Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kabar Mendadak


__ADS_3

Elisa, masih saja kepikiran tentang apa yang dia lihat tadi. Alhasil, saat makan burger bersama dengan Aji, Elisa jadi melamun dan tidak makan dengan benar.


"Sayang, El. Kamu kenapa? ini kan jadi belepotan." Aji, mengingatkan pada Elisa, karena saus yang ada di dalam Burger jadi menetes dan mengotori meja di depannya, tapi hal itu tidak disadari oleh Elisa sendiri.


"Eh, apa Kak?" tanya Elisa, saat Aji menyentuh bagian bibir bawahnya, karena belepotan saus juga.


"Kamu kenapa?" tanya Aji lagi, karena sepertinya, pertanyaan Aji yang tadi, tidak didengar oleh Elisa.


"Emhhh, tidak apa-apa Kak."


Jawaban yang diberikan oleh Elisa, justru membuat Aji tidak percaya. Dia yakin, Elisa sedang memikirkan sesuatu yang tidak dia ketahui.


"Kamu mikirin apa? tadi tanya-tanya soal Biyan, memang Kamu lihat Biyan tadi?"


Akhirnya, Aji menebak-nebak apa yang sebenarnya ingin dikatakan Elisa tadi.


"Tidak-tidak. Tidak apa-apa Kak," jawab Elisa gugup.


"Ya sudah, ayo di makan lagi."


Elisa menurut. Dia makan burger bersama Aji, dengan tenang dan berusaha bersikap seperti tidak ada apa-apa. Meskipun ada banyak tanda tanya besar di dalam hatinya.


"Setelah ini, kita ke toko baju nemuin mama Cilla ya," kata Aji, mengajak Elisa untuk mampir ke tempat mamanya.


Elisa hanya mengangguk. Dia masih makan Burger_nya. Dengan hati yang tidak tenang di tempat. Tapi, dia tidak mau terlihat tidak tenang dimata suaminya, Aji.


Tadi, sebenarnya Elisa melihat adik iparnya, Biyan, yang sedang berjalan berdua bersama dengan seorang wanita yang menurut penglihatan Elisa, tidak jauh berbeda dengan mama Cilla, mamanya Biyan sekaligus mama mertuanya. Tapi bisa dipastikan, jika itu bukanlah mama Cilla sendiri.


"Siapa ya wanita itu?" tanya Elisa dalam hati. Sekarang, dia jadi melamun lagi. Dia tidak mendengar ajakan suaminya, yang sudah selesai makan Burger_nya.

__ADS_1


Untungnya, dia juga sudah hampir selesai makan burger, hanya tinggal beberapa gigit saja yang belum dia makan, karena melamun lagi. Jadi, Aji mengira jika dia sudah kenyang dan tidak sanggup lagi makan burger tersebut.


"Sudah kenyang ya Sayang? Kita ke toko baju sekarang yuk!" ajak Aji, karena melihat istrinya itu sudah tidak lagi makan burger yang ada di tangannya, karena sudah merasa kenyang.


"Eh, iya Kak."


Elisa gugup saat mendengar ajakan suaminya itu. Dia segera meletakkan sisa burger, dan minum seteguk. Setelah itu, dia mengambil tissue untuk membersihkan tangan dan mulutnya, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti langkah Aji, menuju ke toko baju, dimana mama Cilla berada sekarang ini.


Mereka masuk ke toko baju, yang mirip dengan butik, di Mall tersebut. Elisa, yang selama ini memang belum pernah tahu tentang toko baju tersebut, berdecak kagum saat melihat interior toko, dan koleksi baju-baju yang tergantung rapi. Begitu juga dengan pajangan yang ada di patung manekin didepan pintu masuk toko. Dia jadi terkagum-kagum, dengan toko baju milik mama Cilla. Mama mertuanya itu.


"Sayang, sini!" Aji, memangil Elisa, yang masih betah menelusuri setiap deretan baju-baju yang tergantung rapi.


Elisa pergi mendekat ke tempat suaminya berada. Di sana, ada mama Cilla dan juga...


Elisa jadi mengerutkan keningnya melihat siapa yang ada diantara suaminya dan mama Cilla. Orang itu adalah, orang yang sama dengan orang yang tadi sempat dilihat Elisa, bersama dengan adik iparnya, Biyan.


"Kalian tumben ke sini, ada apa?" tanya mama Cilla, saat Elisa sudah datang mendekat.


