Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Planning


__ADS_3

Mobil yang Jeny kemudikan, berhenti di pom bensin terlebih dahulu, untuk mengisi bahan bakar. Sebab, Jeny berpikir jika dia tidak perlu repot-repot lagi belok ke pom bensin, nanti saat waktunya untuk pulang.


"El. Skripsi Kamu gimana bimbingannya?" tanya Jeny, untuk mengisi kesunyian yang ada di dalam mobil.


"Lumayanlah. Tidak terlalu banyak koreksi," jawab Elisa sambil tersenyum tipis.


"Wah, bagus dong. Ini Aku saja kalau tidak sedang hamil, mungkin di minta banyak revisi. Soal, dosen pembimbing, yang Aku dapat agak... gimana ya, pokoknya gitu deh," kata Jeny, mengeluhkan tentang dosen pembimbing dan tugas skripsinya.


"Yang sabar ya Jen. Nanti, anak Kamu ikutan pintar tuh, karena sudah belajar sejak berada di dalam kandungan." Elisa, meminta Jeny agar lebih bersabar lagi.


"Berarti besok, Kamu lebih dulu lulusnya ya, daripada kakak?" Jeny, bertanya lagi, mengenai kelulusan mereka yang akan dilaksanakan tahun depan, Jika tidak ada halangan yang berarti.


"Iya ya, hehehe..." Elisa terkekeh, mengingat jika apa yang dikatakan Jeny ada benarnya.


"Tapi, Aku ada lahiran juga El. Kalau tidak bisa terkejar, Aku cuti, dan lanjut tahun berikutnya lagi. Hiks, kita jadi tidak bisa barengan ya?" tanya Jeny, mengeluhkan tentang keadaannya sekarang.


"Ah, Aku dan kak Aji, justru ingin cepat menyusul Kamu Jen. Sayangnya, kami belum bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Hihihi... tapi kita tetap usaha kok Jen," kata Elisa, sambil nyengir kuda.


"Hahaha... iya lah, itu karena kalian sama-sama doyan saja!"


"Ihsss... Jen. Jangan dibahas ah. Malu!" kata Elisa dengan berbisik-bisik. Dia takut jika ada salah satu petugas pom bensin yang mendengar pembicaraan mereka ini.


"Apa? kita berdua, sudah sama-sama dewasa, dan tidak tabu bahas masalah ini.. Kamu bisa cerita ke Aku jika ada yang mengganjal di hati, jika Kamu tidak berani bicara dengan Kakak. Pokoknya, Kamu harus bicara jika ada masalah, jangan hanya diam saja kayak dulu!"


Jeny, memperingatkan Elisa dengan menyipitkan mata, untuk menyakinkan bahwa, apa yang dia katakan itu karena dia peduli, dan bukan hanya omong kosong belaka.


"Iya Jen. Kita kan satu keluarga. Aku mau Kamu juga bicara jujur dan negur Aku ya, jika ada yang salah dengan Aku." Elisa, tersenyum sambil mengangguk, saat mengatakan semua itu pada Jeny, sahabatnya, yang sekarang ini sudah menjadi adik iparnya juga.


"Tapi kak Aji itu romantis ya? Aku saja, seandainya tidak adiknya, pasti akan jatuh cinta dengan semua pesona yang ada pada dirinya. Dulu, Aku sempat berkhayal seandainya kakak itu bukan anaknya mama dan papa. Hahaha... khayalan yang aneh kan? untungnya, pesona perjaka tua malah lebih menguasai hatiku. Hehehe..."


Jeny, bercerita tentang perasaan yang dia rasakan pada kakaknya Aji, juga terhadap suaminya yang sekarang ini, dokter Dimas.


"Berarti, dokter Dimas itu, sudah memiliki rasa padamu sejak kamu sudah lahir ya Jen. Sama kayak film serigala yang tenar itu, yang tidak jadi menikah dengan ibunya, karena ibunya lebih milih si vampir, tapi justru anak yang dikandungnya yang jadi jodohnya serigala."

__ADS_1


Elisa, jadi ingat sebuah film tenar, yang sama seperti kisah cintanya Jeny dengan dokter Dimas.


Jeny, tersenyum sambil mengangguk, mendengar perkataan Elisa yang menyingung soal film luar yang terkenal dan akhirnya, menginspirasi kisah-kisah yang serupa.


"Sudah Mbak," kata petugas pom bensin, membaritahukan bahwa, pengisian bahan bakar sudah selesai.


"Terima kasih Mas."


Jeny, membayar tagihan pom, kemudian menghidupkan kembali mesin mobil, menjalankannya ke arah jalan raya, menuju ke kampus.


