Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Menyakinkan Diri


__ADS_3

"Thanks ya Rio. Berkat Kamu, Aku jadi bisa sedikit lega untuk urusan administrasi kampus ini. Tapi aku harus tetap bekerja, untuk memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari. Aku tidak mau terus membebani bapak di rumah."


Elisa yang urakan, bisa juga berkata dengan nada 'melo' bahkan, dia terlihat seperti ingin menangis.


"Eh, jangan nangis El. Entar ada yang lewat dan lihat, dikiranya Aku ngapa-ngapain Kamu lagi. Bisa repot itu urusannya," kaya Reo dengan wajah cemas. Padahal sebenarnya, dia hanya ingin membuat Elisa kembali ceria lagi.


"Ihsss, apaan sih Rio. Gak peka deh!" Elisa berkata dengan merajuk.


"Peka apa sih?" tanya Rio dengan bingung.


"Kalau orang lagi sedih, atau baper gitu, ya dipeluk, bukan diledekin. Ah, gagal bermanja-manja ria deh," jawab Elisa, dengan wajah cemberut.


"Oh, begitu... sini-sini. Bilang saja sih, kalau mau dipeluk Pake kode, mana Aku tahu El."


Akhirnya, Elisa dipeluk juga oleh Rio, meskipun itu hanya sekedar pelukan sebagai sahabat. Tapi Rio sudah merasa cukup senang, karena itu tandanya, Elisa masih menganggap dirinya lebih dari teman yang lain.


"Maaf ya, kemarin-kemarin Aku menghilang dan gak kasih kabar Kamu. Handphone Aku, terpaksa Aku jual, buat bayar kost dan mencari kerjaan."


Rio, mendengarkan curhatan Elisa yang masih ada di dalam pelukannya. Dia sedikit kaget, saat Elisa bercerita, karena selama ini, Elisa tidak pernah bercerita tentang hal yang bersifat finansial ataupun masalah pribadi keluarganya.


"Harusnya, Kamu itu nunggu dulu sebentar, sampai Aku membalas pesan Kamu, bukannya langsung menghilang begitu saja," kata Rio, kemudian melepas pelukannya agar bisa melihat dengan jelas wajah Elisa saat ini.


"Aku pikir, Kamu memang sengaja gak balas ataupun menerima panggilan teleponku. Aku pikir, Kamu juga sedang ada masalah yang terjadi, jadi Aku tidak mau menganggu Kamu, hanya untuk mengurusi masalahku yang sepele." Elisa, mengatakan pikirannya sendiri waktu itu. Dia yang sedang banyak pikiran, jadi berpikir pendek dan tidak sabar.


"Apa-apa itu, jangan hanya menurut pikiran Kamu saja. Ya, meskipun semua orang punya pikiran dan permasalahan masing-masing, setidaknya bicarakan, jangan hanya 'pikirku' saja. Awas saja kalau besok-besok masih kayak kemarin lagi, Aku ajak..."


"Ehem!"


Rio, tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Dia menoleh ke arah sumber suara, begitu juga dengan Elisa. Ternyata Aji datang dari arah samping mereka.


"Kakak. Jeny mana?" tanya Elisa, menghilangkan rasa kagetnya.


Aji, tidak menjawab pertanyaan dari Elisa. Tapi justru menatap ke arah Rio dengan tatapan menyelidik.


Rio, tersenyum dengan canggung karena merasa diperhatikan oleh Aji, kakaknya Jeny. Dia tahu, ada rasa cemburu yang terlihat di mata Aji. Tapi, dia berusaha untuk tidak terpengaruh dan menyapanya dengan wajar. "Hai Kak. Rio pikir tadi Kakak sudah pulang, dan Jeny masuk kelas."


"Kenapa memang? supaya kalian bisa bebas berpelukan dan pacaran begitu?" Aji bertanya kepada Rio, dengan nada mengintimidasi.

__ADS_1


"Hah, pacaran. Kakak apa sih!" Elisa menyahut dengan wajah bingung.


Rio, hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari Aji. Dia yakin, jika Aji sedang cemburu saat ini.


"Kakak cemburu ya?" tanya Rio dengan tersenyum. Dia ingin tahu, bagaimana Aji bisa mengakui perasaannya sendiri di depan Elisa.


"Cemburu, kenapa Aku harus cemburu? Aku hanya memperingatkan kalian, jika ini area kampus dan jagalah kesopanan dan etika. Jika ada yang lihat dan salah paham, bisa jadi dia akan memberikan informasi dan berita yang salah dan itu bisa mencemarkan nama baik kalian sendiri, terutama untuk Elisa sebagai pihak cewek."


