
Takdir hidup tidak pernah ada yang tahu. Jungkir balik kehidupan di dunia, juga tidak bisa di rencanakan. Begitu juga nasib seseorang. Tidak ada seorangpun yang bisa mengetahuinya. Tidak seorangpun.
Kisah Aji seosen 2 akan segera di mulai. happy reading all.
...🙏🙏🙏...
...😍😍😍...
*****
Suasana club malam yang hingar-bingar, dengan lampu-lampu berwarna-warni berkelap-kelip, membuat suasana terasa berbeda. Membuat suasana hati yang tadinya gundah gulana, dan tidak semangat menjadi lebih baik.
"Jeny. Ayo ikut turun!"
Teriakan seseorang membuat Jeny menoleh. Dia datang ke Club ini memang atas ajakan temannya itu, jadi dia tidak ada niatan untuk turun ke lantai dansa, atau sekedar berjoget ria ala anak muda lainnya.
"Huhfff... ngapain tadi ikut ke sini, kalau cuma duduk kayak patung?"
Akhirnya, temannya yang tadi sudah berada di depan panggung, dan ikut berjoget-joget dengan banyak orang menghampirinya. Dia bertanya pada Jeny, kenapa tidak ikut turun bersamanya.
"Malas," jawab Jeny pendek.
Dengan gerakan cepat, Jeny menghabiskan jus jeruk yang tersisa di gelas, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Aku balik dulu," kata Jeny, pamit pada temannya itu.
"Eh, Jeny... tunggu!"
Jeny terus melangkah, tanpa menghiraukan panggilan temannya tadi. Dia tidak ingin menghabiskan waktu dengan percuma saja di Club malam seperti ini.
"Huh... tunggu ihs, Jeny!" teriak temannya memanggil.
__ADS_1
Kini mereka berdua sudah berjalan beriringan menuju ke tempat parkir mobil. Jeny menoleh sekilas ke arah temannya tadi, kemudian mendengus dingin dan tidak lagi menghiraukannya. "Heh, buruan masuk. Kalau masih mau di sini, Aku tinggal!" kata Jeny memperingatkan.
"Iya-iya," jawab temannya itu seperti orang yang sedang kecewa dan kesal, tapi dia juga merasa takut jika benar-benar ditinggal oleh Jeny.
"Tadi, katanya mau hilangin suntuk. Malah semakin suntuk kan jadinya!" keluh tenan Jeny.
"Gak mood Aku di sana. Gak ada apa-apa," jawab Jeny datar.
"Hah. Kamu saja yang tidak memperhatikan. Coba tadi mata Kamu itu berfungsi optimal, pasti akan nemu banyak pemandangan indah, yang tidak bisa kamu lupakan."
"Heleh. Cowok-cowok kerempeng dan tidak bertampang gitu mana keren," kata Jeny menanggapi perkataan temannya, yang merasa tidak puas dengan kunjungannya ke Club, yang hanya sebentar saja.
"Beneran Jen. Tadi ada cowok yang keren, ada di pojok bar. Aku baru mau ngomong sama Kamu, malah kamu ngajakin pulang!" keluh temannya lagi, dengan bibir mengerucut.
"Minta di kuncir tuh bibir?" tanya Jeny tersenyum miring, melirik ke arah temannya yang duduk di sebelahnya.
"Hah. Susah ya, ngomong sama princess Jeny, yang sudah punya segalanya. Target cowok juga pasti harus bisa setara dengan papa dan kakaknya, atau setidaknya dengan kedua adil kembarnya yang comel. Hufh... buat Aku saja ya mereka Jen..." rengek teman Jeny dengan wajah di buat seimut mungkin.
"Ogah. Punya ipar kayak Kamu? Idihhh, amit-amit!" cibir Jeny pada temannya itu. Tapi dia juga merasa sangat sedih, karena belum ada kabar tentang keadaan dan keberadaan kakaknya yang dinyatakan hilang beberapa tahun yang lalu.
Tapi, akhirnya, Elisa meminta maaf, saat dilihatnya, Jeny menitikkan air mata. " Maaf Jen. Aku tidak bermaksud untuk mengingatkan Kamu soal kakak Kamu itu," kata Elisa dengan wajah cemas.
Elisa, memang belum pernah bertemu sekalipun dengan Aji. Dia berteman dengan Jeny, juga baru satu tahunan ini. Itu dikarenakan, mereka memang baru saja masuk ke universitas yang sama, dan masih ada di awal semester. Tapi Jeny dan Elisa, merasa sama-sama cocok, sehingga lebih cepat akrab dibandingkan dengan teman yang lain.
