
Suasana duka masih terasa, di rumah papa Gilang. Semua orang, lebih banyak diam, terutama Vero, yang terbiasa rame. Saat ini, dia sedang ada di kamarnya, dan Biyan pergi ke teras samping. Pergi menyendiri.
Jeny, masih berada di rumah papanya. Dia minta ijin pada suaminya, dokter Dimas, untuk tetap tinggal di rumah ini terlebih dahulu untuk beberapa hari.
Dokter Dimas, memaklumi keinginan istrinya dan mengijinkan. Bahkan, dia juga bilang kalau mau ikut menginap, menemani Jeny. Tapi saat ini, dokter Dimas harus ke rumah sakit, karena ada pasien yang perlu penanganannya.
"Kamu tidak apa-apa jika ingin pulang Jen. Kasihan suamimu," kata mama Cilla, pada Jeny. Dia tidak enak hati, jika keinginan Jeny menginap, membuat dokter Dimas, terpaksa harus mengikuti kemauannya.
Saat ini, mereka berbincang ringan mengusir sepi yang tercipta karena rasa duka, dengan kepergian Oma Rossa.
"Gak apa-apa Ma. Om Dimas sudah kasih ijin. Nanti, dia juga ikut menginap di sini kok."
Mama Cilla, mengerutkan keningnya heran, mendengar jawaban dari Jeny, saat memanggil sebutan untuk dokter Dimas.
"Om Dimas? Jeny. Kamu ini bagaimana sih, masa manggil untuk suamimu sendiri seperti itu, apa tidak ada sebutan lain lagi?" tanya mama Cilla dengan wajah bingung.
"Kenapa Ma? Om Dimas biasa saja. Dia tidak protes kok," jawab Jeny datar.
"Tapi kesannya aneh Jeny. Bagaimana kalau terdengar dari pihak keluarganya Dimas, atau nanti anak Kamu? Masa iya Kamu mau manggil gitu terus Gantilah, apa gitu," protes mama Cilla, dengan mengeleng.
"Terus panggil apa? itu kan sudah kebiasaan Jeny sedari dulu, manggilnya dengan sebutan Om?" tanya Jeny pada mamanya, mama Cilla.
"Kayak Mama manggil papa, mas. Atau kayak Elisa manggil kakak Kamu itu, kakak. Bisa juga Abang, atau jika Kamu sudah punya anak, manggil papi atau dady, atau papa juga tidak apa-apa Jen," jawab mama Cilla memberikan penjelasan dan contoh untuk panggilan terhadap dokter Dimas.
Jeny meringis, mendengar protes mamanya, soal sebutan untuk suaminya, dokter Dimas.
"Pokoknya, Mama tidak mau dengar lagi, Kamu manggil suami Kamu dengan sebutan Om Dimas. Paham Jen?" Mama Cilla, berkata dengan tegas.
"Iya Ma, iya." jawab Jeny, mengalah karena sadar jika dia memang salah.
"Tapi, kira-kira manggilnya apa ya Ma? yang tidak sama kayak yang lain," tanya Jeny, meminta pendapat mamanya.
"Kamu rencananya mau kasih panggilan apa untuk anak Kamu nanti, manggil itu saja kalau kesusahan," jawab mama Cilla, memberikan saran untuk Jeny.
"Ah, belum kepikiran Ma. Nanti deh, Jeny rundingan dulu sama om Dimas. Eh, hehehe... maaf Ma, belum ada keputusan manggilnya kan tadi?" Jeny, tersenyum canggung, melihat ke arah mama Cilla, yang menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Ma, Aku ingin pindah ke apartemen saja."
Aji tiba-tiba datang, dan meminta ijin pada mama Cilla, untuk pindah dan tinggal di apartemen.
"Kenapa?" tanya mama Cilla dengan mengerutkan keningnya. Dia takut, jika Aji pindah dari rumah ini karena suatu hal.
"Tidak apa-apa. Belajar mandiri saja," jawab Aji enteng.
"Mandiri bagaimana?" tanya mama Cilla ingin tahu.
"Ya... semuanya sendiri Ma," jawab Aji, tanpa menjelaskan dengan rinci, seperti yang diinginkan mamanya.
"Paling juga kakak tidak mau diganggu, pengantin baru!" kata Jeny memotong pembicaraan mereka berdua, mama Cilla dan kakaknya, Aji.
