Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Keberadaan Elisa


__ADS_3

..."Bagaimana Rio? Kamu sudah dapat kabar soal Elisa belum?"...


..."Temenku baru berangkat nyari alamat rumah Elisa, Jen. Mereka kan ada kegiatan juga kalau siang. Sabar ya, paling malam ini, atau besok baru ada kabar."...


..."Semoga tidak ada apa-apa ya. Aku kepikiran banget ini."...


..."Iya. Aku juga gak nyangka dia akan berbuat seperti ini pada kita. Ck, dasar Elisa. Sukanya menyimpan masalah sendiri."...


Lepas magrip, Jeny, menghubungi Rio, menanyakan apakah sudah ada kabar dari kampung, soal Elisa. Tapi sepertinya, Jeny masih harus bersabar.


Tok, tok, tok!


Pintu kamar Jeny, di ketuk dari luar.


"Masuk!"


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, muncul Aji dengan tersenyum, "sedang apa?" tanyanya pada Jeny.


"Barusan telpon Rio. Tanya kabar Elisa kak," jawab Jeny dengan wajah yang masih terlihat cemas.


"Belum ketemu rumahnya atau gimana?" tanya Aji, ingin tahu lebih jauh lagi.


"Gak gitu. Teman Rio, yang dia minta tolong, baru akan nyari malam ini Paling lambat ya besok pagi, baru ada kabar jelasnya," jawab Jeny, menjelaskan kepada kakaknya itu.


"Kalau Kakak sehat benar, Kakak akan cari dia sendiri. Tidak sabar Kakak."


Jeny, mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan kakaknya, Aji. Dia merasa ada sesuatu yang tidak dia ketahui tentang kakaknya itu, bersama dengan Elisa.


"Apa Jeny, melewatkan sesuatu yang terjadi?" tanya Jeny, dengan menyelidik.


"Eh, maksudnya?" tanya Aji, pura-pura tidak tahu apa maksud dari pertanyaan adiknya.


"Hemmm, Kakak. Mulai ada rahasia ya?"


"Bukan begitu juga Jen, maksud Kakak. Gimana ya jelasinnya, bingung juga Kakak," jawab Aji, dengan bingung dan terlihat ragu.


"Apa? cerita dong Kak. Apa Kakak ada rasa juga pada Elisa?" tanya Jeny, ingin tahu bagaimana perasaan kakaknya itu pada temannya, Elisa.


"Maksud Kamu dengan juga?"


"Elisa kan suka sama Kakak!"


Aji, sedikit terkejut mendengar jawaban dari adiknya. Tapi, dia pura-pura tidak terpengaruh, setelah mengetahui kebenaran tentang bagaimana perasaan Elisa padanya.

__ADS_1


"Dari mana Kamu tahu?" tanya Aji, tidak percaya.


"Elisa bilang sendiri sama Jeny. Kakak gimana?" tanya Jeny, mendesak kakaknya agar menjawab pertanyaan darinya.


"Tidak tahu," jawab Aji datar.


"Ah, Kakak. Ayolah, bilang sama Jeny!"


Aji, tetap bungkam soal perasaan hatinya untuk Elisa.


"Kakak keluar dulu ya," pamit Aji, menghindar dari pertanyaan demi pertanyaan yang pastinya akan ditanyakan oleh adiknya itu.


"Huh, Kakak tidak jujur. Coba kalau tahu dari awal. Mungkin Elisa tidak akan kabur dan menghilang seperti sekarang ini," kata Jeny, menyesalkan sikap kakaknya itu.


Tapi, Aji tidak lagi menoleh, dan tetap berjalan menuju keluar dari kamar adiknya.


*****


Di dalam kamarnya, Aji, mencoba mencari keberadaan Elisa dengan meminta bantuan kepada orang papanya, yang dulu dekat dengan dirinya.


..."Hallo Om. Bisa bantu Aji?"...


Aji, menghubungi orang tersebut dengan meneleponnya.


..."Hai Boy, apa kabar Kamu? hemmm, Om bisa bantu apa memangnya?"...


..."Hem... cewek ya?"...


..."Teman Jeny om."...


..."Oh, Om pikir cewek Kamu. Hahaha..."...


..."Nanti, Aji kirim fotonya. Tapi jangan sampai tersebar ke sosial media ya Om. Dan jangan lupa, papa tidak boleh tahu hal ini terlebih dahulu."...


..."Siap Bos kecil!"...


Telpon terputus. Aji, segera mencari foto Elisa, yang kemarin sengaja dia ambil dari galeri handphone milik Jeny.


