
Beberapa hari kemudian, Aji diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Tim Dokter yang menangani kasus penyakitnya itu, hanya berpesan untuk tetap menjaga kesehatan dan tidak memaksakan ingatan Aji, diluar batas kemampuan dirinya sendiri.
"Jen. Jangan memaksa kakakmu, untuk mengingat kembali dirimu. Biarkan, dia ingat dengan sendirinya."
Begitulah pesan yang diberikan oleh Dokter Dimas, saat sebelum Aji di bawa pulang ke rumah.
"Baik Om. Jeny, akan bersabar sampai kakak mengingat kembali Jeny, dengan sendirinya."
"Ingat ya Jen. Kesepakatan kita tentang hati kita juga," kata Dokter Dimas, mengingatkan Jeny. Tapi setelah itu, Dokter Dimas, tampak tertawa kecil melihat perubahan pada wajah Jeny.
"Ihsss, si Om. Bikin Jeny gak mood deh!" jawab Jeny dengan cemberut.
"Hahaha... tapi Om serius ini Jen. Besok deh, pas jenguk Aji ke rumah, sekalian Aku lamar Kamu ya!" kata Dokter Dimas, meminta ijin.
"Hah, secepat itu?" tanya Jeny terkejut, mendengar perkataan dari Dokter Dimas.
"Kenapa? lebih cepat itu lebih baik Jen. Lagian kamu bukan lagi anak kecil kan? Om juga sudah tidak lagi muda, buat apa lagi main-main? mending main-mainnya nanti, kalau sudah menikah kan?" jawab Dokter Dimas lagi, dengan wajah dibuat selucu mungkin untuk menggoda Jeny, pujaan hatinya.
Jeny jadi tertawa lepas melihat wajah Om Dokternya itu. "Hahaha... Om bisa saja. Tapi Jeny suka kok," kata Jeny dengan tertawanya, kemudian kembali berkata, "Asal Om, bisa menaklukkan hati mama dan papa. Eh kak Aji juga ding."
"Lah, kan mumpung Aji gak ingat Kamu. Kita salip saja, kan begitu dia udah ingat semua tentang Kamu, kita udah resmi menikah," kata Dokter Dimas, memberikan penjelasan dan juga alasannya.
"Oh, jadi ini taktik Om Dokter, biar berkurang dan tidak banyak yang harus ditaklukkan gitu?"
"Ya gak juga sih, cuma pas saja waktunya Jen."
"Hem... lihat dari usaha Om deh. Kalau dapat restu, Jeny ok saja. Tapi kalau gak ya Maia gimana lagi, om harus bisa cari gadis lainnya ya!" kata Jeny, membuat Dokter Dimas bingung.
"Tapi... tunggu! Sebenarnya Kamu sendiri bagaimana? maksud Om, perasaan hati Kamu buat Om," tanya Dokter Dimas, mengorek isi hatinya Jeny, untuk dirinya.
"Jeny... suka juga," jawab Jeny malu-malu. Wajahnya Jeny, jadi memerah karena tidak bisa menahan diri, dan perasaannya sendiri saat ini.
"Ye... kan apa Aku bilang! papa Kamu sih gak percaya," kata Dokter Dimas, dengan senyum kemenangan.
Dokter Dimas, memeluk Jeny dengan erat. "Terima kasih ya Jen. Aku akan berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tua Kamu dan Oma Kamu."
"Oh iya, ada Oma juga ya Om," kata Jeny, dengan menepuk keningnya sendiri, karena baru saja ingat, jika hubungan mereka berdua juga tidak begitu mendapatkan restu dari Oma Rossa.
__ADS_1
"Ah, gampang itu. Yang penting itu hati Kamu gimana? sebab, selama ini, Aku melihat jika tante Rossa itu, orang yang tidak begitu memaksakan kehendaknya. Apalagi urusannya dengan hati. Asal itu bisa buat yang menjalani bahagia, dia pasti setuju. Makanya, yang penting adalah hati kita sendiri."
Jeny tersenyum, dalam pelukan om Dokternya. Dia merasa bahagia dan nyaman, karena merasa di perjuangkan oleh orang yang dia sukai juga.
"Kamu tidak terpaksa kan menerima Om? eh kok Om sih, panggil apa gitu yang keren?"
Dokter Dimas, mengoreksi panggilan untuk dirinya sendiri. Dia jadi merasa serba salah jika harus dipanggil dengan sebutan Om Dokter, oleh Jeny.
