
Pesawat sudah berada di ketinggian lautan Hindia. Elisa, masih saja kepikiran tentang Biyan, yang tidak ikut datang ke apartemen semalam. Biyan, juga tidak datang ke bandara, untuk ikut mengantar, seperti yang dia katakan lewat pesan singkat yang dikirim pada kakaknya, Aji.
Biyan beralasan, jika dia ada tugas bersama-sama dengan teman-temannya, yang harus di kumpulkan esok hari.
Berbeda dengan Vero. Meskipun Vero tidak ikut mengantar ke Bandara tadi, tapi semalam, dia ikut datang ke apartemen mereka, yang sedang ada acara perpisahan meskipun hanya kecil-kecilan.
Semalam, Vero justru tidak tahu, jika Biyan tidak datang dan beralasan jika ada tugas. Mereka berdua memang satu sekolah, tapi berbeda kelas. Jadi, Vero memang tidak tahu banyak tentang tugas dan kegiatan Biyan, kembarnya itu, jika berada di luar rumah.
Tapi, Elisa hanya menyimpan pikirannya sendiri. Dia tidak mau membicarakan tentang Biyan pada Aji, yang notabene adalah kakaknya Biyan sendiri.
Begitu juga saat dia curiga, waktu ada di Mall siang itu, saat mampir dari rumah Jeny dan ingin menemui mama Cilla di toko. Elisa hanya menyimpannya dalam hati. Dia tidak ingin, jika apa yang dia lihat itu, menjadi masalah besar, karena dia sendiri tidak tahu kebenaran yang terjadi.
"Tidurlah El. Perjalanan ini masih panjang, jadi Kamu tidak perlu menunggu," kata Aji, yang memberikan saran pada istrinya itu, agar tidur terlebih dahulu. Aji, melihat Elisa yang sedang melamun dan diam saja sedari tadi. Dia tidak tahu, jika istrinya itu sedang menyimpan pikirannya sendiri tentang adiknya, Biyan.
Elisa mengangguk tapi dia tidak segera memposisikan diri untuk tidur. Dia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Aji.
"Sini," Aji meminta Elisa untuk tidur di pangkuannya, setelah dia memposisikan kursi pesawat, seperti agar lebih rendah dan nyaman untuk tidur. Dia juga meminta pada pramugari untuk mengambilkan bantal.
"Atau, Kamu mau tidur di kamar?" tanya Aji, saat Elisa sudah ada di pangkuannya.
Pesawat pribadi milik ayahnya, Sangkoer Singh, memiliki dua ruangan kamar yang nyaman untuk beristirahat dan privat, layaknya sebuah rumah. Pramugari yang ada juga tidak banyak bicara. Mereka, menjaga privasi pemilik pesawat tempat mereka bekerja.
"Kira-kira, perjalanan masih berapa lama Kak?" tanya Elisa ingin tahu. Dia ingin beristirahat, karena ini memang waktunya untuk tidur siang.
Aji, melihat jam tangannya. Dia mulai menghitung waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan mereka ini.
"Kira-kira masih ada sekitar sebelas atau dua belas jam. Masih lama." Aji, memperkirakan waktu yang diperlukan untuk bisa sampai di India.
__ADS_1
"Wah, masih lama sekali!"
Elisa, tidak menyangka jika perjalanan mereka ini membutuhkan waktu yang lama dan tidak ada acara transit di bandara manapun.
Aji, hanya mengangguk. Dia tahu, Elisa sedang lelah dan mengantuk, karena semalam mereka tidur larut malam. Selain untuk mengecek ulang semua keperluan yang mereka bawa, ada mama Cilla dan papa Gilang serta Vero yang datang ke apartemen. Jadi, semalam mereka berkumpul dan rame, sehingga Elisa tidak bisa tidur dengan cepat.
"Ya sudah Kak, El mau istirahat di kamar saja kalau masih lama."
Akhirnya, Elisa memutuskan untuk tidur di kamar pesawat, agar bisa beristirahat sebentar dengan tenang.
Aji berdiri, mengajak Elisa untuk ke kamar. Dia berpesan pada pramugari, agar tidak menggangu istirahat mereka, karena nanti di India, mereka belum tentu bisa langsung beristirahat dengan cepat.
Elisa, yang belum pernah naik pesawat pribadi, tercengang melihat keadaan kamar yang mewah bak hotel. Semua lengkap dan berkualitas. Dia menggeleng sambil berdecak kagum, saat melihat semua perabotan yang ada di kamar ini.
"Kak, ini pesawat apa hotel bintang tujuh?" tanya Elisa tidak percaya dengan penglihatan matanya sendiri.
