Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Aku Elisa


__ADS_3

Elisa, mengetuk pintu kamar Aji dengan perlahan. Beberapa kali ketukan, tidak ada sahutan dari dalam kamar.


Tok, tok, tok!


Tapi tetap saja, Aji tidak menyahut ataupun meminta Elisa, untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Kok sepi," batin Elisa bingung.


"Masa kak Aji, masih tidur juga sih jam segini?" tanya Elisa, dalam hatinya sendiri.


"Masuk gak ya? Masuk, enggak, masuk, enggak!"


Elisa, menghitung keraguannya untuk masuk ke dalam kamar Aji, atau diam dan tidak jadi masuk, dengan jari-jari tangannya sendiri.


"Masuk sajalah."


Akhirnya, Elisa dengan pelan, mendorong pintu kamar Aji, dan masuk ke dalam kamar. "Kak... kak Aji?" panggil Elisa bingung, saat tidak menemukan Aji tertidur di tempat tidur.


"Kak. Kak Aji..." panggil Elisa lagi sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.


"Kak Aji!" teriak Elisa kaget, saat melihat tubuh Aji, yang tergeletak di lantai, dekat dengan meja.


Elisa segera berlari, mendekat ke tempat Aji tergeletak, kemudian memeriksa kondisi tubuh Aji. "Hah, syukurlah. Kak Aji cuma pingsan, atau tertidur ya?" kata Elisa, sambil berpikir.


Tapi, saat Elisa mau beranjak dari tempatnya, untuk mencari bantuan, tangannya di pegang oleh Aji, "Tunggu," kata Aji, menahan Elisa agar tidak pergi dari tempatnya berada.


Elisa menurut. Dia tidak jadi pergi dan kembali menunduk, melihat ke arah Aji yang membuka matanya perlahan-lahan.


"Bantu Aku," pinta Aji, meminta pada Elisa agar membantunya untuk berdiri.


Dengan sedikit kerepotan, karena postur tubuh Elida yang kecil, dia membantu Aji untuk berdiri dan berjalan menuju ke tempat tidur.


"Kakak kenapa tidur di lantai?" tanya Elisa, dengan wajah cemas.


"Aku tidak tidur di lantai," jawab Aji, sambil membetulkan posisi tidurnya.


"Tadi apa?" tanya Elisa lagi.


"Aku pusing, dan tidak tahu, tiba-tiba jatuh dan tidak tahu lagi apa yang terjadi, sampai Aku mendengar suaramu tadi."


"Apa kakak sedang mencari sesuatu?" tanya Elisa ingin tahu.

__ADS_1


"Iya," jawab Aji pendek.


"Apa? Mungkin Aku bisa bantu cari," tanya Elisa, menawarkan bantuan.


"Cari bukti, yang bisa membuat semua pertanyaan di dalam kepalaku terjawab."


Elisa memicingkan matanya, bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Aji. Dia tidak tahu apa yang di maksud oleh Aji, dengan bukti, dan juga semua pertanyaan di kepalanya itu.


"Kenapa, Kamu tidak bisa cari?" tanya Aji, dengan menyelidik.


Elisa, tentu merasa tidak nyaman saat pandangan Aji tidak lagi ramah seperti kemarin-kemarin. Dia merasa cemas, jika penyamarannya sebagai Jeny terbongkar.


"Maksud Ka... Kakak?" tanya Elisa gugup.


"Sebenarnya, siapa Kamu?" tanya Aji, dengan wajah penuh tanda tanya besar, yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya oleh Elisa.


"Ka... Kakak sudah ingat?" tanya Elisa gugup, karena tidak menyangka, jika Aji akan memberikan pertanyaan tentang siapa dirinya yang sebenarnya.


"Jawab saja pertanyaanku."


"Ak... Aku..."


"Kamu bukan Jeny kan?" tanya Aji, menebak siapa sebenarnya Elisa.


"Jawab saja. Aku tidak akan marah," kata Aji datar.


Elisa menarik nafas panjang dan memejamkan mata. Dia tidak tahu, harus memulai cerita dari mana. "Aku, aku Elisa. Teman kuliah Jeny, adiknya Kakak." Akhirnya, Elisa mengaku juga, bahwa dia bukanlah Jeny yang sebenarnya.


"Bisa Kamu ceritakan, siapa sebenarnya mereka-mereka, yang tadi duduk bersamamu, saat sarapan pagi?" tanya Aji, meminta pada Elisa untuk bercerita lebih lanjut mengenai Jeny dan kedua adik kembarnya, Biyan dan Vero.


Elisa, merasa terkejut, saat mendengar permintaan dari Aji. Dia tidak menyangka, jika Aji memperhatikan semua orang yang tadi sedang melakukan sarapan pagi. Berarti, Aji tahu jika dia bukan Jeny, karena di meja makan, semua orang memanggil dirinya sebagai Elisa, bukan Jeny, seperti saat berada di depan Aji.


