Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kepindahan Aji


__ADS_3

Dua minggu kemudian, Aji dan Elisa jadi juga pindah ke apartemen. Mereka berdua sudah menyiapkan segala sesuatunya yang harus mereka bawa.


"Elisa, sering-sering jenguk mama ke sini ya," kata mama Cilla, memberikan pesan, saat ikut mengemas barang-barang yang akan dibawa Elisa.


"Iya Ma. Nanti kalau ada waktu dan tidak sibuk dengan tugas, pasti Elisa akan datang berkunjung. Lagipula, Elisa lebih suka suasana yang rame seperti rumah ini, tapi Kak Aji ngajak tinggal di apartemen."


Aji, yang sedang mengemas barang-barang untuk alat kerjanya nanti, menoleh ke arah Elisa, yang sedang membicarakan dirinya bersama dengan mamanya, mama Cilla.


"Memangnya Kamu tidak mau juga, bisa tenang saat bersama denganku saja, hanya berdua?" tanya Aji, menantang Elisa, istrinya sendiri.


"Ihsss, Kakak..." seru Elisa dengan cemberut.


Aji, hanya tersenyum miring, mendengar panggilan Elisa yang bernada protes. Dia tahu, Elisa malu mengakui saja, jika dia juga ingin menikmati hari-hari bersama dengan Aji, berdua saja. Hanya berdua. Tapi, karena ada mama Cilla diantara mereka berdua saat ini, Elisa jadi malu dan tidak mengakui.


"Kalian ini, bisa saja," kata mama Cilla, dengan mengeleng, kemudian melanjutkan lagi kata-katanya, "Mama harap kalian bisa berbahagia selamanya. Mama juga ingin, kalian menjadi contoh untuk adik-adik kalian."


"Mama... Elisa memeluk mama Cilla, seakan-akan bukan sebagai mama mertua tapi sebagai ibunya sendiri. Ibu yang sudah lama meninggal dan sudah tidak bersamanya lagi sejak lama.


Mama Cilla, menepuk-nepuk punggung Elisa yang ada di dalam pelukannya. Dia percaya, Elisa bisa membahagiakan anaknya, Aji.


"Jangan bosan ya. Aji itu orangnya diam dan susah di tebak. Tapi, dia orang yang penuh dengan perhatian. Kamu akan bahagia jika bisa mengerti dirinya," kata mama Cilla, menasehati Elisa, sebagai istri dari anaknya, Aji.


Elisa, terisak-isak dengan rasa haru. Dia tidak menyangka, bisa mendapatkan mertua yang baik dan tidak seperti kebanyakan cerita-cerita, yang sering di bicarakan orang atau sinetron-sinetron yang ada di televisi, ataupun cerita novel kebanyakan.


"Terima kasih Ma. Mama mau menjadi mamanya Elisa, bukan sebagai mertua saja, hiks... hiks... Elisa merasa bersyukur, mendapat keluarga yang baik ini," kata Elisa di sela-sela isakannya.


Aji, yang menyaksikan semuanya itu, tersenyum melihat keakraban keduanya, mama dan juga istrinya. Dia berharap, kedepannya nanti, semua ini akan tetap sama dan tidak ada yang berubah, dari sikap dan pemikiran mereka berdua.


*****


Hari ini, Aji dan Elisa benar-benar jadi pindah ke apartemen. Mereka di antar oleh mama Cilla dan juga papa Gilang. Padahal, Aji sudah melarang kedua orang tuanya itu untuk ikut. Tapi mereka memaksa untuk bisa ikut juga.


"Kami juga ingin tidur sebentar di apartemen itu. Apartemen yang penuh dengan kenangan kita semua juga ya Aji," kata papa Gilang, pada Aji yang sedang menyetir. Mereka berempat, ada mama Cilla dan Elisa juga di dalam mobil itu.

__ADS_1


Vero dan Biyan yang juga ikut, ada di dalam mobil yang lain bersama dengan supir. Jadi nanti, mereka akan pulang lagi ke rumah dengan mobil yang sekarang di tumpangi oleh si kembar.


Elisa, hanya diam menyimak pembicaraan mereka, yang tidak dia ketahui tentang apa. Dia malah menjadi ngantuk dan menguap.


"Hemmm..."


Kamu mengantuk El? tidur saja. Nanti kalau sudah sampai, Mama akan bangunkan," kata mama Cilla menawari Elisa agar tidur saja.


"Hehehe... iya Ma."


Elisa meringis malu, karena kedapatan menguap.