"Tidurlah. Tidak usah banyak berpikir tentang pesawat ini. Itu diluar jangkauan kita,. Apalagi nanti jika Kamu melihat istana ayah, Kamu seperti melihat rumah-rumah mewah yang ada di film-film India. Papa Gilang, masih jauh jika dibandingkan dengan ayah Sangkoer Singh, jika dilihat dari segi materi. Tapi untungnya, ayah termasuk pengusaha yang baik dan tidak sombong. Dia hanya pandai mengelola keuangan dan bisnisnya. Dia bisa menginvestasikan uang receh menjadi milyaran sehingga kekayaannya tidak bisa dihitung dengan jari. Aku tidak pernah tahu, dari nama dia bisa begitu pandai mengembangkan potensi kekayaannya. Begitulah kira-kira, jika Kamu tepat dalam bisnis. Akan ada saja yang berkembang, tanpa Kamu harus bersusah payah bekerja. Ada tim dan pekerja yang Kamu bayar, untuk mendatangkan keuntungan untuk modal yang Kamu keluarkan. Makanya, ada yang bilang, orang pintar tetap kalah dengan orang yang bermodal. Hehehe, tadinya Kakak juga tidak tahu maksud dari arti kata itu."
Aji, menjelaskan pada Elisa tentang usaha-usaha yang dilakukan oleh ayahnya, Sangkoer Singh.
Elisa, yang tidak ada pengalaman soal bisnis dan usaha, hanya bisa mengangguk-angguk saja. Dia belum paham, apa yang sedang dibicarakan suaminya itu.
"Ya sudah, sini tidur."
Aji, memposisikan diri agar Elisa ikut tidur disebelahnya. Dia memeluk Elisa, agar Elisa bisa cepat tidur dan tidak lagi melamun seperti tadi. Aji berpikir, jika istrinya itu, belum tega meninggalkan Indonesia.
*****
__ADS_1
Di rumah papa Gilang, terjadi sesuatu yang di luar dugaan semua orang. Biyan, yang semalam tidak pulang dan pagi hari juga tidak ada di rumah, pulang dengan membawa seorang wanita.
Yang lebih mengejutkan lagi, wanita itu jauh lebih tua dari pada Jeny. Kakak perempuan Biyan, yang sudah menikah dengan dokter Dimas.
Mama Cilla tampak kaget dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia merasa kecolongan dengan perilaku anaknya itu. Padahal, hampir satu bulan ini, dia membawa Biyan dan kembarannya, Vero, untuk berkonsultasi dengan psikiater. Mama Cilla ingin, anak-anaknya itu, bisa tumbuh kembang dengan normal, layaknya remaja pada umumnya.
"Biyan. Apa ini Sayang?" tanya mama Cilla dengan wajah terkejut. Di rumah hanya ada dia, karena papa Gilang sudah berangkat ke kantor, sedang Vero juga sudah berangkat ke sekolah.
"Dia pacar Biyan Ma."
Jawaban yang diberikan oleh Biyan, membuat mama Cilla tercengang kaget. Ini justru menambah beban pikiran pada mama Cilla. Dia tidak menyangka, jika kelakuan anaknya sudah sejauh itu.
"Maksudnya ini apa Biyan?" tanya mama Cilla lagi. Dia ingin memastikan, bahwa semua ini hanya mimpi, dan bukan nyata.
"Dia Yeti. Pacarnya Biyan Ma. Kami berencana untuk menikah jika Biyan lulus sekolah nanti."
Mama Cilla bertambah kaget. Dia langsung terduduk dan tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia shock mendengar perkataan anaknya yang masih remaja itu.
"Ye... Yeti, umur berapa?" tanya mama Cilla terbata-bata. Dia ingin memastikan jika penglihatannya ada yang salah.
"Dua tujuh Tante," jawab Yeti, pacarnya Biyan.
Yeti, menjawab dengan canggung, karena sadar jika keberadaannya, tidak diinginkan di keluarga Biyan, pacarnya yang masih berondong.
"Apa?" Mama Cilla, kaget dengan jawaban yang diberikan oleh Yeti. Dia tidak menyangka jika Yeti sudah lebih tua dari anaknya, Jeny.
"Apa ini karma untukku? dulu, Aku sempat tidak setuju dengan hubungan Jeny dan dokter Dimas. Sekarang, justru Biyan yang ikut-ikutan berhubungan dengan orang yang lebih tua. Kalau Jeny, masih bisa dimaklumi, karena banyak ditemukan di masyarakat pada umumnya, yang wanita lebih muda dari pada laki-laki. Tapi Biyan, belum umum di masyarakat. Akan ada banyak pertentangan yang akan mereka terima nanti. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup mereka kedepannya nanti." Mama Cilla, berperang dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1