Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Sahabat Atau Musuh


__ADS_3

Jalanan Jakarta memang tidak pernah ada sepinya. Apalagi di jalan-jalan protokol dan jalan raya yang banyak sekali gedung-gedung tinggi perkantoran, dan pusat kegiatan ekonomi yang lain, seperti Mall, apartemen dan gedung lain. Bahkan, jalan-jalan yang dimasa pasar tradisional lebih sering macet total karena para pedagang yang lebih banyak mengelar dagangannya di pinggir-pinggir jalan serta trotoar.


Kata mereka, ini trik untuk menjual dagangannya agar lebih cepat laku, karena kebanyakan pembeli malas untuk masuk ke dalam bangunan pasar. Selain lama, karena harus berputar-putar mengelilingi pasar, mereka juga harus mengetahui harga pasar yang pasti, agar tidak salah saat membayar. Jadi mereka lebih memilih membeli yang diluar bangunan pasar, yang katanya lebih murah dan berkualitas sama seperti yang ada di dalam pasar juga. Sepertinya harus ada tindakan tegas dari pihak terkait, untuk menindaklanjuti kegiatan pasar tradisional, agar tidak amburadul untuk para penjualnya yang ada diluar bangunan resmi.


"Kenapa Gilang?" tanya mami Rossa saat terjadi kemacetan.


Mobil yang mereka tumpangi, sudah tidak bergerak hampir sepuluh menit. Ini tentunya sangat membuat tidak nyaman, yang membuat mami Rossa bertanya, karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


"Tidak tahu Mi. Sepertinya, kemacetan ini ada didepan sana," jawab Gilang, dengan menunjuk ke arah depan, dimana ada pasar tradisional yang masih ramai di jam siang seperti ini.


"Maaf Nyonya. Tadi Saya ambil jalur ini sebab jalur yang biasa, ada penutupan. Tidak tahu kenapa, karena tadi dialihkan oleh petugas kepolisian lalu lintas."


Pak supir meminta maaf dan menjelaskan, kenapa hari ini, dia melewati jalan yang tidak biasa mereka lalui.


"Oh begitu ya. Mungkin ada kecelakaan atau apa gitu tadi, jadi jalan ditutup. Tapi akhirnya, jalan ini juga jadi macet begini ya," kata mami Rossa yang masih saja merasa tidak nyaman dengan kondisi kemacetan lalu lintas.


"Mi. Jakarta, dibuatkan jalan khusus saja masih ada kemacetan, karena kadang warganya yang melanggarnya. Jadi kemacetan lalu lintas di Jakarta ini, tidak semata-mata karena jalan yang sempit atau pengaturan yang tidak sesuai, tapi karena kesadaran warganya juga, yang membuat kesalahan dan banyak melanggar peraturan yang berlaku."


"Wah, Papa jadi pengamat lalu lintas juga ya?" tanya Aji ingin tahu.


"Bukan pengamat Sayang, tapi karena Papa melihatnya setiap hari. Jadi sedikit tahu kondisi yang ada di depan mata," jawab Gilang menjelaskan pada anaknya, Aji, agar paham jika semuanya ada sebab dan akibat yang akan terjadi pada suatu kejadian.


*****

__ADS_1


Malam harinya, saat usai makan malam, Aji ikut masuk ke dalam kamar, yang dijadikan sebagai ruang kantor yang ada di rumah. Tempatnya yang ada di sebelah kamar Gilang, memudahkan dirinya jika ingin memeriksa atau lembur sendiri di rumah, tanpa harus berada di kantor hingga malam hari.


"Aji ada yang mau dikatakan?" tanya papanya, Gilang.


"Iya Pa. Aji mau tanya-tanya pada Papa, tapi tidak mau mama atau Oma ikut dengar juga."


Gilang berhenti sejenak, saat mendengar perkataan Aji yang sedang serius itu. Ini bukan hanya terjadi untuk pertama kalinya. Aji juga pernah mengatakan hal yang serius dan tidak dalam keadaan seperti biasanya. Waktu Gilang mengatakan dan mengakui jika Aji adalah anaknya, dan tidak lama kemudian, terjadi kekacauan di kantornya.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi dan tidak Papa ketahui?" tanya Gilang penasaran dengan apa yang ingin dikatakan anaknya itu.


