Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Banyak Keinginan Aneh


__ADS_3

Persiapan untuk pergi ke India sudah dilakukan oleh Aji dan Elisa. Tuan besar Sangkoer Singh, juga sudah memberitahu Jia pesawatnya akan datang menjemput tiga hari kemudian. Jadi, Aji dan Elisa masih ada waktu untuk berkunjung ke rumah Jeny, untuk berpamitan dan melihat keponakan mereka.


Urusan kuliahnya, Aji sudah mengajukan permohonan untuk bisa melakukannya lewat online, dan sudah mendapatkan persetujuan dari pihak kampus, yang memaklumi kondisi dan kesibukan yang dimiliki Aji.


Saat ini mereka berdua, Aji dan Elisa, sedang berada di dalam mobil menuju ke rumah Jeny.


"Kak, Aku mau beli oleh-oleh untuk Jeny. Tapi apa ya?" tanya Elisa meminta pendapat.


"Beli saja buah," jawab Aji. Dia berpikir jika itu adalah oleh-oleh yang paling mudah, untuk dibawa. Kios buah juga mudah ditemukan sepanjang perjalanan mereka saat ini.


"Hemmm..."


Elisa mengangguk, kemudian melihat ke luar, mencari kios buah yang mungkin mereka jumpai setelah ini.


"Kak, itu ada kios buah. Kayaknya cukup lengkap dan segar-segar buahnya," seru Elisa, sambil menunjuk ke depan. Di sana, tampak kios buah yang cukup besar dengan buah-buahan, yang lengkap dan segar.


Aji, menepikan mobilnya terlebih dahulu, kemudian berhenti di area parkir yang tersedia di kios buah tersebut. Mereka berdua, Aji dan Elisa, keluar untuk memilih buah yang akan mereka bawa, sebagai oleh-oleh ke rumah Jeny.


"Kak, ada buah kiwi tuh, Jeny pasti suka." Elisa ingat, jika Jeny suka buah kiwi.


Aji, hanya mengangguk berjalan mendekat ke tempat kotak kiwi. Dia mulai ikut memilih buah kiwi yang bagus, sama seperti yang dilakukan oleh Elisa.


Mereka berdua, keluar dari kios buah dengan dua plastik besar dengan isi berbagai buah-buahan. Tapi sebelum mobil kembali berjalan, Elisa melihat toko baju, yang ada etalase kacanya menampilkan manekin anak-anak, dengan model baju yang lucu.


"Kakak, boleh beli itu tidak, buat anaknya Jeny?" tanya Elisa, menunjuk ke arah yg toko baju yang ada di sebelah kios buah.


Aji, mengerutkan keningnya melihat ke arah yang ditunjuk oleh istrinya. Dia tidak tahu, jika ada patung anak dengan memakai pakaian bayi yang menarik perhatian Elisa.


"Apa?" tanya Aji, yang tidak paham juga.


"Bajunya Bagus. Anaknya Jeny, pasti muat itu Kak," jawab Elisa, tanpa menghiraukan kebingungan Aji.


Akhirnya Aji paham, apa yang diinginkan oleh Elisa. Dia kembali turun dari mobil. Begitu juga dengan Elisa. Mereka berdua, kembali berjalan lagi, untuk bisa ke toko baju dan mendapatkan apa yang diinginkan oleh Elisa, yaitu baju bayi, untuk anaknya Jeny.


Saat keluar dari toko baju, Aji mencoba bertanya pada Elisa, "masih ada yang kurang tidak?" Dia pikir, Elisa akan meminta sesuatu lagi, untuk oleh-oleh yang akan mereka bawa.


"Sudah Kak. Cukup," jawab Elisa sambil nyengir kuda.

__ADS_1


"Ya sudah, yok!"


Aji, mengandeng tangan istrinya, untuk segera masuk ke dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan mereka, menuju ke rumah Jeny.


Tapi, baru beberapa menit berlalu sejak keluar dari tempat mereka membeli oleh-oleh untuk Jeny, Elisa kembali menginginkan sesuatu. Saat ada menjual pempek dengan gerobak dorong, dia juga mau minta untuk membeli. "Kak, mau itu. El lapar nih," pinta Elisa, dengan alasan jika dia sudah merasa lapar.


"Mending makan dulu saja ya? Kita cari tempat makan," kata Aji mengusulkan untuk mencari warung makan saja.


"Gak mau. Mau pempek itu," rengek Elisa, mirip anak-anak yang menginginkan sesuatu, dan tidak dituruti oleh orang tuanya.


