Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Setahun Lagi


__ADS_3

Hari sudah berganti dengan malam. Acara untuk selamatan Ka Singh, berjalan dengan lancar. Semua orang ikut berbahagia dan bersyukur karena bisa ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh keluarga papa Gilang.


Acara ini juga untuk menyambut kedatangan cucu ketiga mereka, yaitu anak kedua Jeny dengan dokter Dimas. Itulah sebabnya, acara berlangsung hingga hampir larut malam.


Biyan, juga ikut hadir dalam acara tersebut. Dia yang sebelumnya tidak tahu apa-apa, diberi penjelasan tentang acara ini oleh Aji sendiri.


Sekarang, Aji mengubah caranya untuk bisa membantu Biyan agar berubah dan kembali normal lagi. Dia tidak akan berusaha menjauhkan Elisa dari keluarganya, tapi dia akan mendekatkan diri pada Biyan dan bicara secara perlahan-lahan, supaya Biyan bisa sadar dengan sendirinya.


Mungkin dengan cara ini, Aji bisa membuat Biyan tidak lagi memiliki perasaan terhadap istrinya, dan bisa mengendalikan diri sendiri dalam pergaulan yang dia ikuti selama ini.


Ketika secara sudah selesai, Aji yang belum tidur, mengetuk pintu kamar Biyan. Dia ingin berbicara dengan adiknya itu secara pribadi, tanpa melibatkan siapa pun, termasuk orang tuanya sendiri, yaitu papa Gilang dan mama Cilla.


Tok tok tok


Aji mengetuk pintu kamar Biyan perlahan-lahan. Tak lama, pintu terbuka.


Clek!


Biyan membukakan pintu kamar untuk Aji. "Kakak?" sapa Biyan kaget. Dia tidak menyangka jika yang datang ke kamarnya adalah kakaknya Aji. Dia pikir tadi mamanya atau Vero, yang biasa datang ke kamarnya.


"Boleh Kakak masuk?" tanya Aji, masih di depan pintu.


Biyan menggangguk sambil berjalan, kembali ke dalam. Aji pun mengikuti langkah adiknya itu, untuk masuk ke dalam kamar.


"Masih sama," kaya Aji, dengan mengamati keadaan kamar Biyan.


Kamar Biyan polos tanpa ornamen atau gambar-gambar poster di dinding. Bahkan, fotonya sendiri pun tidak ada. Semua bersih, hanya ada perabotan kamar seperti biasanya yang ada di dalam kamar.


Aji mengamati semua, termasuk balkon kamar Biyan yang temaram. "Kenapa lampunya tidak kami nyalakan yang terang?" tanya Aji heran.


Di balkon kamar Biyan, memang ada dua buah lampu. Yabg satu menyala terang, dan yang satunya lagi redup. Ini memang permintaan Biyan, karena dia tidak suka dengan keadaan yang terang, meskipun di luar kamarnya.


"Tidak apa-apa Kak. Biyan kan tidak suka lampu yang menyala dengan terang."


Jawaban Biyan juga masih sama seperti dulu saat ditanya alasannya minta lampu yang redup.


Kamar Biyan juga lampu yang menyala saat ini hanya lampu yang redup. Ini akan diselidiki oleh Aji, kenapa adiknya tidak suka dengan sesuatu yang jelas. Meskipun dia sendiri tidak suka jika dalam keadaan tidur dengan lampu yang menyala.

__ADS_1


Aji duduk di kursi yang ada di kamar Biyan. Dia meminta pada Biyan, supaya ikut duduk juga di kursi yang lainnya.


Biyan menurut. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh kakaknya itu.


"Biyan. Apa yang sekarang ini Kamu pikirkan?" tanya Aji sambil menatap Biyan. Dia ingin melihat kejujuran Biyan, melalui gerak bibir atau mata saat menjawab pertanyaan darinya.


"Maksud Kakak?" tanya Biyan bingung.


"Emhhh... begini. Kamu kan kemarin punya pacar. Katanya lebih dewasa ya? saat Kamu bersama pacar Kamu itu, apa yang Kamu rasakan?" tanya Aji menjelaskan pertanyaannya yang tadi.


Biyan terdiam beberapa saat. Setelah dia menghela nafas panjang, barulah dia menjawab pertanyaan dari Aji. Dia juga menceritakan bagaimana perasaannya, jika bersama dengan orang-orang, yang tidak mengenalnya sebagai anak dari Gilang Aji Saka.


Dari penuturan yang disampaikan oleh Biyan, Aji bisa menarik kesimpulan bahwa, adiknya Biyan hanya ingin diakui sebagai individu yang ada. Tidak terikat nama besar keluarga dan juga bayang-bayang sebagai anak yang harus patuh pada aturan-aturan keluarganya juga.


Aji menarik nafas panjang. Dia menganggukkan kepalanya berkali-kali, memahami apa yang sebenarnya dipikirkan oleh adiknya itu.


"Bagaimana kalau setelah lulus sekolah, Kamu ikut ayah Sangkoer Singh ke India. Kamu bisa bekerja sambil belajar juga di sana. Tidak ada yang mengenalmu dan juga keluarga papa. Aku akan minta pada ayah Sangkoer Singh, untuk memperlakukan dirimu sama seperti para pegawai yang lain. Tidak ada yang akan tahu juga, kalau Kamu adalah pamannya Aji Saka Singh. Apa Kamu mau?"


