
Dalam diamnya, Aji hanya memperhatikan Elisa, baik saat dia berbicara, gerakan tubuhnya, dan bagaimana dia berinteraksi dengan orang-orang yang ada di dalam kamar pasiennya ini.
Dia memang tidak mengenal Elisa sebelumnya, tapi dia juga merasa tidak asing lagi dengan sosok Elisa, apalagi saat tadi mendengar cerita dari adiknya, Jeny dan juga dari mamanya, Cilla.
"Oh, Tante pikir Kamu mau ikut pulang ke kostnya Rio." Mama Cilla, bernafas lega dan tersenyum canggung karena salah paham dengan jawaban Elisa tadi.
"Kamu gak ikut pulang Aku saja nanti?" tanya Jeny, menawari Elisa.
"Aku mau menyelesaikan beberapa hal Jen. Pindah kost yang kemarin, terus pamit dari mini market, dan Club juga. Aku salah kemarin itu. Hanya berpikir pendek dan tidak memikirkan bagaimana yang seharusnya. Maaf ya Jen," jawab Elisa, memberikan penjelasan pada Jeny.
"Ok lah. Aku percaya dengan Kamu. Pasti ada yang terbaik yang ada di depan nantinya. Kamu yang semangat ya El," kata Jeny, mendukung rencana Elisa.
"Ya sudah, Aku pamit sekarang saja ya, mumpung belum terlalu malam."
Jeny, mengangguk sambil tersenyum, menanggapi Elisa yang pamit untuk pulang.
"Tan, Om. El pulang dulu," pamit Elisa pada mama Cilla dan papa Gilang.
"Ya nih Om, Tante. Rio juga pamit, mau antar Elisa sekalian." Rio, juga berpamitan.
"Hati-hati ya El. Dan Kamu Rio, Tante titip Elisa ya, jaga baik-baik. Jangan sampai kabur lagu," kata mama Cilla, memberi pesan pada Rio.
"Siap Tante!" jawab Rio, dengan mengacungkan jari jempolnya.
Papa Gilang, hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Jen. Aku balik ya," pamit Rio pada Jeny.
"Ati-ati ya. Jewer saja si El kalau bandel! hihihi..." pesan Jeny dengan tersenyum geli.
Elisa, cemberut karena mendengar ledekan dari Jeny, yang disampaikan lewat pesan untuk Rio.
Aji masih diam, menunggu Elisa atau Rio yang akan berpamitan dengannya. Tapi ternyata, Elisa maupun Rio, tidak ada yang melakukannya. Mereka berdua, sama-sama saling pandang dan sama-sama terdiam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini.
Rio, menyenggol lengan Elisa, memberikan isyarat padanya agar segera berpamitan pad Aji. Tapi, Elisa juga meminta agar Rio saja yang berpamitan, lewat isyarat mata dan dagunya.
__ADS_1
Jeny, mama Cilla dan papa Gilang, saling pandang satu sama lainnya sambil tersenyum tipis melihat tingkah Elisa yang sedang canggung karena merasa tidak dikenal Aji.
Tapi, bukan Elisa, jika tidak mampu mengatasi semua perasaan yang tidak nyaman kapanpun itu. Dengan menghela nafas panjang, Elisa melangkah ke depan, mendekat ke arah tempat tidur Aji.
"Kak... El... Elisa balik dulu. Besok-besok, kalau ada waktu, Elisa akan jenguk Kakak lagi."
Tanpa menunggu jawaban dari Aji, Elisa langsung berbalik dan berjalan keluar dari kamar pasien Aji.
Semua orang yang ada di dalam kamar tersebut, mendelik kaget dengan tingkah Elisa, tapi tak lama kemudian, mereka juga tertawa kecil saat sadar, jika Elisa sedang menahan rasa malunya itu.
"Dasar gadis aneh," kata Aji, dalam hati.
"Ya sudah Kak. Rio balik ya," pamit Rio pada Aji.
"Hati-hati. Jaga dia ya," sahut Aji, memberi pesan pada Rio.
Rio pun mengangguk dan tersenyum pada Aji. Kini Rio tahu, Aji masih memperhatikan Elisa, meskipun ingatannya tentang Elisa tidak sebaik kemarin-kemarin.
Sekarang, Rio sudah bisa mengejar langkah Elisa. Mereka berdua, berjalan berdampingan menuju ke jalan raya. Kita nunggu taksi, ke kampus dulu, ambil mobil, baru ke kost Kamu ya," usul Rio pada Elisa.
