Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Keanehan Aji


__ADS_3

Suasana kamar menjadi hening, saat Aji bercerita tentang kejadian siang tadi.


Gilang, mendengarkan cerita anaknya itu dengan seksama, sambil duduk ditepi ranjang pasien Aji. Sedangkan Cilla dan mami Rossa, duduk terdiam di kursi, yang mereka tarik agar lebih dekat dengan tempat tidurnya Aji. Mereka berdua, tidak memperhatikan kondisi jalan saat itu, jadi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tahu-tahu, mobil sudah beralih ke trotoar dan menabrak tiang lalu lintas. Kejadian itu berlangsung cepat.


Dari cerita yang diberikan oleh Aji, Gilang membenarkannya. Tadi beberapa warga yang menjadi saksi atas kejadian itu, juga menceritakan hal yang sama. Sekarang, tinggal mencari keberadaan mobil itu dan pemiliknya, serta pengemudi mobil tersebut.


"Aji mengenal wajah pengemudinya?" tanya Gilang tiba-tiba.


"Tidak Pa. Dia memakai topi dan juga masker. Aji tidak tahu siapa dia," jawab Aji sambil mengelengkan kepalanya.


"Ya sudah. Biar pihak kepolisian yang mengusutnya. Ada beberapa cctv, yang bisa dijadikan bukti juga, untuk penyelidikan lebih lanjut. Komandan polisi sahabat Papa, juga ikut serta dalam menangani kasus ini. Kalau barang-barang Mami dan Honey, sementara ada di kantor polisi, untuk barang bukti. Sudah diurus juga oleh pengacara keluarga."


"Syukurlah. Kamu bergerak cepat Sayang," kata mami Rossa memuji Gilang.


"Pihak EO bagaimana?" tanya mami Rossa, begitu dia ingat dengan janji temu yang akan dia lakukan siang tadi, sebab sekarang ini sudah malam hari.


"Gilang sudah kabari mereka Mi. Mereka mengucapkan, ikut prihatin dengan kejadian ini," jawab Gilang dengan wajah sedih.


"Oh ya, Gilang kembali ke ruang operasi dulu. Takutnya dokter sudah selesai," kata Gilang berpamitan.


"Ya," jawab mami Rossa pendek.


Cilla dan Aji hanya mengangguk. Mereka berdua saling berpelukan, "Sayang, Mama sangat bersyukur karena Kamu sudah sadar," kata Cilla dengan bernafas lega.


*****


Seminggu kemudian.


Luka-luka yang dialami Cilla, sudah mengering. Dia juga sudah berjalan dengan normal, dan tidak lagi berjalan dengan pincang.


Mami Rossa juga sama. Dia merasa sangat bersyukur, karena masih diberikan kesehatan dan keselamatan. Dia juga masih bisa mengikuti dan melanjutkan rencana wedding, untuk Gilang dan Cillaz yang sudah semakin dekat dengan hari H nya.

__ADS_1


"Besok lusa, jangan lupa untuk acara foto ya Gilang! Mami ambil waktu libur, biar tidak menggangu jam kantor," kata mami Rossa mengingatkan anaknya, sewaktu makan malam.


"Lah, fitting bajunya?" tanya Gilang bingung. Dia merasa belum melakukan fitting baju.


"Besok," jawab mami Rossa pendek.


"Ah, itu sama saja Mi. Jam kerja juga," kata Gilang merajuk.


"Lah, gimana lagi? Acara kita waktunya sudah dekat dan persiapan tertunda gara-gara kecelakaan kemarin itu," kata mami Rossa beralasan.


"Ya deh. Gilang usahakan untuk bisa datang telat waktu. Atau kalau kantor wedding mau, kita ke sana sore, jadi Gilang sekalian pulang saja nantinya."


"Hem.... begitu juga bisa," kata mami Rossa datar.


Cilla hanya diam mendengarkan. Dia tidak tahu mau mengusulkan apa, agar semuanya bisa teratasi dengan baik.


Aji, yang baru saja selesai makan, melihat ke arah papanya. Dia juga melihat ke arah omanya, mami Rossa, kemudian terakhir pada Cilla.


"Kenapa Sayang?" tanya Cilla. Dia merasa khawatir, saat melihat anaknya sedang memegang keningnya sendiri.