"Yang kembar itu adik Jeny, Biyan dan Vero. Yang cewek tadi, yang Kakak pikir asisten Oma, dialah Jeny. Adik Kakak sendiri."


Pada akhirnya, Elisa menceritakan tentang kisah Aji, yang sedang pergi ke Jerman, untuk bisa mengejar cita-citanya sedari kecil, yaitu menjadi seorang ilmuwan. Tapi, saat dalam perjalanan dengan pesawat, ada sekelompok mafia yang membajak pesawat terbang itu, kemudian meledakan pesawat terbang tersebut dari atas.


Dari pencarian para korban, tubuh Aji tidak pernah teridentifikasi. Aji tidak pernah ditemukan. Dia dinyatakan hilang dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Bertahun-tahun lamanya, semua orang sudah mencoba untuk melupakan kejadian itu. Hingga suatu hari, Jeny bertemu seseorang yang di kenal dengan nama Mr Vijay Singh. Tapi Jeny yakin, jika Mr Vijay Singh adalah kakaknya yang hilang, yaitu Aji.


Dengan berbagai macam cara, ternyata kebenaran itu terungkap juga. Mr Vijay Singh yang ada di Indonesia memang benar, bahwa dia Aji Putra, korban pembajakan pesawat terbang yang dinyatakan hilang. Tapi ingatannya, tidak sepenuhnya pulih. Dia tidak mengingat semua anggota keluarganya dengan baik.

__ADS_1


"Wajah Kakak, juga tidak seratus persen wajah Kakak yang dulu, tapi sudah perpaduan antara wajah Aji Putra dengan Mr Vijay Singh, yang dari India. Tapi, berkat luka di kening Kakak, Jeny bisa mengenali kakaknya dengan sangat baik."


Aji, mendengarkan semua cerita dari Elisa dengan wajah yang berubah-ubah. Tapi, tak lama kemudian, dia memejamkan matanya sambil memegang kepalanya yang terasa berat dan sakit.


"Kak. Kakak tidak apa-apa?" tanya Elisa dengan khawatir.


"Ambilkan minum itu," perintah Aji, dengan menunjuk ke arah meja yang terdapat gelas berisi air putih.


Elisa, dengan cepat mengambil gelas yang di maksud Aji. Dia juga membantu Aji, untuk minum dengan posisi terbaring.


"Kakak perlu sarapan, baru minum obatnya," kaya Elisa memperingatkan Aji.


"Aku siapkan sarapan buat Kakak ya," kata Elisa lagi, kemudian segera pergi keluar dari kamar Aji, untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Hah, dia gadis yang tidak biasa. Teman Jeny, siapa namanya tadi? Aku lupa tadi, saat dia menyebutkan namanya."


Aji, kembali mengingat-ingat cerita dari Elisa. Tapi, sepertinya, dia benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Dia butuh istirahat terlebih dahulu, sebelum bisa memahami semua yang sudah dia dengar, melalui cerita Elisa.


*****


"Sedang apa El?"


Elisa menoleh dengan cepat, saat ada suara yang menegurnya. Dia gugup dan takut, karena sudah menceritakan semuanya pada Aji. Ternyata, yang menegurnya adalah mama Cilla, yang baru saja kembali dari kamar Oma Rossa.


"Eh, Tante. Ini, nyiapin sarapan kak Aji," jawab Elisa, dengan wajah cemas.


"Kamu sakit?" tanya mama Cilla, dengan meneliti wajah Elisa yang tampak pucat.


"Ti... tidak Tante. Ini hanya kaget. Tante bikin Elisa kaget tadi," jawab Elisa beralasan.


"Oh. Tante pikir Kamu sakit. Jangan diem saja ya, kalau sakit itu bilang. Anggap saja di rumah sendiri ya El, begitu juga dengan semuanya, anggap juga keluarga."


"Iya. Iya Tante," jawab Elisa, masih dengan wajah yang cemas dan juga gugup.


"Sini, biar Tante yang siapain. Kamu tinggal antar nanti ya. Aji, masih tidur atau sudah bangun?" tanya mama Cilla, sambil mengambil alih kerjaan Elisa.


"Baru bangun Tan. Ini tadi minta sarapan agar bisa secepatnya minum obat," jawab Elisa memberikan penjelasan.


"Apa Tante mau lihat kakak?" tanya Elisa, setelah beberapa saat terdiam.


"Ya. Nanti kita sama-sama ya ke atas."

__ADS_1


Jawaban dari mama Cilla, membuat Elisa semakin gugup dan memucat. Dia berpikir nanti Aji, pasti akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada mamanya itu.


__ADS_2