Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Baru Sadar


__ADS_3

Di suatu tempat, dimana Elisa dan Rio berada sekarang ini.


"Eghh," Elisa tampak mengeliat, mencoba merenggangkan kedua tangan yang terasa sangat pegal. Tapi ternyata tidak bisa, "Apa ini?" tanya Elisa kaget, saat sadar jika kedua tangannya, terikat menjadi satu di depan dadanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Elisa dengan wajah cemas. Dia melihat ke segala arah dengan cepat. "Rio!" panggil Elisa, saat menemukan tubuh Rio yang tergeletak di lantai, sedang dia sendiri ada di atas tempat tidur.


Rio, diam dan tidak menyahut panggilan Elisa. Dia seperti orang yang sedang pingsan.


"Rio, Rio, Kamu tidak apa-apa kan?"


Elisa, berusaha untuk turun dari tempat tidur. Dia dengan susah payah, akhirnya bisa sampai juga di samping Rio yang sedang terbaring meringkuk di lantai.


"Rio, Kamu tidak apa-apa kan? ayo bangun, cepat! apa yang terjadi dengan kita?" Elisa berusaha untuk membangunkan Rio, dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Elisa, mengunakan kedua tangannya yang terikat menjadi satu. Dia agak kesusahan juga.


"Kayaknya dia pingsan. Ada di mana sih ini?" tanya Elisa panik, karena dia juga melihat pelipis Rio yang berdarah. Mungkin tadi sempat melakukan perlawanan terhadap orang yang menyekap mereka berdua. "Ya mereka, siapa mereka?" sambung Elisa, bertanya untuk dirinya sendiri. Tapi, dia tetap tidak bisa menemukan jawabannya.


Kamar yang dia lihat saat ini, terkesan mewah, seperti layaknya sebuah kamar hotel.


Elisa membelalakkan matanya, saat sadar, jika ini benar-benar kamar hotel. "Di mana ini?" tanya Elisa, dengan meneliti semua bagian sudut kamar.


Saat sedang mencari sesuatu, yang bisa di pakai untuk menghubungi seseorang untuk mencari bantuan, dia tidak melihat tas miliknya dan juga Rio. Ada sebuah kertas memo yang diletakkan di atas meja, dengan kunci kamar yang berbentuk kartu.


SELAMAT BERSENANG-SENANG


Elisa mengerutkan keningnya bingung dengan tulisan memo yang dia baca.


"Apa maksudnya ini?" tanya Elisa, tidak mengerti arti dari kalimat yang dituliskan di memo tersebut.


Di dekat memo, ada telpon meja. Elisa berpikir, jika telpon ini bisa digunakan untuk menghubungi resepsionis. Elisa berusaha melepaskan ikatan tangan yang membuatnya susah, untuk menekan tombol-tombol telpon tersebut.


Hampir setengah jam, Elisa baru bisa melepaskan diri dari ikatan tangan tersebut. Dengan cepat, dia menelpon resepsionis hotel, untuk meminta bantuan. Dengan melihat kunci yang ada, dia menyebut nomer kamar, tempatnya berada saat ini.


..."Halo, dengan resepsionis hotel ****"...

__ADS_1


..."Halo, kami sedang berada di kamar nomer dua tujuh. Kami ada masalah, bisa minta bantuan segera?"...


..."Oh, ya ada apa?"...


..."Saya di sekap, tidak tahu siapa. Dan sekarang, satu teman Saya sedang pingsan!"...


..."Baik. Kami segera datang."...


Elisa menutup sambungan teleponnya, kemudian mengambil kunci pintu kamar. Dia melangkah menuju pintu, untuk membukanya. Dia ingin tahu, sebenarnya ada di mana sekarang ini.


"Selamat malam. Apa Anda yang tadi menelpon ke bagian resepsionis?" tanya seorang Security yang datang bersama petugas hotel.


"Ya. Saya Elisa. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba, waktu Saya terbangun, tangan sudah terikat dan satu teman Saya yang lain pingsan. Pelipisnya juga terluka," jawab Elisa memberitahu.


"Silahkan diperiksa Pak!" petugas hotel, mengajak Security untuk masuk, dan memeriksa kondisi di dalam kamar hotel.


"Bagaimana anda bisa datang ke hotel ini dengan keadaan tidak sadar, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Security tersebut, sambil memeriksa Rio.


"Saya tidak tahu Pak. Saya terbangun dan sudah dalam keadaan, seperti yang Saya ceritakan tadi," jawab Elisa dengan wajah cemas.