"Tidak apa-apa Ma. Cuma Aji tidak bisa ikut berpikir, tentang bagaimana baiknya, rencana fitting baju dan foto prewedding yang tidak akan menggangu waktu Papa di kantor," kata Aji memberitahu.


"Oh... tidak apa-apa Sayang. Ini sudah diurus oleh pihak EO kok. Kita tinggal menunggu waktu saja." Mami Rossa menerangkan pada cucunya.


"Tapi Oma, apa tidak sebaiknya foto prewedding dilakukan di rumah ini saja? Ada kolam renang, ada kolam ikan dan taman, ada garansi mobil dan halaman depan yang luas. Pihak EO pasti bisa menyulap semuanya itu menjadi latar belakang foto yang bagus juga," kaya Aji menerangkan. Dia berpikir, jika tidak perlu keluar rumah lagi hanya untuk keperluan foto.


"Sayang. Apa Kamu trauma dengan kejadian kecelakaan kemarin itu?" tanya mami Rossa, dengan mengerutkan keningnya .


"Tidak Oma. Aji hanya berpikir, jika kita tidak perlu pergi jauh-jauh dan mengabiskan waktu, jika hanya untuk mencari lokasi yang bisa mendukung prewedding papa dan mama," jawab Aji sambil mengelengkan kepalanya.


Cilla menatap ke arah Gilang, begitu juga dengan Gilang, yang sedang menatap wajah Cilla, seakan-akan meminta pendapatnya.

__ADS_1


"Bagus juga idenya Aji. Bagaimana Gilang, Cilla?" tanya mami Rossa, pada kedua calon pengantinnya.


"Aku rasa itu juga bagus Mi. Kita bisa bicarakan dengan pihak EO besok. Jika mereka tidak keberatan dengan semuanya, pasti akan lebih cepat dan menghemat waktu. Lagi pula, EO pasti memaklumi, mengingat kejadian kemarin itu. Bagaimana Honey?" tanya Gilang pada Cilla, saat selesai menguraikan ide dan juga pendapat dari Aji tadi.


"Aku setuju juga dengan idenya Aji," jawaban Cilla dengan tersenyum. Dia merasa Aji selalu bisa mencari ide-ide yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka yang terbilang sudah dewasa.


"Ok. Besok, sewaktu fitting baju, kita akan bicarakan dengan pihak EO. Semoga, besok semuanya berjalan dengan lancar dan tidak lagi ada halangan yang berarti."


"Ya Mi. Aamiin."


"Aamiin..."


Gilang dan Cilla, bersamaan saat mengamini perkataan mami Rossa. Pada akhirnya, mereka berdua saling pandang dan tersenyum. Mereka, terutama Cilla, sudah semakin terbiasa dan tidak lagi merasa canggung, serta malu-malu lagi dengan Gilang.


Aji menghabiskan minumannya. Dia turun dari kursi, tempatnya duduk, dan mengajak mamanya untuk pergi dari tempatnya berada sekarang ini.


"Aji mau ajak mama ke mana?" tanya Cilla bingung.


Gilang dan mami Rossa, memandang tingkah Aji, yang tidak seperti biasanya. "Aji kenapa ya Mi?" tanya Gilang penasaran.


"Mami juga tidak tahu. Apa kemarin, sewaktu pemeriksaannya yang terakhir dibagian kepala, tidak ada sesuatu yang terjadi?" tanya mami Rossa curiga.


"Tidak ada Mi. Memang Mami berpikir apa sih?" tanya Gilang tidak mengerti apa maksud maminya.


"Tidak. Mami hanya khawatir Sayang. Kok dia terlihat sedikit aneh, sejak kejadian itu ya," kata mami Rossa dengan wajah cemas.


"Ihs... Mami jangan berpikir yang tidak-tidak. Aji baik-baik saja. Mungkin, dia sedang ingin sesuatu yang hanya bisa dia bicarakan dengan mamanya," kata Gilang menebak.


Mami Rossa mengangguk, kemudian berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke arah ruang tengah. Ternyata, Aji dan Cilla tidak ada di sana.


"Di mana mereka?" tanya mami Rossa pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ada apa Mi?" tanya Gilang dari arah belakang mami Rossa.


__ADS_2