
Pada akhirnya, Aji tidak lagi menyembunyikan semuanya. Dia tidak ingin, membuat keluarganya, lebih lama lagi memikirkan tentang kesehatan dan ingatannya, yang belum juga kembali.
Saat sudah menyelesaikan acara makan malam mereka, Aji mengatakan jika dia sudah mengingat sedikit demi sedikit tentang adik-adiknya. Tentu saja, ini membuat keluarga Gilang merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.
"Syukurlah Sayang."
Mama Cilla dan papa Gilang, mengucapkan syukur dengan kembalinya ingatan Aji itu. Begitu juga dengan ketiga adiknya, Jeny, Vero dan Biyan. Mereka semua, memeluk Aji secara bergantian dengan keharuan dan kebahagiaan. Tak lupa, Oma Rossa juga menangis penuh dengan kebahagiaan. Wajahnya tampak banjir dengan air mata.
"Ji, ing... gat Ma?"
"Apa Aji juga ingat Oma?" ulang Jeny, menterjemahkan kata-kata omanya itu.
"Iya Oma, Aji ingat Oma sedari awal," jawab Aji sambil memeluk omanya itu.
Vero dan Biyan, merasa senang karena pada akhirnya, mereka berdua di ingat juga oleh kakaknya itu.
Jeny, dengan cepat memeluk kakaknya dengan erat. Dia menangis tersedu-sedu, tapi itu tangisan kebahagiaan bukan kesedihan.
Elisa, menyaksikan semuanya, menjadi ikut menitikkan air mata keharuan. Dia merasakan ikut dalam kebahagiaan keluarga temannya itu.
Tadi, saat berbisik-bisik sambil makan, Elisa yang meminta Aji, supaya mengaku saja, biar tidak ribet dan membuat semua orang merasa khawatir. Untungnya, Aji mengiyakan dan mengaku juga.
"Biar tidak keterusan dan menjadi ribet Kak," kata Elisa menasehati Aji, tadi.
"Baiklah. Aku tahu, Kamu sudah tidak nyaman kan jadi Jeny?" tanya Aji, pada Elisa, sambil tersenyum miring.
"Iya," jawab Jeny pendek, agar tidak lagi ditanya-tanya oleh Aji.
Elisa tidak bisa berlama-lama, berada di antara mereka semua. Apalagi jika diminta untuk terus berpura-pura.
*****
Suasana makan malam di rumah papa Gilang, menjadi lebih ramai, dengan kedatangan Dokter Dimas bersama dengan abangnya, tuan Adi tadi. Apalagi dengan pengakuan Aji atas kembalinya ingatannya itu. Kebahagiaan itu menjadi semakin terasa lengkap.
Jeny dan papa Gilang, yang sudah tahu maksud dari kedatangan mereka berdua, selain menjenguk dan membawa hasil laboratorium kesehatan Aji, Dokter Dimas, juga bermaksud untuk menyatakan niatnya, yaitu melamar Jeny untuk dijadikan sebagai istrinya.
Pembicaraan mereka, kembali di sambung secara kekeluargaan di ruang tamu. Jeny, tampak bahagia, karena sedari tadi selalu tersenyum dan malu-malu, saat kepergok sedang melihat ke arah Dokter Dimas.
Elisa yang ikut membantu bibi, menyiapkan beberapa hidangan di ruang tamu, di minta Aji untuk duduk di antara mereka semua.
"Sini, duduklah El."
"El, mau telpon bapak di rumah sebentar," kata Elisa, memberikan alasan, begitu meletakkan cangkir teh terakhir yang dia bawa.
"Ke rumah di kampung maksudnya?" tanya Aji, memastikan.
Elisa, mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia segera berbalik, dan berjalan dengan cepat ke arah kamar, sebelum dipanggil lagi oleh yang lain.
"Dia kenapa, kok jadi berubah begitu?" tanya Aji, dalam hati, sambil melihat punggung Elisa yang menghilangkan, karena sudah masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar Elisa, dia kembali mencoba untuk menghubungi Rio. "Semoga kali ini, Rio sudah bisa Aku telpon," kata Elisa penuh harap.
Tut...
__ADS_1
Tut...
Tut...
Elisa, menatap layar handphone miliknya, untuk memastikan jika nomer yang dia hubungi tidak salah.
"Nomernya bener, tapi kok gak diangkat ya? apa nomerku tidak dia simpan lagi?" guman Elisa, bertanya pada dirinya sendiri.
Elisa, mencoba sekali lagi, untuk memangil nomer handphone Rio.
Tut...
Tut...
Tut...
