
Please like, koment, vote, and giff. Biar outhor TK lebih semangat lagi ya gaess 😍😍😍
Terima kasih 🙏🙏🙏
****
Mr Vijay memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Dia mengerang, merasakan hal yang sama seperti dulu, sewaktu dirinya baru saja bangun dari koma.
"Dokter, cepat bantu anak Saya ini!" teriak tuan besar Sangkoer Singh, pada Dokter Dimas. Dia melangkah mundur, agar Dokter Dimas, bisa leluasa bergerak cepat.
Asisten Mr Vijay, yang sedari tadi hanya diam dan tidak berkata apa-apa, kini berdiri dan melangkah menuju ke tempat tidur atasannya. Dia membantu Dokter Dimas, memegang tangan Mr Vijay Singh.
Papa Gilang, juga ikut membantu Dokter Dimas, sedangkan Jeny, pergi keluar ruangan, untuk memangil para suster yang ada di luar ruangan, tak jauh dari kamar pasien VVIP.
"Suster, bantu Dokter Dimas. Dia ada di ruang VVIP nomer dua," kata Jeny pada salah satu suster yang berjaga.
"Dokter Dimas ya? Baiklah," jawab suster tadi, dengan tersenyum canggung, sambil melihat ke arah temannya yang lain. Di sini, ada suster. Tapi mereka hanya tersenyum miring, melihat ke arah suster yang sekarang ini, beranjak dari tempat duduknya, dan mengikuti langkah Jeny.
"Apa maksud teman Suster yang tadi? Kenapa dia hanya tersenyum miring, seakan-akan sinis, saat mendengar Suster menyebut nama Dokter Dimas?" tanya Jeny, yang merasa penasaran dengan tingkah para suster tadi.
"Biasa Mbak. Mereka hanya iri, tapi putus asa juga, karena tidak pernah di perhatikan oleh Dokter Dimas. Setiap di tanya, Dokter Dimas hanya bilang, jika dia sudah punya calon istri yang cantik. Padahal, selama ini, Kamu tidak pernah melihat seorang gadis pun yang dekat dengannya. Makanya, beredar kabar jika Dokter Dimas penyuka sesama. Mereka jadi malas, kalau di minta membantu Dokter Dimas. Mereka pikir, sia-sia saja mendekati Dokter penuh pesona itu, toh tidak ada hasilnya."
"Lho, ini kan tugas. Ada sumpah dan janji tugas juga kan? Kenapa harus di kaitkan dengan perasaan dan hati?" tanya Jeny bingung. Dia merasa aneh dengan sikap para suster wanita itu.
__ADS_1
"Ya begitulah Mbak. Namanya juga manusia. Ada saja alasan yang membuat cerita yang berbeda dengan adanya tugas dan kewajiban dengan perasaan yang dirasakan."
Jeny tidak mengerti, apa maksud dari perkataan suster tersebut. Sekarang ini, dia hanya berharap, jika suster ini, bisa membantu Dokter Dimas, untuk menangani kakaknya Aji, yaitu Mr Vijay Singh, yang sedang mengalami sakit kepala yang luar biasa hebat.
"Kalian semua bisa keluar sebentar. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien. Silahkan menunggu dan berdoa di luar ruangan," perintah suster, pada semua yang ada di ruangan, termasuk Jeny.
*****
Tuan besar Sangkoer Singh, diam dan tidak bergerak sama sekali. Dia hanya duduk diam dan termenung, seakan-akan sedang banyak pikiran dan melamun. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
Papa Gilang, merasa cemas. Dia merasa khawatir dengan keadaan Mr Vijay. Tapi dia juga tidak tahu, apa yang harus dia lakukan, untuk mengurangi rasa sakit yang diderita Mr Vijay Singh.
Jeny, dengan rasa khawatir yang dia rasakan, mencoba untuk mendekati tuan besar Sangkoer Singh. Dia hanya ingin tahu, latar belakang dari penyakit yang diderita oleh Mr Vijay Singh saat ini.
Tapi, sebelum Jeny sampai di dekat tuan besar Sangkoer Singh, asisten Mr Vijay, sudah terlebih dahulu mencegahnya. "Jangan bertanya apapun, yang bisa menambah kecemasan tuan besar. Itu hanya akan menambah rasa sedihnya," kaya asisten Mr Vijay, memberitahu Jeny.