Mereka berdua, Aji dan Gilang, sudah berada di dalam kamar, ruang kantor yang ada di rumah. Aji duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut, begitu juga dengan Gilang. Tapi tidak di kursi yang ada mejanya, dimana perlengkapan dan peralatan kantor Gilang berada.


"Aji mau tanya apa? Atua mau bicara tentang apa?" tanya Gilang setelah keduanya duduk.


Wajah Gilang memerah seketika. Ada kemarahan yang tiba-tiba datang tanpa Gilang sadari.


"Selain dia adalah suami Sekar Mayangsari, Eko Julianto adalah gembong narkoba yang dalam pencarian FBI Pa," kata Aji menerangkan tentang Eko Julianto.


Gilang menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar.


"Hah! Papa sebenarnya tidak ingin membicarakan tentang mereka berdua Aji. Papa tidak mau tahu apapun tentang mereka berdua." Gilang menjawab pertanyaan Aji dengan nada sedih, tapi juga ada kesan amarah yang tertahan.


"Tapi, dari mana Aji tahu tentang mereka berdua?" tanya Gilang penasaran dengan apa yang ditanyakan anaknya itu.

__ADS_1


"Bukankah kemarin-kemarin, Papa dilibatkan dalam kasus PT Sekar Jagad? Dan itu adalah milik Sekar Mayangsari, mantan kekasih Papa waktu dulu."


Jawaban dari Aji, membuat Gilang sadar, jika anaknya yang baru saja genap berusia lima tahun itu sangat kritis dan teliti dalam keadaan apapun. Dia tidak mungkin menjawab pertanyaan Aji dengan cerita yang tidak sebenarnya.


"Iya. Sekar Mayangsari memang mantan kekasih Papa. Tapi itu dulu, dan Papa tidak lagi tahu menahu tentang dia dan Eko Julianto sejak waktu itu juga."


Akhirnya, Gilang menceritakan tentang kisah mereka bertiga, Gilang, Sekar Mayangsari dan Eko Julianto.


"Begitulah kira-kira yang terjadi waktu itu. Jadi Papa benar-benar tidak tahu dan tidak bisa membantu pihak terkait untuk kasus yang terjadi pada saat ini. Papa fokus pada tujuan Papa sekarang, yaitu ingin membangun sebuah rumah tangga yang bahagia bersama mama dan juga Aji, nanti."


Aji mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh papanya. Dia saja yang masih merasa penasaran dengan keberadaan Eko Julianto.


"Papa tahu tidak, dimana biasa Eko menyebutkan tempat yang dia impikan waktu masih sekolah atau kapan gitu. Sama seperti Aji yang selalu bilang jika ingin ke Jerman."


Aji bertanya lagi, tentang kebiasaan Eko Julianto pada masa itu. Tapi sepertinya, papanya, Gilang, tidak mengingatnya. Mungkin karena papanya terlanjur sakit hati, sehingga secara tidak sadar, ingin melupakan semua kenangan tentang mereka berdua.


"Memang kenapa Sayang?" tanya Gilang pada Aji. Dia berpikir, jika Aji terlalu banyak berpikir dan merasa penasaran dengan suatu masalah.


"Tidak apa-apa. Hanya antisipasi agar dia tidak bisa mengusik kita nantinya. Bukankah keberadaan dirinya belum ditemukan sampai saat ini?"


Gilang mengganguk-anggukan kepalanya. Dia juga tidak mau, jika Eko Julianto akan membuat kehidupannya kembali terpuruk.


"Dulu, dia sahabat Papa, apa musuh Papa?" tanya Aji heran bila semua yang terjadi dalam kehidupan papanya itu akibat ulah dari Eko Julianto, yang katanya dia adalah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Dia sahabat Papa. Tapi kita tidak tahu, bagaimana dalam hati seseorang itu. Bahkan, ada juga kalimat nasehat yang baik, jika kadang orang terdekat kitalah yang memiliki peran besar untuk kesuksesan dan kegagalan yang kita alami saat ini."


__ADS_2