
Kehidupan kembali berjalan sebagaimana mestinya. Kegiatan dan kesibukan sehari-hari, juga masih terus berlangsung, untuk bisa terus dapat memenuhi kebutuhan dan kelangsungan, untuk bisa bertahan dalam kehidupan ini.
Tugas kantor di GAS, lebih banyak Aji lakukan di apartemen. Dia jarang pergi ke kantor, karena tugasnya sebagai pengawas keamanan IT dan pemantau saham bisa di lakukan tanpa harus datang ke kantor setiap hari.
Papanya, Gilang, tidak mempermasalahkan soal itu. Justru dia mendukung, karena yakin, jika Aji bisa dan mampu bekerja dengan baik meskipun tidak harus selalu berada di kantor.
"Kak. Kakak tidak ada kelas kan semingu ini?" tanya Elisa, setelah selesai sarapan pagi.
"Iya," jawab Aji datar.
"Bisa bantu El gak?" tanya Elisa lagi, dengan wajah tersenyum malu-malu.
Aji, mengalihkan perhatiannya dari gelas berisi jus ke wajah istrinya. Dia ingin tahu, apa yang akan dikatakan oleh istrinya lagi, pagi ini.
"Ihsss... jangan menatapku dengan tatapan mata yang seperti itu," elak Elisa, dengan mengalihkan pandangan ke tempat lain, agar wajahnya tidak dilihat Aji secara langsung.
"Apa?" tanya Aji ingin tahu.
"Ehmmm..."
Elisa, tidak melanjutkan kata-katanya lagi, karena sudah tidak bisa berkata apa-apa. Itu dikarenakan mulutnya, sudah dicium Aji tanpa permisi.
"Ihhh, bikin kaget saja," gerutu Elisa, begitu Aji melepaskan ciumannya.
"Cepat bicara, minta tolong apa? kalau tidak, Aku..."
"Iya-iya, Aku mau minta tolong untuk mengantar ke rumah. Kangen sama mama dan suasana rame di sana."
Elisa cepat menjawab pertanyaan dari Aji, karena takut jika suaminya itu, akan kembali menciumnya dan itu akan berlangsung lama, sehingga tidak ada kesempatan untuk bicara lagi.
"Hemmm..."
Aji, tidak merespon permintaan Elisa. Dia kembali meminum jus di gelas yang tadi dia pegang dan tertunda karena harus mendengarkan permintaan dari Elisa.
"Kak..." Elisa memangil lagi.
Aji menoleh sekilas, kemudian berkata, "segara bersiap, kita berangkat!"
"Hah, sekarang?" tanya Elisa bingung.
"Kalau tidak jadi ya sudah."
"Iya-iya, jadi kok." Elisa segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah kamar untuk bersiap-siap untuk pergi ke rumah papa Gilang. Dia ingin berkunjung ke rumah mertuanya itu. Dia kangen dengan suasana rame seperti biasanya di rumah, jika ada Vero dan Biyan juga.
"Mungkin dia merasa kesepian, ada di apartemen sendiri dan hanya ada Aku saja," guman Aji sambil tersenyum tipis.
Aji juga segera beranjak dari tempat duduknya dan mencari kunci mobil di atas meja dekat dengan peralatan kerjanya. Dia menunggu Elisa, yang sedang bersiap di dalam kamar.
Drettt... drettt... drettt
__ADS_1
Handphone miliknya bergetar. Aji mengambil dari saku celananya, kemudian melihat ke layar handphone. Ternyata ada nama Jeny di sana.
..."Ya Jen, ada apa?"...
..."Kak, aku mau datang ke apartemen. Elisa dan Kakak ada kan? maksudku tidak ada acara atau ke mana gitu?"...
..."Tidak. Kami hanya akan ke rumah."...
..."Maksudnya mau ke rumah mama?"...
..."Iya."...
..."Kapan?"...
..."Sekarang."...
..."Ya sudah kalau begitu. Kita ketemu di rumah saja. Aku akan ke sana kalau begitu. Tidak jadi ke apartemen."...
..."Iya."...
..."Sampai ketemu di sana ya Kak."...
Aji menutup handphone miliknya. Dia berdiri, karena Elisa sudah keluar dari dalam kamar.
"Sudah siap?" tanya Aji, kemudian mengandeng tangan istrinya itu.
Mereka berdua, keluar dari apartemen, menunggu ke tempat parkir dan pergi dengan mobil untuk datang ke rumah mama Cilla. Elisa ingin membuat kejutan untuk mereka yang ada di rumah itu.
*****
Di rumah papa Gilang, semua orang ternyata sudah berkumpul bersama. Ada mama Cilla, papa Gilang, dan anak kembarnya, Vero dan Biyan.
