
Malam telah berganti dengan pagi. Semua orang, kembali lagi dengan kesibukan masing-masing.
Begitu juga dengan Gilang. Dia sudah sibuk sedari pagi sebelum berangkat ke kantor. Dia mengecek segala sesuatu yang akan dia bawa nantinya.
"Mi. Jadi kan, ke kantor EO untuk fitting baju sore?" tanya Gilang, pada mami Rossa yang sedang melintas dari arah dapur.
"Jadi dong. Kamu kan sekalian pulang saja. Jadi tidak mondar mandir gitu. Mami juga masih merasa khawatir, dengan keselamatan keluarga kita Gilang. Mami takut, jika kejadian kemarin itu, akan kembali terulang. Apalagi waktu wedding Kamu ini semakin dekat. Mami tidak mau, jika terjadi sesuatu pada kita semua, terutama untuk Kamu, Cilla dan juga Aji."
"Iya Mi. Kita memang harus tetap berhati-hati dan juga waspada Mi. Gilang akan memperketat penjagaan terhadap rumah ini. Nanti, akan ada pemasangan cctv di beberapa tempat, untuk menambah pengamanan," kata Gilang memberitahu maminya.
"Pagi apa siang? Takutnya datang sore, Kita sudah tidak ada di rumah," tanya mami Rossa.
"Pagi... ya agak siangan dikit lah Mi," jawab Gilang memberitahu.
"Nanti Mami bisa minta pada teknisi, untuk memasang cctv itu, dimana yang sekiranya strategis atau rawan untuk orang-orang yang mau berbuat tidak baik," lanjut Gilang memberitahu maminya.
"Baiklah kalau begitu. Mami akan minta di seluruh tempat yang sekiranya bisa dipakai untuk jalan keluar masuk agar mudah mengontrolnya. CCTV yang ada di depan gerbang dan pokok-pokok rumah kita perlu diganti juga tidak?" tanya mami Rossa.
"Minta cek saja Mi. Kalau masih bagus tidak perlu diganti, kalau sekiranya sudah ada yang tidak berfungsi, minta ganti yang baru saja," jawab Gilang datar.
"Ok..."
"Papa sudah mau berangkat?"
Dari arah belakang, muncul Aji dan juga Cilla yang sudah selesai mandi. Mereka berdua, menuju ke tempat duduknya Gilang dan mami Rossa yang ada di ruang tengah.
"Iya Sayang. Ini nyicil periksa laporan, yang akan dikirim kantor ke dinas pemerintah nanti. Biasa, soal pajak. Papa tidak mau mengulur-ulur waktu untuk pembayaran pajak. Bisa-bisa numpuk malah jadi beban perusahaan," jawab Gilang menjelaskan.
__ADS_1
Semua orang yang ada, mengangguk mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Gilang. Membayar pajak tepat waktu, mencerminkan kedisiplinan yang harus dilestarikan, agar tidak menjadi beban juga untuk semua, terutama untuk diri kita sendiri.
"Sayang. Sudah lebih baik?" tanya Gilang pada Aji. Kini Aji mendekat ke arahnya. Gilang menyudahi pekerjaannya, kemudian meminta Aji untuk duduk di pangkuannya, "Sini!" kata Gilang dengan menepuk-nepuk kakinya.
Aji menurut. Dia duduk di pangkuan papanya. Setelah itu, Gilang bertanya pada Aji, "Aji ikut kak fitting baju nanti sore?"
"Ya Pa. Aji ikut," jawab Aji cepat.
"Aji seneng gak? Seminggu ini ada di rumah saja, bosen juga ya?" tanya Gilang pada Aji. Dia ingin tahu apa yang dirasakan anaknya itu. Apalagi dengan tingkahnya yang semalam, terlihat aneh dan tidak biasa.
"Tidak. Aji hanya bosan, karena tidak bisa melakukan apa-apa," jawab Aji dengan wajah masam.
"Dia minta balik ke kegiatan yang dulu. Kayanya jualan dia itu mengasikkan. Bisa mencari tahu apa yang disukai orang-orang, terutama untuk orang luar. Dia juga jadi bisa belajar mencari tahu, kerajinan dan ciri khas apa yang ada di Indonesia ini." Cilla menerangkan tentang apa yang Aji rasakan. Itulah yang Aji katakan semalam.