Elisa anak rantau. Dia yang berperawakan kecil, dan sedikit urakan merasa senang mendapatkan teman yang pendiam dan dingin seperti Jeny. Tapi ternyata sikap Jeny itu dilatarbelakangi oleh kebiasaannya yang lebih sering bersama dengan Aji, kakaknya yang pendiam dan misterius.
Elisa jadi penasaran dengan sosok Aji, kakak dari temannya itu, Jeny.
*****
"Jam berapa ini Jeny? Kamu itu cewek. Kenapa suka sekali pulang malam?"
Omelan mama Cilla langsung terdengar, begitu Jeny masuk ke dalam rumah. Dia memang sering pusing malam dibandingkan pulang sore hari. Meskipun jadwal kuliahnya sudah selesai pada siang atau sore hari, dia lebih suka main ke kost Elisa, atau hanya sekedar nongkrong di kafe dekat kampusnya.
__ADS_1
Jeny, yang bernama asli Anjani putri, adalah anak kedua pasangan Gilang Aji Saka dan Cilla Andini. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas dengan bimbingan dan kawalan kakaknya Gilang.
Jeny, merasa nyaman dengan semua yang dia jalani selama ini. Tidak ada kekurangan dan kelemahan yang dia perlihatkan, sebab kakaknya Aji, selalu ada di dekatnya.
Sejak usia sekolah dasar, meskipun beda kelas tingkatan, Aji, kakaknya Jeny, selalu ada untuknya. Dari mulai belajar, menemani Jeny jika ada kegiatan, dan membelanya jika ada yang menganggu. Apalagi saat Jeny sekolah yang berada di yayasan yang berbeda dengan kakaknya. Dia merasa sangat senang karena tidak ada yang menggangu, mereka pikir, Aji adalah pacarnya Jeny, dan mereka merasa takut terhadap Aji yang terkesan tidak biasa bagi mereka.
Itulah sebabnya, Jeny menjadi ketergantungan pada kakaknya itu. Dia merasa tidak lengkap jika tidak bersama dengan kakaknya, Aji Putra.
Tapi semua berubah. Waktu terus berlalu dan Jeny tidak tahu, kenapa dia tidak lagi bisa merasa nyaman tanpa kakaknya, Aji. Meskipun ada adiknya, yang sama-sama cowok dan kembar, tapi rasanya memang berbeda.
"Di mana Kamu sebenarnya kak?" tanya Jeny dalam hati.
Ini selalu Jeny tanyakan, sebelum dia tidur di malam hari. Dia selalu bertanya pada dirinya sendiri. Dia dan semua orang, memang tidak tahu di mana Aji Putra berada. Jejaknya tidak diketahui siapapun. Hanya ada kacamata pelindungnya, yang ditemukan di antara para korban waktu itu.
*****
"Nanti, kalau sudah sampai di sana , cepat telpon ya! Kabari rumah, biar kami semua tenang," pesan mama Cilla, saat melepas anaknya, Aji, yang akan terbang ke Jerman.
"Iya Ma. Pasti Aji langsung kasih kabar," jawab Aji sambil tersenyum tipis pada mamanya. Wanita yang sangat dia sayangi dan hormati. Yang selalu ada menemani dirinya sejak awal ada di dunia ini.
Pengumuman untuk penerbangan ke Jerman kembali terdengar. Semua penumpang diminta untuk segera naik ke dalam pesawat.
Aji berpamitan lagi pada semua anggota keluarga yang ikut mengantar ke bandara, termasuk dua adik kembarnya yang usil. Biyan Aji Putra dan Vero Aji Putra.
"Jeny ke mana ma?" tanya Aji saat tidak menemukan adik perempuannya, Anjani.
"Itu," jawab mama Cilla menunjuk ke arah kursi tunggu yang ada di belakangnya.
"Jen. Kakak berangkat dulu. Kamu jangan buat mama repot ya! Kakak akan segera pulang jika sudah selesai dan pulang juga jika ada liburan panjang. Atau kamu juga bisa berlibur jika ada liburan semester," kata Aji pada Jeny waktu itu.
"Tapi yang jaga Jeny siapa?" tanya Jeny tidak mau melihat ke arah kakaknya. Dia terus menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri.
"Kamu harus belajar untuk bisa menjaga diri sendiri ya! Jagan usil pada adik-adik kita itu," jawab Aji, sambil menunjuk ke arah kedua adik kembarnya.
__ADS_1
"Kakak..."
Jeny memeluk kakaknya dengan erat. Seakan-akan dia tidak mau melepas pelukannya, dan melihat kepergian kakaknya itu, untuk melanjutkan studinya ke negara Jerman. Negara impian kakaknya sejak masih kecil dulu.