Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Aku Bagaimana ( Elisa )


__ADS_3

"Jen. Aku gimana ini, mau pulang juga? Kasihan Rio tuh," tanya Elisa, dengan berbisik-bisik pada Jeny. Dia takut jika Aji, akan mendengar suaranya. Sebab, Aji baru saja tertidur, setelah di periksa oleh dokter syaraf tadi.


"Gimana ya..." jawab Jeny, masih berpikir.


"Rio, bantu mikir," pinta Elisa dengan memasang wajah memelas.


Jeny, tidak tahu harus menjawab apa, atas pertanyaan dari temannya itu. Karena kakaknya, tadi sudah berpesan agar Elisa, yang sedang berperan sebagai dirinya, tidak boleh kemana-mana. Apalagi saat ini, Papa Gilang dan mama Cilla, sedang berada di kamar pasien tempat Oma Rossa dirawat.


"Sudah malam juga Jen. Aku kan masih harus tidur yang cukup, agar masa pertumbuhan tidak terganggu juga," kata Elisa beralasan.


"Halah, masa pertumbuhan, ke mana?" tanya Rio, yang memang ikut mendengarkan percakapan mereka berdua, Jeny dan Elisa.


"Rio, diem dan ikutlah berpikir!" bentak Elisa, dengan mata melotot ke arah Rio yang sedang cengengesan, karena mendengar perkataannya tadi.


Tapi, dasarnya Rio, bukannya diem malah tertawa-tawa senang dengan apa yang dialami oleh Elisa. "Kapok! katanya pengen bisa dekat sama kakaknya Jeny," kata Rio, kembali mengingatkan apa yang diinginkannya dulu.


"Tapi kan gak dengan cara ini juga," bantah Elisa melengos.


"Yah... Tuhan punya caranya sendiri kan?" kata Rio, mempertegas perkataan tadi.


"Hambuhlah..." jawab Elisa pasrah, dengan logat bahasa daerahnya sendiri.


"Hemmm..."


"Sudah. Tidak usah berdebat. Kalian kan tadi dengar sendiri, kalau teman Dokter Dimas mengatakan, jika kita tidak perlu memaksakan ingatan kakak untuk sementara ini. Biar sedikit demi sedikit, dia mengingatnya sendiri. Jika kita paksa, takutnya syaraf di otaknya akan memaksa memory ingatan kakak bekerja lebih berat, dan itu akan membuatnya sakit kepala yang luar biasa lagi. Dan itu bisa berakibat fatal, karena jika sampai tidak bisa di atasi akan membuatnya jadi lupa permanen. Kamu harus bisa berakting jadi Aku ya El, sementara waktu saja kok!"


Elisa, tidak bisa membantah perkataan dan permintaan dari Jeny. Apalagi, dia juga merasa senang, karena bisa dipastikan akan lebih dekat dengan kakak dari temannya itu. Tapi, jika waktunya tiba nanti, dan semuanya kembali lagi normal, apa dia akan baik-baik saja? Apa dia akan tetap jadi Elisa seperti sekarang ini, atau akan menjadi sosok baru yang di sukai Aji?


"Ah..."


Elisa, mengeleng-gelengkan kepalanya sendiri dengan kesal, membuang segala pikirannya yang tidak benar itu.


"Kenapa kamu?" tanya Rio bingung, saat melihatnya mendesah kesal, dan menggelengkan kepalanya sendiri


"Gak apa-apa," kata Elisa datar.


"Kalau perlu, Kamu bisa pindah ke rumahku untuk sementara waktu El. Biar kakak tidak cari-cari Kamu, saat sudah pulang nanti," kata Jeny, memberikan usulan pada Elisa.


Elisa, melihat ke arah Jeny dengan mata memicing. Dia tidak yakin, jika harus berada di tengah-tengah keluarga Jeny, yang dikenal sebagai orang kaya itu. Bagaimana bisa dia menyesuaikan diri, secara dia terbiasa hidup seadanya dan semaunya juga, meskipun dalam keadaan yang tidak berlebihan, seperti kehidupan temannya itu.


"Wah... untung Kamu El," kata Rio mendukung.


"Untung pala Kamu tuh! Gih, gantian posisi," kata Elisa dengan nada kesal, karena merasa sedang di ejek oleh Rio.

__ADS_1


"Bagaimana bisa ganti posisi? kak Aji, maunya adik ceweknya Jeny, bukan Vero, atau Biyan. Kalau mereka sih, Aku bisa gantiin dengan senang hati. Nah ini kan ceritanya si Jeny, entar bisa-bisa Rio jadi Ria dong," jawab Rio, dengan nada menirukan suara seperti seorang cewek.


