
Hari cepat berganti. Kehidupan terus berlangsung, apapun yang terjadi, apapun itu, waktu akan terus berlalu, tanpa jeda, apalagi berhenti.
Tidak ada satupun dari kita, manusia, bisa mengelak dari goresan pena takdir Sang Pencipta. Apapun itu, semua sudah tergariskan. Kita sebagai manusia, hanya diminta untuk selalu berusaha dan bersabar. Jika ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, yang tidak pernah kita inginkan, itu hanya salah satu cobaan. Begitu sejatinya kehidupan yang kita jalani ini.
Hari ini adalah jadwal persidangan kasus kejahatan yang dilakukan oleh Candra dan juga adiknya, Lily.
Pihak kepolisian yang menangani kasus ini, mengembangkan penelusuran dan penyelidikannya pada beberapa kejadian yang sempat heboh beberapa waktu yang lalu. Ini tentang kejadian pelecehan anak-anak kecil, terutama anak cowok, di jalan yang dilakukan oleh orang-orang tidak dikenal.
Dalam kasus ini, anak-anak kecil itu, hanya diiming-imingi dengan uang atau mainan yang disukai oleh anak-anak.
Pihak kepolisian mencurigai jika anak buahnya Candra, ikut serta dalam kegiatan kejahatan yang terjadi pada waktu itu. Jika memang benar, anak buah Candra bisa menjadi tersangka utama juga, dalam kasus yang lain. Dan ini adalah keberhasilan yang dicapai dalam waktu yang bersamaan oleh pihak kepolisian, tanpa perlu mencari dan menemukan mereka dengan susah payah.
"Ini ada kaitannya dengan kasus yang terjadi dalam waktu yang lama itu?" tanya Gilang pada komandan polisi, temannya waktu itu.
"Iya. Ternyata mereka berdua, sebelumnya adalah para preman yang ikut terlibat dalam kasus tersebut."
Komandan polisi menceritakan tentang kasus tersebut pada Gilang. Dengan demikian, kasus penculikan Cilla dan Aji, akan berkembang menjadi kasus yang sempat berhenti karena licinnya para penjahat itu.
"Syukurlah kalau begitu. Mereka layak mendapatkan hukuman yang setimpal. Apa hanya mereka berdua atau ada komplotan yang lainnya?" Gilang bertanya lagi.
"Belum, tapi ada satu nama lagi yang mereka sebutkan. Nama lain itu sedang dalam pencarian." Komandan polisi memberikan penjelasan pada Gilang.
"Bukan Candra?" tanya Gilang cepat.
"Bukan. Candra mengenal mereka berdua belum lama. Itu juga terjadi saat berada di Club malam."
Keterangan komandan polisi itu membuat Gilang merasa senang. Itu artinya, Candra tidak memiliki kasus yang lain lagi, selain penculikan yang dia lakukan kemarin.
Sebenarnya, Gilang tidak merasa dendam. Dia masih memiliki rasa simpati pada Candra, tapi dia tidak ingin, Candra mengulang kembali perbuatannya itu dimasa yang akan datang. Jadi hukuman yang akan dia jalani nanti akan bisa membuat Candra jera, dan tidak lagi berbuat jahat.
"Baiklah. Aku bergabung dulu dengan yang lain. Semoga persidangan ini lancar." Komandan polisi berpamitan dengan melambaikan tangan.
__ADS_1
"Ok. Sampai ketemu di dalam," jawab Gilang ikut melambai juga.
*****
Persidangan perdana ini, mengagendakan pembacaan kasus dan beberapa pasal pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan tersangka. Baik untuk Candra maupun Lily, keduanya adalah sama-sama sebagai tersangka utama.
Sidang berjalan dengan lamban, apalagi saat Lily di hadirkan. Dia menangis histeris memanggil-manggil nama papanya, juga nama Gilang.
"Papa. Papa...!"
"Mas. Mas Gilang. Mas!"
Lily berteriak memanggil beberapa kali, kemudian dia jatuh pingsan.
Kehebohan yang terjadi, akhirnya membuat suasana sidang ricuh dan tidak kondusif. Hakim meminta waktu untuk beristirahat sebentar.
