawab petugas kepolisian bagian penyidik.


"Sakit hati?" tanya Elisa, mengulang jawaban dari petugas tersebut.


Aji dan Rio, saling pandang dengan berbagai pertanyaan yang ada di kepala mereka. Entah apa yang dimaksud oleh petugas tadi, dengan mengatakan, jika Mr Toni sakit hati dengan Elisa.


"Apa kami boleh bertemu dengan Mr Toni? kami ingin tahu, apa yang sebenarnya dia inginkan." Aji, meminta ijin untuk bertemu dengan tersangka, Mr Toni.


"Nanti, setelah korban selesai memberikan jawaban, atas semua pertanyaan untuk kesaksian mereka nanti di pengadilan. kini untuk berita acara juga."


Akhirnya, mereka berdua, Elisa dan Aji, menyelesaikan panggilan mereka sebagai saksi, sekaligus sebagai korban juga.


Hampir satu jam lamanya proses tanya jawab, yang mereka lakukan berlangsung. Aji, hanya diam menunggu saja di luar, sebab mereka berdua, Elisa dan Rio, sudah di temani oleh dua pengacara, dari pihak ayahnya Rio, dan pengacara keluarga papa Gilang untuk Elisa.


Setelah selesai, mereka bertiga, duduk-duduk di ruang tunggu. Pengacara juga masih ada, mendampingi mereka hingga pulang nanti. Mungkin, dari pembicaraan mereka nantinya, pihak pengacara bisa mengambil beberapa kesimpulan untuk pembelaan terhadap korban.


Beberapa menit kemudian, Mr Toni muncul dibawa oleh petugas. Dia tampak tersenyum miring dan melihat Elisa dengan wajah sinis.


Dia dudukkan oleh petugas, di kursi. Petugas tadi menunggu dan berdiri di belakang Mr Toni.


Elisa dan Rio, saling pandang, sebelum mengajukan pertanyaan yang mengganjal di hati mereka sedari tadi.


"Mr Toni. Apa Lisa bisa percaya jika ini adalah Anda sendiri? Lisa pikir, Anda orang yang baik ramah dan tidak seperti sekarang ini," tanya Elisa dengan mengamati wajah Mr Toni.


"El. Tidak usah di pandang begitu," tegur Aji pada Elisa. Dia merasa cemburu, karena Elisa sedang memperhatikan wajah Mr Toni.


"Kak. Kakak tahu sendiri, dia itu orang yang ramah dan baik. Bahkan dia juga yang meminta pada kita untuk menyelesaikan masalah kita kn malam itu?" tanya Elisa pada Aji, dengan wajah yang tidak percaya, tentang apa yang dia dengar tadi, dari jawaban petugas kepolisian.


"Tidak semua yang kita lihat itu sama dengan yang sebenarnya. Makanya, jangan terkecoh dengan penampilan luar saja." Aji, memberikan penjelasan pada Elisa, yang diangguki oleh Rio dan para pengacara mereka.

__ADS_1


"Tapi... tapi kemarin itu, Mr Toni tidak ngapa-ngapain Elisa kan?" tanya Elisa panik. Dia takut, jika dia sudah di...


"Cih! Mana doyan Aku dengan cewek macam Kamu! Sok jual mahal, nyatanya doyan sana sini," jawab Mr Toni, dengan wajah sinis dan meremehkan pribadi Elisa.


"Maksudnya?" tanya Elisa cepat.


"Dia bilang, jika dia adalah calon suamimu, tapi lain hari, Aku lihat kamu lebih sering dengannya," jawab Mr Toni, dengan menunjuk ke arah Aji, kemudian berganti dengan menunjuk ke arah Rio, dengan dagunya.


Elisa tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh Mr Toni. Dia tidak tahu, apa yang dipikirkan oleh Mr Toni tentang dirinya.


"Jangan pura-pura alim dan sok suci. Untungnya, Aku tidak mau menyentuhmu kemarin. Jijik!" Mr Toni, berkata lagi dengan mencibir.


Aji dan Rio, berdiri secara bersamaan. Mereka berdua, ingin menghajar Mr Toni, yang berkata tidak-tidak tentang Elisa.


Untungnya, mereka berdua, ditahan oleh pengacara yang menemani mereka juga.


"Itu mulut pernah di kasi makan enak tidak? Jika tidak, sini, Aku kasih makan dengan bogem mentah!" bentak Aji dengan marah.


"Orang seperti ini, bagusnya buat makan peliharaan polisi, yang ada di depan sana!" ganti, Rio yang berkata dengan suara keras.


