
Cilla tertunduk malu, saat dilihat oleh Gilang tanpa berkedip.
"Jangan malu-malu Cilla. Tunjukkan, jika kamu juga punya pesona," bisik mbak Diyah, didekat telinga Cilla.
"Mbak Diyah, apaan sih," kata Cilla tersipu-sipu dengan menundukkan kepalanya.
"Ehem!"
Cilla mendongakkan kepalanya melihat ke arah Gilang yang berdehem. Tapi, itu tidak lama. Dia kembali menundukkan kepalanya, karena tatapan mata Gilang yang sedang tertuju padanya.
"Ayok-ayok! Kita ke luar. Sudah ditunggu di panggung tuh. Ayuk Sayang!" ajak mami Rossa pada semuanya. Dia juga mengajak Aji, yang sedari tadi hanya diam, sambil memperhatikan mamanya.
"Aji saja bisa terpesona dengan mamanya sendiri, bagaimana bisa Aku berpaling dari wajah kamu malam ini," kata Gilang, saat berjalan disampingnya Cilla.
"Mas sudah. Jangan bikin aku tambah malu," kata Cilla dengan wajah memerah.
"Semoga saja, para tamu malam ini pada katarak matanya, jadi gak bisa jelas lihat wajah cantik kamu," kata Gilang, yang tidak rela jika kecantikan Cilla di lihat orang banyak.
"Hush. Doanya kok jelek bener!" kata Cilla dengan cepat.
"Hehehe... Aku tidak rela saja, jika mereka tidak bisa berpaling nantinya," kata Gilang beralasan.
"Hem... apa tidak perlu ada acara pesta, dan kita suruh mereka kembali ke Jakarta lagi?" tanya Cilla pada Gilang. Dia merasa malam ini, Gilang bertingkah aneh.
"Eh, jangan dong! Kan Aku mau buat pengumuman, biar Adi dan adeknya itu, tidak lagi berharap dengan Kamu, Honey."
"Makanya jangan aneh-aneh deh Mas," kata Cilla mengingatkan Gilang.
"Kita sambut tuan rumah, yang mengundang kita semua dalam acara ini. Mari ke atas panggung tuan Gilang!"
Pembawa acara, meminta Gilang, untuk naik keatas panggung, begitu Gilang terlihat keluar dari dalam rumah.
"Aku naik dulu ya," pamit Gilang pada Cilla dan juga mami Rossa. Aji dia ajak serta, ikut naik keatas panggung, terlebih dahulu.
Semua tamu undangan, terpesona dengan penampilan Gilang malam ini. Dia terlihat begitu rupawan dan perfek. Apa lagi dengan anak kecil yang dia ajak ikut naik bersamanya. Mereka berdua, tampak serasi dengan setelan jas berwarna merah.
"Siapa anak itu?"
"Ganteng banget anaknya, tapi kok mirip ya dengan tuan Gilang?"
"Serasi sekali!"
"Mau aku jadi mamanya anak kecil itu, apalagi dengan papanya juga."
"Apa itu anak yang menjadi korban penculikan, yang katanya anaknya tuan Gilang?"
"Eh, masak? Mamanya mana?"
__ADS_1
"Tidak tahu, kita lihat saja nanti."
"Wah... jadi penasaran, kayak apa ya mamanya?"
"Kita gak ada kesempatan lagi dong!"
Banyak sekali komentar-komentar yang terdengar, dari para tamu undangan. Terutama yang perempuan. Mereka membicarakan tentang ketampanan Gilang serta Aji.
"Itu kan Aji, anaknya Cilla."
"Iya. Itu anaknya Cilla!"
Tamu undangan yang berasal dari toko mami Rossa, mengenal Aji. Mereka semua memang tidak tahu, jika Cilla lah gadis yang menjadi korban penculikan bersama dengan Aji, anaknya.
Mereka tentunya tidak menyangka, jika Cilla lah yang selama ini dibicarakan oleh semua orang, yang akan menjadi calon istrinya tuan muda Gilang.
"Apakah Cilla yang akan menjadi calon istrinya tuan Gilang?"
"Wah, beruntung sekali dia!"
"Kita aman gak ya? Kita kan sering jahat sama Cilla."
Teman-teman Cilla, yang dulu pernah berbuat jahat, merasa tidak nyaman dan khawatir jika Cilla akan membalas perbuatan mereka nantinya.
Gilang sudah ada di atas panggung bersama dengan Aji. Pembawa acara, meminta Gilang untuk memberikan penjelasan kepada para tamu undangan, tentang diadakannya acara malam ini.