"Ah, pasti Aji memintanya bergadang terus Ma tiap malam. Hahaha..." papa Gilang, tertawa-tawa senang, saat berkata demikian. Dia bermaksud untuk menggoda anak dan juga menantunya itu.


Aji, hanya tersenyum tipis melihat ke arah Elisa sekilas melalui kaca spion ada di atas kepalanya.


Berbeda dengan Aji yang menangapi dengan diam dan cuek, Elisa justru memeluk mama Cilla erat. Menyembunyikan rasa malunya itu.


"Papa ini ah," kata mama Cilla, mengeleng pada suaminya, agar tidak lagi menggoda Elisa.


"Papa... apa sih ah, sudah-sudah!" mama Cilla, ikut merasa malu, mendengar perkataan suaminya sendiri. Dia sampai mengelengkan kepalanya berkali-kali, agar papa Gilang tidak lagi melanjutkan perkataannya itu.


Papa Gilang menurut. Dia tidak lagi berkata apa-apa lagi. Dia hanya tersenyum-senyum sendiri, mengingat kejadian yang dulu, saat awal-awal dia menikah dengan mama Cilla.


*****


Mobil Aji, masuk ke area apartemen, langsung menuju ke parkiran khusus untuk penghuni khusus juga. Begitu juga dengan mobil yang di tumpangi Vero, mengikuti dari arah belakang.


"Ayok turun!"


Mama Cilla, mengajak Elisa untuk turun. Papa Gilang dan Aji, sudah turun dan mengeluarkan barang-barang bawaan mereka.


Elisa tertegun melihat sekitar. Dia tidak menyangka, jika keluarga suaminya itu juga memiliki apartemen mewah yang ada di pusat kota Jakarta ini. Apalagi, fasilitas yang ada khusus untuk apartemen penthous.

__ADS_1


Saat papa Gilang dan Aji melangkah menuju lift khusus, Elisa juga merasa kagum. Dia jadi merasa sangat kecil, ada diantara keluarga suaminya itu.


"Apa Aku bermimpi terlalu tinggi ya, bisa jadi istrinya kak Aji seperti sekarang ini? Aku tidak akan jatuh kan?" tanya Elisa dalam hati. Dia jadi khawatir, karena takut tidak bisa mengikuti bagaimana gaya hidup mereka, keluarga suaminya sendiri. Meskipun selama ini, Elisa melihat jika keluarga Jeny, yang sekarang menjadi keluarganya juga, tidak pernah membedakan antara mereka dan orang lain yang tidak setara secara ekonomi. Mereka semua orang-orang yang baik dan tidak sombong.


"Eh, kok malah melamun, ayok!" ajak mama Cilla, saat melihat Elisa yang terdiam di depan pintu lift dan tidak segera ikut masuk.


"Mau Vero gendong gak kak?" tanya Vero menggoda.


"Hemmm..." Aji menegur adiknya, tanpa mengatakan apa-apa.


"Hehehe... peace kak," kata Vero meringis. Dia takut, jika Aji akan marah karena ulahnya itu.


"Sukurin," kata Biyan, kembaran Vero, dengan mencibir.


"Ihsss..." elak Vero saat Biyan ingin menyentuh kepalanya.


"Aku pasti akan merasa kangen dengan kalian yang rame ini." Elisa, berkata kepada Vero dan Biyan.


"Itu Aku kak, bukan dia," sahut Vero, menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Ehem..."


Aji, berdehem untuk mengingatkan kembali pada Vero.


"Kakak dan kak El pindah, pastinya ingin menghindari Kamu ini," kata Biyan berbisik pada kembarannya, Vero.


"Kenapa?" tanya Vero cepat, saat mendengar bisikan dari Biyan.


"Kamu sih, godain kak El terus," jawab Biyan, masih dengan cara berbisik.


"Ah, itu kak Aji saja yang over protektif terhadap kak El," sahut Vero dengan cepat dan masih berbisik juga, agar yang lain yang tidak bisa ikut mendengar.


Berbeda dengan Aji, dia langsung memegang tangan istrinya itu agar tidak menghiraukan perkataan adik-adiknya yang sedang membicarakan mengenai mereka berdua.

__ADS_1


"Apa Kak?" tanya Elisa bingung dengan sikap Aji yang tiba-tiba memegang tangannya. Padahal, dia tidak meras takut jika hanya naik lift seperti sekarang ini.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memegang tangan istriku, apa ada yang melarang?" tanya Aji, yang tidak perlu untuk di jawab oleh Elisa.


__ADS_2