"Benarkah?" tanya Elisa, sambil meraba keningnya.


"Auhh..." Elisa meringis, saat merasakan nyeri di keningnya.


Akhirnya, Elisa dan Rio, di bawa ke rumah sakit terdekat.


"Bisakah Anda melihat CCTV hotel? Nanti Saya akan melaporkan kejadian ini ke kantor polisi. Saya ingin, ada bukti yang memperlihatkan, siapa yang membawa kami ke hotel itu."


"Baik. Kami akan memeriksakannya nanti."


Petugas hotel dan Security yang membawa Elisa dengan Rio ke rumah sakit, berjanji akan memeriksa tangkapan kamera cctv hotel. Mereka juga akan membantu, melaporkan kasus ini dengan ke kantor polisi.


"Saya akan menunggu, sampai teman Anda itu sadar. Biar Security yang kembali ke hotel, untuk memeriksanya," kata petugas hotel, membagi tugas.

__ADS_1


"Pak. Kembali ke hotel, dan periksa cctv. Tolong rekamannya, di bawa ke sini, untuk bukti laporan ke kantor polisi nanti."


Security hotel, mengangguk mengiyakan. Dia segera berangkat kembali ke hotel.


"Apa ada yang hilang Mbak?" tanya pegawai hotel, saat menunggu Rio yang sedang diperiksa.


Elisa, yang sudah selesai di tangani, untuk luka memar di keningnya, menjawab pertanyaan dari pegawai hotel tersebut, menurut yang dia ingat saat itu.


*****


Pagi, Rio datang ke kost Elisa, untuk menjemput dirinya yang akan pergi bersama-sama ke rumah Jeny. Mereka akan menghadiri acara pernikahan Jeny, dari rumah Jeny, karena gaun dan jas seragam untuk mereka, ikut dibuatkan juga, sama dengan yang dipakai oleh keluarga Jeny, sebagai mempelainya.


"Buru El. Nanti Jeny ngamuk, kalau kita telat." Rio, memeringatkan Elisa.


"Halah. Jeny kan udah di bawa ke gedung, dia dirias di sana. Kita akan dirias dari rumah," jawab Elisa membatah Rio. Dia keluar dengan pakaian yang dikenakan, seperti hari-hari biasanya.


"Kamu gak pakai gaun, buat latihan gitu? biar nanti gak kesrimpet!" tanya Rio, saat melihat penampilan Elisa yang memakai pakaian seperti biasanya. Celana jeans dan kemeja lengan panjang, yang di gulung sampai siku.


"Halah, liat saja nanti. Kamu pikir Aku tidak bisa memakai gaun cewek dan hak tinggi," jawab Elisa, dengan mencibir pertanyaan dari Rio.


"Gak yakin sih. Soalnya, selama Aku kenal Kamu, tidak pernah lihat pakai baju cewek. Rok misalnya."


Rio, keraguan jawaban yang diberikan oleh Elisa. Dia memang tidak pernah melihat Elisa memakai pakaian yang feminim. Selalu saja celana jeans dan kemeja atau kadang kaos berkerah. Sepatu juga tidak pernah terlihat memakai yang berhak tinggi, tapi sepatu sport atau boot.


"Awas saja kalau lihat dan tidak bisa berkedip nantinya," tantang Elisa, dengan tersenyum miring. Dia berjalan mendahului Rio, menuju ke mobil.


Rio, berjalan setengah berlari, mengejar Elisa. "Iyalah. Aku penasaran, kayak apa Kamu kalau memakai pakaian wanita normal," sahut Rio, dengan membukukan pintu mobil untuk Elisa.


"Ah sial! Kamu pikir Aku gak normal? aneh," kata Elisa cemberut, kemudian masuk ke dalam mobil.


Rio memutar, kemudian masuk ke belakang kemudi.


"Awas kalau nanti jatuh. Aku akan bikin video, untuk merekam kejadian itu. Hahaha..." Rio terbahak-bahak, membayangkan jika Elisa jatuh, karena sepatu hak tingginya menginjak gaun yang dia pakai sendiri.

__ADS_1


Elisa hanya mendengus kesal, karena merasa di sepelekan oleh Rio.


Rio, sudah menjalankan mobilnya dengan tenang, tanpa merasa curiga, jika ada sebuah mobil yang sedang membuntuti dirinya sedari tadi, saat baru saja datang ke tempat Elisa.


__ADS_2