"Hemmm..."
Aji, tidak menanggapi perkataan adiknya, Jeny. Dia, akhirnya ikut duduk dan menunggu persetujuan dari mamanya, mama Cilla.
"Tapi, apa tidak repot? Kamu kan kerja , kuliah juga. Elisa juga masih harus menyelesaikan kuliahnya kan?" mama Cilla, tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Aji saat ini.
Mama Cilla, tidak bisa protes lagi dengan keinginan Aji. Dia tahu, jika Aji pasti punya pemikiran sendiri dan sudah memikirkannya terlebih dahulu dengan baik.
"Mama tidak melarang, tapi apa Elisa mau?" tanya mama Cilla pasrah.
Mama Cilla, sebenarnya merasa berat, menyetujui ijin dari Aji karena baru saja di tinggal Jeny, yang sudah menikah dengan dokter Dimas. Jeny, sekarang tinggal di rumah suaminya itu juga. Dan kini, Aji yang baru saja menikah beberapa minggu kemarin, meminta ijin untuk tinggal sendiri bersama istrinya di apartemen. "Rumah jadi tambah sepi," kata mama Cilla di dalam hati.
"Elisa, pasti mau. Dia yang penting kan ikut Aji Ma," jawab Aji sambil tersenyum tipis.
Mama Cilla, menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan-lahan. Dia tidak tahu lagi, mau menjawab apa.
"Mama terserah kalian saja. Tapi Mama minta, jika Elisa sampai hamil, kalian harus pindah ke rumah lagi. Ini untuk keselamatan Elisa."
Akhirnya mama Cilla setuju, dengan mengajukan syarat yang harus disetujui juga oleh Aji.
"Iya Ma," jawab Aji pendek.
__ADS_1
"Oh iya Kak. Elisa mana?" tanya Jeny, yang baru sadar jika sekarang ini Elisa tidak ada di antara mereka semua.
"Dia tidur. Capek katanya," jawab Aji, kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Jangan di usilin terus Kak, meskipun Jeny yakin jika Elisa juga gak nolak, tapi dia butuh waktu dan tenaga juga untuk tugas akhirnya besok, kalau sudah aktif kuliah lagi." Jeny, menasehati kakaknya.
"Apa, bukankah itu Kamu sendiri?" tanya Aji, menyerang balik perkataan adiknya itu.
"Aku... hehehe..." Jeny, terkekeh geli, saat sadar jika dia juga masih terbilang pengantin baru.
Dengan tersenyum miring, Aji mengeleng melihat tingkah adiknya, Jeny.
"Kalian ini, sama saja," kata mama Cilla, bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke arah dapur.
"Kak. Bagaimana Elisa, ganas gak kayak biasanya?" tanya Jeny ingin tahu bagaimana keadaan pernikahan kakaknya dan sahabatnya, Elisa.
"Ck, pake tanya."
"Hihihi... Kakak kalah ya, gak bisa ngimbangi?" ledek Jeny terkikik geli.
Aji tidak menjawab dan tidak juga mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangkat kedua bahunya dan bangkit dari tempat duduknya.
Hampir saja Aji berjalan, pergi dari tempat duduknya bersama dengan Jeny, mama Cilla memanggil namanya.
"Aji!"
Aji bergegas melangkah ke arah dapur, dimana tadi mamanya berada.
"Ada apa Ma?" tanya Aji dengan rasa khawatir.
"Ini, Kamu minum. Yang satu lagi untuk Elisa, biar di minum waktu bangun tidur. Kasihan dia, pasti capek banget," kata mama Cilla, dengan dua gelas susu hangat di nampan kecil.
"Mama, pake repot-repot. Nanti juga Aji bisa bikin sendiri, atau Elisa yang bikin," kata Aji, yang merasa tidak enak, karena merepotkan mamanya.
"Mama kangen waktu Kamu kecil dulu. Sering banget minta susu hangat kayak gini, dan sekarang Kamu sudah menikah, pasti mama tidak ada kesempatan untuk bisa membuatkan susu hangat lagi untuk Kamu.
__ADS_1
Aji, memeluk mamanya tanpa banyak bicara. Dia tahu, mamanya ini sedang bersedih atas kepergian omanya. Mamanya pasti merasa jika, akan ada banyak hal, yang tidak akan sama lagi seperti dulu.