Pembawa acara menyerahkan pengeras suara pada Gilang. Dia mundur satu langkah berada di belakang Gilang.
Semua tamu undangan malam ini, memang tidak tahu, jika acara yang diadakan di villa Sentul ini, untuk memberikan pengumuman, tentang keberadaan Aji dan Cilla, sekaligus merayakan hari ulang tahun Aji yang ke lima.
Mereka semua hanya diminta datang dengan, kendaraan yang sudah disediakan oleh pihak perusahaan PT GAS. Begitu juga dengan karyawan toko mami Rossa, kecuali mbak Diyah, yang memang sudah mengetahui sebelumnya.
Tuan Adi dan adiknya, dokter Dimas, berserta komandan polisi hanya diminta untuk datang untuk merayakan hari ulang tahun Aji. Jadi mereka juga tidak tahu, jika Gilang akan memberikan pengumuman yang lainnya juga.
*****
"Terima kasih semuanya yang sudah mau ikut hadir dalam acara pesta kecil yang Saya selenggarakan ini. Pesta ini, memang untuk ulang tahun Aji Putra, anak Saya ini."
Gilang mulai bicara. Dia juga mengenalkan Aji, pada semuanya, sebagai anaknya juga.
"Ini anak Saya. Aji. Sekarang, Aji berulang tahun yang ke lima. Dan untuk kado ulang tahunnya, Saya akan memberikan pengumuman, jika Saya akan segera menikahi mamanya sebulan lagi."
Aji melihat ke arah papanya itu. Dia tersenyum mendengar perkataan Gilang. Dia merasa sangat senang dengan apa yang dikatakan oleh papanya, yang mengakui jika dia adalah anaknya sendiri.
"Terima kasih Pa. Aji senang mendengarnya," kata Aji dengan memeluk papanya.
"Mamanya mana Tuan?" tanya salah satu tamu undangan.
__ADS_1
"Sabar napa jeng!" kata temannya yang lain.
"Aku penasaran. Cewek kayak apa yang bisa menaklukkan hatinya tuan Gilang," kata tamu itu lagi.
"Iya. Aku juga merasa penasaran sih!"
"Honey, mamanya Aji, mari ke atas panggung!" pinta Gilang pada Cilla.
Mami Rossa, mengangguk pada Cilla yang sedang menatapnya. Cilla menghela nafas panjang terlebih dahulu, sebelum menyambut uluran tangan mami Rossa, yang mengajaknya untuk naik ke atas panggung.
Cilla dan mami Rossa naik bersama-sama. Dua wanita beda usia itu sama-sama terlihat anggun.
"Wah... Cantiknya!"
"Pantes aja Gilang takluk."
"Ngiri gue!"
"Beruntungnya dia bisa mendapatkan tuan Gilang."
"Itu benar mbak Cilla Mas?" tanya dokter Dimas pada abangnya, tuan Adi.
"Hem. Iya lah itu Cilla, siapa lagi? Sekarang tidak ada lagi kesempatan buat kita." jawab tuan Adi.
"Hahaha... kalian ini," komentar komandan polisi pada tuan Adi dan dokter Dimas.
*****
Cilla dan mami Rossa sudah ada di atas panggung. Mereka berdua, berdiri di samping Gilang dan juga Aji.
"Ini dia, mamanya Aji, Cilla Andini. Kami meminta doa pada semuanya, agar rencana kami untuk menikah nanti, berjalan dengan baik dan lancar."
"Aamiin...!"
"Aamiin."
"Aamiin Tuan. Semoga lancar dan membawa kebahagiaan."
Tamu undangan, bersama-sama mendoakan agar rencana mereka berdua, bisa berjalan dengan baik.
Mami Rossa memeluk Cilla dan Aji. Dia juga berganti memeluk anaknya, Gilang.
"Selamat ya Sayang. Oma berdoa, semoga Kamu tetap jadi anak yang pintar dan cerdas!"
"Terima kasih Oma," kata Aji, kemudian memeluk mami Rossa lagi.
"Selamat juga untuk kalian berdua. Mami hanya bisa berdoa dan mendukung, apa yang menjadi rencana baik ini," kata mami Rossa pada Cilla dan Gilang, setelah melepaskan pelukannya pada Aji.
__ADS_1
"Terima kasih Mi. Tanpa Mami, Kami juga tidak bisa berbuat banyak," kata Gilang pada maminya.