Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Mr Vijay 2


__ADS_3

"Apa Jen?" tanya Elisa, yang samar-samar mendengar suara Jeny yang tidak jelas itu.


"Ti... tidak apa-apa," jawab Jeny dengan gugup.


"Mana mungkin itu kakak. Dia juga tidak mengenalku. Jika dia kak Aji, pasti dia langsung mengenali diriku, dan juga memelukku." Jeny berkata kepada dirinya sendiri.


Tapi berbeda dengan Jeny, Mr Vijay justru merasa pusing saat dia melihat gadis tadi. Dia seperti tidak asing dan sering melihatnya sebelum ini, tapi dia tidak mengingatnya. Semakin dia berusaha untuk mengingat, kepalanya terasa sangat sakit.


Saat Mr Vijay, memegang kepalanya, asistennya, langsung memberikan sebutir obat yang selalu ada di tas kecil yang dia bawa. Dia paham apa yang sedang terjadi dengan Mr Vijay. Asisten itu juga tahu, riwayat kesehatan dari atasannya tersebut.


"Terima kasih," ucap Mr Vijay, saat menerima obat dari asistennya, kemudian segera meminumnya dengan air, yang juga di sodorkan oleh asistennya tersebut.


"Jika Anda merasa pusing dan tidak enak badan, lebih baik acara kunjungan kita ke Tangerang dan Banten, di cancel terlebih dahulu. Besok, jika kesehatan Anda sudah membaik, baru kita lanjutkan lagi."


"Tidak-tidak. Aku baik-baik saja. Ini hanya pusing seperti biasanya," jawab Mr Vijay. Dia tidak enak hati, jika harus membatalkan rencana kunjungan. Sebab, kunjungan ini sudah terjadwal sejak sebulan yang lalu. Dia juga, terhitung visitor yang baru untuk tugas ini.


"Tolong bilang pada dewan kampus, Saya tidak bisa lama. Nanti, kalau waktunya kita ada di Indonesia masih tersisa, kita akan mampir lagi ke sini sebelum kita kembali ke India," kata Mr Vijay, melanjutkan kata-katanya yang tadi.


"Baik Mr," jawab sang asisten dengan cepat.


Asisten Mr Vijay, segera mendekat ke arah Dekan dan berbisik-bisik. Dekan mengangguk mengerti, karena sedari tadi dia memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan tamunya itu.


Mr Vijay, kembali ke pandangan yang sama, pada sosok gadis yang tadi. Tapi ternyata gadis itu sudah tidak berada di tempat yang tadi.


"Aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Siapa ya dia?" tanya Mr Vijay dalam hati.


"Tapi, Aku baru pertama kali menjalankan tugas ke Indonesia ini. Bagaimana mungkin, Aku pernah melihatnya sebelum hari ini?" tanya Mr Vijay lagi, masih di dalam hatinya sendiri.


"Aghrrr..."


Mr Vijay, memegang kepalanya yang terasa semakin sakit. Dengan cekatan, asistennya itu, membimbingnya untuk segera masuk ke dalam ruangan dan membaringkan tubuhnya ke sofa.


Semua petinggi kampus, merasa bingung dengan apa yang terjadi pada tamunya itu. Dekan yang baru saja diberi tahu oleh asisten Mr Vijay, langsung meminta pada yang lain untuk kembali ke tempat kerja masing-masing. Dia juga meminta agar acara penyambutan di batalkan.

__ADS_1


Mereka semua saling pandang satu sama lainnya. Apalagi tadi, saat ada salah satu dosen yang mau ikut membantu, di cegah oleh asisten Mr Vijay.


"Tidak perlu Pak. Mr Vijay, tidak suka disentuh oleh orang lain.


"Kenapa ya dia?" tanya salah satu dosen wanita yang ikut menyaksikan sendiri bagaimana Mr Vijay merasa kesakitan pada area kepalanya.


"Kasian ya. Apa dia menderita penyakit parah?"


"Eman, ganteng-ganteng kok penyakitan."


Para dosen, khususnya yang wanita berbisik-bisik pelan dengan teman yang lain. Mereka semua tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada tamu mereka yang datang dari India itu.


*****


Di kantin kampus, Jeny melamun dan tidak meminum jus buah yang sudah dipesankan oleh Rio.


