Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Lihat Secara Positif


__ADS_3

Elisa menyerahkan handphone milik Jeny. Dia pura-pura tidak tahu jika ada pesan yang sudah masuk. Dia tidak ingin mengacaukan pikiran dan hati Jeny juga. Biarlah Jeny tahu dengan sendirinya. Sebentar lagi juga Jeny akan membuka handphone tersebut, jadi tanpa Elisa bicara, Jeny pasti akan tahu dari pesan tersebut.


"Terima kasih El," kata Jeny, kemudian mengambil handphone tersebut dan kembali ke dalam kamarnya.


"Aku juga mau menidurkan Ka Singh ke kamar. Sepertinya dia sudah nyenyak," kata Elisa seorang diri, saat melihat anaknya yang sedang tertidur pulas di pangkuannya.


Elisa bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah kamar.


"Non El, mau dimasakin apa untuk nanti siang?" tanya bibi pembantu, menanyakan tentang menu makan siang yang diinginkan oleh Elisa.


"Emhhh, apa ya Bi? yang simple saja sih, tapi seger gitu di makan pas siang hari," jawab Elisa bingung.


Sebenarnya, dia ingin makan apa saja yang sudah lama tidak dia nikmati saat berada di India. Tapi itu terlalu banyak jenisnya, karena saat berada di India, dia memang jarang makan makanan Indonesia.


"Sayur bening saja Bi, sama penyet tempe atau lele goreng. Nyam... sepertinya enak itu Bi," lanjut Elisa dengan mata berbinar-binar senang. Doa sudah membayangkan makan dengan semua menu yang dia sebutkan saat tadi.


"Eh Non Elisa kan masih menyusui, jangan makan makanan pedas dulu. Meskipun kata dokter tidak berpengaruh, tetap saja ya, makan makanan yang Non makan itu akan jadi intinya ASI, jadi den Ka Singh sama saja makan pedas, dan itu tidak baik untuk perutnya, apalagi pencernaannya masih belum bisa menerima makanan seperti itu. Nanti dia 'eeknya' kasihan. Itu kata orang-orang tua dahulu, tapi Bibi juga sudah banyak membuktikan saat punya bayi dan mengurus anak Non."


Jawaban dari bibi pembantu, membuat Elisa mengangguk paham. Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya, meskipun secara ilmiah, kata dokter tidak ada kaitannya karena ASI itu sudah ada 'saringan' sendiri. Tapi orang tua jaman dulu, pasti tidak akan bicara dengan sembarang juga.


"Baiklah Bi, masak saja. Nanti El gak akan makan sambelnya kok. Terima kasih ya Bi, sudah diingatkan," ucap Elisa dengan tersenyum, mendengar nasehat dari bibi pembantu.


"Sama-sama Non," ucap bibi pembantu juga. Dia merasa senang karena majikannya itu bisa mengerti dan tidak menyalahkan perkataannya. Dia pikir anak-anak muda seperti Elisa tidak akan percaya dengan apa yang dikatakannya tadi. Biasanya, mereka akan bisa menjawab dengan berbagai alasan dan bantahan yang dikemukakan dengan berbagai contoh dari riset dan penelitian.


"Ternyata, non El itu berbeda. Meskipun dia ibu-ibu modern jaman sekarang, dia masih mau menerima apa yang dianut oleh orang-orang jaman dulu. Tapi ini juga untuk kebaikannya dan anaknya juga." Bibi berkata sendiri, karena Elisa sudah kembali berjalan menuju ke arah kamarnya.


"El. Elisa, El!"


Bibi mendengar panggilan dari Jeny untuk Elisa. Suaranya terdengar panik dan seperti ada sesuatu yang penting.

__ADS_1


"Ada apa Non? tadi non El baru saja masuk ke dalam kamarnya," kata bibi pembantu memberitahu Jeny.


"Oh ya, terima kasih ya Bi."