"Gak apa-apa sih Om. Jeny kan udah terbiasa panggil gitu," jawab Jeny dengan nada manja.
"Eh, tidak bisa..." kata Dokter Dimas, dengan mengelengkan kepalanya, mendengar jawaban dari Jeny.
"Kalian sedang apa?"
Tiba-tiba, Aji keluar dari dalam kamar mandi. Saat itu, mereka memang berada di dalam kamar pasien, setengah jam sebelum Aji bersiap untuk pulang.
Mama Cilla dan papa Gilang, sedang berkonsultasi dengan Dokter syarat dan mendapatkan beberapa nasehat. Jadi tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar pasien Aji.
"Kenapa om Dimas meluk-meluk asisten Oma?" tanya Aji lagi, karena Dokter Dimas dan juga Jeny, tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Aji.
"Tapi... kenapa Om belum menikahi dia juga? Om Dimas kan sudah tidak muda lagi, gak baik pacaran terus. Jadi lebih baik, segera menikah saja om," kata Aji, menasihati Dokter Dimas.
"Boleh? ehmmm... maksud Om, tidak apa-apa jika Om menikah dengannya?" tanya Dokter Dimas, dengan tersenyum penuh arti.
"Kenapa tidak? Nanti biar Aji yang bilang sama Oma, biar memberikan ijin pada asistennya itu, untuk menikah dengan Om Dimas secepatnya."
Dokter Dimas dan Jeny, saling pandang dan sama-sama tersenyum secara sembunyi-sembunyi, saat mendengar perkataan dari Aji.
"Yes. Ada yang bantuin," kata Dokter Dimas, seakan mendapat dukungan dari Aji secara langsung.
"Ihsss, gak ada perjuangan dong!"
"Lah ini apa?" tanya Dokter Dimas, dengan penuh misteri.
"Dasar Om Dokter!"
"Apa dasar?" tanya Dokter Dimas, ingin tahu.
__ADS_1
"Gaje!"
"Hahaha...."
Tawa Dokter Dimas, lepas begitu saja. Menggambarkan keadaan hatinya yang sedang bahagia saat ini.
"Jeny kemana?" tanya Aji tiba-tiba.
"Eh, dia sedang pergi kuliah," jawab Jeny cepat, memberikan alasan pada kakaknya.
Saat itu, Elisa memang sedang pergi. Tapi bukan untuk kuliah, dia hanya sedang pulang ke kostnya, untuk berberes dan akan ikut tinggal di rumah Jeny.
"Kuliah? Jeny sudah kuliah?" tanya Aji lagi.
Jeny, tidak menjawab. Dia hanya mengangguk saja.
"Ya sudah. Kamu sudah berberes di kamar Oma? jangan pacaran terus, bantu Oma sana!" perintah Aji, pada Jeny, yang dia pikir adalah asisten omanya. Oma Rossa.
"Iya," jawab Jeny datar, kemudian berjalan keluar dari kamar pasien Aji, kakaknya itu.
"Sabar Jen," kata Dokter Dimas, yang mengikuti langkah Jeny menuju ke kamar sebelah.
"Tidak apa-apa kok. Jeny senang, meski kakak tidak ingat Jeny, setidaknya dia sudah sehat dan mau bicara dengan Jeny."
"Iya. Semoga saja, ini tidak akan lama, dan kakak Kamu akan ingat lagi dengan semua yang ada, termasuk Vero dan juga Biyan."
*****
Sore harinya, semua orang sudah ada di rumah keluarga Gilang. Kebahagiaan yang dulu pernah hilang, seakan-akan telah kembali lagi.
Oma Rossa dengan ditemani Jeny, banyak tersenyum dan tampak sehat meskipun belum bisa seperti dulu sebelum lumpuh.
Mama Cilla, juga banyak tersenyum. Dia merasa sangat bahagia dengan kepulangan anaknya Aj, yang telah dinyatakan hilang dan kemungkinan besar sudah tiada.
Begitu juga dengan papa Gilang. Dia merasa jika, keluarganya kembali utuh, meskipun ingatan Aji, belum sepenuhnya pulih.
Para pekerja di rumah juga ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan para majikannya saat ini. Mereka semua, berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan keluarga Gilang. Keluarga majikan yang telah lama hilang.
__ADS_1