
Papa Gilang, yang hampir saja masuk ke ruang metting, mengehentikan langkahnya terlebih dahulu, sebab handphone yang ada di saku celananya bergetar, tanda ada panggilan masuk.
..."Halo Mas!"...
..."Ya Honey, ada apa? Aku baru mau masuk ruang meeting."...
..."Mas. Aji dan Elisa mas. Mereka... mereka berdua sudah... sudah, ah...! pokoknya kita harus segera menikahkan mereka berdua Mas. Aku tidak mau jika sejarah kita akan terulang pada anak cucu kita nanti. Hiks... hiks!"...
..."Lho, ada apa, kok nangis? atau ceritanya nanti siang saja ya. Papa usahakan untuk bisa pulang selesai meeting ini. Kita bicara di rumah. Ok Honey? Kamu yang tenang dulu ya!"...
..."Tapi Mas. Aku, aku jadi kepikiran ini. Takutnya, Elisa akan kabur dan tidak bisa ditemukan lagi."...
..."Eh, kenapa begitu? kalau bisa, usahakan menahannya untuk tetap berada di rumah saja. Kamu paham kan Honey, apa yang Aku katakan?"...
..."Ya Mas. Nanti akan Aku usahakan, agar Elisa tetap berada di rumah, atau jika pergi bersama dengan Jeny, Aji akan ikut mengawal mereka berdua."...
..."Nah, begitu lebih baik. Papa metting dulu ya, pokoknya, Kamu harus tenang dan jangan banyak kepikiran yang bukan-bukan."...
..."Iya Mas."...
Sambungan telepon terputus. Papa Gilang, berjalan dengan tergesa menuju ke ruang meeting, sebab yang lain pasti sedang menunggu kedatangannya.
Sebelum membuka pintu ruangan metting, papa Gilang mengambil nafas panjang terlebih dahulu, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Membuang rasa sesak di dalam dada, yang tiba-tiba datang begitu saja, saat tadi istrinya memberikan kabar tentang anak mereka, Aji.
Ternyata, dalam diamnya yang terlihat seperti tidak peduli, papa Gilang yang seorang pengusaha dan pemilik perusahaan besar, tetaplah orang tua dan juga seorang papa di rumah, yang selalu memikirkan bagaimana kehidupan keluarga, terutama anak-anaknya, dan juga masa depan mereka semua.
*****
"Ma. Jeny pergi ke kampus dulu," pamit Jeny, pada mama Cilla.
"Sendiri apa sama Elisa?" tanya mama Cilla, sebab, dia tidak melihat keberadaan Elisa sekarang ini.
__ADS_1
"Sama Elisa Ma. Tadi sudah janjian sama Rio. Kasian dia, ikut kepikiran kan selama dua mingguan ini. Mencari-cari Elisa dan tidak ketemu juga. Semalam sudah Jeny kasi pesan kalau Elisa ada di rumah. Tapi dia baru baca pagi tadi, semalam sudah tidur dia."
"Jangan bawa mobil sendiri ya, biar nanti di antar sama kakak Kamu saja. Oh ya, Elisa_nya mana?" tanya mama Cilla, sambil melihat ke sekeliling, mencari keberadaan Elisa yang tidak terlihat.
"Elisa masih di kamar Ma. Dia baru saja selesai mandi. Dia kan tidak ada baju ganti, jadi tadi Jeny suruh pilih saja sendiri baju-baju punya Jeny. Dia juga tubuhnya kan kecil Ma, gak kayak Jeny."
"Eh Jen. Elisa belum punya pacar kan di kampus? maksud Mama, pokoknya dia belum punya pacar kan?" tanya mama Cilla pelan-pelan, ingin tahu lebih banyak tentang Elisa.
"Setahu Jeny tidak punya Ma. Kalau yang mau jadiin dua pacar sih banyak Ma, termasuk si Rio, tapi Elisa tidak pernah menangapi. Kalau saja Rio, dia bilang nyaman jadi sahabat saja katanya."
"Berarti belum punya kan?" tanya mama Cilla lagi, menegaskan.
"Iya belum. Tapi dia pernah bilang, kalau dia itu suka dan juga cinta sama Kakak. Bahkan sebelum ketemu sama Kakak secara langsung. Cuma melalui foto yang pernah Jeny kasih lihat ke dia, sama dari cerita-cerita Jeny. Tapi, Jeny tidak percaya, masa iya ada cinta kayak gitu."
