Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Mau Yang Ini


__ADS_3

Mobil Aji, sudah ikut terparkir di antara banyaknya mobil-mobil para mahasiswa, yang berbaris rapi di area parkir kampus.


Dia tidak turun dari dalam mobil, untuk mencari keberadaan Elisa, karena, tadi saat di perjalanan sudah menghubungi Elisa. Sedangkan Elisa, menjawab jika dia sedang menunggu keputusan dari dosen pembimbing, untuk hasil akhir tugas skripsinya.


Aji berharap, tugas skripsi Elisa segera selesai. Dia ingin melanjutkan rencananya dengan segera.


Aji membuka laptopnya. Dia mengerjakan laporan untuk diberikan kepada ayah angkatnya, tuan besar Sangkoer Singh yang ada di India, terkait dengan laporan hasil audit yang dia lakukan, sejak dua hari yang lalu.


Tidak butuh waktu lama, laporan itu selesai. Dia juga mengirim email pada tuan besar Sangkoer Singh, untuk meminta ijin kepadanya agar bisa ke India kalau Elisa sudah menyelesaikan kuliahnya.


Sekarang, Aji ganti melihat pekerjaan yang ada di kantor GAS. Dia meneliti satu persatu perkembangan saham dan juga mengecek kondisi keamanan sistem GAS.


Drettt... drettt... drettt!


Handphone Aji bergetar di kursi samping kemudi. Dia, tidak langung mengambil handphone tersebut. Dia hanya melihat sekilas, tapi karena nomer HP tersebut tidak dia kenali, akhirnya Aji membiarkannya begitu saja.


Tak lama handphone Aji bergetar lagi.


Drettt... drettt... drettt!


Akhirnya, Aji pun merasa tidak nyaman, karena getaran handphone tersebut jadi mengangu konsentrasi kerjanya. Aji, mengambil handphone tersebut dan menerima panggilan tersebut.


..."Halo."...


..."Maaf, apa ini benar nomer handphone milik Mr Aji?"...


..."Ya."...


..."Syukurlah. Saya pikir salah tadi."...


Aji diam. Dia tidak mengenal suara perempuan yang terdengar aneh, yang sedang menelponnya kali ini. Jadi dia tidak menanggapinya dengan serius. Dia hanya sekilas saja mendengar semua perkataan yang di ucapkan si penelpon.


..."Halo Mr! Masih ada di tempat?"...


..."Hem, apa yang ingin Kamu katakan?"...


..."Ihhh, Mr Aji. Jangan dingin-dingin begitu. Saya akan buat Mr meleleh nanti."...


Klik!


Panggilan tersebut Aji matikan. Dia tidak tahu, siapa yang sedang ingin merayunya kali ini. Dia tidak mengenalnya dan tidak hafal suaranya juga. Entah siapa dan dari mana orang itu mengetahui nomer handphone dan juga namanya.


Drettt... drettt... drettt!

__ADS_1


Nomer yang sama dengan tadi, mencoba untuk melakukan panggilan lagi. Tapi Aji tidak menyukai gaya penelpon yang genit dan centil, dengan tujuan untuk menggodanya.


Akhirnya, Aji memblokir nomer handphone tersebut, agar tidak lagi mengganggu aktivitasnya nanti.


"Kurang kerjaan apa, meladeni penelpon iseng." Aji, menggerutu dalam hati, kemudian kembali lagi pada layar laptopnya, mengerjakan pekerjaan yang tadi sempat tertunda karena panggilan dari nomer yang tidak jelas.


Saat Aji masih fokus pada pekerjaan yang ada, jendela kaca mobil di ketuk dari luar.


Aji menoleh. Ternyata itu adalah Elisa, istrinya sendiri.


"Sudah selesai Sayang?" tanya Aji, dengan membuka pintu kaca mobil.


Elisa mengangguk. Dia mencium bibir Aji sekilas dengan kepala yang masuk ke dalam mobil, melalui jendela.


"Ihsss, segitu saja?" tanya Aji protes, karena Elisa hanya menciumnya sekilas.


"Ini tempat umum Kak!" elak Elisa, dengan melangkah menuju ke arah samping, untuk masuk ke dalam mobil.


Klik!


Aji, membuka kunci pintu mobil, agar Elisa bisa membuka pintunya. Sekarang, Elisa sudah duduk di kursi, yang ada disampingnya. Dengan segera, Aji menarik tangan Elisa dan meraih tengkuk istrinya itu dengan satu tangan yang lainnya.


"Emhhh..."


"Kakak..."


"Kakak kangen, kita pulang yuk!" ajak Aji dengan tersenyum miring.


"Baru juga dia hari," sahut Elisa, dengan tersenyum malu-malu.


