
Kegiatan kunjungan ke rumah panti asuhan, berjalan dengan baik dan juga seperti yang diinginkan oleh mami Rossa.
Mobil yang tadi mengangkut barang-barang, sudah kembali ke rumah terlebih dahulu. Sedangkan mobil yang mereka tumpangi harus pergi ke apartemen, untuk mengantar Cilla dan Aji terlebih dahulu.
Tapi saat ada di tengah perjalanan, mami Rossa berubah pikiran. Dia meminta pak supir untuk langsung pulang ke rumah saja.
"Kita pulang ke rumah saja dulu Pak!" Mami Rossa memberikan perintahnya.
"Lho Mi?" tanya Gilang bingung.
Tadi jika menurut rencana awal, mereka akan mengantar Aji dan juga Cilla me apartemen, kemudian mereka, Gilang dan mami Rossa, pulang ke rumah. Tapi kebiasaan mami Rossa selalu saja ada yang berubah secara mendakak.
"Tidak apa-apa. Tadi mami juga bawa kok beberapa baju Aji dan Cilla. Ada di dalam tas yang mami persiapan pagi tadi," jawab mami Rossa enteng.
Gilang mengelengkan kepalanya melihat tingkah maminya itu. Selalu ada saja yang dia lakukan tapi tidak sesuai rencana sebelumnya.
"Aji dan Cilla mau ya ikut tidur di rumah? Ada banyak kamar kok! Jadi tidak perlu khawatir jika Gilang akan nyusul. Hehehe..."
"Mami apaan sih!" Gilang mengerutu dengan perkataan maminya yang asal bicara.
"Tapi Mi..." Cilla tidak meneruskan kata-katanya.
"Tidak apa-apa Ma. Aji juga sudah capek," kata Aji mencegah mamanya untuk menolak ajakan mami Rossa.
"Tuh... Aji saja setuju," kata mami Rossa senang dengan persetujuan cucunya itu.
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi menuju jalan ke rumah dan bukan ke arah apartemen.
"Maaf ya. Mami ajak kalian berdua nginep di rumah itu karena mami khawatir. Siapa tahu ada orang yang ingin datang ke apartemen. Saat meminta akses masuk dan kalian tidak tahu siapa dia asal kasi, takutnya mami kejadian yang dulu terulang lagi. Mami benar-benar merasa takut!"
"Iya Mi. Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan keselamatan dan keadaan kami."
__ADS_1
Cilla berkata dengan nada haru saat mendengar penjelasan mami Rossa. Tapi berbeda dengan Aji, dia melihat ke arah mami Rossa dengan mengedipkan sebelah matanya untuk memberikan tanda bahwa rencana mereka berdua sedang berjalan.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian, mobil mereka memasuki gerbang otomatis sebuah rumah besar dan mewah. Security yang berjaga segera berlari dan menghampiri mobil itu.
"Sore Nyonya. Tadi ada dokter Hendrawan datang. Katanya, pagi dia sudah datang ke apartemen, tapi ternyata Nyonya sudah pergi. Dokter Hendrawan kemudian kemari, menyangka Nyonya pulang tapi ternyata tidak ada juga. Dia berpesan minta waktunya karena ingin bertemu dengan Nyonya dan tuan muda."
Security rumah melaporkan kepada mami Rossa tentang pesan dari dokter Hendrawan yang masih saja berusaha untuk mendapatkan maaf agar mendapatkan keringanan hukuman untuk anak-anaknya.
"Oh begitu ya..."
Mami Rossa menganguk mengerti. Memang sedari tadi, handphonenya terus bergetar menandakan adanya notif pesan dari dokter Hendrawan. Tapi mami Rossa memang sengaja tidak menghiraukannya.
"Baiklah, nanti biar Saya yang hubungi."
Akhirnya mami Rossa mengalah untuk menerima pesan dari dokter keluarganya itu, dokter Hendrawan.
Setelah selesai, mobil kembali melaju, mendekat ke arah teras depan rumah agar lebih dekat dan tidak berjalan terlalu jauh dari pintu gerbang.
"Ayuk turun Sayang. Cilla!"
"Sini Papa gedong!"
