
Cilla mengeleng mendengar permintaan Gilang, agar dia mengulang panggilan 'Sayang' saat belajar.
"Ayo Cilla, Lagi!"
"Sudah," jawab Cilla dengan mengeleng.
"Ihs... Dibilang ulang juga," kata Gilang tidak mau mengalah.
"Tidak," jawab Cilla pendek.
"Ulang!" Gilang tetap memintanya untuk mengulang kembali panggilan tadi.
"Tidak-tidak."
Akhirnya mereka malah saling berdebat dengan kata-kata yang tidak lazim. Antara Gilang yang memintanya dengan kata ulang, sedangkan Cilla yang menolaknya dengan menjawab tidak.
"Sekali lagi ya!" Gilang tetap tidak mau mengalah dan meminta Cilla memangil dirinya dengan sebutan seperti yang dia contohkan tadi.
"Kenapa?" tanya Cilla ingin tahu.
"Aku ingin dipanggil kamu dengan panggilan Sayang. Mumpung tidak ada mami dan juga Aji. Jadi kamu bisa belajar dan tidak malu nantinya."
"Kenapa mesti malu?" tanya villa bingung.
"Ya... kan Kamu belum terbiasa Sayang. Kalau kamu kagok saat memanggilku dengan sebutan seperti itu, bisa-bisa nanti kamu di malu karena salah sebut," jawab Gilang memberikan penjelasan.
Tapi sepertinya Cilla tidak ingin melanjutkan acara belajarnya lagi. Dia menyodorkan obat ke hadapan Gilang, agar dia segera meminumnya.
"Apa?" tanya Gilang memancing agar Cilla mau memanggil dirinya seperti tadi.
"Minum obat," jawab Cilla masih dengan obat yang dia sodorkan.
"Panggil dulu kayak tadi," pinta Gilang dengan nada merajuk.
Cilla mengeleng, mendengar permintaan Gilang yang aneh menurutnya. Dia tetap diam dan tidak melakukan apa yang diinginkan Gilang.
"Ya sudah. Aku tidak mau minum obat!"
Gilang mengancam Cilla. Tentu saja Cilla bingung. Dia takut jika Gilang akan mengalami hal yang tidak-tidak dengan luka perutnya. Meskipun dokter bilang, jika luka itu sudah sembuh. Tapi belum tentu bagian dalam bekas pelurunya.
Melihat Cilla yang tampak bingung, Gilang tersenyum dan memanfaatkan situasi seperti ini. Dai pura-pura meringis dan memegang perutnya sendiri.
"Aduh," keluhnya samar. Seakan-akan memang terasa sakit.
"Makanya minum obatnya!" Cilla mengomel ketika mendengar Gilang mengaduh.
__ADS_1
"Gak mau," jawab Gilang masih kekeh.
"Sa... Sayang. Di minum obatnya," kata Cilla, dengan memberikan obat yang masih dia pegang pada Gilang.
Gilang hampir melompat memeluk Cilla, saat mendengar panggilan sayang untuknya. Untungnya, Gilang segera sadar dan tidak jadi melakukan semua itu. Dia pura-pura menyadarkan kepalanya dan masih memegang perutnya.
Cilla dengan telaten membuka bungkus obat dan memberikannya kepada Gilang. Dia juga berdiri dan berjalan ke arah dapur yang tidak jauh dari tempat duduknya tadi, dan menuang air putih untuk Gilang.
Saat kembali ke tempat duduknya yang tadi, Gilang sudah menunggunya dengan obat ditangan dan siap meminumnya. Gelas berisi air putih itu, diberikan Cilla setelah Gilang meminum obatnya.
"Terima kasih Sayang."
Cilla menunduk malu, saat Gilang mengucapkan terima kasih dengan menyebut dirinya, Sayang.
"Pokoknya, kamu harus bisa terbiasa dan terus memanggilku dengan sebutan seperti itu juga. Ok Sayang!"
Cilla tidak menyahut. Dia tetap menunduk dan tidak berani menatap ke arah Gilang.
Mami Rossa yang sedang memperhatikannya kelakuan mereka berdua sedari tadi, dadi balik pintu yang terbuka, meskipun cuma sedikit, tersenyum-senyum sendiri sambil terus mengelengkan kepalanya.
"Dasar anak pemaksa!"