"Ada apa?" tanya papa Gilang, yang baru saja masuk ke dalam kamar pasien Aji.


"Om..." sapa Elisa terputus, karena Jeny ikut menyahut.


"Ini Pa, Elisa mau pulang. Tapi takutnya, kakak nyariin gimana? terus besok-besok, kalau kakak sudah pulang, Elisa bagaimana? Apa sementara waktu, dia ikut tinggal di rumah kita saja Pa?" tanya Jeny, meminta pendapat dan ijin pada papanya.


Elisa, melihat ke arah papa Gilang dengan wajah cemas. Dia tidak mau berpikir, jika papa Gilang akan menyetujui usulan dari anaknya itu, Jeny.


"Boleh. Jika itu memang diperlukan untuk membuat kakak Kamu lebih baik, kenapa tidak?"


Jawaban dari papa Gilang, membuat Jeny tersenyum senang, sedangkan Elisa memejamkan matanya sambil meringis tidak karuan cemasnya. Rio, dengan tersenyum miring melihat tingkah Elisa yang tidak jelas itu.


"Apaan?" tanya Elisa, saat membuka matanya, dan melihat ke arah Rio, dengan mata mendelik.


"Selamat El. Tuhan sedang memberimu kesempatan yang baik," jawab Rio dengan tersenyum meledek.


"Awas ya!" ancam Elisa dengan cemberut.


"Pas," kata Rio menjentikkan jari tangan.


"Apa?" tanya Elisa heran.


"Ihsss..."


"Hahaha..."


"Eh, kalian!" bentak Jeny, pada kedua temannya yang tidak tahu tempat itu.


"Diem," kata Elisa, memperingatkan Rio.


"Kamu diam," jawab Rio mencibir.


"Sudah-sudah. Ayok pergi keluar. Kita makan malam dulu. Sepertinya, rasa lapar membuat otak kalian berdua miring!"


Jeny, menyeret tangan Elisa dan Rio bersamaan. Dia mengajak keduanya untuk keluar dari kamar pasien kakaknya, Aji. "Pa. Kami pergi makan malam dulu," pamit Jeny pada papanya.


"Iya, hati-hati."


*****


Di rumah makan Padang, yang ada di dekat rumah sakit.

__ADS_1


"Pesen gih! yang banyak biar kenyang terus bisa berdebat lagi dengan baik. Tidak hanya bikin telingaku sakit," kata Jeny pada kedua temannya, Elisa dan Rio.


Tapi mereka berdua, justru duduk tanpa membuat pesanan makanan yang akan mereka makan terlebih dahulu. Tentu saja, Jeny jadi benar-benar kesal dengan keduanya.


"Hah, kenapa?" tanya Jeny, saat melihat mereka berdua diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


"Malas," jawab Elisa datar.


"Sama," jawab Rio dengan cepat, tanpa membuat alasannya sendiri.


"Iya kenapa?" tanya Jeny bingung.


"Iya malas saja," jawab Elisa lagi.


"Hem... gak mau makan?" tanya Jeny memancing.


"Maulah," jawab Elisa cepat.


"Mau juga," jawab Rio, ikut-ikutan.


"Kreatif dong..." kata Elisa pada Rio, yang selalu mengekor jawabannya.


"Biarin," jawab Rio cuek.


"Dasar Rio bukan ORI!" ledek Elisa mulai lagi.


"Sudah cukup. Kalau mau makan segera pesan, atau Aku tinggal," kata Jeny mengancam mereka berdua.


"Pesan gih," pinta Elisa pada Rio.


"Pesan sendiri," jawab Rio mengeleng.


"Hem..." guman Jeny tidak jelas.


"Eh, iya-iya."


Elisa dan Rio, segera berdiri dan mendekat ke arah penjual, untuk membuat pesanan makanan untuk mereka, saat mendengar suara gumanan dari Jeny. Itu pertanda jika Jeny sudah diluar batas kekesalannya.


"Aneh-aneh saja mereka itu," kata Jeny pelan, pada diri Anda sendiri, sambil mengelengkan kepalanya beberapa kali.


"Kamu pesenin juga gak Jen?" tanya Elisa pada Jeny.


"Iyalah. Emang Kamu tega, makan berdua dan aku diminta puasa?" jawab Jeny dengan menyindir Elisa.

__ADS_1


"Hahaha... siapa tahu, Kamu mau puasa, sampai kakak Kamu itu, ingat Kamu lagi!" jawab Elisa sambil nyengir kuda.


__ADS_2