Gilang yang sadar jika Aji dalam keadaan mengantuk saat ini, segera mengambil alih Aji agar dia bisa menggendongnya. Dia ingin kembali dekat dengan anaknya, Aji. Gilang tidak mau melakukan kesalahan lagi seperti di resto saat makan siang, marah karena cemburu pada tuan Adi.
Aji menurut saat Gilang mengendongnya. Cilla membawa tas kecil miliknya yang berisi obat-obatan milik Aji dan Gilang tadi. Ada juga lembaran hasil tes DNA dari rumah sakit.
Pak supir membawa tas, yang tadi pagi dipersiapkan oleh mami Rossa dari apartemen. Dia membawanya ke dalam dan bertanya pada mami Rossa, "Nyonya. Tas ini mau ditaruh di mana?"
Mami Rossa yang berjalan beriringan dengan Gilang, yang sedang mengendong Aji, menjawab pertanyaan dari supirnya itu, "Taruh di kamar tamu ya Pak. Itu barang-barang milik Aji dan Cilla kok!"
Gilang mengeryit bingung dengan jawaban maminya. Dia tadi pagi mendengar, jika isi tas itu adalah beberapa baju miliknya sendiri, kenapa sekarang jadi milik Aji dan Cilla? Apa yang sebenarnya maminya rencanakan dengan semua ini?
__ADS_1
"Mi?" tanya Gilang tanpa pertanyaan yang jelas.
"Sudah. Kau akan tahu nanti," jawab mami Rossa mengerti arah Pertanyaan anaknya itu.
Gilang tidak lagi bertanya. Dia hanya menghela nafas panjang dan kembali berjalan menuju ke arah kamar tamu. Kini Aji sudah tertidur di gendongannya, jadi dia harus menidurkan Aji dengan nyaman agar tidak kembali terbangun.
"Cilla. Sementara waktu, kamu dan Aji, tidurnya di kamar tamu. Tadi sudah dipersiapkan oleh bibi kok. Di sana kamarnya!"
Mami Rossa menunjuk ke arah kamar tamu yang tidak jauh dari tempat duduknya di ruang tengah.
Cilla hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. Tapi, Cilla yang tahu jika Gilang sedang berada di kamar tamu, tidak jadi masuk dan akhirnya duduk bersama dengan mami Rossa di ruang tengah. Dia membuka tas dan mengeluarkan obat milik Gilang.
"Ini obatnya tuan muda Mi," kata Cilla dengan menyerahkan bungkusan obat milik Gilang.
"Simpan saja sama kamu Cilla. Mami itu pelupa. nanti kalau waktunya dia minum dan mami lupa malah jadi tidak baik. Kamu yang ingatkan dia ya!"
Mami Rossa menolak obat milik Gilang yang di padanya. Dia menyerahkan semua urusan obat Gilang pada Cilla, begitu juga dengan jadwal minumnya.
Cilla menggigit bibirnya menahan gugup. Dia tidak tahu harus berkata apa anti jika mau mengingatkan Gilang saat minum obat.
"Sudah tidak apa-apa," kata mami Rossa menepuk lengan Cilla beberapa kali.
Tak lama, Gilang muncul dari dalam kamar tamu. Dia sudah berhasil menidurkan Aji, anaknya, dengan pulas. Kini dia ikut duduk dan menyadarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Huhfff... Capek juga ya hari ini," katanya melepas lelah.
"Oh ya. Besok Mami mulai suka Cilla ke dokter ya. Besok mungkin kita juga akan menuai dokter Hendrawan agar dia tidak lagi berusaha mencari-cari kita sepanjang waktu. Kasihan juga dia."
Mami Rossa mengatakan semua rencana untuk hari esok. Gilang hanya mengangkat samar, sedang Cilla mengangguk dengan ragu.
"Tuan. Tadi belum minum obat. Ini!"
__ADS_1
Cilla menyerahkan bungkusan obat milik Gilang ajar bisa diminum. Gilang tidak segera menerima bingkisan obat tersebut tapi memincing heran melihat ke arah Cilla.
"Tapi panggil apa?" tanya Gilang ingin tahu.