Jeny tidak menjawab pertanyaan dari bibi pembantu. Dia hanya mengucapkan terima kasih, kemudian dengan cepat menyusul Elisa ke dalam kamar. Bibi jadi melihatnya dengan mata memicing karena curiga. Dia merasa penasaran, dengan tingkah Jeny yang tidak biasanya seperti itu.


"Jin Jeny kenapa ya, kok terlihat panik begitu?" tanya bibi pembantu dalam hati.


"Ah, sudahlah. Itu bukan urusanku. Lebih baik sekarang Aku pergi ke dapur dan memasak, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Non Elisa."


Akhirnya, bibi pembantu pergi ke dapur. Melanjutkan pekerjaannya sendiri, tanpa mau ikut campur dalam urusan para majikannya. Dia tidak ingin menambah kekacauan, jika ternyata itu adalah urusan yang sangat penting dan dia memang tidak tahu apa-apa.


Di kamar, Elisa baru saja meletakkan bayinya ke dalam box bayi, kemudian bermaksud untuk masuk ke dalam kamar mandi. Tapi karena ada yang mengetuk pintu kamar dengan tergesa-gesa, Elisa jadi mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Tok tok tok!


"El. Elisa, El!"


Tok tok tok!


Clek!


"Ada apa Jeny?" tanya Elisa khawatir. Dia yakin, jika Jeny datang karena ingin menunjukkan pesan yang dia terima dari handphone miliknya tadi.


"Elisa. Huhuhu..."


Jeny memeluk Elisa dengan cepat, sambil menangis. Dia juga menggeleng berkali-kali, dan Elisa paham apa maksud dari gelengan kepala Jeny sekarang.


"Kenapa?" tanya Elisa pura-pura tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Uda. Uda El, dia... dia ternyata, hiks... apa yang Kamu katakan tadi benar-benar terjadi El. Aku harus bagaimana?"


Jeny berkata bahwa suaminya, dokter Dimas sedang ada 'main' dengan salah satu perawat magang. Tentu saja perawat itu lebih muda dan menarik dibanding Jeny yang sudah menjadi ibu rumah tangga dan saat ini kondisinya juga sedang hamil lagi.


Elisa ikut memeluk Jeny dengan erat. Dia menepuk-nepuk pundak sahabatnya sekaligus adik iparnya itu. "Sabar ya Jen. Ini hanya 'permainan' yang tidak kita tahu, sejauh mana dokter Dimas menanggapinya perawat tersebut," kata Elisa, berusaha untuk menghibur Jeny. "Oh ya, Kamu tahu dari mana?" tanya Elisa, melanjutkan kata-katanya yang tadi.


"Ini ada pesan yang masuk. Tapi nomernya Aku tidak kenali. Apa mungkin ini nomernya perawat itu ya?" jawab Jeny, yang menduga-duga siapa yang mengirimkan pesan itu kepadanya.


"Jika benar itu nomernya perawat tadi, berarti dia ada kesengajaan untuk membuat kalian bertengkar dan dia akan ambil kesempatan itu. Tapi jika yang kirim orang lain, itu artinya mereka berdua, maksudku dokter Dimas dan perawat itu, hanya 'bermain-main' saja. Dan yang mengirim pesan padamu, adalah orang yang iri karena tidak mendapat kesempatan untuk 'bermain' juga dengan dokter Dimas. Ini bisa saja terjadi, secara, perawat di sana itu cantik-cantik dan persaingan pasti ada, untuk mendapat perhatian dari dokter yang spesial termasuk dokter Dimas sendiri. Kamu tahu kan, suami Kamu itu, meskipun sudah berumur, dia masih saja kayak mahasiswi semester akhir. Kok bisa ya wajahnya itu baby face, kayak di formalin saja, hehehe... eh, sekarang tugas Kami adalah,cuekin pesan tadi. Pura-pura saja tidak tahu dan tetaplah bersikap seperti biasanya pada dokter Dimas. Kalau bisa sih, semakin nempel-nempel saja, romantis gitu deh. Dan sesekali pergi ke rumah sakit kasih kejutan buat dia, biar perawat-perawat yang ganjen itu tahu, jika kalian tetap baik-baik saja dan tidak terpancing dengan segala sesuatu yang mereka ciptakan."