"Eh, begitu ya," kata mama Cilla dengan tersenyum, dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau misalnya, kita jodihin saja kakak Kamu itu dengan Elisa bagaimana?" tanya mama Cilla, meminta pendapat pada Jeny.
"Iya begitulah," kata mama Cilla, tidak bisa menjelaskan maksud dan keinginannya itu.
Di tempat yang tidak jauh, dari tempatnya mama Cilla dan Jeny berbincang, Aji mendengar semua perkataan mereka berdua. Tapi, Aji hanya diam dan tidak menyahutinya.
"Jen. Sudah siap nih, yuk?" ajak Elisa, dengan tersenyum cerah.
"Wah, pas gitu bajuku, di badan Kamu El? terlihat bagus, kayaknya baju itu memang nunggu, supaya Kamu yang pakai deh," komentar Jeny, saat melihat penampilan Elisa.
"Maksudnya Jen?" tanya Elisa, bingung dengan perkataan Jeny.
"Iya baju Aku ini lah El, padahal Aku belum pernah pakai lho. Baju ini hadiah dari kakak waktu aku ulang tahun ke lima belas dan ternyata ukurannya, kekecilan untuk tubuhku. Tapi Aku suka dan sayang karena di kasi kak Aji. Makanya masih Aku simpan terus. syukurlah kalau bisa Kamu pakai. Ihhh, seneng Aku lihatnya."
Jeny, melihat Elisa dengan antusias dan merasa senang. Tapi itu berbeda dengan Elisa Dia merasa tidak nyaman dan bersalah, karena memakai baju kesayangan Jeny. "Maaf Jen. Aku tidak tahu. Aku hanya mencari yang pas untuk badanku saja tadi," kata Elisa meminta maaf pada Jeny.
__ADS_1
"Eh gak perlu merasa bersalah gitu. Kenapa harus minta maaf juga? justru Aku seneng lihatnya. Kamu jadi terlihat sangat cantik memakai baju itu, tidak berpenampilan asal seperti biasanya," jawab Jeny mengeleng.
"Hah. Jadi maksudnya, Aku selama ini jelek!"
"Iya. Hahaha..." Jeny tertawa-tawa, senang mendengar jawaban sendiri. Apalagi, Elisa jadi cemberut setelahnya.
Mama Cilla, hanya tersenyum dan menggeleng-ngelengkan kepalanya, melihat tingkah anaknya dan temannya itu.
Dari tempatnya sembunyi, Aji hanya bisa tersenyum melihat ketiga wanita beda usia yang sama-sama dia sayangi, meskipun yang satunya tidak ada hubungan darah dengannya.
"Kalian mau berangkat ke kampus sekarang?" tanya mama Cilla, mengingatkan keduanya. Jeny dan Elisa.
"Oh iya Ma. Sampai lupa," jawab Jeny dengan tersenyum.
"Mama panggil kakak Kamu dulu ya," kata mama Cilla, kemudian berdiri untuk memanggil Aji, agar mengantar Jeny dan Elisa ke kampusnya.
"Ada apa Ma?"
Tiba-tiba, Aji sudah datang, tidak tahu dari mana arahnya tadi.
"Ini, tolong antar mereka ke kampus ya. Pastikan, mereka berdua ke kampus dan tunggui juga. Kalau sudah waktunya untuk pulang, langsung pulang."
"Ma..." protes Jeny.
"Tidak ada bantahan. Ini perintah dari papa langsung," kata mama Cilla, mengunakan nama suaminya, untuk menegaskan perintahnya kali ini.
Padahal tadi, Jeny dan Elisa berencana untuk pergi ke Mall bersama. Ada beberapa barang yang ingin dia beli untuk persiapan pestanya besok. Mereka berdua, juga ingin bermain-main layaknya gadis bebas yang lainnya.
"Siap Ma!" kata Aji dengan mengedip-ngedipkan matanya.
Elisa, hanya bisa meringis sambil tersenyum canggung. Dia tidak tahu, harus berkata apa karena merasa bukan wilayah kekuasaannya di rumah ini.
__ADS_1
"Di kawal kak Aji sih seneng-seneng saja. Tapi, rencana kaburku, jadi tidak bisa terlaksana ini. Kalau cuma Jeny sih gampang, Aku bisa beralasan apa saja. Lah ini dengan kak Aji, mana mungkin!" Elisa, berpikir dan bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.