"Nanti, jika Mr Vijay Singh sudah membaik, ataupun sadar dari ingatannya, tuan besar Sangkoer Singh, pasti akan bercerita sendiri. Itu sudah dia pikirkan sejak dulu. Percayalah. Tidak ada yang dia sembunyikan setelah semuanya selesai," jawab asisten Mr Vijay Singh, dengan nada sedih.
Jeny, tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini. Padahal tadi, dia hanya bermaksud untuk menawarkan air minum pada tuan besar Sangkoer Singh saja. Tapi, sepertinya, arti dari perkataan asisten tadi, Jeny bisa menyimpulkan, jika ada rahasia besar yang sedang disembunyikan oleh Sangkoer Singh terhadap anaknya itu, Mr Vijay Singh.
"Apa dugaanku tidak salah?" tanya Jeny, memberanikan diri.
Asisten Mr Vijay Singh menoleh cepat kearahnya. Jeny pun ikut menatap ke arah asisten tersebut. Dia ingin tahu, apa lagi yang akan asisten itu katakan setelah ini.
__ADS_1
"Apa maksud Kamu?" tanya asisten tadi, dengan nada yang tidak suka.
"Mr Vijay Singh, bukan anak Sangkoer Singh," jawab Jeny, dengan penuh tekanan.
Asisten tersebut, menghela nafas panjang. Dia tidak harus menjawab pertanyaan dari gadis yang terlihat dingin ini, tapi ternyata dia tidak bisa diabaikan begitu saja. Diamnya, penuh dengan pemikiran yang matang. Asisten Mr Vijay Singh ingat betul, jika Jeny, adalah gadis yang dia tanyai, saat dia bingung mencari Mall terdekat dengan rumah sakit ini, untuk mencari Burger pesanan Mr Vijay Singh.
"Ternyata, pertemuan dan tanya jawab antara Aku dan dia, yang tidak kami sengaja, banyak membawa dampak pada Mr Vijay setelah ini. Padahal sebenarnya, semua itu tidak berarti, kenapa gadis ini begitu pintar menyambungkan semua hal?" pertanyaan demi pertanyaan, silih berganti terjadi, pada hatinya sang asisten tersebut. Dia benar-benar tidak menyangka, jika gadis kecil ini, bisa mengungkapkan rahasia besar, yang tidak seharusnya diketahui oleh orang lain.
"Maaf Tuan. Bisakah Saya berbicara sebentar dengan Anda?" tanya papa Gilang, dari jarak tiga meter. Dia memang tidak mendekat ke arah tuan besar Sangkoer Singh. Itu dia lakukan karena, melihat Jeny yang di cegah oleh asisten tersebut, saat ingin mendekati tuan besar Sangkoer Singh.
"Maaf. Saya sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun," jawab tuan besar Sangkoer Singh datar.
"Tapi ini sangat penting. Terkait dengan kesehatan Aji. Mak.. maksud Saya Mr Vijay Singh."
"Aku tidak khawatir. Dia sudah terbiasa dengan sakitnya itu. Dia pasti akan baik-baik saja setelah ini," jawab tuan besar Sangkoer Singh, tanpa menoleh ke arah papa Gilang.
"Tapi, apa yang Anda rahasiakan? tentang masa lalunya?" tanya papa Gilang mendesak.
Tuan besar Sangkoer Singh, tidak langsung menjawab pertanyaan dari papa Gilang. Dia, hanya menoleh sekilas, kemudian kembali ke posisinya semula, menatap ke bawah, dimana lantai rumah sakit yang terasa dingin, sedingin perasaannya saat ini.
"Jika Anda tidak peduli dengannya, mari kita buktikan, dan setelah itu semuanya akan baik-baik saja, kembali pada situasi yang ada pada keadaan semula."
Perkataan papa Gilang, yang terdengar sedang menantang, hanya ditanggapi dengan senyuman sinis dari tuan besar Sangkoer Singh. Dia tidak mau menanggapi dengan serius apa yang dikatakan oleh papa Gilang saat ini.
__ADS_1
"Aku bukan tidak peduli dengannya. Aku hanya ingin, membuat hatiku merasa tenang tanpa rasa khawatir yang berlebihan. Hal seperti ini, sering terjadi, dan dia sangat kuat. Aku tahu, suatu hari nanti, dia akan tahu semuanya, tanpa Aku beritahu."
Papa Gilang, semakin merasa penasaran dengan apa yang dia dengar. Dia tidak tahu, apa maksud dari, semua perkataan tuan besar Sangkoer Singh itu.