Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Elisa Di Rumah Jeny


__ADS_3

Suasana rumah papa Gilang, benar-benar berubah jadi lebih berwarna. Tidak lagi sama seperti kemarin-kemarin, saat Aji dinyatakan hilang dalam kecelakaan pesawat beberapa tahun yang lalu.


Ada saja alasan untuk orang-orang, yang ada di dalam rumah besar papa Gilang tersenyum atau tertawa lepas. Mereka seakan-akan, tidak lagi merasakan kesedihan dan kesusahan yang sama seperti dulu lagi.


Sama seperti pagi ini saat Elisa baru saja keluar dari dalam kamarnya. Dia yang terbiasa semaunya, lupa jika sedang berada di rumah Jeny, yang tentunya banyak sekali kebiasaan yang berbeda dengan kehidupannya sehari-hari, sebagai Elisa yang seutuhnya.


"El, Kamu baru mau mandi apa sudah selesai mandinya?" yang Jeny, begitu melihat temannya itu.


"Sudah selesai mandi kok. Gak lihat apa kalau sudah cantik dan wangi," jawab Elisa tidak sadar, dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.


"Yakin?" tanya Jeny, sambil menahan senyumnya yang terkesan aneh.


"Apa sih Jen?" tanya Elisa bingung.


Tentu Elisa jadi merasa aneh, saat melihat Vero dan Biyan terkikik geli melihat kearahnya juga. Begitu juga dengan mama Cilla, yang baru saja datang dari arah dapur.


"El, Kamu mau kemana?" tanya mama Cilla.


"Ikut sarapan Tante. Apa tidak ada sarapan untukku pagi ini?" yang Elisa dengan bingung. Apalagi saat Jeny, Vero, dan Biyan tertawa-tawa sambil meliriknya aneh.


"Apaan sih Jen?" tanya Elisa belum sadar juga.


"Ada banyak El. Mau dua atau tiga porsi buta Kamu juga ada kok," jawab mama Cilla, dengan tersenyum dan mengeleng samar.


"Apa ya yang mereka tertawakan?" tanya Elisa dalam hati. Dia berpikir keras, untuk menemukan keganjilan yang ada pada dirinya sendiri saat ini.


"Ya salam..."


Elisa, menepuk keningnya sendiri saat baru saja sadar, jika dia masih memakai kimono mandi dan rambut yang tergulung ke atas dan dipasang penutup kepala.


"Maaf, maafkan El yang suka gak sadar!" teriak Elisa, kemudian segera berlari, kembali menuju kamarnya sendiri.


"Hahaha...."

__ADS_1


Tawa Jeny, Vero dan Biyan, pecah begitu Elisa kabur dari hadapan mereka semua.


"Elisa... Elisa..."


Mama Cilla, juga ikut mengeleng dengan tersenyum geli, melihat tingkah laku teman anaknya itu.


"Hahaha... Kakak dari mana dapat teman gak jelas gitu?" tanya Vero, masih dengan tawanya yang tertinggal.


"Gak jelas bagaimana? Jelas banget itu, kelakuan yang asal-asalan. Hehehe..." jawab Biyan, ikut-ikutan mengatai Elisa.


"Dia emang gitu orangnya. Tapi dia tidak suka marah karena dia tahu, kalau dia memang tidak pernah memperhatikan keadaan sekitarnya. Cuek bebek dia tuh!" jelas Jeny, pada kedua adik kembarnya itu.


"Ada apa? kayaknya seru papa dengarkan dari atas. Masak tertawanya kencang gitu. Ada apa?" tanya papa Gilang, ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan anak-anaknya, dan juga istrinya itu.


"Gak apa-apa Pa. Itu tadi, Elisa keluar dari kamar, masih belum berganti pakaian dan masih pakai kimono mandi," jelas mama Cilla, menjawab pertanyaan dari suaminya sendiri.


"Oh, Elisa. Lucu ya anaknya? Tapi kita harus berterima kasih padanya. Sebab, dia mau melakukan apa yang kita mau. Dan dia harus bisa berakting jadi Kamu lho Jen. Yah... meskipun dia juga gak bisa sepenuhnya menjadi Kamu, dengan segala kebiasaan dan sifatnya yang sangat berbeda denganmu. Tapi, kok kalian bisa cocok ya berteman dengan baik, padahal beda jauh?"