Aji, memberikan alasan untuk bisa mengelak dari serangan Rio yang memojokkan perasaannya. Dia tidak mau, jika harus mengakui apa yang dia rasakan saat ini.


"Oh, begitu. Sudah pada tahu tuh, kalau Rio dan Elisa itu sepasang kekasih. Tapi semua orang juga tahu jika itu bohong!"


Aji, hampir saja kemakan omongan Rio, tapi segera bernafas lega setelah mendengar kalimat yang diucapkan Rio terakhirnya.


Rio tertawa dalam hati, melihat perubahan warna pada wajah kakaknya Jeny itu. Dia sekarang ini menjadi yakin, jika sebenarnya, Aji juga mempunyai rasa pada Elisa. Cewek yang dia sukai juga.


"Aku bukan saingan Kakak. Elisa sudah menyerahkan hatinya pada Kakak, jauh sebelum Kakak ditemukan, dan kalian juga bertemu. Aku juga heran, kenapa gadis aneh ini juga punya perasaan yang sama anehnya. Ya sudah, Aku tidak apa-apa kok. Asal dia bahagia, Aku sudah cukup merasa bahagia."


Rio, mengatakan semuanya pada Aji. Setelahnya, Rio mengandeng tangan Elisa dan membawanya pergi dari hadapan Aji yang terdiam dan tidak berkata apapun.


"Aduh, kenapa Aku jadi tidak berpikir panjang," kata Aji dengan wajah cemas. Kini, dia melihat Elisa yang pergi bersama dengan Rio.


Dia segera mengejar Elisa yang sempat menoleh ke arahnya tadi. Tapi, sekarang mereka berdua sudah tidak terlihat olehnya.


"Kemana mereka, kenapa cepat sekali menghilang?" tanya Aji dengan wajah bingung.


"Ah, Aku merasa bersalah karena tidak mengakui perasaanku sendiri dan malah menyingung perasaan mereka berdua. Aku kenapa jadi begini sih!" gerutu Aji pada dirinya sendiri.


Akhirnya, Aji berjalan kembali menuju ke kantin kampus, dimana tadi Jeny berada, dan sedang menunggu dirinya.


"Kakak, lama sekali!" teriak Jeny, begitu melihat kedatangan Aji.


"Maaf, Kakak kesasar tadi. Lupa jalan," kata Aji beralasan.


"Kenapa tidak telpon Jeny?"


"Kakak tidak kepikiran Jen. Ah, sudahlah. Kamu ada kelas tidak? Kalau tidk ada kita pulang saja."

__ADS_1


"Tidak ada Kak. Tapi, Elisa belum kembali. Kok mereka lama ya, masak dari tadi belum selesai juga urusannya?" tanya Jeny, tanpa yang bisa menjawabnya.


"Coba telpon saja," kata Aji, memberi saran. Dia juga ingin tahu, di mana Rio dan Elisa saat ini.


"Oh iya, bentar ya."


Jeny, mencoba untuk menelpon Rio, untuk bertanya dimana keberadaan mereka, Rio dan Elisa, sekarang ini.


..."Halo Rio!" ...


..."Hai Jen. Ada apa?" ...


..."Belum selesai ya?" ...


..."Sudah kok. Kami ada di jalan depan." ...


..."Ngapain? kenapa tidak ke sini?" ...


..."Kesini mana?" ...


..."Kantin. Aku menunggu sedari tadi di kantin kok!" ...


..."Oh maaf ya. Aku pikir kamu ada kelas. Jadi Aku ajak Elisa ke depan ini." ...


..."Ngapain sih? masih ada Elisa kan bersama Kamu?" ...


..."Masih kok, tenang saja. Dia tidak akan bisa lari dari Rio. Hehehe..."...


..."Buru ke sini, atau Aku yang samperin kalian?" ...


..."Tunggu di situ saja. Kami akan segera datang." ...


..."Ok lah. Buruan ya!" ...


..."Siiip!"...


Sambungan telepon di tutup. Jeny, melihat ke arah kakaknya, kemudian berkata, "Elisa ada bersama dengan Rio. Sekarang ini, mereka ada di depan. Gak tahu lagi ngapain. Tapi Rio bilang, akan kembali ke sini."

__ADS_1


"Mereka benar-benar tidak ada hubungan apa-apa kan Jen?" tanya Aji pada adiknya. Dia ingin memastikan kebenaran yang sesungguhnya, bagaimana sebenarnya hubungan antara Rio dengan Elisa.


__ADS_2