"Tapi bagaimana dengan mata Kamu?" tanya Gilang pada Aji.
Aji merengek pada papanya. Itu bermula dari dilarangnya Aji bermain handphone dan laptop, setelah terjadinya kecelakaan kemarin itu.
"Iya sudah. Kalau kepalanya sudah tidak ada keluhan, dan lukanya juga sudah kering, Aji boleh main seperti biasanya."
Akhirnya, Gilang mengalah dengan keinginan anaknya itu. Dia juga tahu, bagaimana keseharian Aji, jika tidak memegang handphonen atau pun laptopnya. Pasti sangat membosankan, apalagi sedari dulu, Aji memang tidak bisa dipisahkan dengan kedua barang elektronik tersebut.
*****
Sekitar jam setengah sepuluh, orang-orang teknisi, yang akan memasang cctv datang. Mereka meminta pada mami Rossa, untuk menunjukkan beberapa tempat yang dirasa perlu untuk pemasangan cctv tersebut.
"Selain semua tempat yang sudah terpasang cctv, samping rumah belum ada. Di bagian belakang, taman dan kolam ikan juga belum ada. Mungkin itu penting juga. Siapa tahu, ada penyusup yang bisa saja bersembunyi di sana."
__ADS_1
Mami Rossa, mengatakan pikirannya, yang dia rasa itu bisa terjadi. Tapi berbeda dengan Aji, yang tanpa sengaja, mendengar percakapan mereka, mempunyai pikiran yang berbeda.
"Oma. Kalau Aji boleh usul, dapur juga dipasang ya Oma!" kata Aji memberitahu dari tempatnya duduk.
"Dapur, buat apa Sayang? Dapur kan ada di bagian dalam rumah, tidak mungkin ada penyusup yang bisa masuk tanpa harus melalui jalan depan atau belakang kan?" tanya mami Rossa bingung dengan permintaan Aji.
"Itukan kalau orangnya dari luar. Kalau ternyata orangnya adalah orang dalam?" tanya Aji memberikan alasan.
Mami Rossa dan orang-orang teknisi, saling pandang. Tentunya, orang-orang itu, tidak pernah berpikir, jika anak sekecil Aji, bisa memiliki pemikiran yang tidak biasa.
"Benar juga Sayang. Selama ini, Oma tidak pernah merasa curiga pada semua orang yang bekerja di rumah ini. Oma selalu percaya dengan mereka semua."
Sekarang, mami Rossa menjadi berpikir, jika mungkin saja, apa yang dikatakan oleh cucunya itu ada benarnya.
"Baiklah. Bagian dapur pasang juga ya Mas," kata mami Rossa pada orang teknisi cctv.
"Baik Nyonya," jawab mereka semua serempak.
******
"Sayang. Kenapa Kamu punya pemikiran, jika ada orang dalam rumah ini yang menjadi penyusup?" tanya Cilla. Tadi, dia secara tidak sengaja, mendengar perbincangan antara Aji, bersama dengan mami Rossa dan orang-orang teknisi cctv.
"Tidak tahu Ma. Tadi hanya berpikir spontan saja. Mungkin ada kan, kayak yang di film-film Hollywood?" tanya Aji pada mamanya, dan menyebutkan beberapa judul film laga yang dia suka.
"Kamu selalu berpikir jika ini film-film luar yang menegangkan itu. Tapi yah... meskipun itu bisa saja benar adanya," kata Cilla, menanggapi pemikiran Aji yang memang lebih suka melihat film-film laga, terutama yang berkaitan dengan kasus-kasus detektif.
"Kan bisa jadi Ma. Kata orang-orang yang sering berseliweran di berita mengatakan, jika kejahatan itu terjadi bukan karena orang luar saja, tapi bisa jadi dia adalah orang yang paling dekat dengan kita. Karena itu, kita harus tetap waspada terhadap segala sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa."
__ADS_1
Cilla mengangguk mengerti, dengan apa yang sedang diterangkan oleh Aji, anaknya. Dia jadi berpikir, kadang-kadang kejahatan memang ada yang berasal dari keluarga kita sendiri, orang yang paling dekat, dan tahu banyak tentang keadaan kita. Dan Cilla sudah pernah mengalaminya, dan itu dari ibu tirinya, Dian Anita.