Tidak lama, ada mobil datang. Ternyata itu adalah Jeny dan dokter Dimas. Dia datang terlebih dahulu sebelum Elisa dana Aji sampai.
"Wah, kak Jen sudah datang!" teriak Vero saat melihat ke luar rumah.
Ternyata, tadi setelah menelpon kakaknya, Aji, Jeny menelpon mamanya dan memberikan kabar jika dia akan datang bersama dengan suaminya. Dia juga memberikan kabar jika Elisa dan kakaknya, Aji, akan ikut datang ke rumah. Itulah sebabnya, sekarang orang-orang di rumah tidak ada yang pergi ke mana-mana.
"Kakak, kangen!" teriak Vero, begitu Jeny turun dari mobil.
"Hai, apa kabar?" tanya Jeny, dengan memeluk adiknya itu.
"Kabarnya sepi. Tidak ada Kakak, kak Aji juga, masak baru nikah terus ngajak kak El pindah ke apartemen. Kan Aku jadi gak ada yang diusili," gerutu Vero dengan wajah cemberut.
"Nah ini. Kakak sudah tahu sifat Kamu, makanya ngajak si El pindah ke apartemen. Biar gak Kamu jahili. Hahaha..."
Jeny, justru mendukung keputusan kakaknya itu. Dia tahu, Vero itu sangat suka sekali usil. Apalagi Elisa yang cuek juga sering menanggapinya. Jadi Aji sedikit terganggu jika harus melihat adiknya itu, lebih dekat dengan istrinya. Aji memang pencemburu.
Mereka semua, saling melepas rasa rindu di ruang tengah, sambil menunggu kedatangan Elisa dan Aji.
__ADS_1
"Kenapa mereka tidak memberitahu jika mau datang Jen?" tanya mama Cilla, tentang rencana Aji yang mau datang ke rumah.
"Mungkin mereka bikin surprise Ma. Tapi karena Aku menelpon di waktu yang tepat, jadi ketahuan. Tapi Elisa kayaknya tidak tahu, jika tadi Aku sempat menelpon kakak. Nanti kita pura-pura terkejut saja, saat melihat mereka datang."
Jeny, mengusulkan agar mereka pura-pura tidak tahu, jika Elisa dan Aji akan datang, agar Elisa tidak kecewa karena kejutan yang dia rencanakan sudah ketahuan.
"Asyik-asyik. Aku mau pura-pura pingsan karena terkejut, hahaha..."
Vero, langsung merespon rencana Jeny dengan kejutannya sendiri.
"Vero," tegur mama Cilla.
Papa Gilang dan dokter Dimas, sedang mengobrol di ruang tamu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Tidak ada yang ingin tahu juga.
Setengah jam kemudian, mobil Aji tampak masuk ke halaman rumah. Aji menghentikan mobilnya, tepat di depan pintu, agar Elisa tidak terlalu jauh berjalan menuju ke rumah.
"Turunlah. Aku akan parkir ke garasi," kata Aji, meminta Elisa untuk turun terlebih dahulu.
Elisa menurut. Dia turun dan diam menunggu sampai Aji datang lagi.
"Aku pikir sudah masuk tadi," tegur Aji, saat dia datang dan ternyata Elisa masih berdiri menunggu dirinya.
"Kita masuk bareng-bareng Kak," kata Elisa beralasan.
Aji, mengandeng tangan Elisa, kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Pa, om." Aji menyapa papa Gilang dan dokter Dimas, yang berada di ruang tamu.
"Hai, akhirnya datang juga. Apa kabar?" tanya papa Gilang dengan tersenyum melihat kedatangan mereka berdua.
"Baik Pa," jawab Aji pendek, kemudian mengalami papanya dan memeluknya juga.
Elisa terdiam di tempatnya. Dia berpikir, jika kejutan yang dia rencanakan tidak berhasil, karena papa Gilang tadi berkata seperti itu.
"El. Kenapa diam, sini!"
Papa Gilang, memangil Elisa agar mendekat ke arahnya.
Elisa menurut. Dia mendekat ke arah papa Gilang dan menyalaminya juga dengan sopan.
"Hai Om, apa kabar?" tanya Aji pada dokter Dimas.
Mereka berdua saling bertegur sapa dengan akrab.
Elisa kembali berpikir, jika ada dokter Dimas di rumah ini, berarti Jeny juga ada datang bersama dengan suaminya itu.
"Apa ada yang tidak Aku ketahui? Tadi sepertinya Kak Aji, tidak memberikan kabar ke rumah ini, jika Kami akan datang."
Elisa bertanya-tanya dalam hati, dan masih merasa penasaran, sebenarnya siapa yang ingin memberikan kejutan untuk keluarga saat ini.
__ADS_1