
Gilang masih menjelaskan pada Aji, anaknya itu, tentang bagaimana kehidupan ini. Akan banyak sekali orang yang ada di sekitar kita yang tidak hanya mendukung, tapi juga menjadi penyebab utama jatuhnya kita dalam keadaan yang tidak kita inginkan. Kehidupan manusia banyak dibumbui dengan berbagai konflik dan juga permasalahan. Jadi, pintar-pintar memilih teman dan rekan kerja adalah yang paling utama, meskipun tidak bisa menjamin jika semuanya akan baik-baik saja.
"Kita harus tetap berhati-hati. Tapi kita juga tidak harus menilai, semua orang itu tidak baik. Kadang orang-orang yang ada di sekitar kita, melakukan semua itu dengan banyak alasan."
Aji, masih mendengarkan semua perkataan dan nasehat dari papanya itu. Dia memang masih kecil, tapi keadaan dan situasi yang dia alami bersama dengan mamanya, Cilla, waktu itu, membuat dirinya menjadi lebih dewasa dan berpikir kritis. Itu semua karena, Aji merasa harus bisa bertahan hidup dengan baik, meskipun tidak selalu dalam keadaan serba ada dalam hal materi. Dia tidak ingin mamanya, Cilla, terlihat seperti dulu lagi, dalam keadaan sedih, meskipun tidak pernah dia tunjukkan pada Aji.
"Pa. Aji tidak mau, jika Papa menyakiti mama lagi kedepannya. Aji akan melakukan apapun, untuk membuat mama tersenyum dan bahagia. Meskipun dengan melawan Papa, dikemudian hari nanti."
Aji berkata dengan suara tegas dan berharap jika papanya itu, tidak akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan dulu.
"Tentu saja Sayang. Papa juga ingin membahagiakan mama dan juga Kamu. Papa tidak ingin melihat kalian dalam keadaan seperti dulu lagi. Papa akan berusaha untuk bisa membahagiakan kalian untuk kedepannya. Papa janji itu."
Aji menatap wajah papanya, Gilang, untuk memastikan apakah yang dikatakan papanya itu adalah benar adanya atau hanya janji manis belaka.
"Seorang laki-laki sejati, dinilai dari perkataan dan janjinya. Jadi papa akan berusaha untuk menepati janji Papa ini. Bantu Papa ya! Papa tidak ingin melihat mama bersedih lagi sama seperti dulu," kata Gilang dengan nada dan wajah yang serius juga.
"Baiklah. Aji, akan diam saja untuk urusan Sekar Mayangsari dan Eko Julianto. Itu biar pihak FBI, Amerika Serikat yang menangani. Aji fokus bantu Papa untuk membahagiakan mama."
"Terima kasih Sayang."
Gilang berdiri dan memeluk Aji, dengan penuh kasih. Dia merasa bersyukur bisa mempunyai anak seperti Aji yang cerdas dan pintar.
"Bantu Papa untuk mendapatkan semua mimpi ini," kata Gilang dengan memeluk Aji.
Aji kembali memeluk papanya, Gilang, dengan tersenyum penuh keyakinan.
*****
Cilla dan mami Rossa sedang berada di dalam ruang tengah. Mereka sedang membicarakan tentang konsep pernikahan yang akan dilaksanakan pada bulan depan nanti.
__ADS_1
"Kemarin, dari pihak EO mengusulkan pada Mami untuk ambil internasional saja, dengan menu makanan internasional juga. Alasan kenapa diusulkan konsep itu, karena Gilang memiliki tamu yang tidak hanya dari Indonesia saja. Banyak juga tamunya yang dari luar negeri."
Cilla mengangguk lalu melihat beberapa koleksi foto dari wedding organizer yang dibawa mami Rossa sebagai sampel.
"Mi. Kalau boleh usul, bagaimana kalau kita ambil konsep tradisional atau nasional saja. Bukankah orang luar negeri, malah lebih suka melihat budaya Indonesia. Apalagi jika itu ada keunikan tersendiri. Ini acara pernikahan, tidak sering mereka lihat Mi."
Apa yang dikatakan oleh Cilla, membuat mami Rossa mengangguk setuju. Dia tidak berpikir sejauh itu kemarin.