"Dua hari itu lama Sayang! Kamu tidak kangen Kakak ya?" tanya Aji protes, karena mengira jika Elisa tidak merasa kesepian dengan kepergiannya ke Tangerang.


"Kangen juga, hehehe..."


Elisa, terkekeh geli dengan wajah memerah. Dia juga mengigit bibirnya agar tidak lagi bicara, karena akan membuatnya bertambah malu.


"Awas itu bibir, jangan digigit sendiri. Biar Kakak saja yang gigit ya," ledek Aji, yang merasa gemas jika Elisa sudah bersikap seperti itu.


Padahal dulunya, istrinya itu adalah gadis cuek yang tidak tahu malu. Asal dan tidak memperhatikan banyak hal.


Sekarang, Aji bersyukur karena Elisa tidak sesuka hati dalam bertindak dan berbicara. Meskipun, kadang-kadang masih juga sama, tapi perubahan pasti akan selalu ada. Aji, yakin Elisa bisa.


"Sayang, kita pulang ke apartemen yuk!" ajak Aji bersemangat.

__ADS_1


"Lho, gak pamit ke rumah dulu?" tanya Elisa bingung.


"Gak. Tadi, Kakak sudah sampai rumah, tapi langsung ke sini, karena mama bilang Kamu ke kampus."


"Tapi, apa tidak apa-apa kalau kita tidak pulang dulu ke rumah sekarang ini?" tanya Elisa lagi, karena merasa tidak enak hati pada mama mertuanya, mama Cilla.


"Tidak apa-apa. Mama sudah tahu kok, kalau kita akan pulang ke apartemen," jawab Aji, kemudian menghidupkan mesin mobil.


Elisa, akhirnya diam dan tidak lagi bertanya-tanya. Dia tahu, apa yang sebenarnya ingin dilakukan suaminya itu, begitu sampai di apartemen nanti.


"Ah Kak Aji. Banyak sekali alasan yang bisa dia katakan. Tapi Aku suka sih," kata Elisa dalam hati. Dia jadi tersenyum-senyum sendiri, membayangkan kelakuan suaminya itu.


Aji, yang sedang melirik Elisa, jadi mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu. "Hayo, mikirin apa? Mikir ngeres ya?" tebak Aji, dengan menyentil hidung Elisa dengan jari tangan kirinya, karena lebih dekat dengan posisi duduk istrinya itu.


"Ihsss, ngeres apa sih!" jawab Elisa, dengan mengerucutkan bibirnya. Mengelak dari tuduhan suaminya itu, karena memang itu benar.


"Hahaha... iya juga gak apa-apa. Kakak suka kok Sayang," kata Aji, dengan tertawa-tawa senang.


Elisa, hanya menanggapi dengan tersenyum malu-malu. Dia merasa tidak nyaman karena pikirannya ketebak oleh suaminya sendiri.


"Kita pasti akan melakukannya. Tenang saja ya," kata Aji lagi, menggoda Elisa.


"Ihhh!"


"Aduh! sakit Sayang. Nyubitnya jangan gitu juga kali, sini!"


Aji mengaduh, karena lengan kirinya di cubit Elisa dengan gemas. Sekarang, Aji menarik tubuh Elisa, agar bersandar di bahu sebelah kirinya.


"Kakak mau ajak Kamu tinggal di India, jika sudah lulus nanti. Kamu mau kan?" tanya Aji, sambil mengusap-usap bahu istrinya, yang sedang dia rangkul, dengan tangan kiri. Tangan kanan Aji, masih memegang setir.


Elisa, memperbaiki posisi duduknya. Dia melepaskan diri dari pelukan suaminya, kembali duduk dengan tenang.


"Maksud Kakak?" tanya Elisa meminta kejelasan tentang ajakan suaminya itu.


"Nanti saja Kakak cerita ya. Ini lagi nyetir, dan Kakak tidak bisa konsentrasi lagi, kalau belum..."


Aji, tidak meneruskan kalimatnya, dan membiarkan Elisa mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang sebenarnya ingin dikatakan.


Aji, menaik turunkan alisnya saat Elisa menatapnya dengan mata membola.


"Mau kan?" tanya Aji, tidak jelas dengan pertanyaan yang dia ajukan.


"Mau apa?" tanya Elisa bingung, karena tidak tahu, pertanyaan Aji ini mengarah ke mana.

__ADS_1


"Yang ini, ini, ini. Hehehe..." jawab Aji, sambil menunjuk bagian tubuh Elisa, ke bibir, dada dan...


"Kakak!" teriak Elisa kesal, karena ulah Aji, suaminya, yang saat ini terkekeh melihat ekspresi wajahnya yang kesal.


__ADS_2