Hakim berunding terlebih dahulu, di belakang untuk beberapa saat. Setelah para hadirin yang mengikuti persidangan menunggu, akhirnya hakim muncul kembali, dan memberikan pengumuman jika persidangan di undur dua hati ke depan.
"Ada acara drama sih!"
"Paling cuma rekayasa."
"Padahal aku menunggu om Gilang yang ganteng itu ke depan sebagai saksi. Ah, aku mah, fans tersembunyi buat dia."
Banyak sekali celoteh beberapa orang yang memang merasa simpati, penasaran dan ingin mengikuti jalannya persidangan ini. Ada yang ingin tahu bagaimana keadaan korban, bagaimana kasus ini akan berjalan dan ada juga beberapa wartawan, yang saat ini sedang mengejar pengacara kedua kubu, serta mencari keberadaan Gilang dan juga korban dari kasus penculikan ini, Aji dan mamanya, Cilla.
Untungnya, Cilla dan Aji yang hadir, tapi memang ada di ruangan yang berbeda. Mereka bertiga, bersama dengan mami Rossa, mengikuti jalannya persidangan melalui layar yang tersedia dan tidak hadir di depan umum. Ini untuk menghindari, jika ada trauma tersendiri pada korban. Apalagi ada korban yang masih berusia di bawah umur, bahkan termasuk balita.
Gilang keluar dari ruang persidangan. Dia bergegas masuk ke dalam ruangan, di mana ketiga orang yang dia sayangi berada.
Gilang masuk, kemudian memeluk Aji. "Sayang tidak apa-apa, tidak merasa takut kan?" tanya Gilang pada Aji, yang sedang menatap kearahnya.
__ADS_1
"Tidak," jawab Aji pendek.
"Ah, syukurlah. Kamu Honey?" tanya Gilang beralih pada Cilla.
Cilla hanya mengeleng sambil tersenyum tipis. Dia merasa bersyukur bisa mendapatkan privasi sebagai korban. Ini juga akan menghindarkan dirinya dari pemberitaan media massa, sebagai wanitanya Gilang
"Tadi kenapa Lily pingsan?" tanya mami Rossa ingin tahu lebih jelasnya.
"Tidak tahu Mi. Mungkin faktor kejiwaan yang sedang tertekan," jawab Gilang datar. Dia memang tidak tahu apa yang dirasakan oleh Lily saat ini.
"Kita langsung pulang saja ya!"
Mami Rossa memberikan usulan. Dia merasa sedikit pusing dan lelah, setelah mengikuti jalannya sidang yang terlihat lancar, tapi tersendat juga pada akhirnya.
"Iya. Kita pulang saja. Atau Aji mau ke mana dulu?" tanya Gilang pada anaknya.
"Tidak Pa. Aji juga merasa capek," jawab Aji sambil melihat ke arah omanya, mami Rossa.
"Jangan karena Oma, Aji jadi merasa serba salah ya! Jika ingin pergi kemana dulu, Oma bisa minta jemput supir atau naik taksi kok!"
Aji berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke tempat duduknya mami Rossa. "Oma capek kan? Aji juga capek Oma," kata Aji memberitahu.
"Hehehe... Begitu ya! Oma pikir, Aji tidak pernah merasa capek," kata mami Rossa menanggapi perkataan cucunya itu.
"Ya sudah. Kita pulang sekarang. Tapi Aku keluar terlebih dahulu. Jika ada wartawan atau orang-orang yang ingin bertanya, biar Aku yang menjadi pengalihan perhatian mereka. Kalian bisa langsung masuk ke dalam mobil."
Gilang menyerahkan kunci mobil pada maminya, kemudian berbalik arah untuk keluar dari ruangan tersebut.
Mami Rossa mengajak Aji dan Cilla, untuk ikut keluar dari ruangan itu, tapi masih menunggu situasi di luar. Jika aman, mereka bertiga akan menyusul Gilang, yang pastinya akan menunggu mereka. Tapi jika ada sesuatu yang terjadi, maka mereka akan segera pergi tanpa menunggu Gilang, untuk pergi ke dalam mobil, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Gilang tadi.
Tapi ternyata, situasi di luar ruangan tidak seperti yang dibayangkan. Mereka semua, sudah di kepung wartawan dari berbagai media massa dan juga televisi.
__ADS_1