"Iya juga ya Cilla. Bagaimana kalau besok pagi kita ke kantor EO, untuk melakukan perubahan terhadap rencana Mami kemarin."
"Tapi sepertinya kita perlu pendapat dari mas Gilang Mi. Siapa tahu, dia ada pandangan yang lebih baik untuk pesta pernikahan kami."
Cilla tidak mau mengambil keputusan sendiri, untuk pesta pernikahan mereka nanti. Dia juga butuh bantuan Gilang, agar semuanya bisa menjadi lebih baik lebih lagi, dari pada hanya salah satu saja yang tahu.
"Baiklah, nanti kita tanya pada Gilang, begitu dia turun bersama dengan Aji. Tadi, mereka berdua sedang berada di ruang kantor Gilang, di lantai dua."
"Apa perlu Aku panggil mereka?" tanya Cilla pada mami Rossa.
Tiba-tiba, dari arah tangga, muncul Gilang dan juga Aji. Gilang mendengar perkataan Cilla, tapi tidak tahu siapa yang dimaksudkan.
"Panjang umur dia. Baru juga dibicarakan sudah muncul saja," guman mami Rossa pelan.
Cilla mengeleng mendengar pertanyaan Gilang. Dia juga tersenyum tipis mendengar gumaman kecil mami Rossa tentang Gilang.
"Pada ngomongin siapa?" tanya Gilang lagi. Dia merasa penasaran dengan apa yang tadi dia dengar. Tapi sepertinya Cilla memang tidak mau menjawabnya.
"Siapa Mi?" tanya Gilang, beralih pada maminya, mami Rossa.
"Duduk dulu," pinta mami Rossa pada Gilang.
__ADS_1
Aji berlari kecil kepangkuan mamanya. Dia duduk dengan posisi miring menghadap ke arah omanya, mami Rossa.
"Kamu mau pesrta pernikahannya dengan konsep apa?" tanya mami Rossa pada anaknya, saat anaknya itu sudah duduk di sofa, berdampingan dengan dirinya.
"Maksud Mami?" tanya Gilang tidak mengerti.
"Pesatnya mau pake internasional, tradisional atau modern dikombinasikan tradisional?"
Mami Rossa memberitahu pada Gilang untuk memilih apa yang menurutnya sangat bagus untuk pestanya nanti.
"Bagaimana kalau Entnic atau Multikultural. Konsep ini menonjolkan budaya, tradisi, dan ciri khas daerah kita. Nanti bisa digabungkan juga dari dua atau tiga budaya Indonesia yang sudah dikombinasikan. Itu akan memberikan kesan berbeda Mi. Aku ingin pesta pernikahanku dengan Cilla, dikenang sebagai pernikahan yang unik tapi juga berkesan."
Cilla tersenyum senang mendengar usulan dari Gilang. Itu juga yang tadi dia usulkan pada mami Rossa.
"Sepertinya kalian berdua mempunyai selera yang sama juga ya. Baiklah, besok kita ke kantor EO saja untuk mengubah yang kemarin Mami minta. Lagipula, masih ada waktu yang cukup lumayan juga."
"Iya Mi," jawab Cilla dengan tersenyum.
"Kamu Gilang, bisa ikut? Siapa tahu bisa langsung mengukur baju juga," tanya mami Rossa pada Gilang.
"Sepertinya tidak bisa Mi. Aku ada pertemuan dengan beberapa klienku besok pagi jam sepuluh."
"Kalau begitu siang saja Oma berangkatnya. Papa bisa menyusul, langsung dari kantor," kata Aji memberikan usulan juga.
"Oh iya bener. Wah, ternyata Aji banyak ide ya," kata mami Rossa bangga pada cucunya itu.
"Kamu ada acara lagi tidak siangnya?" tanya mami Rossa lagi, pada Gilang.
"Sepertinya tidak Mi. Jika ada, besok, begitu sampai kantor, Aku akan kasih kabar ke rumah. Atau Aku akan minta pada sekretaris untuk mengatur ulang agenda yang ada siangnya."
__ADS_1
Mami Rossa mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh anaknya, Gilang. Dia mau, semuanya bisa berjalan dengan baik dan tidak ada kekurangan. "Semoga, semua berjalan lancar sampai hari H nanti," kata mami Rossa penuh harap.