Biyan mendengarkan semua perkataan kakaknya itu dengan seksama. Dia mengerti apa yang dimaksudkan untuk belajar dan bekerja di India.


"Biyan akan coba pikirkan lagi Kak. Sepertinya menarik, dan Biyan bisa mencari tempat dan suasana yang berbeda dari Indonesia."


Aji tersenyum mendengar jawaban dari Biyan. Dia akan membicarakan tentang Biyan pada ayahnya, Sangkoer Singh besok, sebelum ayahnya itu berangkat ke China.


Setelah selesai membicarakan semua itu, Aji dan Biyan berbincang tentang banyak hal. Aji tidak menyingung soal Elisa ataupun pacarnya Biyan yang bekerja sebagai PSK juga. Dia menghindari perbincangan yang membuat Biyan malu dan tidak mau bicara lagi dengannya.


Aji hanya mengajak Biyan membicarakan tentang sekolah dan cita-cita yang ingin dia rencanakan untuk masa depannya nanti.


Dia juga banyak menyisipkan nasehat yang baik namun tidak terkesan menggurui. Ini dilakukan Aji, karena Biyan tidak sama seperti remaja yang lain. Dia berbeda dan menasehatinya juga harus dengan cara yang berbeda. Tidak secara langsung, hanya sebatas memberikan contoh atau cerita yang pernah didengar saja.


*****


Pagi harinya, Aji menemui ayah Sangkoer Singh. Dia ingin meminta pada ayahnya itu, untuk membantu Biyan. Dia menceritakan semua tentang Biyan pada ayah angkatnya.


Tuan besar Sangkoer Singh, yang dari awal sudah punya keinginan untuk membawa Biyan ke India, tentu saja merasa senang. Dia pasti akan melakukan apa yang diminta Aji.


"Tapi perlakuan Biyan sama seperti Ayah memperlakukan pegawai yang lain. Dia hanya perlu pengawasan dan biarkan dia bergaul bebas dengan semua orang. Dia juga tidak mau, orang tahu kebenaran identitas aslinya."

__ADS_1


Tuan besar Sangkoer Singh mengangguk paham. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Aji. Dia juga tahu, apa yang akan dia lakukan untuk Biyan nanti.


"Ayah akan berusaha sebisa mungkin membuat adik Kamu itu kembali normal. Setidaknya, dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap Elisa. Dia masih sangat muda, masa depannya juga masih sangat panjang. Dia harus di bimbing dan diarahkan, tapi tidak dengan tekanan. Apalagi dari orang-orang yang ada didekatnya. Dia hanya tidak mau dianggap remeh, hanya karena merasa sebagai anak-anak."


Perkataan ayah angkatnya itu di_iyakan Aji. Dia juga paham dengan apa yang sebenarnya dipikirkan adiknya semalam, saat berbincang dengannya.


"Baiklah. Ayah akan bersiap ke China dulu. Besok, kalau dia sudah lulus sekolah, Kamu kasih kabar Ayah. Pasti Ayah akan datang menjemputnya sekalian menjenguk cucu Ayah. Oh ya, Mension yang ada di Tangerang tolong di tengok pembangunannya ya!"


"Siap Yah. Pasti Aji akan melihatnya nanti jika ada waktu. Lagian, yang bangun Mension Ayah itu juga orang-orangnya papa kok," jawab Aji, menyanggupi permintaan ayahnya, Sangkoer Singh.


Tak lama, Aji keluar dari kamar ayahnya. Dia menuju ke kamarnya sendiri untuk melihat Ka Singh yang tadi masih tidur, sedangkan Elisa masih mandi.


"Sayang. Anaknya Ayah. Masih tidur ya?" Aji berusaha untuk membangun Ka Singh.


"Kakak. Biarkan dia tidur. Nanti saja sekalian pas jemur dia dibangunkan."


Elisa mencegah Aji. Dia baru saja datang dari dalam kamar mandi.


"Ah, biar gak malas dia. Sudah siang juga ini Sayang," ujar Aji, dengan mengusili anaknya. Dua menoel-noel pipi Ka Singh, supaya anaknya itu terbangun.


"Kakak. Nanti kalau bangun dan nangis, Kakak yang gendong ya!" ancam Elisa dengan bibir cemberut.


Elisa merasa kesal, karena Aji tidak mendengarkan perkataannya.


"Hahaha... cuma gendong Ka Singh mah enteng. Gendong mamanya saja kuat kok!" tantang Aji sambil nyengir kuda. Sama seperti kebiasaannya Elisa.


"Ihsss, lain lagi itu!" Elisa jadi tambah cemberut mendengar perkataan suaminya.


"Hemmm... Kakak jadi kangen," kata Aji, kemudian berjalan mendekat ke tempat duduknya Elisa, yang sedang mengeringkan rambut. Dia menciumi rambutnya Elisa dan mulai turun ke bawah.


"Kakak. Belum boleh!" cegah Elisa sambil menjauhkan kepalanya agar tidak lagi dicium oleh suaminya itu.


"Masih berapa lama lagi?" tanya Aji bingung. Dia penasaran, karena Elisa selalu bilang belum boleh.


"Masih lama, setahun lagi. Hahaha...!"


Aji melongo, mendengar jawaban dari Elisa, yang terus tertawa-tawa, melihat dirinya yang terbengong-bengong sendiri.

__ADS_1


"Bisa karatan lah kalau selama itu Sayang!" protes Aji dengan mencibir perkataannya sendiri.


__ADS_2