Mami Rossa memberikan sebutan untuk anaknya, Gilang, yang sedari tadi terus memaksa Cilla seperti yang dia inginkan. Tapi mami Rossa juga senang karena Cilla mau menurut.
Mami Rossa berdoa untuk kebaikan anak-anaknya itu. Dia sudah menganggap Cilla bukan lagi calon menantu, tapi sama seperti Gilang juga, yaitu sebagai anak.
*****
Cilla sudah masuk ke dalam kamar saat Gilang memintanya untuk segera mandi, sebab waktu sudah mulai malam.
"Masuklah ke kamar. Bangunkan Aji, sebab sudah mau magrip!" Gilang meminta Cilla membangunkan Aji, anaknya.
Cilla hanya mengangguk dan menurut. Tapi sebelum Cilla berdiri, Gilang mengatakan sesuatu yang membuat Cilla merasa melayang tapi juga sangat malu.
"Jangan lupa mandi ya Sayang. Dan ingat, tetap belajar terus untuk memanggilku dengan sebutan Sayang. Aku tidak segan menghukum, seperti yang sudah aku buat tadi."
Wajah Cilla yang bersemu merah, membuat Gilang merasa senang dan puas hari ini. Dia berjanji akan terus mengingatkan Cilla, agar terbiasa dengan sebutan seperti tadi. Ini akan membuat Cilla terbiasa, tidak lagi merasa takut dan juga canggung dengan dirinya.
"Ehem..."
Gilang menoleh dengan cepat saat mendengar suara seseorang yang sedang berdehem. Ternyata itu suara mami Rossa.
"Sudah selesai acaranya?" tanya mami Rossa dengan wajah meledek.
"Apa?" tanya Gilang pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Itu tadi!" Mami Rossa mengingatkan Gilang.
"Itu apa?" tanya Gilang masih pura-pura tidak tahu dan bingung.
"Halah, yang lagi senang. Barhasil nih maksa orang," kata mami Rossa memancing Gilang agar tidak terus bersandiwara dan pura-pura tidak tahu.
"Eh, Mami ngintip!" tanya Gilang saat sadar kemana arah pertanyaan maminya itu.
"Ngapain ngintip. Orang jelas terlihat kok!"
"Mana ada? Kan Mami sedang di kamar, tadi pamit mandi gitu!" Gilang ingat jika tadi maminya itu pamit mau mandi.
"Iya bener," jawab mami Rossa membenarkan.
"Terus?" tanya Gilang penasaran. Bagaimana maminya itu bisa tahu.
"Ya gak ada terus-menerus. Kamu itu yang terus-tetusan ngodain Cilla mulu!"
"Hehehe..." Gilang terkekeh kecil mengingat kejadian yang tadi.
"Tapi Mami salut dengan usaha Kamu Sayang. Ini membuktikan jika Cilla juga sebenarnya tidak menolakmu. Tapi hanya rasa takut dengan kejadian yang dulu saja, belum bisa dia lupakan dan masih menjadi ketakutannya hingga saat ini."
"Iya Mi."
Gilang membenarkan penjelasan mami Rossa. Dia kini merasa senang karena tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Makanya, Mami pengen ajak Cilla ke psikiater untuk membuatnya tidak lagi ketakutan dan terus menerus terbebani dengan rasa takut itu."
Mami Rossa juga menjelaskan tujuannya untuk segera mengajak Cilla ke psikiater. Ini tentu sangat disetujui oleh Gilang. "Aku setuju Mi. Lakukan apa yang menurut Mami baik. Gilang menurut saja sama Mami. Kalau di suruh nikah besok, dengan Cilla juga Gilang nurut kok," kata Gilang dengan wajah serius.
"Huh... Dasar! Maunya cepat saja!"
"Hahaha..." Gilang tertawa lepas mendengar perkataan maminya itu.
"Memang Mami baik mau kalau Gilang cepat-cepat menikah dengan Cilla?" tanya Gilang memancing maminya.
"Tentu saja mau! Mami sudah bermimpi itu lama Gilang. Apalagi sekarang pengantin wanitanya Cilla. Ah... Mami jadi tidak sabar juga!"
"Lho Mi, yang mau nikah itu aku. Kok Mami yang gak sabar?" Gilang pura-pura tidak mengerti.
"Ihs... Dasar Kamu!" Mami Rossa melempar bantal sofa yang ada di pangkuannya ke arah Gilang.
"Sudah sana mandi!"
Perintahnya kemudian pada Gilang.
__ADS_1