"Ya... gitu deh Pa. Justru Kami jadi saling melengkapi, meskipun banyak cekcok dan perdebatan, semua hanya sekilas dan tidak masuk dalam hati. Jadi di bawa santai gitu deh," jawab Jeny, menjelaskan tentang pertemanannya dengan Elisa.


"Gak apa-apa kali Pa, kan kantor sendiri," komentar Biyan, dengan apa yang dikatakan oleh papanya.


"Kantor sendiri juga harus tetap disiplin. Banyak kerjaan numpuk dan terbengkalai, kalau Papa gak masuk juga Biyan."


"Karyawan Papa kan ada?" tanya Biyan bingung.


"Ya ada. Tapi gak semua bisa ganti kerjaan Papa. Terutama jika itu terkait tanda tangan kontrak dan keuangan. Mereka gak ada yang bisa ganti," jawab papa Gilang, menjelaskan pada anak-anaknya, terutama pada Biyan.


Biyan mengangguk-angguk mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh papanya.


"Ayuk semua, sarapan sudah siap!" panggil mama Cilla, dari arah meja makan.


Semua orang yang sedang duduk di ruang tengah, berdiri dan berjalan menuju ke arah meja makan. Mereka semua, akan segera sarapan pagi, kemudian melanjutkan aktivitas masing-masing.

__ADS_1


"Maaf... pagi Tante, pagi Om. Pagi semua!"


Elisa, datang dari arah kamarnya, dan menyapa semua orang. Sekarang dia, sudah rapi dan tidak lagi berpenampilan seperti tadi.


Biyan dan Vero, melihat teman kakaknya, Jeny, itu dengan tersenyum geli, mengingat kejadian tadi. Sedang mama Cilla dan papa Gilang, tersenyum senang melihat Elisa yang tampak baik-baik saja, berada di rumahnya ini.


"Pagi Elisa. Ayuk duduk,ikut sarapan," ajak mama Cilla, dengan menunjuk ke kursi yang ada di sebelah Jeny.


"Terima kasih Tante," jawab Elisa, dengan senyumannya yang terasa canggung. Dia tidak terbiasa sarapan pagi dengan nasi. Dan sekarang, hanya ada nasi dan beberapa lauk.


"Jen. Aku kan tidak terbiasa sarapan pagi dengan nasi," bisik Elisa dengan ragu, pada Jeny.


"Hah, yakin? jadi selama ini kamu gak pernah sarapan itu emang gak bisa makan nasi kalau pagi hari?" tanya Jeny bingung, dengan kebiasaan temannya itu.


Elisa mengangguk pasti. Dia memang tidak bisa makan nasi jika pagi hari, sebab, perutnya yang kecil, akan terasa penuh dan bisa menyebabkan perutnya sakit. Kok aneh?


"Kamu orang Indonesia kan, Jawa lagi? terus kamu sarapan apa kalau pagi hari?" tanya Jeny heran, dengan berbisik-bisik.


"Kalau di rumah paling roti sama susu, atau pisang, atau tempe kemulan," jawab Elisa, dengan nyengir kuda.


"Tempe kemulan, apa itu?" tanya Jeny bingung. Dia tidak tahu, nama makanan dari berbagai daerah. Apalagi dia baru mendengar, nama jenis makanan yang disebutkan Elisa tadi.


"Mendoan," jawab Elisa terkikik geli, mendengar jawabannya sendiri.


"Huh... dasar Kamu!" Ada apa Jen?" tanya mama Cilla, sebab mendengar perdebatan kecil antara anaknya, Jeny dengan Elisa.


"Gak apa-apa kok Tante," jawab Elisa, dengan wajah cemas dan malah juga.


"Ini Ma, Elisa gak terbiasa makan nasi kalau pagi hari," jawab Jeny, memberi tahu mamanya.


"Terus sarapannya pake apa?" tanya mama Cilla dan papa Gilang bersamaan.


"Tempe kemulan," jawab Jeny, dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Tempe kemulan?"


Biyan, Vero, mama Cilla dan papa Gilang, berbarengan mengucapkan pertanyaan yang sama, atas nama makanan yang disebutkan oleh Jeny tadi.


__ADS_2