*****


Di apartemen, Aji mendapatkan panggilan telpon dari papanya, papa Gilang.


..."Halo Pa!"...


..."Hai Ji. Kamu sudah menerima pesan dari India?"...


..."Sudah Pa. Ini Aji sedang menyiapkan beberapa bahan untuk keperluan audit."...


..."Bisa kok Pa. Cuma ini, email yang akan Aji kirim, belum sempurna. Jadi masih Aji tunda, dan belum Aji kirimkan."...


..."Oh gitu ya. Kamu kirim pesan saja dulu, biar ayah Kamu di sana tidak ragu, untuk menunggu hasilnya. Dia kn takut, seandainya dia sudah banyak berharap, Kamu malah tidak bisa."...


..."Iya Pa. Nanti, Aji kirim detail rencana untuk audit yang akan Aji lakukan dalam waktu dekat ini."...


..."Oh ya, jika Kamu sedang tidak ada di apartemen, suruh Elisa tinggal di rumah saja. Ini untuk keselamatan dia."...


..."Iya Pa. Nanti, jika Aji sudah mulai kerja lapangan, Aji akan mengantar Elisa ke rumah."...


..."Ya sudah. Papa tutup ya telponnya?"...


..."Iya Pa. Terima kasih, sudah diingatkan."...

__ADS_1


Aji, menghela nafas panjang lalu membuangnya secara perlahan-lahan. Dia jadi membayangkan hidup terpisah untuk beberapa waktu jika sedang bertugas di daerah-daerah atau ke luar negeri, seperti yang di tugaskan oleh ayah angkatnya di India, tuan besar Sangkoer Singh.


"Apa Elisa aku ajak saja ya!" kata Aji, berpikir dalam hati.


"Tapi, dia sedang mengurus skripsi. Kasihan, jika tertunda-tunda. Kemarin dia ingin, seandainya hamil, sudah menyelesaikan pendidikan sarjananya, agar bisa fokus pada kehamilannya saja. Semoga, harapan indah ini tidak perlu waktu lama lagi."


Aji terus berpikir bagaimana sebaiknya dia bekerja, tapi dia juga berharap jika Elisa akan segera hamil, apapun keadaan yang sedang mereka hadapi. Aji tidak ingin menunda-nunda keinginannya, untuk segera mendapatkan buah hati mereka berdua.


*****


Malam ini, hujan turun dengan derasnya. Dari balik kaca jendela apartemen, terlihat jelas, jika hujan belum juga ada keinginan untuk berhenti dalam waktu dekat.


Aji dan Elisa, baru saja selesai makan malam. Mereka membersihkan meja makan dan piring-piring kotor berdua. Saling membantu, dalam pekerjaan yang bisa dilakukan, untuk meringankan beban pasangan, juga bisa merekatkan hubungan cinta kasih antara suami dan istri. (Author; Bisa Di coba di rumah, bagi yang sudah berkeluarga ya)


"Sayang. Dua hari lagi Kakak mau ke Tangerang. Kamu ada kegiatan tidak di kampus?" tanya Aji, begitu pekerjaan mereka sudah selesai.


"Ada Kak. El mau pengajuan skripsi yang terakhir kalinya. Semoga berhasil ya, buat secepatnya bisa istirahat. Hah, El capek sekali mikirin skripsi."


Elisa, membuang nafas kasar, mengeluarkan kekesalannya pada kesibukan yang jalani dalam pembuatan skripsi.


"Iya. Semangat dong Sayang. Kamu pasti bisa kok!" Aji, memberikan dukungan semangat pada Elisa.


"Tentu Kak. El ingin, seandainya sudah lulus bisa konsentrasi dengan kebersamaan kita ini, terus bikin anak yang..."


Cup!


"Kakak!"


Teriak Elisa kaget, karena Aji mencuri kecupan, di bibir Elisa yang sedang berbicara.


"Tidak usah banyak bicarakan. Kita bisa langsung praktek kapan saja dan di mana saja, asal cuma kita berdua," kata Aji, dengan menaik turunkan alisnya.


"Ah, Kakak mancing terus deh..." gerutu Elisa, dengan wajah cemberut. Tapi, itu justru membuat Aji semakin gemas, sehingga menarik tubuh istrinya itu, ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Mau tidak?" tantang Aji.


Elisa tidak menjawab. Dia nanya mengangguk pasti tanpa melihat ke arah wajahnya Aji, karena merasa malu. Terlihat dari pipinya yang sudah memerah, dan itu membuat Aji ingin segera menggigitnya saja.


__ADS_2