Tapi, sepertinya Rio memang sedang tidak bisa dia hubungi untuk malam ini. "Kemana sih Kamu Rio? gak peka banget kalau Aku sedang butuh," keluh Elisa, dengan wajah cemas.
Akhirnya, Elisa memencet-mencet handphone miliknya lagi, tapi untuk menghubungi nomer lainnya.
..."Halo!"...
..."Ya Nduk."...
..."Bapak, bagaimana?"...
..."Maaf ya Nduk. Bapak benar-benar tidak bisa usahakan untuk waktu dekat ini."...
..."Apa Elisa harus benar-benar berhenti?"...
..."Iya sudah Pak. Kalau bulan ini tidak bisa, terpaksa Elisa ambil cuti untuk sementara waktu ya?"...
..."Apa tidak Sayang Nduk?"...
..."Terpaksa Pak. Nanti bisa Elisa pikir-pikir lagi. Kalau bisa, Elisa juga mau cari sampingan untuk kebutuhan Elisa yang lain. Biar tidak terlalu membebani Bapak."...
..."Maaf ya Nduk. Bapak benar-benar tidak menyangka, jika ini akan terjadi."...
..."Iya Pak. Tidak apa-apa."...
..."Ya sudah ya Pak. Elisa mau ngerjain sesuatu dulu."...
..."Iya. Hati-hati ya Nduk!"...
..."Ngeh Pak."...
Elisa, menutup sambungan teleponnya tadi. Ternyata dia memang benar-benar menghubungi bapaknya, yang ada di kampung halaman.
Tok, tok, tok!
pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. Elisa memicingkan matanya, menebak siapa yang datang.
Tok, tok, tok!
__ADS_1
Pintu kamar, diketuk sekali lagi dari luar.
"Siapa?" tanya Elisa dari dalam kamarnya.
"Vero kak!"
Akhirnya, Elisa berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Ada apa Ver?" tanya Elisa, begitu pintu dia buka.
"Kakak di panggil tuh!"
"Siapa yang manggil?" tanya Elisa curiga. Sebab, dia tidak yakin pada adik Jeny yang usil itu.
"Kak Jen yang manggil," jawab Vero, sambil menunjuk ke arah ruang tamu, dengan dagunya.
"Bener?" tanya Elisa menyakinkan.
"Iyalah! Ngapain Vero bohong."
"Hem... ya udah. Yuk!"
Mereka berdua, Vero dan Elisa, berjalan bersama menuju ke arah ruang tamu.
"Sini El!" panggil Jeny, dengan melambaikan tangan, begitu melihat kedatangan Elisa, bersama dengan adiknya Vero.
Semua orang, menoleh ke arah Elisa. Dia jadi merasa salah tingkah, karena diperhatikan seperti itu. Tapi, dengan gayanya yang khas, cuek saja, Elisa melangkah menuju ke tempat duduknya Jeny.
"Kamu ini, Aku kan di lamar Dokter Dimas. Kamu malah ngumpet di kamar. Gimana sih?"
"Hehehe... maaf Jen. kan tadi waktu makan, Aku sudah bilang, kalau mau telpon bapak di rumah," jawab Elisa, memberikan alasannya.
"Kapan Kamu bilang?" tanya Jeny bingung.
"Eh, salah ya? Oh, tadi Aku bilangnya sama kak Aji ding, hehehe..." jawab Elisa, dengan nyengir kudanya.
"Kamu ini, masak baru tadi kok lupa!"
"Hehehe... maaf. Lagi banyak pikiran mungkin."
"Halah, sosok mikir!"
"Gimana, udah selesai acaranya?" tanya Elisa, mengalihkan perhatian Jeny, supaya tidak lagi bertanya-tanya.
"Sudah. Tapi secara resminya seminggu lagi. Kamu harus ikut, gak boleh absen kayak tadi, dan Aku tidak menerima alasan apapun!"
"Iya-iya. Siap!"
"Kamu mau kan iku jadi pendampingku pas acara nanti?"
"Hah, pendamping? jangan ah Jen. Bisa-bisa nanti dokter Dimas salah ambil Aku gimana? hehehe..." tanya Elisa dengan becanda, tidak lupa kekehan dan nyengir kudanya.
"Idih... ngarep bener!"
"Hehehe..."
__ADS_1
Keduanya, seolah berada di dunianya sendiri. Sedangkan papa Gilang dan mama Cilla, sedang berunding bersama dengan dokter Dimas, dan juga abangnya, tuan Adi, untuk membicarakan acara lamaran selanjutnya.
Semua gerak gerik Elisa, tidak luput dari perhatian Aji. Tapi, dia hanya pura-pura tidak peduli, dengan kedatangan Elisa tadi.