Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kangen Bersama


__ADS_3

Hari-hari dilalui Aji dengan berbagai macam kesibukan. Karena tangung jawabnya pada keluarga semakin besar, dengan kepergian papanya itu, dia juga harus pandai-pandai membagi waktu antara kantor dan juga rumah.


Dia tidak mau, jika anak dan istrinya jadi terabaikan, hanya karena dia yang sibuk bekerja di luar rumah. Apalagi, ayah Sangkoer Singh juga mau datang dan menetap di Indonesia untuk sementara waktu.


Tuan besar Sangkoer Singh, ingin menempati mansion miliknya yang ada di Tangerang bersama dengan Aji dan juga Elisa, beserta cucunya, Ka Singh, yang saat ini sudah bisa merangkak.


Saat ini, mama Cilla sedang berada di rumah Jeny. Menemani Jeny, yang baru saja melahirkan anak keduanya. Ini keinginan mama Cilla sendiri, karena selain dia ingin ikut membantu anaknya itu, mama Cilla juga mencari kesibukan, supaya dia tidak terus merasa sedih di saat berada di rumahnya sendiri, karena selalu teringat dengan suaminya, papa Gilang.


Aji dan Elisa tidak mempermasalahkan soal keputusan yang diambil oleh mama Cilla. Mereka berdua juga tidak ingin melihat mamanya dalam keadaan bersedih hati, jika tidak ada kesibukan yang bisa mengalihkan perhatiannya.


Tapi, mama Cilla juga kadang-kadang pulang ke rumah, di saat dia kangen dengan cucu laki-lakinya, Ka Singh.


"Maaf ya Ka Singh, Oma malah tinggal terus di rumah tante Jeny. Kapan-kapan, Kamu ikut Oma ya ke sana. Kita main-main dengan saudara Kamu, anaknya Tante Jeny yang besar."


Mama Cilla sedang berbicara dengan Ka Singh, yang sedang bermain-main bersama baby sitter. Dia juga mengatakan jika anaknya tante Jeny yang pertama sudah bisa berjalan dengan lancar dan suka bermain bola.


"Padahal dia cewek, tapi tidak mau bermain dengan boneka dan lebih memilih bola," kata mama Cilla lagi, menceritakan tentang kebiasaan cucu perempuannya, anaknya Jeny yang pertama.


"Sini Ka Singh, Oma kangen tahu," kata mama Cilla sambil memeluk Ka Singh dan menggendongnya.


Mama Cilla mulai menimang-nimang Ka Sing. Dia merasa jika Ka Singh itu duplikat Aji sewaktu masih bayi. Dia tidak akan pernah betah jika ada di dalam gendongan terlalu lama. Sama seperti saat ini, Ka Singh sudah mengeliat dan minta untuk diturunkan dari gendongan.


"Kamu mirip dengan ayah Kamu ya," kata mama Cilla, seraya berjongkok dan menurunkan Ka Singh dari gendongannya.


Elisa yang baru saja keluar dari dalam kamar, dan melihat keberadaan mama Cilla pun menyapanya, "Mama."


Elisa memeluk mama Cilla, karena sudah hampir seminggu mama Cilla tidak berada di rumah, dan menginap di rumah Jeny.


"Mama apa kabar, Jeny juga bagaimana Ma? maaf ya Ma, Elisa belum sempat datang menjenguk Jeny lagi," kata Elisa, kemudian melepaskan pelukannya dan mengajak mama Cilla untuk duduk di ruang tengah.


Mama Cilla pun akhirnya menceritakan tentang keadaan Jeny dan kedua anaknya. Mereka semua baik-baik, saja dan juga dalam keadaan sehat.


Elisa mengucapkan syukur dan juga ikut merasakan kebahagiaan itu. Dia juga saat ini sedang sibuk, karena beberapa bisnis mama Cilla yang sudah tidak dia diserahkan pada Elisa.


"Maaf ya, Mama buat kamu Kamu jadi sibuk sekarang," ucap mama Cilla, yang merasa tidak enak hati karena membuat menantunya itu tidak bisa banyak meluangkan waktu untuk anaknya, Ka Singh, Juga dengan Aji, suaminya.


"Tidak apa-apa Ma. Elisa justru senang bisa bantu Mama. Kapan-kapan kita ke mall bareng ya Ma. Biar Mama bisa lihat sendiri dan kasi masukan juga. Tante Diyah dan pengurus toko yang lain juga kangen lho sama Mama," kata Elisa, mengingatkan Mamanya pada temannya, mbak Diyah.


Mama Cilla tersenyum penuh haru, mendengar nama mbak Diyah. Dia juga merasa kangen dengan teman dan sahabatnya yang satu itu.


"Iya, kita ke toko besok-besok kalau Mama sudah tidak capek ya," kata mama Cilla, menyanggupi ajakan Elisa untuk pergi ke mall bareng dan melihat toko baju nya.

__ADS_1


*****


Elisa sudah melupakan telpon misterius yang masuk ke nomernya beberapa hari yang lalu. Dia juga tidak membahas tentang telpon tersebut pada suaminya, Aji.


Dia berpikir jika itu hanya orang iseng saja. Jadi dia pun tidak memikirkannya lagi.


Tapi, sepertinya orang itu justru kembali berulah, dengan menelpon Elisa pada pagi hari, dia saat Aji sudah berangkat ke kantor.


Elisa jadi berpikir untuk memblokir nomer tersebut, tapi karena dia merasa penasaran jadi dia biarkan saja. Dia hanya ingin tahu, siapa dan apa maksud dari orang tersebut menelponnya.


..."Halo, apa kita saling kenal?" ...


Tanya Elisa, saat orang itu menelponnya lagi. Tapi sepertinya, orang tersebut memang ingin merahasiakan identitas dirinya. Dia juga tidak mau menjawab pertanyaan dari Elisa, saat bertanya apa maksud dari telponnya itu.