"Ma. Tadinya, Kita datang ke rumah, tapi sudah sepi dan tidak ada orang lain, selain para pekerja yang ada di rumah. Ya sudah, akhirnya kita inisiatif ke sini saja. Sekalian kami mau pamit." Aji, mengatakan alasannya datang ke Mall ini, menemui mamanya.


"Pamit? maksudnya apa Aji?" tanya mama Cilla bingung, dengan penjelasan yang diberikan anaknya, Aji.


Akhirnya, Aji menceritakan tentang perubahan rencana untuk pergi ke India, yang diajukan jadi besok siang berangkatnya. Penjelasan Aji ini, membuat mama Cilla jadi merasa kaget, menggeleng cepat. "Kenapa dimajukan?" tanya mama Cilla dengan wajah yang tidak bisa digambarkan. Dia merasa tidak senang dengan keputusan yang diambil oleh Aji, anaknya, bersama dengan tuan besar Sangkoer Singh.


"Maaf Ma. Ini diluar rencana kami, dan benar-benar mendesak." Aku, meminta maaf pada mama Cilla, dengan dimajukannya rencana keberangkatannya dan Elisa ke India.


Mama Cilla hanya bisa menghela nafas panjang dan diam tanpa berkomentar lagi. Dia hanya merasa kaget, atas berita yang disampaikan Aji secara mendadak ini.


"Papa sudah tahu?" tanya mama Cilla pada akhirnya.

__ADS_1


"Belum Ma," jawab Aji pendek.


"Kapan kalian akan memberitahu papa?" tanya mama Cilla lagi.


"Emhhh... mungkin sore atau malam ini, jika papa pulang kerja, atau mama dan papa bisa ke apartemen, membantu kami berkemas sekalian acara perpisahan kecil-kecilan?" jawab aji, memberikan pertanyaan juga pada mama Cilla, sebagai usulan untuk acara nanti malam.


"Kami baru pulang dari rumah Jeny Ma," kata Elisa, membantu Aji menjelaskan kegiatan mereka tadi.


"Oh, kalian sudah pamitan dengan Jeny?" tanya mama Cilla dengan wajah penuh pertanyaan


"Iya Ma. Kan tadi Aji sudah bilang, kalau perubahan ini mendadak. Aji juga dapat kabar ini saat berada di rumah Jeny. Kami langsung datang ke rumah, tapi ternyata, semua orang sedang tidak berada di rumah. Akhirnya, kami datang ke Mall, sekalian memberitahu pada mama."


Jawaban dan penjelasan yang disampaikan oleh Aji, membuat mama Cilla terdiam. Dia tidak mungkin mengatakan keberatannya, karena ini juga untuk masa depan keluarga anaknya itu, Aji. Dia tidak boleh egois, hanya karena tidak ingin Aji dan Elisa pergi ke India. Yang dia inginkan, keluarga anaknya itu bisa berbahagia dengan adanya anak-anak, yang bisa menjadi pelipur hati dan kesepian hari-hari mereka kedepannya.


"Baiklah. Kamu sebaiknya beri kabar ke papa. Nanti malam kami akan datang ke apartemen dan ikut mengantar kalian ke bandara pagi harinya," kata mama Cilla, dengan menghela nafas panjang, untuk melapangkan dadanya yang tiba-tiba terasa penuh sesak.


"Terima kasih Ma. Secepatnya kami akan menghubungi papa untuk pamitan." Aji, mengangguk mengiyakan perkataan mamanya. "Kalau begitu, kami pamit pulang dulu Ma. Ini sudah hampir sore," Aji, melanjutkan kata-katanya sendiri, kemudian memeluk mama Cilla dan pamit untuk pulang ke apartemen terlebih dahulu.


"Iya, hati-hati." Hanya itu, jawaban yang diberikan oleh mama Cilla.


Elisa, ikut memeluk mama mertuanya itu, setelah Aji melepaskan pelukannya pada mama Cilla. Dia tidak lagi mengatakan apa-apa, agar tidak menambah beban pikiran. Dia berharap, mana Cilla melepas mereka dengan baik dan doa yang baik juga, agar harapan dan tujuan suaminya, Aji, ke India ada hasilnya untuk kebahagiaan keluarga mereka.


*** Selamat tahun baru semua 🎉🎉🎉


Tetap jaga kesehatan dan semangat 😍😍😍


jangan lupa mampir ke novel TK untuk event Berbagi Cinta ya 🤩🤩🤗🙏


__ADS_1


__ADS_2