"Elisa kenapa ya? kok, aneh-aneh saja dia hari ini." Aji bertanya dalam hati. Dia juga ingat, tadi sewaktu sarapan pagi.


Biasanya, Aji membuat omlet untuk sarapan mereka, karena Elisa tidak terbiasa makan nasi jika pagi hari. Tapi, tadi pagi, Elisa justru minta dibuatkan nasi goreng. Dan sekarang, belum jam sembilan sudah bilang jika lapar. Aji, jadi kepikiran jika Elisa sedang...


"Kak! ihsss... malah ngelamun. Keburu penjualnya ilang," rengek Elisa sambil cemberut.


"Eh, iya-iya."


Aji menepikan mobilnya lagi. Setelah itu, dia keluar sendiri dan memangil penjual pempek yang sedang mendorong gerobak.


Gerobak pempek berhenti, dan Aji terus berjalan mendekat ke tempat Abang penjual mengehentikan gerobaknya.


"Bungkus ya Bang, dua."


Aji, memesan dua bungkus pempek, meskipun Elisa tidak memberitahu, mau dibelikan berapa bungkus untuknya.


Setelah beberapa menit kemudian, dua bungkus pempek sudah ada di tangan Aji. Dia membawanya ke dalam mobil, di mana Elisa masih menunggu.


"Lho, kok malah tidur."


Ternyata Elisa ketiduran di dalam mobil, saat saat menunggu Aji, yang sedang membelikan pempek yang dia inginkan.


"Sayang, bangun. El. El Sayang," panggil Aji, berusaha untuk membangunkan istrinya itu.


"Hemmm... Iya Kak, apa?" tanya Elisa, begitu matanya terbuka. Sepertinya dia lupa, jika tadi minta dibelikan pempek dari gerobak dorong.


"Ini pempek yang Kamu inginkan," jawab Aji, sambil menyerahkan dua bungkus pempek yang tadi dia beli.

__ADS_1


"Banyak sekali Kak?" tanya Elisa heran.


"Kakak pikir, sayu bungkus tidak cukup. Jadi beli dua saja lah," jawab Aji datar, kemudian menghidupkan kembali mesin mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka.


"Bisa makannya?" tanya Aji, saat melihat Elisa mencoba membuka simpul plastik yang terikat.


"Elisa mengangguk, tapi dia tidak melanjutkan kegiatannya. Sekarang dia membalik bungkus pempek dan mengigit bagian ujung plastiknya.


Dia memakan pempek yang masih berada di dalam bungkus plastik, dengan cara memakannya dari pojok plastik yang di sobek.


Aji menggeleng, melihat kelakuan Elisa, yang terlihat lahap makan pempek, dengan cara yang biasa.


"Kakak mau?" tawar Elisa pada Aji.


"Tidak, makanlah."


Aji menggeleng, saat Elisa menawari pempek yang ada ditangannya.


"Masih ada satu bungkus. Kalau Kakak mau, El bukain," kata Elisa memberikan penjelasan pada Aji.


"Makan saja, jika Kamu masih merasa lapar, dan kuat dengan kuah asamnya." Setelah itu, Aji melihat sekilas ke arah Elisa, yang kembali melihat-lihat sekeliling, sepanjang perjalan.


"Kamu tidak ada yang dikeluhkan?" tanya Aji tiba-tiba.


Elisa yang sudah selesai makan pempek, membuang bungkus plastik ke dalam Ting sampah kecil, yang berada di belakang jok, tempatnya duduk saat ini.


"Tidak ada. Memang apa yang harus El rasakan?" tanya Elisa, tanpa bermaksud untuk menjawab pertanyaan dari suaminya itu.


"Tidak apa-apa. Kakak hanya bertanya saja."


Aji, tidak lagi bertanya pada Elisa dengan pikirnya yang curiga. Dia tidak mau, jika itu hanya sebuah harapan yang belum tentu kebenarannya.


Elisa, kembali mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil. Dia melihat-lihat sekeliling, tapi kadang kala juga melihat ke arah Aji, yang tidak lagi mengeluarkan suara untuk bertanya padanya.


"Kakak memikirkan apa ya? Kok dia aneh hari ini. Banyak tanya-tanya. Padahal, Aku tidak melakukan apa-apa yang aku rasa aneh."


Ternyata, Elisa juga berpikir yang sama, seperti yang dipikirkan Aji tentang dirinya. Merasakan sesuatu yang terkesan aneh di mata masing-masing, meskipun tidak ada pertanyaan yang diperjelas dengan pemikiran mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2