..."Kalau boleh tahu, ada keperluan apa Anda menelpon Saya?" ...


Setiap Elisa mengatakan dua kalimat, telpon tersebut langsung putus. Tidak ada jawaban dan juga keterangan apapun dari penelpon misterius itu.


Lama-lama, Elisa jadi jengah dan merasa terganggu. Nomer tersebut dia blokir, supaya tidak lagi menghubungi dirinya.


"Aja sih maunya? dasar tidak jelas!" gumam Elisa, yang merasa kesal sendiri.


"Eh Sayang nya Mama. Sini Sayang, Ka Singh mau main sama Mama ya..."


Akhirnya, Elisa melupakan tentang penelpon misterius itu dan bermain-main dengan anaknya, Ka Singh.


Tiba-tiba Aji pulang kembali ke rumah. Elisa jadi kaget dan heran kenapa suaminya itu kembali pulang, padahal menurut Elisa, dari waktu berangkat hingga saat ini, Aji diperkirakan belum sampai di kantor. Kemungkinan, Aji balik untuk pulang lagi, karena ada sesuatu yang tertinggal.


"Apa ada yang tertinggal Kak?" tanya Elisa, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.


Tidak ada, Kakak hanya ingin di rumah dan bermain dengan Ka Singh serta Kamu," jawab Aji, tidak mempedulikan wajah Elisa yang berubah warna.


Rasa senang dan heran, datang pada waktu yang bersamaan. Jadi Elisa tidak tahu, apa yang dia rasakan saat ini.


Mereka berdua memang jadi semakin sulit untuk bisa sekedar menghabiskan waktu bersama. Ini karena kesibukan Aji yang tidak bisa di abaikan begitu saja. Kelangsungan usaha papanya, papa Gilang, harus tetap berlanjut untuk kelangsungan hidup mereka semua. Masih ada Vero yang membutuhkan biaya untuk kuliahnya, dan juga kehidupan semua pegawai yang tidak mungkin bisa diabaikan begitu saja.


"Ini kejutan atau apa Kak?" tanya Elisa yang masih merasa penasaran dengan kelakuan suaminya itu.


"Tidak. Kakak hanya melupakan sesuatu saja, yang tertinggal di sini," jawab Aji, sambil menunjuk ke arah bibir Elisa.


Tentu saja, jawaban dari Aji membuatnya terbelalak kaget. Hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Aji kembali pulang ke rumah, hanya karena tadi lupa mencium bibir Elisa saat pagi hari, sebelum keluar dari dalam kamar. Hal yang selalu dilakukan Aji, selama ini.

__ADS_1


"Hanya itu saja?" tanya Elisa lagi, merasa tidak yakin dengan jawabannya Aji.


"Lalu, apa yang Kamu pikirkan?" tanya Aji, meminta Ka Singh yang sedang berada di gendongan istrinya itu.


"Mbak!"


Aji memangil baby sitter Ka Singh, yang sedang merapikan beberapa mainan anaknya.


Baby sitter mendekat, kemudian Aji menyerahkan Ka Singh pada baby sitter tersebut. "Ajak main ke kamarnya ya!" kata Aji, meminta pada baby sitter tersebut untuk membawa Ka Singh ke kamar.


Kamar Ka Singh, ada di samping kamarnya sendiri.


Setelah baby sitter itu pergi bersama dengan Ka Singh, Aji mengajak Elisa untuk pergi ke kamar yang ada di lantai atas. Kamarnya sendiri, yang dulu ditempatinya saat belum menikah dengan Elisa.


Setelah berada di lantai atas, Aji membopong tubuh Elisa tanpa memberitahu istrinya itu terlebih dahulu.


Tentu saja, perbuatan Aji ini membuat Elisa terkejut.


"Kakak," panggil Elisa pelan dengan wajah memerah. Dia malu karena diperlakukan seperti ini oleh Aji.


Untungnya, tidak ada yang melihat adegan mesra mereka berdua, yang ada di lantai atas.


Aji menurunkan tubuh istrinya itu dengan pelan di ranjang, begitu mereka sampai di dalam kamar.


"Kakak kangen Sayang. Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama seperti dulu lagi. Kakak tidak bisa berkonsentrasi, jadi lebih baik pulang dan kita jadi bisa bermain-main juga. Siapa tahu, nanti adiknya Ka Singh akan segera datang."


Elisa hanya mengangguk dan tidak mungkin bisa menolak perkataan suaminya itu. Dia pun akhirnya ikut larut dalam kebersamaan mereka, hingga mereka tertidur pulas karena kecapekan.


Beberapa jam kemudian, Elisa bangun terlebih dahulu. Hal yang tidak pernah dia lakukan sejak menikah dengan Aji, karena selalu Aji yang akan terbangun lebih dulu.


"Hemmm," Aji tidak merespon panggilannya, justru Aji menariknya lagi ke dalam pelukan.


"Kak. Kakak tidak jadi berangkat ke kantor?" tanya Elisa mengingatkan.


"Tidak," jawab Aji pendek.


"Tapi, bagaimana kerjaannya Kakak?" tanya Elisa lagi.


Aji tidak lagi menjawab. Dia malah menutup mulut Elisa dengan mulutnya sendiri. Dia tidak ingin Elisa banyak bertanya-tanya. Ini adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Elisa terdiam.


Sebenarnya, Aji sudah memberikan beberapa perintah kerja untuk sekretaris papanya, yang sekarang jadi sekretarisnya, supaya meng-handle pekerjaan di kantor. Dia hanya ingin berada di rumah untuk hari ini, menghabiskan waktu bersama dengan istrinya, Elisa.

__ADS_1


__ADS_2