Elisa, menasehati Jeny dengan berbagai macam analisanya. Dia juga membuat gurauan, supaya Jeny tidak terlalu memikirkan dan juga cemas dengan pesan yang dia terima. Dia pikir, ini belumlah seberapa jauh.


"Semoga saja, dokter Dimas segera sadar, jika Kamu tetap yang terbaik untuknya." Elisa berkata lagi, memberikan semangat dan harapan serta doanya untuk Jeny.


"Iya El. Semoga saja Uda hanya khilaf saja. Ah, Aku jadi kepikiran dengan perkataan dan saran dari Kamu tadi pagi waktu berjemur. Semua ada benarnya. Aku harus mengubah penampilan meskipun sedang berbadan dua seperti sekarang ini. Banyak kan ya, orang hamil yang masih tetap bisa modis kayak artis-artis yang sering di iklan juga?"


Elisa mengangguk, mendengar perkataan dan pertanyaan dari sahabatnya itu. Dia tersenyum, melihat Jeny yang sedang bersemangat untuk membuat dirimu sendiri bahagia dan tidak terpengaruh dengan berbagai macam pesan yang dia terima tadi.


"Nanti, temani Aku ya pergi ke salon dan butik. Mau cari baju-baju hamil yang modis dan seksi. Hehehe..." kata Jeny, sambil terkekeh kecil, menyadari jika dia sekarang terlihat berbeda. Apalagi saat melihat keadaan dirinya di cermin, yang ada di kamar Elisa, memang sedikit berbeda dari dulu, saat masih lajang. Jeny dasar betul itu.


Elisa mengangguk setuju. Dia akan mendukung segala sesuatu yang akan dilakukan Jeny, untuk mempertahankan keutuhan keluarganya, begitu juga dengan penampilannya, agar tetap terlihat cantik dan menarik di mata suaminya, yaitu dokter Dimas.


"Berarti Aku tidak usah membahas masalah ini dengan uda ya El?" tanya Jeny dengan berpikir.


"Tidak usah. Anggap saja itu hanya iklan. Toh itu hanya foto yang tidak jelas. Bisa jadi itu hanya editan. Jangan terlalu dipikirkan, jika hanya untuk menambah beban pikiran dan akan berpengaruh pada janin yang ada dalam kandungan mu. Buatlah kebahagiaan Kamu sendiri Jeny, dan jika itu tidak berhasil juga, baru Kamu pertanyaan semuanya pada dokter Dimas, tentang benar atau tidak masalah tadi."


Jeny mengangguk, mendengar perkataan Elisa. Meskipun Elisa tidak berpengalaman soal cinta, tapi untuk urusan analisis persoalan keluarga, dia cukup bisa diandalkan. Apalagi, Elisa juga lulusan sarjana hukum yang mengambil tema skripsi tentang permasalahan rumah tangga, yang sering terjadi di masyarakat kita sejak dulu hingga sekarang. Baik karena adanya perbedaan pendapat, masalah ekonomi, kekerasan rumah tangga dan juga perselingkuhan. Semua masalah tadi, sering jadi topik utama untuk alasan sebuah perceraian di negara ini.


Itulah sebabnya, Jeny lebih percaya pada Elisa tentang keadaan keluarganya saat ini. Dia juga tidak ingin, mama Cilla dengan papa Gilang tahu, apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan rumah tangganya, terutama tentang dokter Dimas. Menantu mereka, yang sempat tidak disetujui oleh mama Cilla waktu itu. Biarlah mereka berdua hanya melihat dari segi kebahagiaan yang saat ini masih bisa dilihat, karena Jeny tetap ingin mempertahankan keutuhan keluarganya bersama dengan suaminya, yaitu dokter Dimas.

__ADS_1


__ADS_2