"Untung aku sudah punya fotonya, tidak perlu minta sama Jeny lagi."


Akhirnya malam ini juga, Aji benar-benar ikut mencari tahu tentang keberadaan Elisa, meskipun melalui bantuan orang lain.


*****


Di Club malam. Elisa, sedang melayani tamu seperti biasanya.

__ADS_1


Sebenarnya, Club ini, bukan Club malam seperti yang lainnya. Tempat ini, semacam tempat karaoke dengan banyaknya ruangan privasi para tamu, yang ingin melepaskan penat dan rileks dengan berkaraoke ria. Tapi ada juga ruangan umum untuk parti layaknya sebuah Club malam, dengan musik yang keras dan tempat orang-orang yang ingin bergerak bebas mengikuti irama musiknya.


"Lisa. Pemandu karaoke, ada absen dua nih. Kamu bisa gantiin ga" tanya manager Club, saat Elisa menuju meja bar, memberikan catatan pesanan pelanggan.


"Wah, Lisa gak bisa Mr. Tidak bisa nyanyi lagu-lagu, populer. Lisa cuma bisa nyanyi untuk semut-semut yang ada di kamar mandi," jawab Elisa, yang biasa di panggil Lisa, jika ada di Club itu.


"Aduh, coba saja sih! lumayan lho, kalau dapat tips dari pelanggan."


"Bukan masalah tips_nya Mr. Takutnya, pelanggan malah kecewa, karena Lisa gak bisa nyanyi. Gimana dong?" tanya Elisa mengeluhkan dirinya yang tidak bisa bernyanyi


"Coba dulu ya? kalau memang tidak bisa, ya sudah, tidak usah pake pemandu kalau penuh ruangan, yang ada saja."


Dengan berat hati, Elisa mengganguk juga. Menyanggupi permintaan manager Club yang biasa dipanggil Mr. Toni.


Di Club malam ini, para pegawai memang dipanggil dengan Mr dan Mis.


"Nanti, kalau Kamu sukses jadi pemandu, Kamu akan ketagihan dan milih jadi pemandu, di banding dengan waiters."


"Lihat saja nanti," jawab Elisa dengan cueknya.


Setelah berganti pakaian untuk pemandu karaoke, bukan seragam waiters yang tadi, Elisa mencoba untuk berlatih dengan beberapa lagu yang sedang hist, di ruangan yang masih kosong. Tapi, dia sendiri tidak tahu, lagu apa saja yang biasa di putar para pelanggan.


Akhirnya, Elisa meminta bantuan kepada petugas yang ada di ruangan IT, ruangan yang memantau kegiatan dan keamanan Club, dengan layar CCTV yang sudah di pasang di beberapa tempat strategis. Dia menghubungi lewat telpon yang ada di meja ruangan tersebut.


..."Halo Mas, bisa bantu Saya?"...


..."Bantu apa Miss Lisa!" tanya petugas tersebut, sambil mengamati layar CCTV yang berada di ruangan tempat Elisa berada....


..."Biasanya, lagu apa yang sering di putar pelanggan?" tanya Elisa ingin tahu....


..."Tidak tentu. Tergantung pelanggan juga."...


..."Aduh, gimana ya ini?"...


..."Kenapa memangnya?"...


..."Saya, di minta mengantikan tugas pemandu yang absen. Tapi tidak tahu jenis-jenis lagu, yang di minati pelanggan pada umumnya."...


..."Tidak usah. Kan selera pelanggan tidak sama, tidak selalu orang yang sama juga. Yang penting, temani dan jika di minta untuk bernyanyi, ikuti teks yang ada di layar monitor."...


..."Oh, begitu ya? Wah... pengalaman baru lagi nih! Terima kasih ya Mas?"...


Elisa, berjingkrak-jingkrak sendiri, mengingat jika akan mendapatkan pengalaman baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Tapi, biasanya pemandu karaoke indentik dengan hal yang negatif? Apa semuanya begitu?" tanya Elisa pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ah, bodo ah. Biarin aja, toh Aku cuma kerja dan menjalankan tugas. Jika ada sesuatu yang terjadi, ada CCTV yang memantau."


Akhirnya, Elisa bertekad untuk mencoba hal baru, yang belum pernah dia jalani selama ini. Dia ingin mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tentang banyak hal. Meskipun dia juga sadar, jika penilaian masyarakat pada umumnya buruk untuk para pemandu karaoke. Lebih banyak negatifnya dari pada positifnya.


__ADS_2