"Tahan. Tahan amarah kalian," kata salah satu pengacara mereka.


"Aku pikir Kamu gadis yang baik. Aku berusaha untuk mendekati dengan cara yang baik juga, agar Kamu terkesan. Tapi ternyata Aku salah. Malam itu, Kamu justru datang terlambat dan mengajaknya dengan pura-pura sedang berantem dan mempunyai masalah pribadi. Aku masih mencoba untuk berpikir yang tidak-tidak. Apalagi saat dia bilang jika, dia adalah calon suamimu, tentu Aku merasa senang karena Kamu mendapatkan laki-laki yang terlihat baik serta bukan orang sembarangan. Tapi ternyata, kemarin-kemarin, Aku lebih sering melihatmu berdua-duaan dengan dia, laki-laki yang berbeda dari yang malam itu. Akhirnya Aku berpikir, jika semua hanya rekayasa Agra Kamu tetap terlihat 'bersih' padahal sebenarnya tidak!"


Mr Toni, akhirnya kalap dan merasa tertipu. Dia ingin memberikan bukti pada Aji, yang malam itu mengaku sebagai calon suaminya Elisa, agar tahu belang Elisa yang sebenarnya. Dia ingin memberikan pelajaran pada Elisa, karena mengabaikan perasaannya dan juga banyak bermain dengan laki-laki, yang berbeda-beda.


Aji, Rio dan terutama Elisa, bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari Mr Toni.


"Untungnya, Mr Toni mempunyai pemikiran dan penilaian yang salah. Dan itu artinya, Aku tetap bersih." Elisa berkata sambil menghela nafas panjang. Aji dan Rio, tersenyum miring, melihat ke arah Mr Toni.


"Pikiran dan mata Kamu yang salah menilai seseorang. Kamu tidak tahu, mana berlian dan kerikil yang ada di pinggir jalan." Aji, mencibir Mr Toni, karena salah menilai Elisa selama ini.


"Dasar otak udah konslet!" kata Rio dengan wajah sinis.


Tentu saja, semua tanggapan mereka semua, membuat Mr Toni bingung dan bertanya-tanya.


"Kenapa?" tanya Aji, pada Mr Toni, yang terlihat bingung dengan menatap mereka satu persatu.

__ADS_1


"Kamu tidak dengar tadi Saya bilang apa? jangan menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja. Itu tidak selamanya benar. Dasar pecundang. Justru, buat Kamu, yang ingin mencemarkan nama baik Elisa, berbalik membawamu ke jeruji besi."


"Jadi..."


Mr Toni, tidak melanjutkan kata-katanya lagi, karena melihat Elisa yang tersenyum manis dan mengangguk dengan pasti.


"Ya... Mr Toni yang rugi sendiri kan atau dapat untung apa?" tanya Elisa, yang tidak perlu lagi untuk dijawab oleh siapapun.


"Ya sudah. Silahkan menikmati semua yang akan terjadi kedepannya, apapun itu," kata Rio, memberikan kiasan.


"Pak, bawa kembali dia ke sel." Salah satu dari pengacara mereka, meminta pada petugas untuk membawa kembali Mr Toni ke dalam tahanan.


Tak lama kemudian, mereka semua berpamitan pad petugas kepolisian untuk kembali pulang.


"Oh ya Pak. Identitas kami dan juga handphone milik teman Saya Rio, bagiamana?" tanya Elisa, saat ingat dengan barang-barang miliknya dan juga Rio yang hilang waktu itu.


"Ada Mbak, aman sebagai barang bukti. Ini kasusnya, selain rencana untuk pencernaan nama baik, juga dikaitkan dengan kasus perampokan juga. Nanti, kalau kasusnya sudah beres, pasti dikembalikan lagi."


"Oh begitu ya. Ya sudah, terima kasih Pak."


*****


Saat perjalanan pulang, Elisa yang berada di mobil Aji terlihat mengantuk.


"Tidur saja kalau mengantuk El," kata Aji, menawari Elisa agar tidur saja dalam perjalanan pulang.


"Egh..."


"Kenapa? Takut Aku culik juga?" tanya Aji dengan melirik sekilas ke arah Elisa.


"Ih... nyulik kok pake bilang-bilang. Gak bisalah!"


"Kenapa gak bisa?" tanya Aji, tanpa menoleh ke arah Elisa. Dia masih fokus ke jalanan.


"Kabur duluan pastinya!"


"Kan Aku belum bilang, nyuliknya dibawa kemana?"

__ADS_1


"Kemana emangnya?" tanya Elisa ingin tahu.


"Nyuliknya Aku bawa ke KUA!"


__ADS_2