"Terus gimana?" tanya Rio, ingin tahu bagaimana rencana Elisa saat ini.
"Aku balik sendiri ke kost. Kamu juga balik ke kost, atau ke kampus ambil mobil juga gak apa-apa."
"Kan tadi gak kayak gitu rencananya." Rio, berusaha untuk mengingatkan kembali, apa yang tadi mereka rencanakan.
"Tapi Aku pikir, itu yang lebih praktis," kata Elisa beralasan.
"Tapi El, ini sudah malam. Lagian tadi, tante Cilla minta Aku jagain Kamu, kak Aji juga."
"Hah, kak Aji?" Elisa langsung menyahut cepat, begitu Rio mengatakan jika Aji juga berpesan sama seperti mama Cilla.
"Iya," jawab Rio datar.
"Masak? Kamu bohong ya, cuma buat Aku ikut apa kata Kamu saja."
__ADS_1
"Rugi El, bohong sama Kamu."
"Hemmm, iya deh!"
Akhirnya Elisa menurut saja, apa yang dikatakan oleh Rio. Dia ikut menunggu taksi bersama dengan Rio.
*****
Saat perjalanan menuju ke kampus, Elisa bertanya pada Rio, "Rio. El boleh tanya?"
"Apa?" tanya Rio dengan wajah cemas, karena mendengar suara Elisa yang tidak seperti biasanya.
"Waktu teman Kamu datang ke rumahku saat itu, bagaimana keadaan bapak?" tanya Elisa, dengan mata berkaca-kaca. Dia sedih, membayangkan bapaknya yang hidup sendiri, dan tidak ada orang lain di rumah, kecuali hanya dengan satu penjaga, yang memang ikut bersama keluarganya sedari dulu. Itupun, sekarang, usianya sudah lebih tua dibanding dengan bapaknya sendiri.
Bapak Elisa, seorang duda. Ibunya Elisa, sudah meninggal saat Elisa umur empat belas tahun dan dia anak tunggal. Bapaknya, tidak mau menikah lagi. Ada satu penjaga rumah, yang sudah ikut bersama dengan keluarganya, sejak jaman bapaknya masih kecil, jadi dia adalah pengasuh bapaknya dulu.
Itulah sebabnya, Elisa remaja, tumbuh menjadi gadis manja yang semaunya. Dia tidak mau di atur, karena bapaknya, tidak banyak melarang kegiatan Elisa, selama Elisa merasa senang.
"Bapak Kamu sehat El. Tapi dia juga seperti orang yang sedang bingung. Mungkin karena Kamu, tidak pernah mengabari dan dia juga tidak bisa menelponmu, selama handphone Kamu itu tidak ada."
Kini Elisa malah terisak, saat mendengar jawaban dari Rio. Dia merasa bersalah karena telah membuat keputusan yang hanya menuruti keinginannya saja.
"Aku... kemarin itu Aku pikir bisa mengatasi masalahku sendiri. Aku tidak tahu, jika hidup di Jakarta itu mahal. Banyak sekali yang tidak Aku pikirkan dulu, ternyata menjadi salah satu permasalahan, yang sering terjadi pada setiap orang, apalagi perantau tanpa bekal seperti Aku ini."
"Maksudnya El?" tanya Rio bingung.
"Uang Rio. Banyak kan yang gelap mata, hanya karena ingin mendapatkan uang saat kepepet. Untung Aku masih mendapat banyak keberuntungan, dipertemukan dengan orang-orang baik. Tapi, tidak tahu juga apa yang akan terjadi ke depan jika Aku tidak di ajak pulang Kak Aji. Makanya, ini Aku mau pamit sama yang punya mini market dan Club. Gak enak kan, saat Aku butuh mereka sudah bantu, malah ngilang gak ada kabar."
"Ya sudah, nanti kita langsung ke Club saja. Sekalian pamit, Aku temani ya," kata Rio menawari.
"Eh, gak ganggu waktu istirahat Kamu? Aku bisa kok sendiri."
"Gak. Pokoknya, Aku akan kawal Kamu, selama kak Aji sakit dan belum mengingat dirimu dengan baik."
Elisa hanya diam. Dia tidak mau membantah perkataan Rio saat ini. Dia masih kepikiran dengan keadaan bapaknya di rumah.
__ADS_1