Elisa yang duduk di sebelahnya, hanya mengangkat kedua bahunya saat Rio bertanya padanya, dengan isyarat mata.


"Ah, Kamu ini. Bicaranya ngawur!" sergah Rio mendelik ke arah Elisa.


"Ehhmmmm... Jen," sapa Elisa, mencoba menyadarkan Jeny.


Tapi sepertinya, Jeny memang tidak menghiraukan keadaan sekitarnya. Dia lebih asyik dengan pikirannya sendiri.


Rio, yang duduk didepannya, mencoba menjentikkan jari tangan ke wajah Jeny.


Ctik!


"Eh..." Jeny tergagap dan sadar dari lamunannya.


"Jen. Jusnya buru di minum. Nanti keburu gak dingin, jadi gak enak," kata Rio beralasan.


"Oh ya, terima kasih ya."

__ADS_1


Elisa memicingkan matanya melihat tingkah Jeny. Dia merasa curiga dengan temannya itu. Tapi, dia juga tidak berani bertanya apa-apa. Dia takut jika Jeny, malah jadi ngambek nantinya.


Jeny, meminum jusnya sedikit. Kini, dia kembali berpikir tentang tamu kampus yang tadi.


"Aku tadi salah lihat gak sih? tapi bekas luka di keningnya, sama persis seperti milik kakak. Tapi, wajahnya memang tidak sama. Ah, mungkin saja memang mirip. Kan katanya, kita punya kembaran tujuh di dunia ini. Dan orang-orang itu, memang tidak sedarah dan sekandung juga dengan kita. Jadi tidak ada hubungan apa-apa, meskipun wajah kita bisa mirip."


Jeny terus berpikir tentang siapa tamu itu. Tapi dia juga tidak menemukan jawabannya. akhirnya, Jeny hanya bisa menghela nafas panjang dan memejamkan matanya untuk menghilangkan kegundahan hatinya sendiri.


*****


Mr Vijay. Dia adalah anak tunggal dari Sangkoer Singh. Pengusaha dan milyader India, yang menjadi pemilik perusahaan dan asosiasi serikat industri tekstil dan garmen Asia tenggara.


Jadi, Sangkoer Singh yang menyetujui orderan dunia yang masuk ke semua pabrik yang memproduksi tekstil dan garmen di Asia tenggara. Oleh karena itu, setiap satu tahun sekali, dia pasti akan berkunjung ke seluruh negara yang ada di Asia tenggara ini. Dan tahun ini, dia mengutus anaknya, Vijay Singh yang baru saja ikut bergabung setelah sembuh dari komanya yang panjang.


Saat ini, Mr Vijay sedang dalam perjalanan ke Tangerang. Dia, yang masih merasa penasaran, ingin mencari tahu informasi tentang gadis yang dia temui tadi.


"Tapi, aku tidak tahu namanya. Jika Aku bertanya pada dewan kampus, itu tidak sopan. Nanti, dia mengira Aku malah bermaksud yang bukan-bukan."


Mr Vijay terus berpikir, dan akhirnya dia menemukan ide yang mungkin bisa menjadi salah satu cara menemukan siapa sebenarnya gadis tadi.


Dengan kecerdasan yang dia miliki, Mr Vijay mencoba membuat sketsa wajah gadis itu dari layar Notebook.


"Mungkin dengan begini, Aku akan lebih mudah untuk mencari informasi tentang dia," guman Mr Vijay.


Dari hasil sketsa wajah gadis tersebut, Mr Vijay merasa bahwa, dia benar-benar tidak asing lagi dengan wajah itu. Tapi semakin dia berusaha untuk mengingat kembali ke dalam ingatan masa lalunya, Mr Vijay semakin merasa kesakitan pada kepalanya.


"Aghrrr..."


Asisten Mr Vijay menoleh dengan cepat. Dia merasa kaget, saat melihat atasannya itu berteriak keras dan akhirnya jatuh pingsan.


"Pak. Cari rumah sakit terdekat. Cepat!" perintahnya pada supir.


Supir yang bertugas, segera melajukan mobilnya dengan lebih cepat lagi. Dia mencari jalur ke arah rumah sakit terdekat yang ada.

__ADS_1


__ADS_2